Manhatan, New York (US)
Aurora merasa senang ketika dia akan pergi ke Washington, D.C. Keadaan Manhattan semakin membaik, wilayah ini semakin hangat di siang hari sehingga Alfred memutuskan untuk melakukan perjalanan di malam hari agar mereka tiba besok pagi.
Aurora berjalan dengan langkah pelan, dia menatap ke sekeliling rumah sakit yang tampak semakin ramai karena tempat ini dijadikan salah satu lokasi evakuasi warga Manhattan. Sejak pagi proses evakuasi terus berjalan, Aurora mendengar jika lebih dari 50 persen warga Manhattan ditemukan tewas.
Sebuah kenyataan yang begitu sulit untuk diterima..
Hari-hari menyedihkan, suara tangisan dan ratapan kesedihan akan segera terdengar di seluruh penjuru dunia. Akan ada banyak ibu yang menangis kehilangan anaknya, ada banyak anak yang menangis karena kehilangan ibu dan ayahnya.. Aurora tidak bisa membayangkan betapa sulitnya menerima kenyataan setelah terjadinya sebuah bencana besar.
“Bisakah aku bertemu dengan Amanda? Aku masih belum melihatnya sejak kita datang ke sini..” Kata Aurora kepada Victor.
“Kita harus segera turun, ayahmu sudah menunggu sejak tadi. Mereka sudah siap untuk melakukan perjalanan..” Kata Victor.
Aurora menghentikan langkahnya, dia menatap Victor sejenak lalu mulai mengungkapkan pengamatannya selama beberapa hari ini.
“Kau sedang menyembunyikan sesuatu?” Tanya Aurora dengan pelan.
“Aku? Apa yang aku sembunyikan?” Tanya Victor sambil tersenyum.
“Entahlah..” Aurora semakin mengernyitkan dahinya.
“Kita harus segera turun, bagaimana jika aku mengendongmu?” Tanya Victor.
“Aku ingin bertemu dengan Amanda. Kita tidak akan bisa bertemu lagi, aku ingin memastikan keadaannya. Sir Charles sudah menemuiku, aku merasa tenang karena dia baik-baik saja.. aku hanya ingin melihat Amanda sebentar, setelah itu kita akan langsung pergi..” Kata Aurora. Dia merasa tidak tenang jika tidak melihat keadaan Amanda sebelum meninggalkan kota ini. Lagipula, kemungkinan besar mereka tidak akan pernah bertemu lagi.
“Aurora, kita tidak memiliki—”
“Amanda sudah meninggal, Aurora..”
Aurora menolehkan kepalanya dengan terkejut, dia menatap Alfred yang berjalan menaiki anak tangga dengan perlahan, pria itu terlihat menghindari mata Aurora ketika berdiri di hadapannya.
Dengan kebingungan, Aurora menatap Victor yang juga tampak berusaha menghindari tatapannya.
Alam bawah sadar Aurora mulai menyimpulkan sebuah fakta mengejutkan. Sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya..
Amanda.. dia meninggal?
“Aurora, ayahmu hanya sedang—”
“Dia harus tahu kebenarannya, Victor..” Ayahnya segera memotong kalimat Victor. Pria itu menatap Aurora dengan senyum yang sungguh menyedihkan.
“Amanda meninggal?” Tanya Aurora dengan suara bergetar.
“Dia meninggal karena hipotermia akut sehingga menyebabkan gagal jantung. Dia meninggal setelah sampai di rumah sakit, Aurora..”
Aurora memundurkan langkahnya, bagaimana mungkin selama ini mereka semua membohongi Aurora dengan mengatakan jika Amanda baik-baik saja? Oh Tuhan, Aurora gagal membantu Amanda..
“Dokter sudah memeriksa lukanya, tidak ada masalah dalam luka tersebut. Dia meninggal karena hipotermia, Aurora..” Ayahnya berjalan mendekat sambil berusaha menenangkan Aurora yang mulai merasa panik. Entah kenapa dia merasa bersalah karena telah gagal membantu Amanda.
Aurora semakin memundurkan langkahnya.. dia merasa sangat terkejut.
“Maaf karena kami menyembunyikan ini darimu. Kau pasti sangat terkejut ketika mendengar kematian Amanda di saat keadaanmu belum sembuh sepenuhnya. Kita tidak memiliki waktu lagi, kita harus segera berangkat ke Washington, D.C, Aurora..” Kata Ayahnya.
Aurora memejamkan matanya sejenak. Amanda bukan temannya, juga bukan saudaranya, mereka hanya dua orang asing yang tidak sengaja bertemu di tengah badai gelombang dingin yang melanda Manhattan. Selama ini Aurora juga tidak pernah akrab dengan Amanda, tapi mendengar kematian wanita itu membuat Aurora merasa terpukul.
“Bisakah aku bertemu dengannya sebelum kita pergi?” Tanya Aurora dengan suara bergetar.
“Kepala rumah sakit memerintahkan agar tidak ada yang masuk ke ruang jenazah.. tempat itu menjadi ruangan yang paling sibuk di rumah sakit ini, kita tidak akan diizinkan masuk..” Kata ayahnya.
Bahkan untuk yang terakhir kalinya pun Aurora tidak diizinkan meminta maaf kepada Amanda karena dia telah gagal membantu wanita itu.
Aurora bukan seorang pembunuh, dia berusaha keras untuk memberikan perawatan terbaik kepada Amanda, tapi dia bukan seorang tenaga medis terdidik yang mengerti cara terbaik untuk menangani luka di tengah badai udara dingin. Aurora berusaha sebaik mungkin, tapi dia gagal.. Aurora bukan seorang pembunuh, tapi dia merasa sangat bersalah..
“Daddy akan mencoba untuk berbicara dengan kepala rumah sakit agar kau bisa masuk ke sana..” Ayahnya mengusap kepala Aurora dengan pelan.
***
“Kau tidak ingin menangis?” Tanya Victor setelah mereka berdua keluar dari ruang jenazah.
Aurora menggelengkan kepalanya dengan pelan. Tangisannya tidak akan membuat Amanda kembali.
“Menangis bukan berarti kau lemah..” Kata Victor.
Aurora menganggukkan kepalanya. Dia tahu jika menangis bukan berarti sebuah kelemahan, tapi apa gunanya Aurora menangis? Amanda tidak akan kembali sekalipun ia menangis dengan keras.
“Jika dia datang ke rumah sakit lebih cepat, kemungkinan besar dia akan selamat..” Kata Aurora dengan suara pelan.
“Kau tidak sedang berusaha untuk mengatur sebuah takdir, bukan?” Victor merangkul bahu Aurora dengan pelan. Pria itu selalu tahu jika Aurora sedang membutuhkan pelukannya saat ini.
Aurora berusia 17 tahun beberapa bulan lalu, tapi dia telah melalui banyak sekali hal mengejutkan. Aurora merasa jika usianya masih terlalu muda untuk menghadapi hal-hal mengejutkan semacam ini.
“Kuharap Amanda tidak marah karena—”
“Dia pasti merasa sangat bersyukur karena mengenal seorang gadis muda sepertimu. Jangan menyalahkan diri sendiri..” Victor memeluk Aurora dengan erat.
Kedua tangan Aurora yang tergantung di sisi tubuhnya mulai bergerak untuk melingkari pinggang Victor yang ramping. Pria itu tampak lebih kurus dari biasanya. Matanya sayu, tubuhnya terasa dingin.. Aurora tahu jika mereka berdua melewati hari-hari yang sangat berat. Aurora bersyukur karena dia memiliki Victor.
“Semuanya akan baik-baik saja, Aurora. Jangan khawatir..”
Aurora menghembuskan napasnya dengan pelan. Suhu udara semakin naik, gelombang dingin tidak lagi datang menyapu daratan. Victor benar, semuanya akan baik-baik saja.
Ada banyak orang yang sedang berduka karena kehilangan orang-orang terkasih mereka. Aurora merasa bersalah karena keluarga, sahabat, teman, dan saudara Amanda juga harus merasakan hal yang sama.
“Aku tahu kau pasti merasa bersalah.. tapi kau bukan Tuhan, Aurora.. kau tidak bisa menyelamatkan Amanda sekalipun kau sangat ingin melakukannya..” Victor berbicara sambil tetap memeluknya.
Aurora mengingat dengan jelas jika dia mengatakan tidak ingin menangis.. Tapi begitu merasakan usapan tangan Victor di kepalanya yang bergerak dengan lembut, air mata Aurora tiba-tiba saja menetes.
“Kau harus menangis.. tidak baik menahannya seorang diri..” Kata Victor dengan pelan.
***
“Kita akan menempuh perjalanan yang sangat jauh, apakah kalian semua sudah siap?” Tanya Felix yang sedang duduk di balik kemudi.
Aurora menganggukkan kepalanya dengan pelan.
Manhattan menyimpan banyak sekali kenangan mengerikan yang tidak akan pernah bisa Aurora lupakan. Kota ini akan selalu membuatnya termenung untuk beberapa saat karena dia akan selalu mengenang kepergian Amanda yang membuatnya sangat terpukul. Aurora tidak akan bisa mengunjungi kota ini untuk beberapa tahun kedepan karena dia merasa trauma dengan gelombang dingin yang membuatnya terkurung di dalam ruangan hotel yang membeku layaknya berada di dalam kotak es. Mungkin suatu saat Aurora akan memberanikan dirinya untuk kembali ke sini, dia akan mengunjungi hotel tempatnya menginap, ia akan menyusuri Morgan Library & Museum untuk mengenang kunjungannya bersama dengan Victor beberapa hari lalu. Kota ini tidak akan pernah terlupakan..
“Aku akan berhenti mengunjungi New York untuk beberapa tahun ke depan..” Kata Osvaldo yang duduk di kursi paling belakang.
Aurora menolehkan kepalanya dan menatap Victor yang sedang duduk di sisi kirinya. Pria itu tampak sangat tenang, tidak terlihat antusias seperti Osvaldo, tapi juga tidak terlihat tertekan karena dia harus mengikuti Aurora ke Washington, D.C.
“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Aurora dengan suara pelan.
“Ya, aku senang karena kita akan segera meninggalkan kota ini..” Jawab Victor sambil tersenyum.
“Apa ada yang bisa mengemudikan mobil? Kalian berdua memiliki surat izin mengemudi?” Tanya Felix sambil menatap Victor dan Osvaldo secara bergantian.
“Aku memiliki surat mengemudi..” Jawab Victor.
“Aku bisa mengemudi, tapi tidak memiliki surat izin mengemudi..” Jawab Osvaldo dengan tenang.
“Kalian bisa menggantikan kami saat kami lelah mengemudi..” Kata Felix.
Perjalanan Manhattan ke Washington, D.C hanya membutuhkan waktu kurang dari 3 jam jika mereka bisa melewati jalur tercepat dengan kecepatan maksimal. Masalahnya jalan di Philadelphia ditutup total karena badai gelombang dingin membekukan air banjir di wilayah tersebut. Mereka harus melewati jalan yang membutuhkan waktu tiga kali lipat lebih lama dari jalan utama.
“Aku akan menggantikanmu saat kau lelah mengemudi. Biarkan mereka istirahat..” Kata Alfred.
“Kita seperti seorang ayah yang sedang menikmati piknik dengan tiga anak muda..” Felix memberikan komentar sambil sesekali melirik ke bangku belakang.
Aurora tersenyum kecil. Dia merasa bersyukur karena ayahnya memiliki seorang teman humoris yang sangat baik, kehidupan Alfred sangat monoton, pria itu membutuhkan hiburan sesekali.
“Fokuslah mengemudi, jangan sampai salah mengambil jalan, kita bisa saja terjebak es dan salju jika kau salah mengambil jalan..” Kata Alfred.
Aurora menghembuskan napasnya dengan pelan..
“Tidurlah jika kau mengantuk..” Kata Victor sambil mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Aurora.
Aurora menganggukkan kepalanya, dia menatap ke arah jendela dan melihat beberapa kendaraan berlalu lalang dengan gerakan lambat. Sepertinya evakuasi benar-benar dilakukan oleh pemerintah.
“Apa kau lapar, Aurora? Kau ingin makan sesuatu?” Tanya ayahnya.
“Tidak, aku tidak lapar..” Jawab Aurora.
“Kau ingin menghubungi ibumu? Jaringan ponsel sudah mulai berfungsi saat ini..”
Aurora teringat jika dia belum menghubungi ibunya sama sekali. Kekacauan di Manhattan membuatnya lupa untuk memberikan kabar kepada ibunya.
“Bisakah.. bisakah aku meminjam ponsel Daddy? Kurasa aku meninggalkan ponselku di hotel..” Kata Aurora.
“Kau kehilangan ponsel?” Tanya ayahnya sambil menolehkan kepala dengan pandangan terkejut.
“Ya.. Aku lupa tidak membawa ponselku..” Jawab Aurora.
Alfred tampak ragu ketika dia akan memberikan ponsel miliknya, tapi akhirnya pria itu menghubungi Abigail dan segera menyerahkan ponselnya begitu teleponnya tersambung.
***
Suara ibunya terdengar bergetar ketika dia memanggil nama Aurora dengan tangisan yang tertahan.
“Aurora?”
Aurora kembali mengusap air matanya. Dia merasa sangat senang karena bisa berbicara dengan ibunya. Selama hampir dua pekan terakhir, Aurora harus bertahan di tengah badai yang begitu mengerikan. Butuh waktu selama 14 hari sampai evakuasi bisa dilakukan.
“Aku baik-baik saja, Mommy, jangan khawatir..” Aurora membekap mulutnya sendiri, dia tidak ingin memperdengarkan tangisannya.
“Oh God, kau sungguh baik-baik saja? Kau ada dimana Aurora?” Ibunya bertanya dengan cepat.
“Aku.. aku sedang dalam perjalanan ke Washington, D.C. Beberapa jalan di Manhattan baru dibuka hari ini karena proses evakuasi sedang berlangsung..” Aurora mencoba untuk menjelaskan sebaik mungkin.
Saat gempa tiba-tiba terjadi di bandara, lalu saat gelombang badai dingin menerpa wilayah Manhattan, Aurora sering mengira jika dia tidak akan pernah bisa pulang.. tapi ternyata ia salah. Alfred datang untuk menjemputnya, pria itu tidak meninggalkan Aurora.
“Washington, D.C? Untuk apa kau kesana? Pulangkah ke Ohio, Aurora!”
Aurora menarik napasnya dengan pelan.
“Aku akan tinggal di Washington, D.C untuk sementara waktu..”
Ibunya pasti sangat cemas, wanita itu ingin melihatnya secara langsung untuk memastikan keadaannya.. tapi ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat.
“Kau harus langsung pergi ke Ohio. Mommy akan menjemputmu bersama dengan Daddy.. jangan khawatir, kami akan segera kesana..”
Untuk sesaat Aurora memejamkan matanya. Dia menatap ke arah jendela luar dimana seluruh jalan masih dipenuhi oleh lapisan es.
Tidak ada kendaraan umum yang beroperasi karena masih belum ada jalan yang layak untuk dilewati. Bagaimana mungkin ibunya ingin datang menjemputnya?
“Aku akan pulang setelah bandara kembali beroperasi. Jangan khawatir, Mommy.. aku akan tinggal bersama dengan Daddy..” Aurora segera menutup sambungan telepon setelah dia menyelesaikan kalimatnya.
“Terima kasih karena sudah meminjamkan ponsel untukku..” Kata Aurora sambil mengembalikan ponsel milik Alfred.
“Apakah.. apakah kau ingin pulang ke Ohio? Kita mungkin bisa mencari cara—”
“Aku ingin tinggal di Washington, D.C untuk sementara waktu..” Aurora memotong kalimat ayahnya sambil tersenyum.
Aurora tidak pernah memikirkan perasaan ayahnya selama dia tinggal bersama dengan ibunya. Aurora sering bertanya kenapa ayahnya pergi begitu saja, Aurora sering berpikir jika ayahnya tidak peduli padanya. Bertahun-tahun berlalu dan Aurora tetap tidak menemukan jawaban kenapa ayahnya memilih untuk tetap diam ketika ibunya melarang pria itu datang ke Ohio untuk mengunjungi Aurora.
Dulu Aurora berpikir jika Alfred tidak peduli padanya sehingga pria itu menerima setiap syarat yang diajukan oleh ibunya. Dia tidak boleh datang ke Ohio, tidak boleh memberikan uang pembiayaan hidup untuk Aurora, juga tidak boleh terlalu sering menghubungi Aurora dengan alasan tidak ingin mengganggu konsentrasi belajar Aurora.
Belakangan ini Aurora mulai mengerti kenapa ayahnya selalu memilih untuk diam. Alfred tidak ingin membuat keributan yang akhirnya hanya akan menyakiti Aurora. Pria itu tetap diam ketika dia dijauhkan dari putrinya.. tapi begitu mendapatkan kesempatan, Alfred datang untuk menyelamatkan Aurora sekalipun dia harus mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Begitulah.. orangtua akan selalu memberikan yang terbaik untuk anak mereka, tapi kadang seorang anak melupakan kebaikan orangtuanya dan fokus pada kehidupannya sendiri.