Manhattan, New York (US)
Aurora menggerakkan tubuhnya dengan tidak nyaman. Rasa nyeri di kakinya mulai mereda setelah Osvaldo menuangkan alkohol secara paksa.
Masih teringat jelas bagaimana kerasnya Aurora menjerit ketika kedua tangannya dipegang oleh Victor lalu Osvaldo menuangkan alkohol di lukanya. Aurora tidak mengerti mengapa lukanya semakin parah padahal luka Amanda semakin membaik. Bukan, bukan Aurora tidak suka ketika melihat Amanda semakin membaik. Justru Aurora merasa sangat senang karena perempuan itu sudah bisa membuka matanya dan berbicara dengan pelan. Aurora lega karena usahanya tidak sia-sia..
Di saat luka di kepala Amanda mulai mengering, kaki Aurora justru mengeluarkan nanah yang menandakan jika luka itu membusuk. Aurora merasa kesakitan, dia sama sekali tidak bisa melakukan apapun karena tubuhnya sangat lemah. Mereka semua kehabisan kayu bakar sehingga perapian mulai meredup di hari ketiga. Tidak ada makanan yang tersisa karena kebanyakan makanan kaleng telah membeku ketika gelombang dingin menyapu. Dan di hari ke empat, Aurora harus menerima fakta jika kakinya semakin membusuk..
“Kakimu masih sakit?” Tanya Victor.
Aurora menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Dia beruntung karena cairan alkohol tidak membeku.
“Maafkan aku karena menuangkan alkohol itu di kakimu. Kami tidak memiliki pilihan lain..” Kata Osvaldo.
Aurora menganggukkan kepalanya. Dia tahu jika Victor dan Osvaldo hanya berusaha untuk memberikan bantuan kepadanya, tapi sekarang tubuh Aurora sedang lemas karena dia baru saja menahan rasa sakit yang begitu luar biasanya. Luka yang membusuk lalu disiram oleh alkohol, Aurora tidak pernah membayangkan jika hidupnya akan semenyedihkan ini.
“Aku kedinginan..” Kata Aurora dengan pelan.
“Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja, Aurora. Jangan khawatir, kita akan segera keluar dari sini..”
Sudah hampir satu pekan mereka terjebak di dalam hotel. Aurora dan 7 orang lainnya yang tetap berdiam diri di dalam ruangan ini telah melewati banyak hal sulit yang cukup mengerikan.
“Ayahmu mengatakan jika dia akan ke sini, tapi kenapa dia—”
“Sir Andres.. tolong jangan membicarakan hal itu..” Victor memotong kalimat Sir Andres.
Aurora menarik napasnya dan semakin mendekatkan dirinya dengan Victor. Udara dingin kembali berhembus karena perapian mereka mulai mati. Tidak ada yang bisa mengambil kayu di gudang atas, tempat itu terlalu dingin. Mereka semua hanya bisa diam sambil menunggu.. entahlah, tidak ada yang tahu apa yang sedang mereka tunggu.
Aurora sering terjaga karena dia memikirkan ayahnya. Matanya tetap tertutup untuk mengelabuhi Victor, tapi pikirannya tidak berhenti bekerja.
Ada banyak sekali hal yang terjadi di dalam hidupnya. Ayahnya bukan seorang pria sempurna yang akan selalu ada di sampingnya, Alfred bahkan lebih sering melewatkan momen penting Aurora karena pria itu sibuk dengan pekerjaannya. Setelah terbiasa dengan kesibukan ayahnya, Aurora mulai berhenti berharap pada setiap janji yang diucapkan oleh ayahnya. Aurora hanya akan mendengarkan, menganggukkan kepalanya, tapi dia sama sekali tidak pernah mengharapkan kedatangan ayahnya. Jika pria itu datang, maka Aurora sedang beruntung, jika pria itu tidak datang, Aurora tidak boleh merasa kecewa.
Sulit membiasakan diri untuk mengabaikan setiap janji ayahnya. Sebagai seorang gadis kecil, Aurora memandang ayahnya sebagai pahlawan super yang akan selalu ada di sisinya.
Beberapa hari lalu Aurora kembali mendengarkan janji ayahnya. Pria itu akan datang ke Manhattan untuk menjemputnya, Alfred akan mengendarai mobil untuk datang menemui Aurora. Berulang kali Aurora mencoba untuk mengabaikan janji itu, dia mencoba untuk tidak berharap pada janji yang dibuat oleh ayahnya. Namun Aurora hanya seorang gadis biasa yang akan selalu luluh dengan janji ayahnya.
Sudah satu pekan berlalu sejak badai gelombang dingin menyapu Manhattan, tapi ayahnya tetap tidak datang.
“Apakah ayahku sedang berbohong saat dia mengatakan—”
“Aurora, jangan memikirkan hal yang buruk. Suasana di luar sedang sangat dingin, apakah kau tega membiarkan ayahmu kedinginan di luar sana?” Victor memotong kalimat Aurora dengan cepat.
Keadaan di luar masih sangat parah. Hujan salju masih terus sekalipun sudah tidak sederas beberapa hari lalu. Tidak ada yang berani keluar dari ruangan ini karena lorong hotel sangat dingin, Aurora tidak bisa membayangkan sedingin apa keadaan di luar sana. Aurora terlalu egois jika dia berharap ayahnya datang di saat seperti ini.
“Dulu ayahku sangat sering melewatkan perlombaanku. Dia sering lupa saat aku akan melakukan pementasan seni. Ayahku sangat mencintai pekerjaannya, dia bisa duduk seharian di depan komputer dan melupakan segalanya.. Meskipun begitu, dia menjadi satu-satunya orang yang selalu bisa memahamiku..” Aurora bercerita dengan suara pelan.
“Kau sangat menyayanginya?” Tanya Victor.
Aurora menganggukkan kepalanya. Tidak ada anak yang tidak menyayangi orangtuanya, bukan?
Aurora masih mengingat dengan jelas jika dia menangis ketika ayahnya pergi dari rumah. Aurora masih belum mengerti jika saat itu hubungan kedua orangtuanya telah berakhir. Kepergian Alfred meninggalkan kemarahan di hatinya, Aurora membenci ayahnya.
Tahun-tahun yang Aurora lewati tanpa kehadiran ayahnya terlihat sama seperti sebelumnya. Aurora sibuk dengan belajar, sekolah, dan perlombaan. Dia menjadi anak pendiam yang lebih memilih untuk mengurung diri di kamar bersama dengan tumpukan buku dibandingkan pergi ke mall untuk menonton film. Semuanya terlihat sama. Aurora seperti tidak terpengaruh dengan perceraian orangtuanya, dia tetap menjadi seorang anak yang ambisius, dia tetap fokus dengan pelajaran dan perlombaannya. Ya, semua orang pasti berpikir demikian, tapi sebenarnya Aurora merasa sangat hancur. Kehidupannya berubah total, Aurora harus rela menghabiskan waktunya dengan menangis sepanjang malam. Dia kehilangan ayahnya dan ibunya di waktu yang bersamaan. Aurora memang tinggal bersama dengan Abigail, tapi wanita itu sangat kacau setelah perceraiannya.
Kehidupan Aurora yang terlihat sangat ingin kini berganti menjadi sebuah kehancuran yang selalu ia tutupi dengan ambisinya.
“Ayahku selalu datang dengan boneka dan permen coklat. Dia mengerti jika aku sering merasa bosan karena belajar seharian penuh..” Aurora mengingat saat-saat dia masih bersama dengan ayahnya.
“Ternyata kau pernah merasa bosan saat belajar..” Victor tertawa dengan pelan.
“Aku bersyukur karena saat itu orangtuaku bercerai, mereka saling menyakiti satu sama lain. Dulu aku sama sekali tidak menyadari, tapi sekarang aku mulai paham. Dua orang yang memiliki perbedaan prinsip tidak akan bisa bertahan sekalipun sudah menghabiskan waktu bersama selama belasan tahun. Tapi saat itu aku menangis karena merasa bersedih..” Kata Aurora.
“Semua orang menangis saat perceraian orangtua mereka. Kau seorang gadis hebat yang sangat kuat..” Victor tersenyum dengan tenang.
Aurora sering merasa kesepian setelah bibinya menikah dan pindah untuk tinggal bersama dengan suaminya. Aurora akan selalu sendirian setelah dia pulang sekolah hingga tengah malam, ibunya akan pulang sambil membawa tumpukan buku baru untuk dibaca.
“Aku sering merasa jika orangtuaku sangat egois, tapi perlahan aku memahami jika selama belasan tahun mereka saling berkorban untuk mempertahankan rumah tangga. Dulu usiaku baru 12 tahun, aku sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi..”
“Banyak orang dewasa yang telah siap untuk membangun rumah tangga, tapi mereka tidak siap untuk memiliki anak. Kau memiliki orangtua yang hebat, Aurora.. setidaknya mereka telah mencoba untuk bertahan”
Aurora menganggukkan kepalanya. Dia mulai memahami jika dua orang dewasa yang terjebak dalam ikatan pernikahan tidak menjamin jika merasa saling mencintai. Selama belasan tahun ibunya bertahan dengan ayahnya, tapi dia sama sekali tidak bahagia. Dua tahun setelah perceraian, ibunya memutuskan untuk menikah lagi. Aurora bisa melihat kebahagiaan yang terpancar dari tatapan ibunya setelah wanita itu menikah dengan Dalton. Mereka memang sangat sering bertengkar, tapi segalanya diselesaikan dengan kepala dingin sehingga selalu ada jalan keluar untuk setiap masalah. Aurora masih belum tahu bagaimana kehidupan ayahnya setelah pria itu bercerai dari ibunya. Aurora harap ayahnya juga menemukan kebahagiaan seperti ibunya menemukan Dalton.
Aurora adalah bagian dari kisah cinta mereka di masa lalu, tapi bukan berarti Aurora menjadi hambatan untuk kisah cinta mereka di masa depan.
Mungkin Aurora akan merasa sedih untuk sesaat ketika dia mengetahui ayahnya akan menikah lagi. Wajar, Aurora juga merasakan hal yang sama saat ibunya akan menikah. Ada rasa tidak rela ketika dia menyadari jika kisah masa kecilnya tidak akan terulang lagi. Keluarganya tidak akan bersatu lagi...
Aurora sering merasa sedih ketika memikirkan hal itu, tapi sekarang Aurora mulai menyadari jika dia tidak bisa bersikap egois. Ibunya dan ayahnya tidak akan bisa bersatu lagi, kisah masa kecilnya telah usai dan tidak akan bisa terulang lagi.
“Kenapa kau menangis, Aurora? Apakah ada yang sakit?” Tanya Victor sambil menatap Aurora dengan khawatir.
“Tidak, aku baik-baik saja. Aku merindukan ayahku... dan juga ibuku..” Jawab Aurora dengan pelan.
“Apakah kalian mendengar sesuatu? Sejak tadi aku mendengar suara keributan!” Kata Osvaldo sambil bangkit berdiri.
Aurora menatap Osvaldo yang sedang berjalan menuju ke arah pintu. Pria itu menempelkan kepalanya di daun pintu untuk mendengarkan keributan di luar ruangan perapian.
“Apakah ada badai lagi?” Tanya Victor sambil menghampiri Osvaldo.
Aurora menunggu Victor dengan cemas. Jika badai kembali datang, maka mereka tidak akan bisa bertahan. Tidak, mereka tidak akan bisa bertahan.
“Aku mendengar suara seseorang..” Kata Osvaldo.
Aurora mencoba untuk bangkit dari posisi berbaring. Kakinya terasa sakit setiap kali dia mencoba untuk menggerakkannya.
“Jangan menggerakkan kakimu..” Victor menolehkan kepalanya dengan pandangan khawatir.
“Tunggu dulu.. kurasa aku mendengar nama Aurora dipanggil..”
Aurora berjalan dengan langkah gemetar. Semakin mendengar ke arah pintu, maka semakin jelas suara seseorang yang memanggil ayahnya.
Pikiran Aurora kosong seketika.
“Jangan berjalan terlalu cepat..” Victor berbicara sambil menuntun Aurora untuk berjalan mendekati pintu ruangan.
“Kalian akan membuka pintu itu? Bagaimana jika udara dingin masuk dan membuat kita semua menggigil?”
Aurora menolehkan kepalanya dan menatap Sir Andres yang tampak tidak setuju.
Ayahnya ada di luar. Mana mungkin Aurora membiarkannya begitu saja?
“Kita tidak akan mati membeku jika membuka pintu selama lima menit..” Kata Osvaldo.
Sir Andres membuang muka dan memilih untuk mengabaikan Aurora.
“Itu ayahku..” Kata Aurora sambil menatap Victor.
Victor tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sama seperti Aurora yang merasa sangat senang, Victor juga tampak bahagia. Pria itu berjalan dengan antusias untuk menuntun Aurora menuju ke pintu depan.
Aurora tersenyum dengan lega, dia mendengar dengan jelas jika namanya dipanggil oleh ayahnya.
Begitu pintu ruangan dibuka, udara dingin langsung berhembus dan membuat Aurora menggigil. Namun saat dia melihat ayahnya tengah berjalan di lorong sambil memanggil namanya.. Aurora tidak lagi merasa kedinginan.
Rasanya seperti mimpi. Dia selalu mengharapkan kedatangan ayahnya, dan sekarang pria itu sedang berada di depan matanya.
Pelukan ayahnya terasa begitu hangat. Pria itu menangis ketika dia berhasil memeluk Aurora dengan erat.
Aurora masih tidak percaya jika ayahnya datang menemuinya. Pria itu benar-benar datang menemuinya..
Aurora tahu jika Alfred sangat sering mengingkari janjinya. Pria itu sering lupa untuk datang ke pentas seninya, Alfred juga selalu melewatkan pengumuman perlombaannya karena pria itu sangat sibuk dengan pekerjaannya. Tapi hari ini ayahnya datang.. Alfred meninggalkan pekerjaannya, pria itu mempertaruhkan nyawanya untuk bisa bertemu dengan Aurora. Alfred, dia menepati janjinya..