Manhattan, New York (US)
Hampir tiga hari berlalu sejak puncak badai menyapu seluruh daratan Manhattan. Suhu udara mulai naik hampir 3-5 derajat di siang hari. Sekalipun masih belum menunjukkan perubahan yang signifikan, Alfred tetap bersyukur karena ini merupakan sebuah tanda yang baik.
Rumah sakit memberikan perawatan yang begitu baik pada setiap pasien, tidak ada tenaga medis yang berhenti bekerja sekalipun mereka hampir tidak tidur semalaman. Alfred merasa kagum dengan dedikasi mereka, sama sekali tidak ada kalimat keluhan ataupun protes ketika ada yang mulai histeris karena melihat pasien yang menggigil kedinginan.
“Belum ada jalan yang dibuka, kota ini masih membeku. Kau tidak mungkin bisa mengemudikan mobilmu di atas lapisan es..” Kata kepala rumah sakit sambil menghampiri Alfred yang sudah bersiap dengan mantelnya.
Tidak ada pilihan lain, dia sudah berada di rumah sakit ini selama 5 hari, Alfred tidak bisa terus bersantai ketika dia masih belum mendengar kabar apapun dari putrinya. Aurora bisa saja kedinginan, ketakutan, atau kelaparan..
“Aku akan berjalan kaki menuju ke hotel itu. Jaraknya tidak terlalu jauh, ukan?”
Beberapa waktu lalu Alfred sempat mempelajari peta wilayah Manhattan yang ada di kantor kepala rumah sakit. Alfred sadar jika akan ada banyak kendala sekalipun dia sudah menghafal seluruh jalan yang tergambar dalam peta tersebut. Tempat ini ditutupi oleh es dan salju yang membeku.. Semua jalan akan terlihat sama dan kemungkinan besar Alfred akan selalu tersesat.
“Jarak rumah sakit ke hotel putrimu dapat ditempuh selama satu jam dengan menggunakan mobil. Jika jalan kaki, kau bisa memperkirakan berapa lama waktu yang kau butuhkan. Kau yakin bisa bertahan di tengah udara dingin?” Tanya kepala rumah sakit.
Alfred menghentikan gerakan tangannya yang sedang mempersiapkan perbekalan di dalam tasnya.
“Entahlah, aku tidak tahu apakah aku akan mampu bertahan. Yang kutahu putriku sedang ada di sebuah hotel yang lokasinya tidak jauh dari tempat ini. Aku harus datang dan memeriksa keadaannya..” Jawab Alfred dengan tenang.
“Beberapa waktu lalu sambungan telepon sudah kembali dipulihkan. San Fransisco berhasil mendapatkan sambungan teleponnya, tapi tidak ada kabar apapun dari putriku..”
Alfred menatap kepala rumah sakit dengan pandangan prihatin.
“Beberapa kali aku melihatmu berusaha menghubungi putrimu, kau juga berusaha menghubungi kantor pemerintah untuk memberikan laporan kepada mereka. Sayangnya kedua panggilanmu tidak tersambung kepada mereka.. Pemerintah mengambil keputusan salah yang membuat jutaan nyawa warga Manhattan melayang begitu saja.. Jangan sampai mereka kembali membuat kebijakan evakuasi di tengah keadaan yang masih belum kondusif ini.. Selamatkan putrimu dan kembalilah ke Washington, D.C secepat mungkin.”
Alfred tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan yakin. Untuk saat ini Alfred hanya fokus pada Aurora saja. Selama 4 hari tinggal di tengah badai es yang dingin, Alfred selalu bertanya-tanya apakah putrinya memiliki selimut yang cukup? apakah putrinya kelaparan karena dia kekurangan makanan? Apakah.. apakah Aurora ketakutan karena Alfred tidak sedang datang?
“Temanku masih sangat lemah.. kurasa aku harus meninggalkannya di—”
“Kau menyebutku lemah?”
Alfred menolehkan kepalanya dan menemukan Felix yang sedang berdiri di depannya. Pria itu tampak lebih baik dari beberapa hari lalu karena dia sudah berhasil melewati masa kritisnya.
“Aku harus mencari Aurora, kurasa sebaiknya kau tetap—”
“Aku akan ikut denganmu..” Potong Felix dengan cepat.
***
“Jika aku memiliki seorang putri, aku akan melarangnya bepergian seorang diri!” Felix berteriak dari belakang.
Alfred mendengarkan setiap gerutuan Felix sejak satu jam mereka berjalan dari rumah sakit, tapi tidak ada satupun kalimat balasan dari Alfred. Pikirannya terlalu kacau karena melihat kekacauan di kota ini.
