Setelah mendapat izin dari Kak Langit untuk tetap berada di kamar, aku memutuskan melemparkan diri ke ranjang super empuk di kamar ini. Aku tidur-tiduran sembari menikmati hawa dingin khas dataran tinggi. Aku merasa nyaman berada di sini sampai akhirnya aku merasakan perutku yang mulai berisik minta diisi. Ini benar-benar menyebalkan karena sejujurnya aku malas untuk kembali keluar kamar dan bertemu dengan anggota keluarga Kak Langit. Salahku memang yang mau-maunya diajak datang kemari. Padahal aku sudah tahu konsekuensinya akan jadi begini. Tapi mau tak mau, aku tetap harus keluar dari kamar ini. Akan sangat tidak baik kalau aku mendekam di dalam sini seolah aku menjauh dari anggota keluarga Kak Langit. Aku beranjak dari kasur dan mendekati cermin. s**l, mendadak aku merasa bulu kudukk

