Bab 50

2441 Kata
Washington, D.C (US) Charlotte menjadi orang pertama yang memeluk dan menyambut kepulangan Alfred. Wanita itu menangis dengan wajah pucat karena sepertinya dia tidak makan dan tidur dengan baik selama Alfred pergi. Dua tahun mengenal Charlotte membuat Alfred hafal dengan kebiasaan wanita itu saat ia sedang khawatir. “Apakah kalian benar-benar melewati badai es dengan angin yang memutar seperti angin topan?” Tanya Hugo. Sejak pertama kali masuk ke dalam kantor, Hugo terlihat sangat semangat untuk mengintrogasi Felix. Mereka seperti seorang ayah dan anak yang sedang membahas mengenai pengalaman hebat ayahnya saat sedang menghadapi beruang besar di tengah hutan. Felix menjelaskan dengan ekspresi bangga dan juga penuh kesombongan, sementara itu Hugo terus mengikuti langkahnya dan mendengarkan Felix dengan antusias. “Aku baik-baik saja, Charlotte..” Kata Alfred sambil tersenyum dengan lembut. Charlotte segera melepaskan pelukannya, wanita itu mengusap air matanya dan sedikit terkejut ketika mendapati ada banyak orang yang sedang melihatnya. Alfred tersenyum kecil, dia merasa sangat lega karena akhirnya bisa kembali ke Washington, D.C. “Ada sedikit urusan yang harus Daddy lakukan di kantor, kita akan pulang sepuluh menit lagi. Daddy akan segera mengantarmu pulang..” Alfred segera mendekati Aurora yang tampak menatap ke sekeliling ruangan kantor dengan tatapan penasaran. Alfred tahu jika putrinya akan memiliki ketertarikan pada kantor penelitiannya. “Aku tidak keberatan jika kita berada di sini selama beberapa saat.. Bagaimana dengan kalian?” Tanya Aurora sambil menatap Victor dan Osvaldo. “Apakah aku boleh menggunakan telepon seluler? Aku ingin menghubungi ayahku..” Kata Osvaldo. “Kau boleh menggunakan telepon seluler.” Jawab Alfred sambil menatap Osvaldo. “Ada makanan di dapur kantor ini, kalian pergilah ke sana dan ambil makanan yang kalian inginkan. Setelah makan kita akan langsung pulang..” Lanjut Alfred. “Selesaikan saja pekerjaan Daddy, aku akan menunggu bersama dengan Victor. Osvaldo sepertinya akan segera dijemput oleh ayahnya..” Kata Aurora dengan pelan. “Ya, aku harus menghubungi ayahku agar dia menjemputku ke sini. Terima kasih karena sudah memberikan aku tumpangan, Sir..” kata Osvaldo. “Tidak masalah. Kalian harus makan.. pergilah ke dapur..” Kata Alfred dengan tenang. Alfred merasa sangat lega karena akhirnya mereka semua sampai di Washington, D.C. Tempat ini terasa sangat menyenangkan.. “Aku akan mengantar kalian..” Kata Charlotte sambil tersenyum. *** “Bagaimana perkembangan pergerakan angin?” Tanya Alfred sambil duduk di balik komputer yang menayangkan pergerakan angin di wilayah Amerika. Alfred mengernyitkan dahinya ketika melihat jika ada perbedaan yang cukup drastis antara kedua laporan pergerakan angin yang diambil hari ini dengan pergerakan angin sekitar satu bulan lalu. “Sepertinya ini masih belum bisa disebut sebagai angin yang normal. Bisa kau lihat sendiri jika matahari bersinar terlalu terang sejak pagi ini..” Alfred mengernyitkan dahinya, dia bisa melihat dengan jelas jika pergerakan matahari justru menunjukkan tanda yang tidak normal. “Apakah sudah ada laporan perubahan cuaca di wilayah Australia?” Tanya Alfred. “Mereka masih sangat sulit untuk dihubungi karena Australia belum bisa memulihkan satelit cuaca.” Austin menjawab sambil memberikan laporan terakhir terkait perkembangan suhu udara di benua Australia. “Bagaimana dengan San Fransisco?” Tanya Alfred. “Sejauh ini suhu udara di San Fransisco sudah mencapai minus 5 derajat di siang hari..” Alfred mengusap wajahnya dengan kasar. Jika suhu udara meningkat secara drastis, maka kota itu akan tenggelam karena banjir. Hal yang sama pasti akan terjadi dengan Manhattan. “Apakah kau sudah berusaha untuk menghubungi pemerintah?” Tanya Alfred. “Mereka tidak mau menerima panggilan dari kantor kita. Kau meninggalkan Washington, D.C saat mereka sedang membutuhkan bantuanmu, kurasa mereka marah karena itu..” “Mereka marah karena aku menyelamatkan putriku? Bukankah sudah kukatakan pada mereka jika kita tidak bisa melakukan evakuasi ketika badai berlangsung? Mereka sangat bodoh!” Alfred bangkit berdiri dan berjalan untuk melihat laporan cuaca di wilayah Eropa. “London mencapai suhu 10 derajat saat puncak musim dingin? Apakah ini hal yang wajar?” Tanya Alfred. “Biasanya wilayah itu bisa mencapai 4-7 derajat saat musim dingin di awal tahun seperti ini. Tidak pernah mencapai 10 derajat celcius..” Alfred semakin kebingungan. Ada sesuatu yang salah.. setelah terjadinya gelombang dingin, pemulihan suhu di berbagai pusat gelombang dingin naik secara drastis. Kenaikan suhu yang tidak normal bisa menyebabkan bencana lainnya. “Terus hubungi pemerintah dan katakan jika aku sangat ingin bertemu dengan mereka untuk membahas masalah serius. Kita tidak bisa main-main dengan penelitian ini, Austin..” Alfred berbicara dengan raut serius. Austin tampak menghembuskan napasnya dengan pelan. Terlihat dengan jelas jika pria itu kelelahan karena bekerja tanpa henti. “Kau sudah makan?” Tanya Alfred dengan tenang. “Kau sendiri?” Austin justru membalik pertanyaan. Entah kapan terakhir kali Alfred makan. Dia tidak terlalu sempat untuk memperhatikan dirinya sendiri ketika pikirannya hanya fokus untuk memikirkan Aurora. “Apakah sebaiknya kita menghentikan semua ini dan makan di rumahku malam ini? Kau juga kekurangan istirahat, bukan?” Tanya Alfred. Austin bukan tipe pria yang suka berbicara basa-basi. Austin sangat serius ketika sedang membahas pekerjaan. Kemungkinan besar Austin akan menolak ide Alfred karena makan malam bersama hanya akan membuang waktu mereka. Ada banyak sekali hal yang harus mereka kerjakan. Masalahnya.. Alfred sama sekali belum merayakan malam natal bersama dengan putrinya, Alfred ingin menyiapkan makanan dan sup hangat di malam hari lalu duduk bersama dan makan sambil bergurau dengan putrinya. Aurora melewati hari yang berat, Alfred ingin memberikan apresiasi atas pencapaian putrinya.. tapi ia tidak memiliki waktu untuk bersantai di tengah keadaan yang kacau ini. “Pulangkah dan buatlah makanan untuk putrimu. Dia terlihat sangat ketakutan saat pertama kali turun dari kendaraan..” Kata Austin. Pria itu beranjak dari sisi Alfred dan mulai mengoperasikan komputer yang menampilkan laporan cuaca. Alfred menarik napasnya dengan pelan. Ini kali pertama Aurora datang ke Washington, D.C.. Alfred ingin meluangkan banyak waktu untuk putrinya. *** “Selamat datang di rumah, Aurora.. semoga kau menyukai tempat ini..” Alfred mencoba memberikan sambutan ketika Aurora pertama kali melangkahkan kakinya di apartemen sederhana miliknya. Ada rasa bahagia ketika melihat Aurora datang ke Washington, D.C. Sudah bertahun-tahun Alfred mengharapkan kedatangan Aurora, setelah lima tahun berlalu akhirnya Aurora datang. “Aku akan membereskan kamar utama untuk... untuk Aurora..” Charlotte berbicara dengan suara canggung. Alfred menghembuskan napasnya dengan pelan. Apartemen ini hanya memiliki dua kamar, satu kamar miliknya bersama Charlotte, lalu satu kamar tamu yang sejak awal telah Alfred siapkan untuk Aurora. Masalahnya sekarang mereka kedatangan satu orang tambahan yang tidak pernah Alfred duga sebelumnya. “Tempat ini hanya memiliki dua kamar. Aurora akan menggunakan kamar utama dan kau bisa tidur di kamar tamu..” Kata Alfred sambil menepuk bahu Victor. “Sir, kurasa aku bisa tidur di ruang televisi..” Victor tampak tidak nyaman, tapi Alfred memilih untuk mengabaikannya. Dari caranya memperlakukan Aurora, Alfred tahu jika Victor adalah pemuda yang baik. “Aku akan lebih banyak menghabiskan waktu di kantor karena keadaan sedang sangat kacau. Untuk saat ini sebaiknya kalian tidur di kamar terpisah, bukan?” Alfred menatap Victor dengan senyuman geli. “Bukan.. bukan seperti itu maksudku..” Victor terlihat semakin gugup. “Dimana Charlotte akan tidur?” Tanya Aurora tiba-tiba. Alfred mengamati ekspresi Aurora yang tampak sangat datar. Alfred jadi bertanya-tanya apakah putrinya itu merasa tidak nyaman dengan keberadaan Charlotte di tempat ini. “Kamarmu sudah siap, Aurora.. kau menggunakan pakaian hangat yang tergantung di pintu. Segeralah mandi dan aku akan menyiapkan sup untuk menghangatkan tubuh kalian. Kau juga harus segera mandi, Victor.. aku juga sudah menyiapkan pakaianmu..” Charlotte tiba-tiba muncul di ujung lorong sambil membawakan handuk untuk Aurora dan Victor. “Baiklah..” Jawab Aurora sambil mengambil handuk yang diberikan oleh Charlotte. Putrinya itu tampak berjalan dengan tenang untuk mencari letak kamar mandi. “Kamarmu ada di sisi kanan, aku juga sudah menyiapkan air hangat untukmu..” Kata Charlotte sambil berjalan mengikuti Aurora dari belakang. Tidak ada jawaban dari Aurora. “Dia memang sering kesulitan saat menerima orang baru..” Victor tiba-tiba bersuara. Alfred menolehkan kepalanya sambil mengernyitkan dahi. Dari tempat mereka berdiri, Alfred masih bisa mendengar dengan jelas jika Charlotte berusaha untuk berbicara dengan Aurora. Sayangnya Alfred tetap tidak bisa mendengar jawaban Aurora. “Aurora sangat pendiam, dia tidak bisa mengungkapkan apa yang ia rasakan. Apalagi saat sedang berhadapan dengan orang baru yang masih asing baginya..” Kata Victor sambil menarik handuk yang sebelumnya Charlotte letakkan di atas meja. “Kau mengenalnya dengan baik?” Tanya Alfred. Entah kenapa dia justru merasa tertarik untuk berbicara dengan Victor dibandingkan bertanya langsung kepada putrinya. Alfred ingin tahu bagaimana penilaian pemuda ini terhadap kepribadian putrinya. “Tidak juga.. Aurora tidak terlalu sulit untuk dimengerti, tapi dia juga tidak terlalu mudah untuk ditebak” Jawab Victor. Alfred tersenyum sambil menatap Charlotte yang keluar dari kamar, perempuan itu tampak sibuk untuk menyiapkan makanan. Charlotte tidak terlalu pandai memasak, tapi sup buatannya terasa enak jika dinikmati di tengah hujan salju seperti ini. “Apakah Anda akan memasak, Miss?” Victor justru berjalan mendekati Charlotte yang sibuk mengambil bahan makanan dari lemari es. “Jangan berbicara terlalu formal denganku, santai saja...” “Victor, namaku Victor.” Kata Victor dengan tenang. “Kau bisa memasa Victor?” Tanya Alfred sambil bergabung di dalam dapur. “Aku merintis bisnis kuliner di Colombus. Belum terlalu besar, tapi kurasa kalian harus mencoba masakanku sesekali..” Kata Victor. Pemuda itu tampak ramah, dia selalu tersenyum saat berbicara. “Wow, kau sangat hebat. Baiklah, bagaimana jika malam ini kita mencoba masakanmu?” Charlotte juga terlihat antusias saat sedang berbicara dengan Victor. “Tentu saja. Kalian bisa istirahat, aku yang akan menyiapkan makanan..” Jawab Victor. “Apakah sopan jika kita meminta calon menantumu memasak di hari pertamanya datang ke Washington, D.C?” Tanya Charlotte sambil menatap Alfred dengan geli. “Charlotte..” Alfred menatap Charlotte dengan raut kesal. “Istirahatlah dulu, Victor. Kau akan mendapat giliran memasak besok pagi. Untuk malam ini biarkan aku yang membuatkan kalian makanan..” Kata Charlotte. Wanita itu tersenyum dan mengambil alih sayuran dari tangan Victor. “Tapi, Miss—” “Usiaku tidak setua itu. Panggil saja Charlotte..” Charlotte segera mengoreksi kalimat Victor. “Itu sangat tidak sopan..” “Ayahnya Aurora berpacaran dengan seorang wanita muda yang sangat cantik. Kau ingin merusak reputasiku dengan memanggilku ‘Miss’.. itu sangat menyedihkan..” Charlotte berbicara dengan suara menggelikan. Alfred memilih untuk meninggalkan Charlotte dan Victor. Mereka berdua terlihat lebih akrab karena baik Victor maupun Charlotte adalah orang dengan kepribadian ramah dan easy going. Mereka jadi lebih mudah berkomunikasi satu sama lain. “Baju ini sangat pas dengan ukuranku. Apakah Daddy yang membelinya? Aku masih melihat gantungan harga yang artinya ini adalah pakaian baru..” Aurora tiba-tiba keluar dengan pakaian hangat berwarna merah muda yang tidak terlalu mencolok. Rambut pirangnya terlihat bersinar saat ia mengenakan pakaian berwarna terang. Aurora memadukan sweeter merah muda dengan celana putih yang manis. “Baju itu terlihat cocok untukmu, Aurora..” Kata Alfred sambil tersenyum. “Ada banyak pakaian baru di lemari, apakah itu untukku?” Tanya Aurora. Alfred mengernyitkan dahinya sesaat. Lemari yang ada di dalam kamar ini dikuasai oleh Charlotte, wanita itu memenuhi setiap laci lemari dengan pakaiannya. Seingat Alfred, Charlotte sangat jarang membeli pakaian baru belakangan ini. Lagipula Charlotte tidak menyukai warna cerah.. kemungkinan besar Charlotte memang sengaja menyiapkan pakaian baru untuk Aurora ketika wanita itu mendengar kabar dari Alfred jika Aurora kehilangan seluruh pakaiannya saat terjadi gempa di bandara. “Itu semua untukmu, sayang. Kau bisa memilih pakaian yang kau suka, kau bisa menyingkirkan pakaian yang tidak cocok untukmu..” Kata Alfred sambil mengusap kepala Aurora dengan lembut. “Aku menyukai semuanya. Pakaian itu sangat cantik, Mommy jarang membiarkan aku menggunakan pakaian berwarna cerah karena kulitku pucat. Pakaian cerah membuat kulitku terlihat aneh..” Kata Aurora sambil tersenyum. “Hei, kau sangat cantik. Dengan warna cerah maupun gelap, kau akan tetap cantik. Mulai sekarang katakan itu jika ibumu mulai memberikan larangan yang tidak masuk akal..” Alfred berbicara dengan tegas. Abigail dan semua aturan konyol yang tidak masuk akal. Seharusnya Alfred tidak terkejut ketika mendengarkan penuturan Aurora mengenai aturan konyol Abigail. Alfred menghabiskan sebagian hidupnya untuk mengikuti Aturan Abigail. “Aku akan menggunakan pakaian ini setiap kali berkunjung ke Washington, D.C. jika di Colombus aku akan tetap mengikuti aturan Mommy..” Aurora menjawab dengan tenang. Dari sekian banyak ucapan syukur yang Alfred ucapkan karena dia memiliki anak yang baik, kali ini Alfred ingin kembali berterima kasih karena keberuntungan yang ia miliki. Aurora bukan hanya menjadi anak yang baik, tapi dia menjadi anak yang pengertian. “Kau akan datang ke sini lagi?” Tanya Alfred. “Tentu saja. Apakah Daddy keberatan jika aku datang ke sini?” Aurora justru balik memberikan pertanyaan. “Daddy sangat senang karena kau datang ke sini, sayang. Kau harus sering datang ke Washington, D.C..” Alfred mengulurkan tangannya untuk memeluk Aurora. Rasanya sangat menyenangkan ketika dia melihat putrinya sedang berdiri di depan matanya. Sudah sangat lama mereka tidak berada sedekat ini. Alfred sering termenung sendirian karena memikirkan keadaan Aurora. Apakah dia sudah makan, apakah dia baik-baik saja, apakah dia bahagia.. Alfred sering memikirkan pertanyaan bodoh setiap kali ia mengingat Aurora. Abigail seorang ibu yang baik, dia pasti memastikan Aurora makan tepat waktu, dia pasti menjaga Aurora dengan baik, dan juga akan selalu memastikan kebahagiaan Aurora. “Apakah setelah ini Daddy akan kembali ke kantor?” Tanya Aurora. Alfred sedikit kebingungan. Ada banyak sekali pekerjaan yang harus ia lakukan, laporan pergerakan angin, pengamatan cahaya matahari, lalu penelitian terhadap udara yang terkena dampak ledakan nuklir. Biasanya Alfred tidak akan ragu menginap di kantor selama satu bulan penuh jika dia menemukan satu fenomena cuaca yang cukup menarik seperti saat ini, tapi sekarang keadaan sangat berbeda. Ada Aurora di Washington, D.C. Entah ini bencana atau keajaiban, tapi secara tiba-tiba nuklir meledak ketika Alfred ingin mengajukan proyek pengembangan pembangkit listrik berbasis panas matahari buatan untuk menggantikan energi nuklir. “Keadaan sedang sangat kacau, Aurora. Wilayah Asia, khususnya Asia Timur sedang hancur karena ledakan nuklir. Daddy harus datang ke kantor untuk melakukan penelitian..” Alfred menjelaskan dengan tatapan menyesal. “Ya, Daddy memang harus datang ke kantor. Aku dengar ledakan nuklir tersebut merusak lapisan atmosfer. Jika lapisan atmosfer rusak, bukankah artinya badai gelombang dingin hanyalah sebuah permulaan saja?” Tanya Aurora. Alfred terisap. Dia tidak pernah berpikir sejauh itu. Sebuah pertanyaan yang terus Alfred simpan sejak dia melihat laporan suhu udara di wilayah Eropa justru dijawab oleh putrinya yang baru berusia 17 tahun. “Menurutmu begitu?” Tanya Alfred. “Apakah mungkin jika badai gelombang dingin justru menjadi awal dari kerusakan lainnya? Maksudku.. bukan hanya Amerika dan Eropa saja yang mendapatkan dampak gelombang dingin ini, tapi Afrika juga merasakan hal yang sama. Lalu suhu udara juga meningkat secara drastis.. Bukankah ini menimbulkan banyak pertanyaan?” Alfred mengusap wajahnya dengan kasar. Aurora lebih jenius dari yang ia perkirakan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN