Tasya berfikir untuk meminta uang pada ayahnya, namun dia tidak berani karena takut menyakiti perasaan ibunya. Biar bagaimanapun, Tasya masih memiliki rasa kasihan pada sang ibu, sekalipun jika meminta pada sang ayah pasti langsung di penuhi keinginannya.
Setelah lima belas menit berjalan kaki, Rina dan kedua anaknya tiba di rumah. Tasya dan Kiara langsung menuju ke kamar untuk berganti pakaian. Sementara Rina pergi ke dapur untuk menyajikan nasi padang itu pada suaminya. Di letakkannya bungkusan khas minang itu di atas piring, lengkap dengan kerupuk bangka dan jus alpukat yang terlihat menggugah selera. Setelah semuanya siap, Rina menyajikan makanan itu pada suaminya.
“Ini, Mas. Makanan yang jamu minta,” ujar Rina dengan meletakkan makanan itu pada meja di depan suaminya.
“Hmm ...,” sahut Hermawan tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun pada Rina.
Pria itu tengah sibuk berselancar di layar ponselnya. Entah apa yang sedang dia baca, Hermawan begitu serius, sehingga Rina yang ingin bertanya memilih mengurungkan niatnya.
Rina takut, suaminya itu marah karena menganggu saat sedang serius dengan dunianya. Dia memilih pergi dan kembali menemui kedua anaknya di dapur. Setibanya di dapur Rina mendapati kedua anaknya yang tengah duduk dengan wajah sedihnya. Melihat kedatangan ibunya Tasya dan Kiara mengalihkan pandangannya pada ibunya.
“Ibu, apa tidak ada makanan untuk kami berdua?” tanya Tasya dengan wajah sedihnya.
Rina baru teringat jika tidak ada makanan di meja. “Astaga! Maafkan Ibu, Sayang. Ibu lupa tadi makannya ditumpahkan ayah. Jadi ibu belum masak lagi, tunggu sebentar. Ibu akan masak untuk kalian.” tukas Rina kemudian.
Buru-buru Rina langsung beralih pada meja dapur menyiapkan makanan untuk kedua anaknya. Tapi baru saja Rina mengambil pisau untuk memotong sayur yang dia punya, Kiara mendekat dan berdiri di sampingnya.
“Kiara tahu Bu, makanan Ibu sengaja di buang oleh ayah. Pasti ayah marah, 'kan? Ibu di siksa lagi sama ayah?” tanya Kiara dengan tenang dan tangannya mengambil sayur membantu ibunya.
Mendengar pertanyaan dari anaknya, mata Rina kembali mengembun bayangan kekejaman suaminya kembali terlintas di otaknya. Tetapi Rina langsung mengerjapkan mata berulang agar air mata itu tidak jatuh dan terlihat oleh anaknya. Namun, rasa itu terlalu sakit sehingga sebutir air mata sudah terlanjur jatuh dan mengalir di pipi Rina, buru-buru Rina menyeka dengan satu tangannya.
“Tidak, Sayang. Tadi ayah hanya tidak sengaja menumpahkannya.” elak Rina, berusaha menutupi perbuatan suaminya.
Dia tidak ingin kedua anaknya mengetahui setiap kekejaman ayahnya dan semakin membenci pria yang seharusnya mereka hormati sampai tua bahkan sampai mati nanti. Rina berfikir biar bagaimanapun, Hermawan tetaplah ayah kedua anaknya, panutan dan Imam keluarga. Rina tidak ingin kedua anaknya itu membenci ayahnya, seburuk apapun pria itu Rina harus tetap menanamkan kasih sayang dan rasa hormat pada orang tua.
“Ibu jangan berbohong, Kiara sudah melihat semuanya. Pecahan piring dan mangkuk, juga luka di tangan Ibu.” Kiara menunjuk luka goresan di telapak tangan ibunya.
Memang tadi saat Rina membereskan serpihan piring dan mangkuk, tangan Rina tergores pecahan kaca itu. Sehingga meninggalkan luka di telapak tangan dan beberapa jarinya.
“Tidak, Sayang. Ini hanya luka kecil saat Ibu bekerja.” dusta Rina.
“Ibu, berbohong. Kenapa, Ibu selalu menutupi keburukan ayah. Bukankah selama ini Ibu sudah cukup menderita karenanya? Apa lagi yang akan Ibu cari dari pria seperti dia?”
Suara Kiara terdengar lirih di akhir kalimat. Hal itu terjadi karena air mata Kiara sudah tidak bisa lagi membohongi perasaannya. Kiara sudah sangat sedih melihat ibunya di siksa oleh sang ayah andai dia bisa menolongnya pasti Kiara sudah melakukannya.
“Berhentilah bersikap baik pada ayah, Bu. Kiara tidak ingin ibu terus menerus seperti ini.” belum sempat Rina berbicara Kiara sudah berucap lagi.
Tetapi kali ini cukup terkejut mendengar ucapan Kiara, ada rasa sedih yang menyeruak setelah mendengar ucapan anaknya itu. Selama ini Rina bertahan karena dia pikir kedua anaknya yang perempuan sudah dewasa dan membutuhkan sosok ayah kandung untuk wali di pernikahan mereka. Tetapi rupanya pemikiran Rina salah, justru Kiara sendiri memerintahkan padanya untuk berpisah dengan sang ayah.
"Kenapa kamu bilang begitu, Sayang?" Rina tidak ingin Kiara berfikir yang tidak-tidak sekarang.
"Karena, Kiara muak dengan sikap ayah!" jawab Kiara jujur.
Rina merasa sedih mendengarnya, dia pun memeluk Kiara. Sementara Tasya hanya tertunduk, memainkan jarinya melihat ibu dan sang kakak saling menangis. Tasya juga ingin bergabung bersama mereka. Tetapi, baru saja akan bangkit dari duduknya tiba-tiba ayahnya mengejutkannya.
“Apa yang sedang kalian lakukan!” Hermawan menatap tajam pada Rina dan Kiara yang masih saling menguatkan.
Sementara Tasya mengurungkan niatnya dan kembali duduk pada tempatnya, gadis itu hanya menunduk saat ayahnya menatap tajam pada ibu dan kakaknya.
“Tidak ada, Mas. Kami hanya sedang memasak.” jawab Rina melepaskan pelukan pada Kiara dan menyeka air matanya.
“Memasak? Kenapa harus memasak, apa tadi kamu tidak membelikan makanan untuk mereka?” tanya Hermawan menatap kejam pada Rina.
Rina menggelengkan kepalanya dan Hermawan mengalihkan pandangan pada Tasya, pria itu ingin Tasya bicara padanya.
“Kenapa kamu tidak meminta uang pada Ibu, untuk membeli makanan?”
Tasya menggelengkan kepalanya tanpa menatap pada sang ayah yang kini duduk di sampingnya. Pria itu mengusap pucuk kepala Tasya, hanya dia yang selalu di perlakukan seperti itu oleh ayahnya yang memang sangat menyayangi Tasya.
Selama ini Hermawan pilih kasih pada kedua anaknya. Pria itu lebih menyukai Tasya yang pendiam dan penurut, tidak seperti Kiara yang memiliki karakter kuat dan keras kepala seperti ibunya. Sementara Tasya, cenderung pendiam dan tidak pernah ikut campur dengan urusan orang tua.
“Kenapa, Tasya?” Hermawan kembali bertanya pada anak kesayangannya saat gadis itu masih belum memberikan jawaban padanya.
Tasya sendiri masih bungkam, sedikit ketakutan tetapi berusaha tetap tenang. “Ibu hanya bawa uang pas-pasan, jadi Tasya tidak berani meminta pada Ibu.” jawab Tasya kemudian.
“Oh, benarkah?” Hermawan melirik Rina.
Terlihat dari tatapannya Hermawan sudah tahu alasan Rina tidak membelikan makanan untuk anaknya dengan uang darinya yang konon haram bagi Rina. Tetapi Hermawan tidak ingin ribut di depan Tasya, karena itu Hermawan memilih diam dan mengampuni sikap Rina, lalu pria itu memberikan segenggam uang pada Tasya.
"Ambillah, kamu bisa menggunakan uang itu untuk keperluanmu." tambah Hermawan menyerahkan uang pada Tasya.
Tasya terdiam dengan wajah ragu nya, dia tahu pasti ibunya sangat kecewa jika dia menerimanya. Sementara Kiara hanya diam ditempatnya, merasa iri dengan sikap sang ayah yang begitu pilih kasih padanya.
**
Hingga saat malam tiba, Rina masuk kedalam kamar dan melihat suaminya sudah rapi. Pria itu mengenakan kaos berwarna putih dan celana jins berwarna hitam, rambutnya sudah di sisir rapi ke belakang, aroma wangi parfum juga menyeruak di dalam kamar.
Rina akui penampilan suaminya sangat gagah, bahkan terlihat seperti pria-pria model majalah dewasa yang di idamkan banyak wanita. Rina menatap suaminya itu dari ujung kaki hingga ujung kepala, dan mendekati saat suaminya.
“Mas, kamu mau kemana? Kenapa berdandan rapi seperti ini?”
“Aku akan berangkat bekerja.” jawab Hermawan dengan tetap sibuk memasang jam tangan di pergelangan tangannya.
“Sebenarnya, kamu ini bekerja di mana, Mas. Kenapa kamu berangkat malam-malam begini dan akan pulang saat pagi?” Pertanyaan yang sejak siang tadi Rina pendam baru di lontarkan.
Hermawan yang semula sibuk merapikan diri itu menghentikan pergerakannya, sesaat diam dan mengalihkan pandangannya pada sang istri. Tentu saja dengan tatapan dingin dan menakutkan.
“Aku dengar dari mbak Mira, setiap malam kamu makan di sana, bahkan memberikan uang tips padanya. Jadi aku ingin tahu, sebenarnya apa pekerjaanmu?” Rina masih mencari jawaban dari suaminya.
“Siapa yang mengatakan itu, padamu?” tanya Hermawan kali ini duduk di samping Rina.
"Mira, dia bilang kamu sering makan di sana. Dia juga bilang kamu sering minta dipijit olehnya. Selain itu dia juga bilang banyak wanita yang sudah mencicipi tubuhmu. Apa maksud semua itu?” desak Rina, melepaskan rasa cemburunya sudah menggebu.
“Apa kamu cemburu?” tanya pria itu, satu tangannya mengangkat wajah Rina yang tertunduk itu.
Rina mengangguk lemah dan menatap pria yang juga menatap intens padanya.
“Kamu tidak perlu mencari tahu tentang pekerjaanku, itu tidak penting. Yang terpenting aku bekerja dan menafkahi mu." tukas pria itu.
Rina menatap dalam suaminya hatinya ingin bertanya tentang perasaan pria itu padanya. Rina ingin tahu masih adakah cinta di hati Hermawan itu untuknya?
Mendengar pengakuan Mira, Rina sangat cemburu. Bagaimana bisa, wanita lain memijit suaminya setiap malam. Sementara dirinya disentuh pun jarang. Sekali lagi Rina ingin memastikan masihkah pria itu mencintai dirinya?
Namun mengingatkan perlakuan kasar suaminya, Rina berfikir jika benar Hermawan masih mencintainya. Seharusnya, Hermawan tidak pernah berbuat kasar padanya, seharusnya pria itu menjaganya bukan malah menyakitinya. Rina menyimpulkan jika suaminya itu sudah tidak mencintai dirinya.
Melihat Rina yang sudah tidak banyak bicara, Hermawan bangkit dari duduknya, tangannya menyambar jaket kulit dan langsung mengenakannya. Tercium aroma wangi khas wanita di jaket itu, sehingga Rina semakin di landa rasa cemburu.
“Katakan padaku, Mas. Apa yang sebenarnya kamu lakukan dengan wanita-wanita itu?!” Namun, Rina yang sudah tidak tahan dengan gejolak hatinya itu menghalau suaminya.
Tentu saja, Hermawan langsung menatap tajam pada Rina bahkan kali ini Hermawan terlihat sangat murka, "Wanita sialan!"