Bab 52

2090 Kata
Washington, D.C (US) Apartemen ayahnya tidak memiliki banyak perabotan ataupun ornamen hiasan yang ditempel di tembok. Apartemen ini cukup luas sekalipun hanya ada dua kamar tidur. Aurora langsung merasa nyaman saat pertama kali melangkahkan kakinya di dalam apartemen milik ayahnya. Saat melewati lorong utama, Aurora akan melihat fotonya yang dicetak dengan ukuran yang cukup besar. Satu-satunya hiasan yang terpasang di dinding apartemen ini adalah foto Aurora. Charlotte, kekasih ayahnya itu tinggal di sini. Alfred hidup sendirian, wajar jika pria itu memilih untuk tinggal bersama dengan Charlotte. Aurora sudah pernah menghadapi suasana canggung saat dia pertama kali mengenal Dalton. Saat itu Aurora benar-benar merasa tidak nyaman, dia membenci Dalton tanpa alasan yang jelas. Aurora tidak ingin ibunya menikah lagi, ia masih berharap jika ibunya akan kembali bersama dengan ayahnya. Aurora pernah bertingkah bodoh saat ia pertama kali bertemu dengan Dalton, kali ini Aurora tidak ingin melakukan hal yang sama. Jika ibunya bisa menikah lagi, maka Aurora juga mengharapkan hal yang sama untuk ayahnya. Mungkin pria itu tidak ingin menikah lagi, tapi keberadaan Charlotte menjelaskan jika kehidupan ayahnya sudah kembali baik-baik saja. Charlotte seorang wanita baik yang sangat ramah. Aurora ingat dia sudah mengabaikan pertanyaan Charlotte sebanyak 7 kali, tapi Charlotte tetap tidak menyerah. Wanita itu tetap tersenyum dan berbicara dengan ramah kepadanya. “Rambutmu masih basah, jangan berbaring dengan rambut basah..” Kata Charlotte sambil mendekati Aurora. Wanita itu membawa handuk dan hair dryer. “Aku akan mengeringkannya sendiri..” Aurora berusaha untuk mengambil pengering rambut yang Charlotte bawa. “Baiklah..” Jawab Charlotte. Aurora mengamati Charlotte yang sedang membereskan beberapa barang di meja rias yang ada di sudut ruangan. Melihat banyaknya perlengkapan wanita yang tersusun di meja tersebut membuat Aurora menyimpulkan jika kamar yang sedang ia gunakan adalah kamar milik Charlotte. “Ayahmu mungkin akan menginap di kantor. Kita bisa mengunjunginya besok pagi..” Aurora menganggukkan kepalanya dengan pelan. Tubuhnya sangat lelah, kakinya juga mulai terasa nyeri karena Aurora lupa tidak meminum obatnya. Sepertinya ia akan kesulitan tidur malam ini. “Apakah.. apakah ayahku selalu menginap di kantor?” Tanya Aurora sambil menatap Charlotte. “Dia akan melupakan semuanya ketika sedang mendapatkan topik penting untuk penelitiannya. Kau tahu bukan jika dia sedang mengembangkan pembangkit listrik berbasis tenaga panas matahari buatan?” Tanya Charlotte. Aurora pernah mendengar jika Alfred sedang tertarik untuk mengembangkan penemuannya, tapi Aurora tidak tahu jika ayahnya sangat terobsesi dengan penemuan tersebut. “Alfred seorang pria ambisius yang sangat serius ketika sedang menginginkan sesuatu. Dia akan sangat sibuk, tapi dia juga ingin terus tinggal di rumah untuk berbicara denganmu..” Charlotte kembali berbicara. Aurora mencabut kabel pengering rambut lalu menyimpan benda tersebut di atas meja. Tanpa disangka, Charlotte memberikan sebotol minyak rambut kepadanya. “Aku sangat menyukai aromanya, kau mau mencoba?” Tanya Charlotte. Aurora tidak terlalu sering memberikan vitamin pada rambutnya. Aurora hanya akan mencuci rambut 3 hari sekali, tapi dia tidak pernah menggunakan vitamin ataupun minyak rambut. Melihat benda yang diberikan oleh Charlotte membuat Aurora merasa sedikit kebingungan. “Usiamu sudah 17 tahun, bukan? Kau bisa menggunakan banyak perawatan untuk rambut dan kulitmu. Duduklah, biarkan aku menyisir rambutmu..” Kata Charlotte sambil menarik kursi untuk Aurora. Charlotte menyisir rambut Aurora dengan lembut, wanita itu seperti seorang penata rambut profesional ketika sedang menuangkan minyak rambut dan menyemprotkan beberapa vitamin rambut. Beberapa kali Aurora memejamkan matanya ketika merasakan gerakan tangan Charlotte yang memberikan pijatan di kulit kepalanya. Wanita itu juga meminta Aurora untuk menggunakan serum wajah, beberapa kali Charlotte tertawa ketika melihat raut kebingungan yang Aurora tampilkan. “Aku sengaja membeli perawatan yang dikhususkan untuk remaja berusia 17 tahun. Apa kau menyukai semua ini?” Aurora merasa takjub perhatian yang Charlotte berikan. Wanita itu sangat cantik, kulit dan rambutnya terlihat halus yang menandakan jika Charlotte suka melakukan perawatan. Dari caranya menjelaskan berbagai kandungan bahan yang ada di dalam serum maupun vitamin rambut membuat Aurora merasa jika Charlotte bukanlah orang awam yang menyukai perawatan secara asal-asalan. “Apakah kau pemilik klinik kecantikan? Kau membawa semua produk kecantikan ke rumah ini..” Aurora tersenyum geli. “Apa? Tentu saja tidak! Aku.. aku hanya terlalu antusias saat mengetahui jika akan ada seorang gadis muda yang datang ke rumah ini.. Aku sering berlebihan saat sedang mengekspresikan perasaanku. Maaf..” Charlotte menjawab sambil tertawa. Aurora menarik napasnya dengan pelan. Ternyata.. ternyata awal yang baru tidak selalu mengerikan. Charlotte memang orang asing yang tiba-tiba Aurora kenal sebagai kekasih ayahnya, tapi wanita itu terlalu baik untuk dibenci. Baru beberapa jam berlalu sejak mereka saling mengenal, dan sekarang Aurora merasa lega karena ayahnya memiliki Charlotte sebagai kekasihnya. “Kupikir seorang gadis jenius akan identik dengan kawat gigi, kaca mata tebal, dan rambut yang diikat kuda. Tapi kau mematahkan persepsi itu. Kau sangat cantik, Aurora..” Kata Charlotte. Wanita itu juga sedang sibuk memberikan serum ke wajahnya, bahkan ia bersiap untuk mengenakan masker wajah. Aurora merasa tidak percaya jika dia sedang duduk di depan meja rias sambil menatap wajahnya yang bersinar setelah menggunakan berbagai produk perawatan yang diberikan oleh Charlotte padahal beberapa hari lalu ia sedang terbaring tidak berdaya di ranjang rumah sakit. “Sepertinya Alfred memang selalu berada di sekitar wanita cantik. Melihat betapa cantiknya dirimu, aku yakin jika ibumu juga sangat cantik..” Charlotte berbicara dengan santai. Charlotte wanita muda yang memiliki pikiran terbuka, dia tidak menjadikan masa lalu sebagai sebuah batasan dalam berbicara. “Kau pernah bertemu dengan ibuku?” Tanya Aurora. “Tidak, tapi beberapa hari lalu kami berbicara lewat telepon. Dia sempat mengancamku..” Charlotte kembali tertawa di akhir kalimat. “Dia mengancammu?” Tanya Aurora dengan cepat. Aurora mengenal ibunya dengan sangat baik. Wanita itu selalu sulit untuk mengendalikan emosinya. “Dia hanya bergurau.. aku sangat mengerti jika ia khawatir pada keadaanmu. Hubungi dia sebelum kau tidur..” Charlotte menolehkan kepalanya sambil tersenyum. Jujur saja Aurora mulai merindukan ibunya. Kekacauan yang terus terjadi di Manhatta membuat Aurora tidak sempat memikirkan ibunya, tapi begitu sampai di Washington, D.C Aurora kembali merindukan ibunya. “Kau sungguh peduli padaku?” Tanya Aurora dengan suara pelan. “Jangan tersinggung, aku hanya merasa.. sedikit bingung..” Aurora sedikit menyesal karena dia mengajukan pertanyaan yang sangat aneh. “Apa definisi peduli menurutmu?” Tanya Charlotte. Aurora mengendikkan bahunya dengan pelan. “Alfred.. dia sangat jarang tersenyum. Selama ini dia hanya sibuk dengan kantor penelitiannya hingga dia sering melupakan waktu makan dan istirahat. Aku harus datang ke kantor dan mengingatkannya untuk makan.. hampir setiap hari aku melakukannya. Alfred seorang pria ambisius, dia menutup diri karena tidak ingin ada orang lain yang mengenal kelemahannya..” Aurora mengernyitkan dahinya. Dia tidak berharap mendapatkan mendapatkan jawaban seserius ini. “Aku sering melihatnya merenung di tengah malam sambil menatap fotomu yang ada di lorong utama..” Charlotte tertawa pelan. Aurora mengingat dengan jelas jika ada sebuah foto dengan ukuran besar yang dipasang di lorong utama. Satu-satunya foto yang menghiasi dinding rumah ini adalah potret Aurora. “Dia sangat menyayangimu, Aurora. Jadi mana mungkin aku tidak peduli padamu?” Kini Aurora terdiam, dia merasa sedikit terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh Charlotte. Jawaban wanita itu hampir sama seperti penjelasan yang Dalton berikan ketika Aurora menanyakan mengapa pria itu sangat peduli padanya. “Alfred terlihat sangat senang ketika tahu kau akan ke sini. Aku tidak berani bertanya terlalu jauh karena kurasa dia kebingungan saat akan menjelaskan keberadaanku kepadamu. Kupikir tidak masalah jika aku harus pergi beberapa hari dari apartemen ini ketika kau datang ke Washington, D.C.. tapi ternyata Alfred sudah menceritakan keberadaanku kepadamu saat kalian masih di Manhattan” Alfred tidak pernah menceritakan mengenai Charlotte ketika Aurora menelepon. Alfred hanya menunjukkan kantor penelitiannya, teman timnya, dan juga beberapa laporan cuaca yang ada di komputernya. Sama sekali tidak ada nama wanita yang disebutkan oleh ayahnya sehingga Aurora merasa jika Alfred masih belum memiliki kekasih. “Dia bukan pria yang romantis. Dia seorang pria tua yang sedikit kaku..” Aurora tertawa pelan. “Tapi aku juga bukan wanita yang memiliki banyak waktu untuk bermain-main. Alfred sangat baik kepadaku, jadi aku juga harus melakukan hal yang sama, bukan?” Aurora menganggukkan kepalanya. Tampaknya Charlotte adalah wanita yang sangat mengerti kepribadian ayahnya. “Jangan membahas kisah cinta orang dewasa, bagaimana jika kita membicarakan tentang Victor?” Tanya Charlotte. Aurora menegakkan bahunya. Dia merasa sedikit gugup saat sedang memikirkan Victor. Selama ini Aurora tidak pernah menceritakan tentang hubungan dengan Victor kepada siapapun. Aurora tidak memiliki teman dekat, ibunya juga bukan tipe wanita yang akan senang jika Aurora menceritakan tentang kekasihnya. Bahkan, Aurora masih mengingat dengan jelas bagaimana awal pertengkaran mereka.. “Pipimu memerah dengan sangat menggemaskan!” Charlotte terlihat antusias sehingga membuat Aurora semakin merasa gugup. “Kalian membuatku merasa sangat iri. Kapan ayahmu akan bersikap manis seperti Victor?” Tanya Charlotte sambil menangkup wajah Aurora dengan kedua tangannya. Aurora kembali menarik napasnya dengan pelan. Charlotte tida seperti Dalton yang melengkapi kekosongan peran ayah dalam hidup Aurora ketika ia berada jauh dari Alfred, Charlotte justru berbicara dengan santai layaknya seorang teman. Ya, seorang teman yang tidak pernah Aurora miliki.. *** “Kau tidur dengan nyenyak, Aurora?” Aurora menatap Victor yang sibuk menyiapkan makanan bersama dengan Charlotte. Suara tawa mereka terdengar hingga di kamar Aurora sehingga membuatnya terbangun. “Kalian sedang membuat sarapan?” Tanya Aurora dengan pelan. “Kekasihmu yang keras kepala ini memaksa untuk membuat sarapan tanpa bantuanku. Tapi dia kebingungan saat akan menyalakan kompor..” Kata Charlotte sambil memberikan segelas s**u coklat ke atas meja yang ada di depan Aurora. “Kompor di rumah ini sangat berbeda, Aurora. Tidak menggunakan listrik seperti biasanya..” Aurora bangkit berdiri dan ikut mengamati kompor milik Charlotte. “Alfred yang membuat kompor ini tersambung dengan energi ramah lingkungan yang sedang ia kembangan. Bukankah kalian sudah tahu jika profesor itu memiliki hobi menciptakan barang-barang aneh yang sangat berguna?” Charlotte menjelaskan dengan tenang. Aurora menatap dengan kagum ke arah kompor yang diciptakan oleh ayahnya tersebut. Setahu Aurora, teknologi yang sedang Alfred kembangkan adalah salah satu pembangkit energi yang mengandalkan panas matahari buatan sehingga menekan tumpukan limbah menjadi energi baru yang lebih ramah lingkungan. Aurora merasa takjub dengan kehebatan ayahnya. “Apakah kompor ini diperjual-belikan?” tanya Victor. “Tidak ada yang mau mendanai penelitian Alfred. Pasar minyak dunia akan terguncang jika penemuan Alfred berhasil dikembangkan..” Aurora menganggukkan kepalanya. Kemajuan yang ditawarkan oleh Alfred tidak bisa diterima oleh orang-orang karena bisa saja menggeser pasar minyak dunia dan juga merusak pembangkit listrik yang menjadi energi paling populer di masa ini. “Apakah meledaknya nuklir di Asia Timur berpotensi mengubah pemikiran masyarakat? Jika energi panas matahari buatan jauh lebih aman dan ramah lingkungan, bukankah ini bisa menjadi kesempatan Daddy untuk mengembangkan penemuannya?” Tanya Aurora. “Aku juga memikirkan hal yang sama, tapi ternyata tidak semudah itu... pagi ini ada laporan yang mengatakan jika sejak dua hari lalu suhu udara di kawasan Asia meningkat dengan sangat drastis..” Aurora mengernyitkan dahinya. Apa hubungan antara penelitian ayahnya dengan suhu udara di Asia Timur? “Kalian tidak sadar? Dua minggu lalu Asia Timur menjadi wilayah paling dingin yang suhunya menyentuh angka minus 92 derajat celcius. Lebih dingin dari San Fransisco saat kota itu dilanda badai salju. Sekarang Asia Timur mulai mencapai suhu 15 derajat celcius..” Aurora memundurkah langkahnya dengan pelan. Dia cukup terkejut saat mendengar berita yang Charlotte jelaskan. Kenaikan suhu yang drastis pasca badai salju bisa menimbulkan badai angin yang ganas. Perbedaan suhu antara daratan, udara, dan air bisa menjadi awal dari bencana yang lainnya. “Jangan khawatir, aku mendengar berita itu dari televisi. Kurasa kita tidak terlalu terlalu khawatir..” Charlotte berbicara sambil tertawa pelan. Aurora mengulurkan tangannya untuk menyesap s**u coklat hangat yang beberapa menit lalu diberikan oleh Charlotte. “Apakah itu berarti New York juga akan mengalami kenaikan suhu dengan drastis?” Tanya Victor. “Aku tidak terlalu tahu. Mungkin kita harus menunggu kabar dari Alfred..” Charlotte kembali datang dengan roti isi daging dan sosis yang tampak baru diangkat dari panggangan. “Apakah Daddy akan pulang hari ini?” Tanya Aurora dengan cepat. “Kau ingin bertemu dengannya? Kita bisa datang ke kantor setelah kalian selesai sarapan..” Aurora menghembuskan napasnya dengan pelan. Kembali teringat kejadian saat ia gagal menyelamatkan Amanda.. Aurora belum terlalu ahli dalam memberikan penanganan kepada orang yang terluka. Ya, Aurora bukan seorang ahli. Mungkin sebaiknya Aurora tetap diam dan menunggu informasi dari ayahnya.. Sebagai seorang siswa menengah atas, bukankah tidak wajar jika Aurora ingin mengungkapkan pendapat dan pengamatannya terhadap situasi yang sedang terjadi di hadapan seorang profesor yang sudah sangat ahli dalam bidang meteorologi. Sekali lagi Aurora kembali menegaskan kepada dirinya sendiri. Dia bukan seorang ahli, dia tidak pantas mengungkapkan pemikirannya mengenai keadaan suhu yang meningkat dengan drastis baik di wilayah Asia maupun Amerika. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN