Manhattan, New York (US)
Suara langkah kaki yang terdengar terburu-buru, aroma menyengat dari bahan kimia yang akan langsung mengingatkan semua orang pada rumah sakit. Semua itu sudah terasa sejak Aurora belum membuka matanya. Bahkan Aurora juga sempat merasakan nyeri di pergelangan tangan kirinya.
Ketika Aurora mulai membuka matanya, dia menatap ruangan putih yang dipenuhi oleh uap penghangat ruangan.
Tunggu dulu.. ia ada dimana?
Apakah ini sungguh rumah sakit?
“Victor..” Aurora memanggil dengan suara pelan.
“Aurora? Oh Tuhan, kau akhirnya membuka matamu..” Alfred mendekati Aurora dengan langkah cepat. Pria itu langsung tersenyum dan memeluknya dengan pelan.
“Kita berada di rumah sakit?” Tanya Aurora.
“Ya, kita berada di rumah sakit, sayang. Kau berhasil melakukannya..” Ayahnya kembali memeluk Aurora dengan tatapan bangga.
Rasa lega langsung memenuhi hati Aurora. Mereka berhasil sampai di rumah sakit..
Entah kenapa Aurora melewatkan setengah perjalanan mereka. Aurora tertidur.. atau mungkin dia tidak sadarkan diri.
“Dimana Victor?” Aurora menatap ayahnya.
Aurora ingat jika Victor yang menggendongnya, pria itu terus berjalan sekalipun kakinya mulai bergetar karena kedinginan. Lalu sekarang Victor ada dimana?
“Ah, dia ada di lantai dua. Dia sangat kedinginan, di sana ada perapian besar..”
Aurora kembali menghembuskan napasnya dengan lega. Victor baik-baik saja.. Aurora sangat khawatir pada pria itu.
“Amanda juga sudah mendapatkan penanganan, ada infeksi di kepalanya, dia juga kekurangan darah. Tapi dia sudah baik-baik saja..” Jelas ayahnya dengan pelan.
“Sir Charles?” Tanya Aurora.
“Dia juga baik-baik saja. Jangan khawatir..” Ayahnya menjawab sambil mengusap kepala Aurora.
Mereka berhasil sampai di rumah sakit, sekalipun harus melewati jalan yang begitu sulit, akhirnya mereka bisa sampai di rumah sakit. Kata Alfred di sini tersedia banyak makanan dan perapian yang hangat. Jika ada yang terluka, rumah sakit ini memberikan pelayanan secara cuma-cuma, mereka memberikan perawatan yang terbaik tanpa memandang status sosial. Bahkan seluruh tenaga medis di sini tidak berhenti bekerja sejak badai pada hari pertama.
“Aku ingin turun..” Kata Aurora dengan pelan.
“Kakimu mengalami infeksi, Aurora. Dokter mengatakan jika sebaiknya kau tidak berjalan selama beberapa hari ke depan. Daddy akan turun dan memanggil Victor untuk naik ke sini..” Kata ayahnya. “Kau.. kau sangat menyukainya, ya?” Tanya ayahnya dengan pelan.
Aurora terdiam. Tidak ada jawaban yang bisa Aurora ungkapkan untuk menjelaskan seberapa besar Aurora menyukai Victor.
“Entahlah..” Jawab Aurora sambil tersenyum.
“Kau datang ke New York bersama dengannya, kau pasti sangat menyukainya..” Kata Alfred.
“Aku juga sangat menyukai Daddy..”
“Ya, kau memang harus menyukai Daddy..” ayahnya berbicara sambil tersenyum.
***
“Jangan menangis, semuanya akan baik-baik saja. Jangan menangis, Aurora..”
Entah kenapa Aurora justru menangis ketika melihat Victor datang. Aurora merasa sangat terharu karena Victor begitu baik kepadanya.
“Kita sedang berada di rumah sakit, di sini ada makanan dan perapian. Kita semua akan baik-baik saja, jadi kenapa kau menangis?” Tanya Victor. Pria itu terus mengusap kepalanya dengan lembut, Victor berusaha keras untuk membuat Aurora kembali tenang.
Apa yang bisa Aurora katakan? Dia ingin berterimakasih karena Victor telah menggendongnya selama berjam-jam saat mereka melakukan perjalanan dari hotel ke rumah sakit ini?
“Di ruangan ini kau mendapatkan dua penghangat udara, untuk para pengungsi sepertiku, kamu tidak mendapatkan penghangat udara, jadi mereka menyediakan perapian yang sangat besar..” Kata Victor dengan tenang.
Rumah sakit ini terasa jauh lebih hangat dari ruangan di hotel.
“Mereka juga memberikan roti untuk kami.. sepertinya kepala rumah sakit mengenal ayahmu, kami semua disambut dengan baik saat datang ke rumah sakit ini..” Kata Victor.
Aurora tidak terlalu mengerti bagaimana ayahnya bisa mengenal kepala rumah sakit, tapi dia sangat bersyukur karena rumah sakit ini mau menerima mereka semua.
“Banyak dokter yang memujimu karena kau telah memberikan pertolongan pertama pada Amanda dan Sir Charles. Kau sangat hebat, Aurora..” Victor kembali berbicara.
“Mereka juga sedang mendapatkan perawatan?” Tanya Aurora.
“Ya, mereka juga mendapatkan perawatan. Jangan khawatir, mereka akan segera membaik..” Victor tersenyum.
Aurora terdiam untuk sesaat. Entah kenapa dia merasa jika Victor sedang memaksakan senyumannya.
“Kau tidak berbohong kepadaku, bukan?” Aurora mulai merasa waspada. Dia menatap Victor dengan seksama. Victor bukan tipe pria yang suka berbohong, tapi ketika melihat senyumannya beberapa saat lalu membuat Aurora merasa ragu kepadanya.
“Hei, Aurora.. kau sudah sadar rupanya. Bagaimana keadaanmu?” Tanya Osvaldo yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan Aurora.
Aurora sedikit terkejut, tapi dia langsung tersenyum untuk menunjukkan jika sekarang keadaannya sudah semakin membaik.
“Rumah sakit ini sangat hangat. Seharusnya kita datang ke sini sejak awal..” Kata Osvaldo.
“Dokter mengatakan jika kau membutuhkan waktu untuk istirahat. Sebaiknya kita keluar dari ruangan ini, bukan?” Victor berbicara sambil menatap Aurora dan Osvaldo secara bergantian.
“Ya, kau baru sadar. Sebaiknya kau beristirahat, Aurora..”
Aurora menahan lengan Victor ketika pria itu bangkit berdiri dan bersiap untuk keluar dari ruangannya.
Ada rasa takut setiap kali Aurora melihat Victor berada jauh dari pandangannya. Selama sepuluh hari terakhir, Aurora terbiasa untuk selalu menggenggam tangan Victor ketika dia akan tidur. Tidak ada yang tahu kapan keadaan ini akan berakhir, gelombang dingin dan gempa susulan bisa saja kembali terjadi.
“Bisakah kau tetap di sini?” Tanya Aurora dengan pelan.
Victor menatapnya sejenak, pria itu tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
“Ayahmu terus duduk di sampingmu saat kau tidak sadarkan diri. Dia tidak makan, dia juga tidak peduli pada dirinya sendiri. Kau tidak ingin dia menemanimu saat ini?” Tanya Victor.
Aurora menatap ke sekeliling ruangannya. Ada dua mesin penghangat ruangan yang dipasang di atas kepala Aurora, sebuah selimut tebal yang sangat hangat membungkus tubuhnya hingga membuatnya merasa sangat nyaman. Di ruangan ini ada beberapa alat medis yang berada di meja sebelah kiri. Gantungan infus terletak di samping meja medis tersebut. Sejak awal membuka matanya, Aurora tahu jika tangan kirinya sedang diinfus.
Sudah.. sudah berapa lama Aurora berada di sini?
“Berapa lama aku tidak sadarkan diri?” Tanya Aurora.
Victor mengerjapkan matanya sesaat, pria itu tampak terkejut dengan pertanyaan yang Aurora ajukan.
“Kau tidak sadarkan diri selama tiga hari. Apakah ayahmu belum menceritakan apapun kepadamu?” Tanya Victor.
Aurora kembali termenung. Masih teringat dengan jelas apa yang terjadi sesaat setelah ia membuka mata untuk yang pertama kalinya.
Saat itu ayahnya ada di ruangan ini, pria itu mendengar suara Aurora lalu datang mendekatinya dengan cepat. Aurora bisa melihat jika ayahnya tampak sangat khawatir. Pria itu memeluknya dengan erat, dia mencoba untuk menenangkan Aurora dengan segala cara yang ia ketahui.. Tapi Aurora justru mencari Victor.
Aurora melupakan keberadaan ayahnya dan dia mencari Victor..
***
Suasana malam hari di rumah sakit terasa jauh lebih hangat karena seluruh ruangan dilengkapi oleh penghangat suhu. Ada perapian besar yang dibuat di lantai satu dan lantai dua.
Aurora menghabiskan waktu selama dua hari tanpa diizinkan berjalan, tapi di hari ketiga Aurora mulai bisa menggerakkan kakinya.
“Bagaimana keadaanmu? Apakah sudah membaik?”
Aurora tersenyum dan menganggukkan kepalanya ketika Sir Charles datang mengunjunginya. Pria tua itu tampak sehat, tubuhnya tidak lagi lemas karena sudah mendapatkan penanganan dari rumah sakit. Aurora senang mengetahui keadaan pria itu.
“Ya, Sir. Bagaimana dengan Anda?” Tanya Aurora dengan pelan.
“Kami semua semakin membaik. Aku sendiri akan segera pulang ke kotaku karena evakuasi mulai dilakukan pagi ini. Suhu udara semakin naik, sekarang sudah mencapai 5 derajat celsius. Sepertinya kau juga akan segera pulang ke Washington, D.C”
Aurora kembali tersenyum. Pagi ini dimulai dengan sebuah berita yang baik.
Suhu udara yang semakin naik menandakan jika mereka semua akan segera pulang. Kendaraan sudah mulai bisa melintas di suhu 5 derajat celcius, evakuasi pasti akan berjalan dengan lancar.
“Terima kasih karena sudah membantuku melewati semua ini, Aurora. Kau gadis yang hebat..” Kata Sir Charles.
“Tentu saja, Sir..” Jawab Aurora sambil menganggukkan kepalanya.
“Kudengar ayahmu mulai menyiapkan perjalanan pulang ke Washington, D.C. Ternyata kau tidak berbohong ketika mengatakan jika ayahmu seorang ilmuan meteorologi..”
Aurora tertawa pelan. Percaya tanpa melihat bukti adalah hal yang sulit untuk dilakukan.
“Kau pasti akan mengingat pengalaman buruk ini seumur hidupmu. Jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri Aurora, kau berhasil menyelamatkanku, kau bukan Tuhan yang bisa menyelamatkan semua orang..”
Aurora mengernyitkan dahinya. Apa yang sedang dikatakan oleh Sir Charles?
“Maaf, tapi apa yang sedang Anda bicarakan?” Tanya Aurora dengan pelan.
“Aku sedang—”
“Aurora? Apakah kau siap untuk pulang ke Washington, D.C?” Victor tiba-tiba masuk ke dalam ruangan dan memotong kalimat Sir Charles.
Aurora menatap Victor yang tampak antusias. Pria itu membereskan selimut Aurora, dia juga memeriksa luka yang ada di kaki Aurora.
“Kalian akan pergi hari ini?” Tanya Sir Charles.
“Iya, ayahnya Aurora memiliki banyak pekerjaan menumpuk di Washington, D.C..” Jawab Victor.
“Begitu rupanya.. baiklah, sepertinya kalian akan sibuk dengan persiapan sebelum melakukan perjalanan. Kudengar wilayah Philadelphia membeku karena banjir beberapa waktu lalu berubah menjadi es di suhu rendah.. kalian harus berputar untuk melewati kota itu..” Sir Charles berbicara sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Aurora.
“Kita mungkin tidak akan bertemu lagi, tapi terima kasih karena sudah membantuku, Aurora..” Sir Charles menolehkan kepalanya, ia menatap Aurora sambil tersenyum.
Aurora hanya diam sambil menganggukkan kepalanya dengan pelan. Dia tidak pantas mendapatkan ucapan terima kasih, Aurora hanya melakukan sesuatu yang bisa dia lakukan untuk membantu orang lain.
“Ayahmu bilang kita akan berangkat saat ini juga. Kendaraan mereka sudah berhasil diperbaiki oleh Osvaldo, ternyata dia sangat pandai memperbaiki mesin kendaraan..” Kata Victor sambil duduk di depan Aurora.
“Kau akan ikut bersama kami, bukan?”
Aurora sudah sering mendengar jika Alfred mengizinkan Victor untuk ikut bersama dengan mereka, tapi Aurora belum pernah mendapatkan jawaban pasti dari Victor.
Rasanya Aurora tidak akan pergi ke Washington, D.C jika Victor tidak mau ikut bersamanya. Victor datang ke Manhattan karena dirinya, pria itu terjebak di dalam badai yang begitu mengerikan, dia mengorbankan banyak hal untuk membantu Aurora, dia berjalan di tengah badai sambil menggendong Aurora yang kehilangan kesadaran. Mana mungkin Aurora meninggalkan Victor sendirian?
“Osvaldo juga akan ikut. Ayahnya tinggal di Washington, D.C sehingga ayahmu mengizinkan dia ikut bersamamu..” Jawab Victor.
“Aku menanyakan tentang dirimu!” Aurora meninggikan suaranya.
“Aurora.. apa yang kau pikirkan? Tentu saja aku akan ikut denganmu..” Jawab Victor sambil tersenyum geli. Pria itu mengulurkan jari telunjuknya untuk menyentuh ujung hidung Aurora.
“Aku akan ikut denganmu, apakah kau senang?” Tanya Victor sambil merapikan rambut Aurora yang kusut.
Aurora merasa tidak nyaman ketika Victor menyentuh kepalanya. Dia baru teringat jika hampir dua minggu belakangan ini dia sama sekali tidak mencuci rambutnya.
“Jangan menyentuh kepalaku..” Kata Aurora sambil berusaha menghindar.
“Kenapa? Apakah terasa sakit?” Tanya Victor.
“Rambutku kusut, aku juga tidak membasuh rambut selama dua minggu ini. kepalaku pasti penuh dengan kutu..” Kata Aurora sambil menundukkan kepalanya. Dia merasa malu saat mengatakan kalimat ini, tapi ia tidak memiliki pilihan lain.
“Kau tetap cantik sekalipun rambutmu penuh kutu..” Kata Victor sambil memeluknya.
Aurora mendorong Victor dengan kesal. Pria itu tetap saja bermain-main di saat yang sangat tidak tepat.