Bab 46

2062 Kata
Manhattan, New York (US) Alfred datang dengan membawa banyak makanan. Kedatangan Alfred yang awalnya menimbulkan reaksi kurang baik dari Sir Andres, kini mulai tampak berubah. Pria itu terlihat mulai menerima kehadiran Alfred dan Felix yang disambut baik oleh semua orang. Diantara mereka, Aurora yang paling bahagia karena kembali bertemu dengan ayahnya. “Apakah kalian tidak makan selama beberapa hari ini?” Tanya Felix. Aurora mengenal pria itu karena dia sering melihatnya ketika sedang melakukan panggilan video dengan ayahnya. Aurora sama sekali tidak mengira jika pria itu ikut dengan ayahnya untuk melakukan perjalanan dari Washington, D.C ke Manhattan. “Kami kekurangan makanan karena persediaan makanan di hotel ini membeku..” Jawab Osvaldo. “Tempat ini menjadi pusat gelombang dingin. Wajar jika kalian yang mendapatkan dampak paling buruk..” Kata Alfred. “Pusat gelombang dingin?” Tanya Aurora sambil memakan perbekalan yang dibawa oleh ayahnya. “Gelombang yang datang dari benua Eropa menjadikan Manhattan sebai pusat pergerakannya. Gelombang itu menjadikan wilayah sekitar hotel ini menjadi pusat putarannya..” Aurora mendengarkan penjelasan ayahnya dengan sesama. Sepertinya benar, Aurora memang sangat tidak beruntung. Ternyata selama ini dia tinggal di pusat dingin tersebut. Wajar saja jika mereka merasa kedinginan hingga hampir membeku. “Amanda tidak bisa berjalan karena kepalanya terluka sangat parah. Dia terluka karena getaran gempa yang terjadi saat puncak gelombang dingin. Apa yang harus kami lakukan padanya?” Tanya Osvaldo. Aurora menolehkan kepalanya dan menatap Amanda yang tergeletak dengan lemas. Alfred baru saja mengutarakan rencananya untuk melakukan evakuasi darurat karena suhu udara sudah semakin meningkat. Mereka tidak bisa terus tinggal di dalam hotel karena mereka sudah kehabisan persediaan makanan. “Kita akan mencari cara untuk membawanya. Dia harus segera dirawat di rumah sakit karena lukanya cukup parah..” Alfred berbicara sambil memeriksa luka di kepala Amanda. Aurora merasa tidak percaya jika dia sedang melihat ayahnya sendiri. Ini seperti sebuah mimpi.. “Apakah ini akan sama seperti evakuasi yang diberlakukan oleh pemerintah satu pekan lalu?” Tanya Sir Andres. “Belum ada kendaraan yang bisa melintasi lapisan es. Evakuasi yang diberlakukan oleh pemerintah harus berhenti karena saat itu gelombang dingin menyapu wilayah Manhattan. Bisa dikatakan jika semua orang yang ikut dalam kendaraan evakuasi telah mati membeku karena kedinginan..” Aurora menutup mulutnya dengan tidak percaya. “Apakah itu benar?” Tanya Aurora. “Ada lapisan es setinggi 17 kaki. Kendaraan mereka terkubur dalam lapisan es tersebut. Bisa dipastikan jika mereka telah tewas sejak gelombang dingin datang ke Manhattan..” “Ini semua sangat tidak masuk akal! Bagaimana bisa sebuah nuklir yang meledak mengirimkan bencana mengerikan seperti ini?” Tanya Osvaldo. “Nuklir selalu dijalankan dengan risiko mengerikan. Selama ini aku mencoba mengembangkan sebuah pembangkit energi baru yang lebih ramah lingkungan serta risiko yang tidak terlalu besar.. sayang sekali pemerintah selalu menolak proposalku..” Jawab Alfred. Aurora mengamati ayahnya dengan seksama. Pria itu terlihat semakin tua. Ada garis keriput di sepanjang dahinya, beberapa helai rambutnya mulai memutih yang menandakan ayahnya adalah orang biasa yang mulai dimakan oleh usia. Tapi.. tapi ayahnya terlihat sangat bahagia. Tidak ada lagi tatapan sendu yang terpancar dari matanya. Pria itu terlihat tenang, sepertinya dia berhasil menata ulang kehidupannya menjadi lebih baik. “Apakah evakuasi warga juga adalah ide dari Anda?” Tanya Osvaldo. Alfred menolehkan kepalanya dan tersenyum singkat. “Maksudku.. aku mendengar banyak berita tentang Anda. Bukankah Anda profesor pertama yang mengungkapkan tentang gelombang dingin ini? Kurasa tidak ada orang yang tidak mengenal Anda di benua Amerika ini..” Osvaldo kembali menyambung kalimatnya. “Sayangnya aku sudah berada di perjalanan menjuju ke New York saat pemerintah memberikan pengumuman tentang evakuasi. Jika aku masih di Washington, D.C dan saluran teleponku bisa berfungsi dengan baik, maka aku akan menghentikan proses evakuasi.. Sayang sekali.. tapi kita tidak bisa menjalankan dua hal secara bersamaan, bukan?” Aurora menundukkan kepalanya sejenak. Sejak pertama kali mendengarkan jawaban ayahnya, Aurora sadar jika pria itu sedang melewatkan sebuah kesempatan besar karena dia memilih untuk menjemput Aurora di New York. “Dua hal secara bersamaan?” Tanya Osvaldo. Alfred tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Pria itu menatap Aurora dan mengusap rambutnya dengan lembut. “Apakah makanan ini cukup untuk kalian semua? Kita harus menyimpan persediaan makanan karena kemungkinan besar kita akan terjebak di tempat ini selama beberapa hari ke depan..” Aurora menatap ke sekelilingnya dimana semua orang sedang sibuk membuka bungkusan makanan yang dibawa oleh Alfred. Aurora tidak tahu bagaimana caranya ayahnya datang ke tempat ini sambil membawa makanan. Udara di luar sangat dingin, tapi makanan mereka tidak membeku. “Anda berjalan dari rumah sakit kota selama tiga jam penuh? Apakah kalian tidak kedinginan?” Tanya Osvaldo. “Kami memiliki pakaian khusus yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari udara dingin. Jarak rumah sakit ke hotel ini tidak terlalu jauh jika kita bisa menggunakan kendaraan, sayangnya udara dingin akan langsung membekukan mesin mobil..” Jawab Alfred. “Sekalipun menggunakan pakaian khusus, kita akan tetap menggigil karena kedinginan..” Kata Felix. Ayahnya menempuh perjalanan yang cukup ekstrem untuk bisa datang ke hotel ini. Ayahnya sedang berada di puncak popularitas karena dia menjadi satu-satunya ilmuan yang memberikan peringatan akan terjadinya bencana gelombang dingin, tapi pria itu memilih untuk meninggalkan segalanya dan datang mencari Aurora. “Kita akan menghubungi rumah sakit begitu keadaan membaik. Mereka berjanji akan mengirimkan kendaraan ke sini untuk mengevakuasi kita..” Kata Alfred. Aurora menatap Amanda yang masih berbaring dengan lemas. Untuk sesaat Aurora merasa takut karena menyadari jika tindakannya beberapa hari lalu telah menyalahi aturan medis. “Aku menjahit kepala Amanda yang terluka karena tertusuk keramik guci. Apakah aku akan disalahkan karena melakukan hal itu, Daddy?” Tanya Aurora dengan suara pelan. Di saat semua orang sudah kembali sibuk untuk mendekat ke arah perapian yang mulai meredup, Aurora memilih untuk berbicara di tempat yang jauh dari perapian. Alfred menolehkan kepalanya dan menatap Aurora dengan tenang. Pria itu tersenyum dan mengusap rambut Aurora. Entah berapa kali ayahnya melakukan hal yang sama. Aurora ingat jika sejak ia masih kecil, ayahnya sangat sering menyentuh kepalanya dengan gerakan lembut. “Daddy sangat bangga kepadamu, Aurora. Mommy-mu membesarkanmu dengan sangat baik..” Aurora merasa jika matanya mulai memanas. Pembahasan mengenai keluarga selalu membuatnya emosional. Aurora merindukan masa lalunya, ia rindu pada waktu yang mereka habiskan bersama. Aurora sangat menyayangi Dalton, dia senang karena ibunya menikah dengan seorang pria baik yang sangat mencintainya, tapi Aurora tidak bisa memungkiri jika dirinya masih sering merindukan suasana keluarganya sebelum perceraian itu terjadi. Ayahnya bukan pria yang bisa meluangkan banyak waktu di akhir pekan, ibunya juga seorang wanita sibuk yang selalu bekerja hingga malam hari, tapi Aurora sangat menyayangi mereka berdua. “Jangan menangis, sayang. Kau melakukan semuanya dengan sangat baik.. Daddy sangat bangga padamu..” Ayahnya kembali berbicara dengan suara lembut. “Aku.. aku sangat takut..” Kata Aurora. “Hei, kau tidak sendirian. Daddy ada di sini, kau tidak perlu ketakutan lagi..” Ayahnya tersenyum dan mengusap air mata Aurora. Pria itu memeluknya dan kembali mengusap kepalanya dengan pelan. “Kau memiliki rambut pirang yang sangat cantik. Kau putri yang sangat hebat, Aurora..” Kata ayahnya. Aurora semakin sulit mengendalikan tangisannya. Selama satu pekan ini dia terus gelisah karena merasa ketakutan, tapi Aurora sangat jarang menangis. Dia menghadapi segalanya dengan baik sekalipun kadang ia harus melewati malam yang panjang tanpa bisa terlelap. Aurora mencoba untuk terlihat kuat karena tidak ingin melihat Victor cemas, tapi begitu bertemu dengan ayahnya.. Aurora tidak bisa lagi menahan dirinya. “Apakah kita akan keluar dari hotel ini?” Tanya Aurora. “Tentu, kita akan pulang ke Washington, D.C.. Kau akan bertemu dengan Hugo dan Austin, mereka adalah rekan tim Daddy yang saat ini sedang bertugas di kantor..” Aurora mengingat Hugo, dia seorang pria ceria yang sering menceritakan lelucon setiap kali Aurora menghubungi ayahnya. Lalu Austin... Aurora rasa dia tipe pria pendiam yang sangat serius. Aurora belum pernah berbicara dengannya. “Dan.. kau juga akan bertemu dengan Charlotte..” Lanjut ayahnya. Aurora mengernyitkan dahi. Charlotte? Aurora sama sekali tidak pernah mendengar jika di tim ayahnya juga ada seorang wanita bernama Charlotte. “Apakah ada wanita yang tertarik untuk mempelajari meteorologi?” Tanya Aurora. Alfred terlihat kebingungan untuk sesaat, tapi akhirnya pria itu menganggukkan kepalanya. “Dia adalah wanita yang sangat hebat.. kau mau bertemu dengannya?” Tanya Alfred. Aurora sering merasa penasaran dengan kehidupan ayahnya di Washington, D.C. Tidak banyak hal yang Aurora ketahui karena selama ini mereka seperti dua orang yang saling berjauhan. Aurora merasa kecewa karena ayahnya pergi begitu saja, ia belum terlalu mengerti tentang kehidupan rumah tangga jadi Aurora mengambil kesimpulan dari pemikirannya sendiri. Sekalipun mereka jarang berhubungan selama 5 tahun belakangan ini, Aurora merasa sangat terharu karena di saat ia terjebak di badai mengerikan, ayahnya justru menjadi orang pertama yang datang mencarinya. “Kita akan pergi ke Washington, D.C, bukan? Itu artinya aku akan bertemu dengannya..” Jawab Aurora dengan tenang. “Aurora.. apakah kau merasa senang ketika ibumu menikah lagi?” Aurora mengeratkan mantelnya, ia menarik kainnya dengan pelan lalu menemuknya secara perlahan. Melihat gerakan Aurora, Victor tampak mengamati dari jarak yang tidak terlalu jauh. Pria itu terlihat khawatir, tapi dia enggan untuk mendekat. Entah kenapa Victor menjauh dari Aurora setelah Alfred datang. “Aku membenci Dalton karena kupikir pria itu akan menjauhkan Mommy dariku. Tapi dia pria yang baik, dia menyayangiku dan sangat peduli padaku. Aku senang ketika melihat Mommy bahagia, dia menemukan pria yang tepat..” Jawab Aurora sambil tersenyum. “Daddy turut bahagia atas pernikahan ibumu. Akhirnya dia menemukan pria yang tepat..” Aurora menolehkan kepalanya dengan cepat. “Aku tidak bermaksud untuk mengatakan jika Daddy bukan pria yang tepat. Kalian hanya sedikit.. sedikit sulit untuk berkomunikasi..” Aurora kesulitan ketika akan memberi penjelasan. “Itu artinya kami tidak cocok, Aurora..” Ayahnya berbicara sambil tersenyum. Aurora merasa bersalah karena dia terlalu jauh membahas mengenai Dalton. Sulit ketika harus membicarakan ibunya tanpa melibatkan Dalton. “Jangan khawatir, Daddy sama sekali tidak tersinggung. Dia pantas bahagia..” Kata ayahnya. Aurora menganggukkan kepalanya. Ibunya pantas bahagia, begitu juga dengan ayahnya. “Apakah.. apakah Daddy juga akan menikah?” Aurora bertanya dengan hati-hati. “Menikah? Kau keberatan jika Daddy menikah?” Tanya ayahnya. Aurora terdiam untuk sesaat. Menyadari jika setiap mimpi yang ia harapkan akan benar-benar tidak terwujud membuat Aurora merasa sedih untuk sesaat. Ibunya sudah menikah, wanita itu menemukan kebahagiaan barunya ketika dia bersama dengan Dalton. Tidak adil jika Aurora merasa keberatan saat ayahnya ingin melakukan hal yang sama. Pernikahan mereka meninggalkan luka yang begitu dalam, perceraian adalah hal yang paling mengerikan dalam sebuah pernikahan. Ibunya berhasil mengatasi semua itu dan kini sudah bahagia dengan kisah barunya, Aurora juga mengharapkan hal yang sama untuk ayahnya. “Mungkin aku akan bersedih untuk sesaat. Sulit menerima jika.. jika kalian sudah benar-benar menemukan kehidupan yang baru. Tapi sama seperti aku menyayangi Dalton, aku juga akan melakukan hal yang sama pada pasangan Daddy” Aurora berusaha keras untuk menahan air matanya. “Kau menjadi gadis yang sangat dewasa, Aurora. Daddy telah melewatkan banyak hal tentangmu..” Aurora sendiri tidak pernah sadar kapan dia mulai mengubah pola pikirkan. Keadaan di sekitarnya memaksa agar Aurora bisa beradaptasi dengan perubahan. “Selamat natal, Aurora. Kita akhirnya merayakan malam natal bersama..” Kata ayahnya dengan pelan. Aurora menatap ke arah jendela yang ada di depannya. Jadi ini adalah malam natal? “Tidak ada hadiah yang bisa Daddy berikan, tapi kau akan mendapatkan hadiahmu ketika kita sampai di Washington, D.C..” Kata ayahnya sambil tersenyum. Setelah 5 tahun merayakan malam natal bersama dengan ibunya, ini menjadi kali pertama Aurora menikmati malam natal bersama ayahnya. Tidak ada gemerlap lampu yang dipasang di sepanjang jalan, tidak ada suara lonceng, juga tidak ada kue kering yang menjadi ciri khas malam Natal. Hanya ada salju dan udara dingin.. namun Aurora sangat bahagia karena dia bersama dengan ayahnya. “Apakah Daddy akan marah jika aku mengatakan bahwa aku memiliki kekasih?” Tanya Aurora dengan suara pelan. Alfred menatap Aurora dengan pandangan terkejut, tapi sesaat kemudian pria itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Ini malam natal, tidak ada yang marah di malam natal..” Jawab Alfred dengan tenang. Aurora menghembuskan napasnya dengan lega. Setidaknya Alfred tidak marah ketika mendengar pengakuannya yang cukup mengejutkan tersebut. “Karena kau mengatakan sebuah rahasia, maka Daddy juga ingin mengatakan hal yang sama..” Aurora tersenyum sambil menatap Alfred dengan pandangan penasaran. “Charlotte bukan anggota tim Daddy. Dia kekasih Daddy..” Aurora tahu jika dia baru saja memberikan kabar yang cukup mengejutkan untuk ayahnya, tapi balasan pria itu jauh lebih mengejutkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN