Bab 43

1498 Kata
Manhattan, New York (US) Udara siang hari yang terasa dingin bertambah buruk ketika malam hari. Untunglah mereka memiliki perapian yang besar sehingga mampu menghangatkan seluruh ruangan. Aroma khas kayu bakar memenuhi ruangan, membuat Aurora teringat pada masa kecilnya saat dia sedang melakukan perkemahan di halaman belakang rumah bersama dengan ayahnya. Sekarang segalanya telah berubah.. Aurora tidak sedang berkemah, tapi dia juga memiliki perapian yang berfungsi untuk menghangatkan tubuh. Sayangnya keadaan di tempat ini tetap tidak membaik sekalipun mereka sudah memiliki perapian. Berulang kali Aurora menggerakkan tubuhnya dengan tidak nyaman karena dia harus berbaring di atas lantai yang dilapisi oleh selimut tipis. Beberapa jam lalu kayu bakar mereka telah habis, akhirnya Sir Andres menyarankan agar mereka menggunakan perabotan yang ada di lantai ini. Mustahil jika mereka naik ke gudang atas untuk mengambil perabotan yang sudah tidak digunakan. Sebelum sampai di gudang atas, mereka semua pasti sudah menggigil kedinginan. “Tidurlah, aku akan menjagamu..” Kata Victor sambil mengusap kepala Aurora dengan pelan. Aurora berusaha untuk memejamkan mata, tapi dia tetap tidak bisa tidur. Aurora terus memikirkan keadaan Amanda yang masih belum membaik padahal luka di kepalanya sudah dibersihkan dan juga dijahit dengan rapi. Aurora harap dia tidak melakukan kesalahan yang akan berimbas ke keadaan Amanda. “Bisakah kau memeriksa denyut nadi Amanda?” Tanya Aurora. “Dia baik-baik saja. Osvaldo baru memeriksanya beberapa menit lalu. Jangan menghawatirkan dia, istirahatlah sebentar. Perapian kita semakin besar sehingga ruangan ini tidak dingin lagi..” Kata Victor. Pria itu memeluk Aurora, dia meletakkan kepala Aurora di pangkuannya dan terus mengusap rambutnya dengan pelan. “Aku sangat takut karena dia masih belum sadarkan diri..” Kata Aurora. “Dia mengeluarkan banyak darah, Aurora. Apapun yang terjadi, kurasa kau harus tetap merasa bangga karena telah memberikan bantuan terbaik untuknya” Aurora menggelengkan kepalanya. Jika Amanda tidak membuka mata, maka artinya Aurora gagal membantunya. “Semua orang sudah terlelap sekarang. Kita tidak tahu sampai kapan badai ini akan terus berlangsung, tapi kau butuh tidur. Istirahatlah..” Kata Victor. “Kenapa kau tidak tidur?” Aurora mendongakkan kepalanya dan menatap Victor yang menyandarkan punggungnya di dinding yang dingin. “Harus ada satu orang yang berjaga-jaga. Aku sudah membuat kesepakatan dengan Osvaldo, dia akan tidur sampai beberapa jam kedepan, lalu dia akan menggantikan aku untuk berjaga-jaga..” Aurora menganggukkan kepalanya. Victor selalu memikirkan hal-hal luar biasa yang begitu menakjubkan. Di tengah udara dingin seperti ini, mereka semua ingin tidur dan membungkus tubuh dengan selimut. Tapi Victor dan Osvaldo melakukan hal yang sebaiknya. Mereka sepakat untuk tidur secara bergantian agar bisa berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang buruk. “Pria tua yang kau tolong siang ini sudah bisa membuka mata dan berbicara. Tubuhnya tidak lemas lagi dan dia juga sudah tidak menggigil kedinginan. Kau melakukan penanganan yang terbaik, Aurora..” Kata Victor. Aurora tidak menyangka jika dia akan berada di situasi dimana hasil kelas tambahan yang ia ambil beberapa tahun lalu dapat diimplementasikan secara langsung untuk menolong orang lain. Andai saja Aurora tahu jika pengetahuannya tentang medis akan sangat dibutuhkan seperti ini, maka dulu Aurora akan meneruskan kelas tambahannya. Saat itu Aurora berhenti karena dia merasa jika ilmu yang ia miliki sudah lebih dari cukup. Jika ada kesempatan lain, maka Aurora akan memilih untuk mengambil kelas medis lagi. Aurora menyukai segala hal yang berhubungan dengan meteorologi. Ayahnya sering menjelaskan proses terjadinya hujan, periode iklim suatu negara, juga arah gerakan angin dari bulan ke bulan. Aurora tertarik dengan meteorologi karena ayahnya adalah seorang ahli meteorologi. Mungkin Aurora tidak akan mengenal meteorologi jika bukan melalui Alfred. Tapi di samping meteorologi, Aurora juga menyukai pelajaran medis. Aurora terbiasa membaca buku biologi yang sangat tebal karena ibunya memiliki obsesi untuk menjadikan Aurora sebagai tenaga medis. Aurora menyukai pelajaran medis, tapi jujur saja dia tetap lebih tertarik pada meteorologi. “Ini kali pertama ibuku tidak marah saat aku mendapatkan juara tiga..” Tiba-tiba saja Aurora teringat pada kejadian tiga hari lalu. Hari itu adalah hari pengumuman kejuaraan. Aurora menjadi juara 3, dia gagal menjadi yang terbaik seperti yang selalu ditekankan oleh ibunya. Setelah pengumuman kejuaraan, Aurora dan Victor berkemas untuk bersiap pergi ke bandara. Aurora akan terbang ke Washington, D.C sementara Victor akan kembali ke Ohio. Sayangnya rencana itu hancur begitu saja.. “Dia tidak akan pernah memarahimu lagi karena kau seorang gadis yang hebat” Victor kembali mengusap kepala Aurora dengan tenang. Perlahan Aurora mulai menutup matanya. Belakangan ini mereka menjalani hari yang sulit, Aurora jadi sangat waspada dan akhirnya tidak bisa tidur dengan tenang. Tapi malam ini Aurora berada di dekat Victor, pria itu memeluknya dan mengusap kepalanya. Aurora tidak sendirian, dia sedang bersama dengan kekasihnya. Jadi, apa yang harus Aurora khawatirkan? Dia bisa melewati hari ini, maka dia juga akan bisa melewati hari esok. “Kuharap aku bisa bertemu dengan ibuku..” Aurora kembali berbicara. “Tentu saja kau akan bertemu dengannya. Setelah ayahmu datang menjemput, kau akan tinggal di Washington, D.C untuk sementara waktu. Begitu penerbangan mulai kembali berjalan dengan normal, kau bisa pergi ke Ohio dan menemui ibumu..” Aurora mendongakkan kepalanya dan menatap Victor dengan cemas. Sekarang ada satu pertanyaan yang terus mengganggu pikirannya. “Victor..” Panggil Aurora. “Ya?” “Kau akan ikut denganku, bukan? Jika ayahku datang ke sini, kau harus ikut denganku ke Washington, D.C” Aurora berbicara sambil menatap Victor yang tampak sedikit kebingungan. “Itu bukan hal penting untuk dipikirkan..” Jawab Victor sambil tersenyum. “Tentu saja itu hal yang penting. Jawablah pertanyaanku, kau akan ikut ke Washington, D.C, bukan?” Aurora kembali meminta jawaban dari Victor. “Aurora, di sana kau akan tinggal bersama dengan ayahmu. Kau tidak bisa mengajak aku—” “Kenapa tidak?” Tanya Aurora. Victor mengernyitkan dahinya, pria itu terlihat kesulitan menyusun penjelasan untuk Aurora. “Apa yang akan kau katakan kepada ayahmu? Kau pergi ke Manhattan bersama dengan kekasihmu, lalu kau harus mengajaknya ke Washington, D.C karena penerbangan dari New York masih belum berfungsi. Begitu?” Aurora menatap Victor dengan kebingungan. Mengapa Victor berbicara demikian? Mereka datang ke New York bersama, Victor menjaganya sepanjang hari dan menemaninya kemanapun ia pergi, lalu kenapa Aurora tidak bisa mengajak Victor ke Washington, D.C? “Aku akan mengatakan kepala ayahku jika aku tidak akan pergi tanpamu..” Jawab Aurora dengan pelan. Victor tampak menghembuskan napasnya dengan pelan. Aurora terdiam, menunggu kalimat apa yang akan Victor katakan. Namun setelah lebih dari dua menit saling membisu, Victor memilih untuk mengakhiri percakapan mereka. “Tidurlah, kau harus istirahat..” Aurora mengenal Victor selama beberapa bulan sebelum mereka memutuskan untuk menjadi pasangan kekasih. Tidak banyak hal yang Aurora ketahui tentang Victor karena mereka tidak memiliki banyak waktu untuk dihabiskan bersama. Tapi Aurora tahu jika Victor adalah seorang pria yang akan selalu diam sekalipun pikirannya bercabang untuk memikirkan banyak masalah. “Apakah tidak masalah jika kita tidur?” Tanya Aurora sambil memeluk Victor lebih erat. Mereka menjalani hari yang begitu buruk. Dimulai dari ledakan nuklir, gempa bumi, lalu badai es yang membekukan seluruh daratan Manhattan. Aurora tidak tahu bagaimana caranya bertahan jika tidak ada Victor di sisinya. “Badai semakin tenang, kurasa kita semua juga butuh tidur. Suhu udara juga tidak serendah tadi pagi..” Jawab Victor. Aurora kembali memikirkan keadaan ayahnya yang sedang berada jauh darinya. Ini akan menjadi kali pertama dia bertemu ayahnya setelah hampir dua tahun mereka tidak bertemu. Aurora merasa gugup, juga cemas dan khawatir. Ada banyak sekali hal yang mengganggu pikirannya. Entah dunia ini sedang mengalami kiamat kecil atau justru ini akan menjadi awal dari kehancuran dunia. Entahlah.. Aurora terus berharap jika dia bisa bertemu dengan ayahnya dan kembali pulang untuk memeluk ibunya yang pasti terus menangis karena merasa khawatir. “Apakah kita masih memiliki makanan?” Tanya Aurora. Perutnya terasa lapar sejak siang tadi, tapi Aurora sama sekali tidak berani bertanya tentang makanan. Sepertinya mereka tidak memiliki makanan di ruangan ini karena sebelum terjebak di hotel, Aurora ingat jika Victor hanya membeli beberapa bungkus roti. Aurora pikir itu akan cukup untuk mereka berdua karena Alfred mengatakan jika ia akan datang dua hari lagi, dimana seharusnya Alfred sudah datang pagi ini. Sayangnya ayahnya terjebak di dalam badai dingin yang membuat mobilnya tidak bisa bekerja.. Aurora dan Victor juga sudah membagikan makanan mereka kepada enam orang lainnya yang ikut menginap di ruangannya. “Kau lapar?” Tanya Victor sambil menundukkan kepalanya. Selama 17 tahun hidupnya, Aurora hanya berkutat dengan keluarga dan juga buku-bukunya. Dia sama sekali tidak peduli pada kisah percintaan, bahkan dia kesulitan menemukan teman dekat. Tapi begitu menemukan Victor, Aurora merasa jika dia telah banyak membuang waktunya untuk duduk sendirian di dalam kamarnya. Aurora seharusnya menyadari jika mencintai dan dicintai oleh seseorang akan terasa sangat menakjubkan. Victor begitu manis, dia sangat perhatian.. “Bagaimana jika besok kita semua kelaparan?” Tanya Aurora. “Tidurlah Aurora, kita akan memikirkan masalah itu besok.” Victor menjawab sambil mengusap kepalanya dengan lembut. “Hotel ini masih memiliki persediaan makanan di dapur. Kita mungkin bisa mengambilnya jika—” “Tidurlah, Aurora..” Victor kembali berbicara. Aurora menarik napasnya dengan pelan. Mungkin apa yang Victor katakan memang benar, sebaiknya mereka tidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN