Bab 47

1727 Kata
Manhattan, New York (US) Setelah tiga hari bertahan di dalam ruangan hotel tanpa perapian, mereka semua memutuskan untuk melakukan perjalanan evakuasi menuju ke rumah sakit. Keadaan Amanda semakin memburuk, wanita itu tidak bisa membuka matanya, denyut nadinya juga semakin lemah. Aurora merasa sangat cemas karena dialah yang bertanggung jawab atas keadaan Amanda. Mereka tidak memiliki pilihan lain selain menerobos badai untuk bisa membawa Amanda ke rumah sakit. “Sebaiknya kau tetap di sini, Aurora. Kakimu terluka..” Kata Victor dengan suara khawatir. Aurora menatap pemuda yang sedang berdiri di depannya dengan seksama. Victor akan selalu mengkhawatirkan Aurora padahal sekarang keadaannya sudah jauh lebih membaik. “Aku tidak mungkin tetap tinggal di sini sementara kalian pergi ke rumah sakit..” Rencananya Victor, Osvaldo, Alfred, dan Felix akan membawa Amanda dan pria tua yang belakangan ini Aurora ketahui bernama Sir Charles ke rumah sakit. Sementara itu, Sir Andres dan dua orang lainnya memilih untuk tetap tinggal di dalam hotel hingga tim evakuasi datang. “Di luar sangat dingin, kau yakin akan berjalan selama tiga jam dengan kaki yang terluka..” Victor menundukkan tubuhnya dan memeriksa keadaan kaki Aurora. Luka Aurora sudah mulai sembuh sekalipun masih sering terasa nyeri. Mereka akan menempuh perjalanan jauh, Aurora tidak yakin jika dia mampu berjalan selama tiga jam penuh, tapi ia akan berusaha. “Aku akan menggendongmu saat kau merasa kesakitan, jadi jangan diam dan memendam apa yang kau rasakan sendirian. Jika kau merasa lelah, kita akan berhenti, jika kau kedinginan dan kesakitan, kita juga akan berhenti. Kau mengerti, Aurora?” Aurora tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Jangan khawatir..” Aurora menjawab dengan tenang. “Kakimu terluka, dan kau melarangku untuk khawatir?” Tanya Victor. Aurora tertawa ketika mendengar reaksi Victor. “Kau harus mengendong Amanda, bukan? Osvaldo tidak akan mampu menggendongnya seorang diri..” Aurora mencoba untuk menjelaskan keadaan mereka. Victor dan Osvaldo akan menggendong Amanda sementara Felix dan Alfred akan mengendong Sir Charles. Pria tua itu tidak akan mampu berjalan seorang diri di tengah badai gelombang dingin. “Aku tidak mungkin membiarkan kau berjalan—” “Aku baik-baik saja, Victor. Tenanglah..” Aurora tersenyum dengan tenang. Alfred dan Felix memiliki pakaian khusus yang dirancang untuk memerangkap panas tubuh agar bisa meminimalisir kedinginan. Alfred memberikan pakaian miliknya kepada Aurora sehingga Aurora pasti akan merasa lebih hangat dari yang lainnya. “Kalian membuatku iri dan ingin segera mencari kekasih..” Kata Osvaldo. Aurora menatap pemuda itu dengan geli. Hampir sepuluh hari mereka terjebak di dalam satu ruangan yang sama sehingga membuat Victor dan Aurora jadi akrab dengan Osvaldo. “Kau bisa segera kembali ke kotamu jika begitu..” Jawab Victor. Namun entah kenapa Victor selalu terlihat antipati dengan Osvaldo. “Ya, sayang sekali aku malah terjebak di sini bersama dengan dua orang yang sedang sakit.. aku memang sangat tidak beruntung..” Kata Osvaldo sambil menatap Amanda dan Sir Charles. Aurora merasa prihatin ketika melihat keadaan Amanda. Perempuan itu berjuang dengan sangat keras karena luka di kepalanya terlalu parah untuk bisa diobati oleh orang awam seperti Aurora. Perempuan kehilangan banyak darah, jika kesulitan untuk makan sejak satu pekan lalu.. tapi Amanda tetap bertahan. “Bagaimana cara kita membawanya, Victor? Kau akan mengangkatnya sepanjang jalan?” Tanya Osvaldo. “Entahlah, aku juga sedang memikirkan cara untuk membawanya..” Aurora ikut memikirkan hal yang sama. Mereka akan menempuh perjalanan yang cukup jauh, Victor dan Osvaldo pasti sangat kesulitan karena mereka harus membawa Amanda. “Apakah kalian sudah siap?” Tanya Alfred sambil memakaikan pakaian khusus kepada Aurora. “Bagaimana cara kami membawanya? Keadaannya sangat buruk..” Kata Victor dengan suara pelan. Kepala Amanda terluka sangat parah, jika mereka salah menyentuh, maka luka di kepalanya akan semakin memburuk. “Kalian bisa menggendongnya?” Alfred justru menjawab dengan sebuah pertanyaan. “Menggendong Amanda di punggung kami sama saja dengan membiarkan punggungnya menjadi perisai salju yang turun, dia akan semakin kedinginan..” Kata Osvaldo. “Kita tidak memiliki pilihan lain.. Berjalan di tengah udara dingin dan salju yang tinggi membuat kita kesulitan saat akan melangkah, kalian bisa saja jatuh jika mengendongnya di posisi depan..” Jelas Alfred. *** Perjalanan panjang menuju ke rumah sakit membuat Aurora sering kali tidak fokus dan kehilangan keseimbangan. Berulang kali Aurora mendengar suara Victor yang menanyakan keadaannya, tapi Aurora memilih untuk diam dan tetap melanjutkan perjalanan. “Kita bisa berhenti jika kau tidak sanggup berjalan..” Osvaldo mendekati Aurora yang mulai menggigil karena kedinginan. Victor sedang menggendong Amanda di belakangnya, pria itu terlihat kepayahan tapi dia tetap berusaha melangkahkan kakinya. Diantara mereka semua, hanya Aurora dan Felix saja yang memiliki pakaian khusus. Ayahnya tampak berjalan dengan tenang di barisan pertama, sementara itu Victor berjalan di barisan akhir sambil menggendong Amanda. “Aku bisa melakukannya..” Kata Aurora dengan pelan. Tidak ada lagi perapian, kini mereka harus berhadapan dengan badai dingin yang begitu mengerikan. Aurora tidak tahu apakah mereka akan sanggup berjalan menuju ke rumah sakit. “Apakah kau masih sanggup berjalan, Aurora? Kami mendapatkan signal panggilan dari rumah sakit, sepertinya mereka sedang mengirimkan kendaraan bantuan karena pemerintah sudah mulai mengerahkan tim untuk melakukan evakuasi..” Kata Felix sambil berjalan mendekati Aurora. Kendaraan? Kendaraan sudah mulai berfungsi? “Kita akan berhenti di bawah gedung itu! Jangan berhenti di sini!” Alfred berteriak dari barisan depan. Aurora menganggukkan kepalanya. Dengan kaki yang mulai terasa kaku, Aurora berusaha keras untuk tetap melangkahkan kakinya dengan cepat. “Aku akan menggendongnya, kurasa Aurora kesulitan berjalan..” Kata Osvaldo sambil mendekati Victor. Aurora menoleh dan menatap Victor yang tampak sangat khawatir. Pria itu segera berlari mendekatinya dan menundukkan tubuh tepat di hadapan Aurora. “Kita hanya perlu berjalan beberapa meter—” Ucapan Aurora tiba-tiba terhenti karena kakinya terasa lemas sehingga dia kehilangan keseimbangan. Aurora terjatuh, tubuhnya menghantam lapisan es yang ditutupi oleh salju. “Kau baik-baik saja? Kau sungguh baik-baik saja?” Victor langsung membantu Aurora, pria itu mengangkatnya dan berlari mendahului Alfred untuk berlindung di balik gedung yang ada di seberang jalan. Aurora menghembuskan napasnya dengan pelan. Kepalanya mulai terasa pusing.. Entah kenapa Aurora selalu merepotkan orang lain di saat yang tidak tepat. “Hei, bukan matamu.. Kau akan baik-baik saja, Aurora..” Victor mengusap kepala Aurora dengan cemas. “Ada apa?” Tanya Alfred yang datang tida lama setelah Victor menemukan tempat berlindung. Hujan salju turun semakin deras, Aurora khawatir jika mereka akan terjebak di dalam badai salju jika tidak segera sampai di rumah sakit. “Kakimu mengeluarkan darah.. Apakah terasa sakit?” Victor seakan mengabaikan pertanyaan Alfred, pria itu hanya fokus untuk memastikan keadaan Aurora. “Aku baik-baik saja..” “Kurasa kau tidak boleh berjalan lagi, Aurora..” Kata Felix. Aurora memejamkan matanya dengan perlahan. Apa yang harus mereka lakukan sekarang? “Kita tidak bisa diam di sini, sepertinya salju ini pertanda jika akan terjadi badai lagi..” Alfred bangkit berdiri dan melihat keadaan di luar yang mulai gelap karena tertutup salju. “Maafkan aku..” Kata Aurora dengan pelan. “Ini bukan salahmu, tidak perlu meminta maaf..” Victor berusaha untuk tetap menenangkan Aurora. “Kau bisa membawa pria tua itu, Felix? Aurora tidak bisa dibiarkan berjalan sendirian..” Kata Alfred. “Sebaiknya biarkan Victor yang membawanya, kurasa itu akan lebih baik..” Felix berbicara dengan pelan. Sesekali pria itu menatap ke arah Victor yang benar-benar terlihat khawatir. Alfred melakukan hal yang sama dengan Felix, pria itu terdiam untuk sesaat lalu ia menganggukkan kepalanya. Sejak tadi Alfred dan Felix bergantian menggendong Sir Charles, hanya dalam waktu 5 sampai 10 menit mereka akan saling bergantian. “Aku akan membawa Amanda..” Kata Osvaldo. “Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja, Aurora..” Alfred memeluknya dengan erat. Aurora mencoba untuk menganggukkan kepalanya. Ini akan menjadi pengalaman yang paling menakutkan seumur hidupnya. “Sepertinya evakuasi mulai dilakukan.. kita akan beruntung jika bertemu dengan kendaraan evakuasi. Suhu udara semakin naik, tapi sepertinya kenaikan ini akan menimbulkan badai..” Alfred menatap ke arah langit dengan pandangan khawatir. “Kita harus sampai di rumah sakit sebelum badai itu datang.. Kali ini aku sungguh berharap jika pengamatanmu meleset, Alfred..” Kata Felix. “Aku juga mengharapkan hal yang sama..” Alfred membalas dengan pelan. *** Selama di perjalanan, Aurora hanya diam sambil terus memeluk tubuh Victor. Pria itu menggendongnya selama berjam-jam, dia berjalan di tengah hembusan salju dan udara yang begitu dingin. Setiap langkah yang ia ambil selalu bergetar karena dia mulai menggigil kedinginan, tapi Victor sama sekali tidak menyerah. “Ceritakan padaku tentang masa kecilmu..” Aurora berulang kali menceritakan hal yang sama, dia mulai mengantuk dan Victor menyadari hal itu. “Saat itu adalah musim panah dengan suhu yang tinggi. Aku berjalan di taman bermain sendirian karena aku tidak pernah.. tidak pernah memiliki teman. Tidak ada yang mau berteman dengan seorang anak aneh sepertiku..” Kata Aurora dengan suara bergetar. “Maksudmu seorang anak jenius?” Aurora tersenyum sekilas. “Mereka tidak menyukaiku..” “Mereka iri padamu..” Victor kembali berbicara dengan suara pelan. Aurora menutup matanya secara perlahan. Tubuhnya terasa seperti melayang di atas ketinggian.. Angin yang berhembus terasa semakin dingin, punggungnya seperti membeku karena menahan butiran salju yang mendarat di mantelnya. “Aku merindukan musim panas..” Kata Aurora dengan mata yang mulai tertutup sebagian. “Kau akan pergi ke pantai bersamaku saat musim panas?” Tanya Victor. “Aku tidak pernah pergi keluar rumah saat musim panas karena kulitku akan terbakar. Mommy akan marah jika aku keluar tanpa mengenakan pakaian lengan panjang..” Aurora tersenyum ketika mengingat ibunya. Apakah.. apakah Aurora akan memiliki kesempatan untuk bertemu dengan ibunya? “Ya, kau gadis berkulit pucat yang sangat sensitif. Tapi rambutmu akan berkilau ketika terkena sinar matahari.. jadi, maukah kau berpiknik bersamaku saat musim panas?” Tanya Victor. Aurora tertawa pelan. “Apakah musim dingin ini akan berakhir?” Tanya Aurora. “Tentu saja. Semua ini akan segera berakhir. Kita hanya pergi bertahan selama beberapa jam lagi, kita akan sampai di rumah sakit dan semuanya akan baik-baik saja..” Kata Victor. Aurora mengharapkan hal yang sama. Dia ingin musim dingin ini akan segera berakhir. Aurora merindukan sinar matahari, dia ingin merasakan kehangatan matahari di musim panas. Tidak masalah jika kulitnya harus kembali terbakar, Aurora hanya ingin mengakhiri musim dingin ini. “Aurora?” Victor memanggil Aurora. “Ya..” Aurora menjawab dengan pelan. “Jangan menutup matamu. Tetaplah berbicara denganku..” “Ya..” “Bisakah kau menceritakan kisah lain?” Tanya Victor. “Ya..” Aurora kembali menjawab dengan suara lemah. “Tapi aku sangat mengantuk..”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN