Aku cukup kaget saat tiba-tiba saja Kak Langit memotretku. Dia hanya memanggil namaku dan tidak bilang-bilang kalau mau mengambil gambar. s**l, bagaimana kalau ekspresi wajahku tidak sedang dalam kondisi baik? Ah, seharusnya Kak Langit memberi aba-aba agar aku lebih siap. Setidaknya aku bisa mengkondisikan wajahku. "Cantik," gumam Kak Langit masih sambil menatapi hasil fotonya. Hmm, tunggu dulu deh. Dia barusan memuji cantik untuk siapa? Apa dia mengakui secara terang-terangan soal kecantikanku? "Air terjunnya," gumam Kak Langit lagi. Kali ini senyuman menyebalkan bertengger di bibirnya. Aku mengernyitkan dahi karena bingung. Maksud dia apaan sih? "Gue tau lo sempet mikir kalau yang gue puji cantik itu elo, kan? Tapi lo salah karena yang gue puji tuh air terjunnya," terangnya sambil