Manhattan selalu menjadi jantung kota yang begitu sibuk. Tidak ada New York jika tidak ada Manhattan. Gemerlap lampu yang dipasang dengan indah untuk menyambut hari natal, suara lonceng terdengar setiap kali ada yang membuka pintu toko, langkah kaki terburu-buru ketika merasa kedinginan di malam natal, kendaraan yang berlalu lalang dan suara tawa yang menggambarkan kebahagiaan. Semua itu hilang dari Manhattan, sekarang hanya ada kesunyian dengan gemuruh angin yang sesekali masih terdengar. Gedung tinggi yang ditutupi oleh salju, dahan pohon yang membeku karena udara dingin, lapisan es tebal yang membuat daratan terasa lebih tinggi dari biasanya. Alfred sama sekali tidak percaya jika tempat ini jadi seperti kota mati.
“Jika kau pulang nanti, apakah Charlotte akan tetap tinggal bersamamu?” Tanya Felix sambil menggosokkan kedua tangannya secara cepat.
Setelah berjalan selama lebih dari satu jam, Alfred dan Felix memutuskan untuk berhenti dan menikmati minuman hangat yang mereka bawa dari rumah sakit. Minuman itu berubah jadi dingin hanya dalam beberapa detik setelah Alfred menuangkannya ke dalam gelas. Mereka berdua duduk di dalam sebuah gedung setelah berhasil membobol pintu gedung tersebut.
“Aku tidak berpikir sejauh itu, aku hanya ingin bertemu dengan Aurora..” Jawab Alfred dengan tenang.
“Matahari tidak bersinar sejak ledakan nuklir itu terjadi. Kira-kira sampai kapan semua ini terjadi?” Tanya Felix.
Alfred menatap ke arah langit yang tampak gelap. Tidak ada sinar matahari sehingga membuat suhu udara tetap rendah seperti biasanya. Jika matahari mampu menembus kabut tebal yang disebarkan oleh ledakan nuklir, maka kemungkinan besar udara dingin ini akan segera menghilang. Sayangnya lapisan karbon jauh lebih kuat dari sinar matahari.
“Aku tidak tahu. Kita masih belum bisa memastikan apapun sebelum mengamati langsung bagaimana keadaan benua Australia saat ini” Jawab Alfred.
“Benua Australia?”
“Kau lupa? Benua Australia menjadi yang pertama terkena dampak dari ledakan tersebut..” Alfred bangkit berdiri sambil mengemasi perbekalan mereka. Perjalanan masih sangat jauh, waktu mereka tidak banyak, jadi sebaiknya mereka tidak terlalu lama saat beristirahat,
“Bukankah benua Asia yang pertama kali terkena dampak?” Tanya Felix.
“Nuklir itu berada di Asia Timur, kita tidak bisa menyamakan keadaan Amerika dengan Asia. Benua itu diperkirakan akan lumpuh sampai beberapa tahun ke depan karena radioaktif yang menyebar di wilayah mereka. Kita bisa menggunakan Australia atau Eropa sebagai perbandingan.. tapi tentu saja kita hanya bisa melakukannya setelah kembali ke Washington, D.C” Jawab Alfred.
Felix menghentikan langkah kakinya dan menatap selama beberapa detik. Pria itu tampak akan mengatakan sesuatu, tapi dia kembali menutup mulutnya seakan sengaja mengurungkan niatnya.
“Aku tidak tahu jika selama ini bekerja dengan seorang pria jenius..” Kata Felix sambil mengendikkan bahunya.
***
Perjalanan yang Alfred tempuh tidak semudah yang ia pikirkan. Semua jalan tampak sama, semua gedung pencakar langit ditutupi oleh salju sehingga Alfred sama sekali tidak bisa membedakan bentuk mereka.
“Jalan mana yang harus kita ambil?” Tanya Felix.
Mereka kembali sampai di persimpangan. Alfred mengeluarkan kompas yang ia simpan di saku kanannya, ia melihat dengan seksama arah jalan yang harus ia ambil di persimpangan kali ini.
“Kurasa kita harus ke kiri!” Jawab Alfred.
Salju masih turun sekalipun dengan intensitas yang rendah. Udara yang berhembus juga tidak sedingin kemarin. Alfred bersyukur karena mereka berdua masih mampu berjalan.
“Kurasa kita harus berhenti berjalan..” Kata Felix.
Alfred menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, mereka berjalan selama lebih dari dua jam tanpa henti.
“Hotel Aurora tidak jauh dari jalan ini, apakah kau sungguh ingin istirahat?” Tanya Alfred.
“Kau pria tua yang mengerikan. Kakiku mulai nyeri karena kedinginan, apakah sendi kakimu masih baik-baik saja?” Tanya Felix.
Alfred merangkul bahu Felix dan menuntunnya untuk berjalan mencari tempat istirahat.
“Kita tidak memiliki air lagi, kau mau makan sesuatu?” Tanya Alfred.
“Aku hanya ingin duduk, tidak perlu membongkar makanan kita. Kurasa Aurora pasti kelaparan karena kekurangan makanan..”
Alfred terdiam sejenak. Ada rasa haru setiap kali dia mendengar kepedulian yang ditujukan kepada putrinya.
“Dia berada di hotel, kurasa tempat itu tidak akan kekurangan makanan..” Jawab Alfred.
Felix menatap ke sekelilingnya sehingga Alfred juga melakukan hal yang sama. Alfred baru menyadari jika dia melewatkan sesuatu....
“Tempat ini terlihat lebih parah dari tempat lainnya. Sama sekali tidak ada gedung yang terlihat, mereka semua tertutup oleh es..” Kata Felix.
Mereka berjalan selama lebih dari tiga jam, ada banyak hal yang mereka lihat dan mereka lewati, tapi baru kali ini Alfred melihat jika sebuah gedung benar-benar tertutup oleh es dan membeku oleh karena hujan salju.
Aurora tinggal di sekitar sini, putrinya itu.. dia menghadapi gelombang badai yang begitu parah. Tempat ini pasti menjadi pusat badai tersebut.
“Kita harus segera menemukan Aurora. Aku merasa sangat khawatir padanya..” Alfred bangkit berdiri lalu melangkahkan kakinya untuk melihat keadaan sekelilingnya.
Memaksakan Felix yang sedang kedinginan untuk terus berjalan membuat Alfred merasa khawatir. Tapi setelah melihat keadaan di sekitar hotel Aurora, Alfred juga kembali merasa sangat khawatir. Ada banyak pikiran buruk yang mengganggunya..
“Apakah aku bisa meninggalkanmu di sini? Aku akan kembali begitu menemukan hotel Aurora..” Kata Alfred.
“Apa kau sudah gila? Bagaimana jika aku mati membeku di tempat ini?!” Felix menjawab sambil berdiri dan mulai melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Alfred yang masih berdiri dengan kebingungan.
“Jangan memaksakan dirimu jika—”
“Kau terdengar seperti perempuan yang sedang mencemaskan kekasihnya! Jangan berbicara seperti itu lagi, kau membuatku takut!” Potong Felix dengan cepat.
Alfred mendengus pelan, dia tidak pernah bisa mengerti bagaimana cara berpikir Felix.
***
Alfred merasa tidak yakin ketika dia berdiri di depan gedung tinggi yang tertutup oleh salju. Pintu utama dari bangunan itu telah ditutupi oleh lapisan es sehingga Alfred yakin jika lantai utamanya pasti sudah diselimuti oleh salju dan es yang membeku. Entah sekarang mereka sedang berdiri berhadapan dengan jendela lantai kedua atau ketiga, Alfred tidak yakin pada pengamatannya sendiri.
“Apakah ini berarti jika sejak tadi kita berada lebih dari 17 kaki di atas dataran pada umumnya?” Tanya Felix dengan pandangan kebingungan.
“Aku tidak tahu..” Jawab Alfred dengan pelan.
“Bagaimana cara kita masuk ke dalam gedung itu?” Tanya Felix.
Tangan Alfred bergerak, dia merasa sangat gugup karena sekarang sedang berdiri di depan hotel tempat Aurora tinggal selama beberapa hari ini.
Mereka berjanji akan menghabiskan waktu liburan natal bersama, dan.. ini adalah tanggal 24 Desember yang artinya malam ini adalah malam natal.
“Memecahkan jendelanya?” Alfred berjalan ke depan dan mengeluarkan palu dari dalam tas miliknya.
Suara pecahan kaca terdengar di tengah kesunyian. Alfred berusaha untuk merapikan pecahan kaca tersebut agar dia tidak terluka saat akan melewatinya.
“Kau akan dituntut karena menjadi seorang kriminal saat di Manhattan..” Kata Felix sambil berjalan melalui jendela yang telah Alfred pecahkan kacanya.
“Aku tidak akan ragu untuk membayar denda atas perbuatanku..” Alfred menjawab dengan tenang.
Begitu masuk ke dalam bangunan hotel, Alfred dan Felix mulai berjalan untuk mencari dimana keberadaan Aurora. Kaca yang mereka pecahkan merupakan kaca jendela yang ada di kamar hotel, Alfred dan Felix kesulitan saat akan membuka pintu kamar hotel tersebut.
“Palu yang kau bawa tidak akan bisa menghancurkan pintu ini..” Kata Felix sambil berbaring di ranjang hotel. Pria itu menarik selimut dan berakting seakan dia sedang menikmati pagi yang dingin di kamar hotel mewah.
“Pasti ada cara untuk keluar dari tempat ini..” Kata Alfred sambil berusaha mencari jalan yang bisa ia lalui.
“Tempat ini sangat dingin, aku langsung menggigil padahal kita sedang berada di dalam ruangan..”
Kepala rumah sakit meminjamkan pakaian musim dingin kepada Alfred dan Felix. Selain menggunakan mantel, mereka melapisi tubuh dengan pakaian hangat dan juga peralatan lengkap. Beberapa kali Felix mengeluh karena mereka terlihat seperti dua orang yang sedang mendaki gunung everest, tapi Alfred sangat bersyukur karena perlengkapan yang diberikan oleh kepala rumah sakit membuat mereka merasa jauh lebih baik.
“Tempat ini menjadi pusat gelombang dingin..” Kata Alfred dengan pelan.
“Apa? Tempat ini adalah pusatnya?” Tanya Felix dengan kebingungan.
“Kurasa begitu, kita belum menemukan tempat yang separah ini sebelumnya..”
“Kau harus segera keluar dari ruangan ini dan menemukan Aurora, Alfred.” Felix terlihat serius.
Alfred menganggukkan kepalanya. Ya, dia juga memikirkan hal yang sama sejak tadi.
***
Baru pertama kali Alfred menghancurkan bangunan hotel dengan brutal seperti ini. dia sama sekali tidak peduli pada denda yang diminta oleh pemilik hotel, dia juga tidak memikirkan hukuman apa yang akan dia terima jika pemilik hotel melaporkan perbuatannya.
“Aurora!” Alfred berteriak sekeras yang ia bisa. Suaranya bergetar karena merasa kedinginan, tapi kakinya tetap melangkah untuk menemukan ruangan Aurora.
Dia tidak bisa menghubungi Aurora sejak 4 hari lalu. Terakhir kali Alfred mencoba untuk menelepon, seorang pemuda mengangkat panggilannya dan menyampaikan jika Aurora baik-baik saja.
Alfred harap Aurora tetap baik-baik saja..
“Kau yakin ini hotel yang tepat? Kita tidak bisa menemukannya di sini!” Kata Felix.
Alfred ingat dengan jelas jika hotel ini adalah hotel tempat Aurora menginap. Saat pertama kali datang ke Manhattan, Aurora memberikan informasi mengenai alamat hotelnya. Alfred juga beberapa kali mengirimkan makanan ke alamat hotel ini.
“Aurora pasti ada di sini!” Alfred berjalan lebih cepat untuk menaiki anak tangga.
Felix tampak menghentikan langkahnya, pria itu duduk dan menyadarkan punggungnya pada tembok hotel. Alfred tahu jika sekarang Felix mulai memikirkan hal yang buruk, tapi Alfred tidak ingin melakukan hal yang sama.
“Naiklah sendiri, Alfred... aku akan menyusulmu..” Kata Felix.
Alfred menganggukkan kepalanya dengan tenang. Mereka masih belum menyusuri seluruh lantai, Alfred tidak menyerah begitu saja. Putrinya ada di sini.. Aurora pasti ada di hotel ini.
“Aurora!” Alfred kembali berjalan sambil memanggil Aurora.
Langkah kaki Alfred semakin bergetar ketika dia harus menaiki anak tangga lainnya. Aurora tidak ada di lantai dua, juga tidak ada di lantai tiga. Masih ada tiga lantai lainnya, Alfred harus terus mencari Aurora.
“Aurora!” Panggil Alfred.
Entah kenapa sekarang Alfred kehilangan ketenangan di dalam hatinya. Kepercayaan yang selalu Alfred ucapkan untuk menenangkan dirinya sendiri, kini mulai memudar.
Aurora.. putrinya sama sekali tidak memberikan jawaban padahal Alfred sudah memanggilnya dengan keras. Alfred berjalan dari satu pintu ke pintu lainnya untuk memanggil nama Aurora, tapi sama sekali tidak ada jawaban.
“Kau menemukannya?” Tanya Felix.
Alfred menolehkan kepalanya dan menatap Felix sejenak, tanpa memberikan jawab Alfred kembali berjalan untuk mencari putrinya.
“Aurora!” Panggil Alfred dengan keras.
Langkah kaki Alfred berhenti ketika dia mendengar derit pintu yang dibuka dengan susah payah. Tubuhnya meluruh di atas lantai yang dingin begitu matanya menemukan sosok putrinya yang sedang berdiri dengan tubuh lemas dan tatapan sayu. Aurora.. itu adalah Aurora.