Washington, D.C (US)
Suasana meja makan yang biasanya diisi oleh dentingan sendok yang beradu dengan piring kini terasa lebih ramai karena sesekali Charlotte dan Victor bertukar lelucon dan tertawa bersama.
Alfred mengulurkan tangannya untuk menyendok lebih banyak sup ke mangkuk Aurora. Putrinya itu tiba-tiba jadi pendiam ketika sedang ada Charlotte.
“Kita harus menjadwalkan piknik keluarga ketika musim panas. Kurasa akan menyenangkan jika kita pergi ke pantai, bagaimana menurutmu, Victor?” Di akhir leluconnya, Charlotte justru mengungkapkan sebuah rencana yang cukup mengejutkan.
Piknik? Alfred bahkan sangat jarang pergi berlibur dengan Charlotte karena dia selalu sibuk dengan tim penelitiannya.
“Aurora tidak suka pantai, kulitnya akan terbakar jika terpapar sinar matahari..” Victor berbicara sambil menyendok sup ke mangkuk Aurora.
“Supku masih banyak..” Aurora menatap Victor dengan pandangan kesal.
“Kau harus makan lebih banyak agar tidak kedinginan di malam hari. kudengar Washington, D.C juga mengalami suhu dingin di malam hari..” Victor berusaha membujuk Aurora untuk menghabiskan sup yang ada di mangkuknya.
“Semuanya menjadi sangat kacau setelah ledakan nuklir tersebut. Tapi jangan khawatir, seluruh ruangan di rumah ini dilengkapi oleh mesin penghangat. Kalian tidak akan kedinginan..” Kata Charlotte.
“Di sini memang terasa jauh lebih hangat..” Kata Aurora.
Ini pertama kalinya Aurora membalas kalimat Charlotte.
“Ah, kuharap kau tidak kedinginan, Aurora. Jika membutuhkan lebih banyak selimut, aku akan memberikan tambahan selimut untukmu..” Charlotte berbicara sambil menuangkan segelas s**u coklat hangat ke gelas Aurora.
“Pakaianku sangat hangat, aku tidak membutuhkan selimut tambahan..” Jawab Aurora sambil tersenyum.
Charlotte berusaha keras untuk berbicara dengan Aurora, Alfred senang karena putrinya mau berbicara sekalipun hanya membalas dengan kalimat singkat.
“Kau terlihat sangat cantik dengan warna merah muda, Aurora..” Kata Victor.
Alfred menggelengkan kepalanya dengan pelan. Victor terlihat sangat canggung saat mereka masih berada di Manhattan, tapi kini pemuda itu mulai berani memuji Aurora di depan Alfred dan Charlotte.
“Oh ya? Terima kasih karena sudah memilihkan warna cerah untukku..” Aurora berbicara sambil menatap Charlotte.
Entah karena terkejut atau terharu, tanpa sadar Charlotte menjatuhkan sendoknya sehingga suara dentingnya terdengar cukup keras. Wanita itu terlihat sangat senang karena Aurora kembali berbicara dengannya.
Alfred tersenyum, ternyata Aurora tahu jika Charlotte adalah orang dibalik puluhan pakaian baru yang tergantung di lemari. Charlotte memiliki selera yang baik jika menyangkut pakaian. Ah, sepertinya Alfred harus bekerja lebih keras karena tagihan kartu kreditnya pasti membengkak di akhir bulan.
“Kau terlihat sangat cantik, Aurora..” Charlotte memuji Aurora sambil tersenyum.
“Kau juga sangat cantik..” Balas Aurora.
Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi di meja makan. Alfred makan dengan tenang sambil sesekali membalas senyuman Charlotte. Wanita itu terlihat sangat senang karena berhasil berbicara dengan Aurora.
Secara tiba-tiba Alfred teringat pada kalimat yang Victor katakan beberapa jam lalu. Aurora adalah anak yang pendiam, dia sulit untuk mengungkapkan apa yang sedang dia rasakan, apalagi saat sedang berhadapan dengan orang asing.
Aurora mungkin terkejut saat tahu jika Alfred sudah memiliki kekasih. Ketika sedang berada di Manhattan, Aurora masih belum memberikan reaksi apapun, tapi begitu bertemu langsung dengan Charlotte, Aurora pasti merasa sedikit tidak nyaman.
“Aku harus kembali ke kantor setelah makan malam, Charlotte. Apakah tidak masalah jika kau di rumah bersama dengan mereka?” Tanya Alfred dengan suara pelan sehingga hanya Charlotte saja yang bisa mendengar.
“Tidak masalah..” Jawab Charlotte dengan tenang.
“Apakah ada telepon seluler di rumah ini?” Tanya Victor.
“Kau ingin menghubungi keluargamu?” Tanya Charlotte.
Alfred baru ingat jika dia hanya menawari Aurora untuk menghubungi ibunya, Alfred lupa tidak meminjamkan ponselnya untuk Victor. Colombus sudah mulai membaik, jaringan telepon di kota itu sudah berfungsi sejak beberapa hari lalu. Keluarga Victor pasti menunggu kabar dari pemuda itu.
“Ya, aku ingin menghubungi mereka..” Jawab Victor.
“Untuk malam ini gunakan ponselku dulu. Besok kita akan membeli ponsel untuk kalian berdua..” Kata Charlotte dengan santai.
“Tidak, tidak perlu membeli ponsel. Aku hanya ingin menghubungi keluargaku dan mengatakan jika aku baik-baik saja. Aku bisa membeli ponsel saat sudah kembali ke Colombus..” Victor langsung menolak tawaran Charlotte.
“Tetaplah di sini sampai beberapa hari ke depan. Bandara masih belum beroperasi, kalian juga membutuhkan istirahat, bukan?”
“Kami akan di sini untuk beberapa hari. Tapi membeli ponsel baru terasa sangat berlebihan..” Kini ganti Aurora yang menolak.
“Kau sedang ada di rumah ayahmu, Aurora. Tidak ada yang berlebihan, kau pantas untuk menerima semua ini. Kau tidak tahu betapa senangnya ayahmu saat tahu kau akan datang..” Charlotte berbicara dengan antusias.
Alfred tidak mengira jika Charlotte memperhatikannya hingga sedemikian rupa.
“Pergilah membeli ponsel besok pagi. Kalian pasti membutuhkan ponsel selama ada di sini..” Kata Alfred dengan tegas.
Alfred mengerti dengan pasti betapa eratnya hubungan anak muda dengan ponsel.
“Apakah kota ini sudah kembali beroperasi dengan normal? Bukankah ada peringatan dari pemerintah agar seluruh warga mengurangi kegiatan di luar rumah?” Tanya Aurora.
“Sudah dua minggu sejak badai gelombang dingin itu terjadi. Beberapa wilayah seperti New York dan California masih memberlakukan peraturan tersebut karena suhu udara di dua negara bagian tersebut masih di bawah minus 5 derajat, tapi kota yang berada jauh dari New York dan California sudah mulai beraktivitas dengan normal..” Alfred memberikan penjelasan sesuai dengan informasi yang ia dapatkan saat pertama kali datang ke Washington, D.C.
“Daddy, apakah Daddy memikirkan kemungkinan yang aku katakan tadi?” Tanya Aurora.
Alfred menarik napasnya lalu menyesap air yang ada di gelasnya. Cukup sulit ketika dia harus menjelaskan kekhawatirannya terhadap dampak dari ledakan nulkir tanpa membuat orang lain merasa takut atau khawatir.
“Tentang bencana lanjutan yang mungkin saja terjadi setelah ini?” Alfred justru balik memberikan pertanyaan.
Aurora menganggukkan kepalanya dengan tenang.
“Belum ada laporan pasti terhadap hal itu. Daddy akan memeriksa laporan cuaca dan iklim di seluruh kota yang menjadi pusat gelombang dingin. Jangan khawatir, wilayah Eropa dan Australia sudah mulai normal, tidak tanda-tanda badai lanjutan di wilayah tersebut. Suhu udara di sana semakin hangat di siang hari..” Alfred memberikan penjelasan sambil tersenyum dengan tenang.
“Bukankah justru terasa aneh jika suhu udara semakin meningkat di puncak musim dingin?”
Aurora berhasil membalik penjelasan Alfred dengan telak.
Alfred tidak berhasil menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Aurora, jadi dia memilih untuk diam dan membiarkan pertanyaan tersebut melayang tanpa jawaban.
***
“Apakah kau ingin tidur di hotel?” Tanya Alfred sambil mencuci piring.
Charlotte tidak mengizinkan Aurora dan Victor mencuci piring, wanita itu meminta mereka untuk duduk dan menikmati segelas coklat panas sambil melihat televisi.
Ketika melihat Charlotte mencuci piring, Alfred segera bergabung dan menggantikan wanita itu untuk membasuh sisa piring yang masih dipenuhi oleh sabun.
“Untuk apa aku tidur di hotel?” Tanya Charlotte sambil tersenyum.
Sesekali Alfred mendengar suara tawa Aurora dan Victor yang sedang menonton televisi. Rasanya lega ketika melihat Aurora kembali tersenyum dan tertawa. Ketika melihatnya menangis saat pertama kali memberi tahu jika Amanda meninggal, Alfred takut Aurora berubah menjadi murung karena merasa bersalah.
“Apartemen ini terlalu kecil. Tidak ada kamar lain..” Kata Alfred.
“Lalu? Kau akan tidur dimana?” Tanya Charlotte.
“Mungkin di ruang televisi. Aku bisa tidur dimanapun aku mau.” Alfred menjawab dengan santai.
“Jika begitu aku juga bisa tidur dimanapun kau tidur” Charlotte tersenyum ketika sedang berbicara.
Charlotte bukan tipe wanita penurut yang akan mengikuti setiap kemauan Alfred. Charlotte selalu menjadi lawan berdebat yang seimbang, wanita itu tidak akan mengalah dan dia juga tidak akan bisa dikalahkan dengan mudah. Selalu ada alasan di balik argumen yang ia berikan.
“Apakah Aurora tidak menyukaiku?” Tanya Charlotte.
Alfred menghentikan gerakan tangannya. Alfred menyadari jika ada banyak hal yang ia lewatkan mengenai Aurora, tapi kali ini Alfred merasa sangat yakin pada pengamatannya.
“Dia menyukaimu..” Jawab Alfred dengan tenang.
“Benarkah?” Charlotte mendekatkan kepalanya dan bersandar di bahu Alfred.
“Ya, dia menyukaimu.. Aurora hanya kesulitan saat mengungkapkan apa yang ia rasakan karena dia anak yang pendiam dan pemalu..” Alfred kembali mengutip penjelasan Victor.
“Aku merasa senang jika dia tidak keberatan dengan keberadaanku. Bagi anak seusianya, menerima kenyataan jika orangtuanya sudah memiliki pasangan baru adalah hal yang cukup sulit. Aku akan mencoba untuk mengerti jika dia memang kesulitan saat menerima keberadaanku..” Kata Charlotte dengan suara pelan.
Alfred menganggukkan kepalanya. Dia juga selalu mencoba untuk memahami pikiran Aurora. Alfred tidak ingin membuat Aurora merasa tidak nyaman.
“Ibunya adalah seorang wanita yang penuh dengan aturan. Pastikan untuk tidak mengatur apapun yang ia inginkan saat sedang ada di sini. Biarkan dia melakukan apa yang ingin dia lakukan..” Kata Alfred.
“Aku tidak mencoba untuk menjadi ibunya. Aku hanya ingin.. berteman dengannya. Kurasa Aurora seorang gadis pendiam yang tidak terlalu banyak memiliki teman..”
Alfred tersenyum dan mengecup puncak kepala Charlotte. Wanita itu selalu tahu apa yang harus ia lakukan, bahkan sebelum Alfred menjelaskan, Charlotte sudah tahu lebih dulu. Charlotte berusaha keras untuk melakukan yang terbaik untuk menyambut kedatangan Aurora, Alfred tidak ingin mengecewakan wanita itu.
“Aku bersyukur karena dia memiliki Victor..”
“Victor adalah kekasihnya?” Tanya Charlotte.
Tidak banyak hal yang Alfred jelaskan kepada Charlotte. Saat pertama kali datang ke kantor, Charlotte membantu Alfred untuk mengurus Aurora, Victor, dan Osvaldo tanpa banyak bertanya. Ketika pulang ke apartemen, Charlotte juga langsung menyiapkan kamar untuk Aurora dan Victor tanpa perlu menunggu penjelasan dari Alfred.
Sekarang Alfred baru sadar jika ia terlalu sering mengabaikan Charlotte dan membiarkan wanita itu membuat kesimpulan seorang diri.
“Iya, mereka satu sekolah saat di Colombus. Aurora mengatakan jika Abigail tidak menyukai Victor, tapi Dalton mendukung hubungan mereka berdua..” Alfred masih mengingat penjelasan Aurora saat pertama kali mengenalkan Victor kepadanya. Saat itu mereka masih berada di Manhattan, keadaan yang kacau membuat Alfred tidak memiliki waktu untuk mengenal Victor dengan baik.
“Kau memilih untuk mendukung mereka?” Tanya Charlotte.
Alfred mengernyitkan dahinya sejenak. Apakah dia harus melakukan hal yang sama seperti Abigail? Melarang Aurora berhubungan dengan Victor dan membuat gadis itu menjadi anak yang kesepian?
“Tidak ada alasan untuk tidak menyukai Victor. Kau tahu, dia menggendong Aurora saat kami melakukan perjalanan dari hotel ke rumah sakit..”
“Benarkah? Kalian berjalan kaki dari hotel ke rumah sakit?” Tanya Charlotte.
“Ada seorang gadis bernama Amanda. Kepalanya terluka saat terjadi gempa susulan di puncak badai. Juga ada seorang pria tua yang mengalami hipotermia parah sehingga kami harus membawa mereka ke rumah sakit secepat mungkin. Saat itu kaki Aurora terluka karena tertusuk pecahan keramik, dia mengalami infeksi yang cukup parah. Aurora tidak bisa berjalan dan Victor langsung menggendongnya tanpa ragu..”
Charlotte terlihat terkejut ketika mendengar penjelasan dari Alfred.
Sebenarnya ada banyak sekali hal yang ingin Alfred ceritakan, tapi dia tidak memiliki banyak waktu. Alfred harus segera datang ke kantor untuk melakukan rapat darurat yang membahas masalah perubahan suhu yang naik secara drastis. Sebelum sesuatu yang buruk terjadi, Alfred harus melakukan antisipasi.
“Apakah Amanda dan pria tua itu selamat? Kudengar sebagian besar warga Manhattan ditemukan tewas..”
Alfred menggelengkan kepalanya dengan pelan. Mengingat keadaan Amanda membuat Alfred merasa sangat sedih. Perempuan muda itu menahan sakit yang luarbiasa, tapi akhirnya dia harus menyerah karena mengalami hipotermia.
“Amanda meninggal setelah sampai di rumah sakit, tapi pria tua itu selamat. Aurora merasa sangat terpukul saat mendengar Amanda meninggal karena selama di hotel dialah yang merawat Amanda. Aurora memiliki kemampuan di bidang medis yang sangat mengagumkan. Semua dokter memuji kehebatan Aurora dalam memberikan pertolongan pertama..”
“Aurora pasti sangat sedih.. dia terlihat murung saat pertama kali datang, mungkinkah dia memikirkan Amanda?”
Alfred mengendikkan bahunya. Aurora belum bisa berbicara terbuka kepada Alfred.
“Jangan membicarakan tentang Amanda di depan Aurora..” Kata Alfred dengan tenang.
“Tentu saja..”
Setelah itu tidak ada pembicaraan antara Alfred dan Charlotte. Alfred sibuk untuk membasuh sisa sabun di piring kotor, sementara itu Charlotte berjalan mondar-mandir untuk menyimpan piring yang telah selesai dicuci.
“Daddy?”
Alfred menolehkan kepalanya dan menemukan Aurora sedang berdiri di belakangnya.
“Ya, sayang? Apakah ada sesuatu yang kau butuhkan, Aurora?” Tanya Alfred dengan cepat.
Charlotte langsung mengambil alih cucian piring begitu dia melihat Aurora datang. Perempuan itu membiarkan Alfred berbicara dengan Aurora sementara dia meneruskan pekerjaan Alfred yang sudah hampir selesai.
“Apakah Daddy akan berangkat ke kantor penelitian sekarang?”
“Apakah kau membutuhkan sesuatu?” Alfred kembali bertanya dengan tatapan menyelidik.
“Aku tidak bisa tidur sendirian di tempat asing.. bisakah kau menemaniku malam ini, Charlotte?” Tanya Aurora dengan suara pelan.
Charlotte membalikkan tubuhnya dengan pelan. Perempuan itu terlihat sangat terkejut ketika mendengar pertanyaan yang Aurora ajukan.
Bukan hanya Charlotte, Alfred juga sangat terkejut. Alfred terdiam untuk waktu yang cukup lama, dia menatap Aurora dan Charlotte secara bergantian.
Sesaat kemudian, Alfred mulai tersenyum dengan lega. Setidaknya dia tahu jika Aurora berusaha untuk akrab dengan Charlotte.