Washington, D.C (US)
“Berita mengenai peluncuran matahari buatan yang dilakukan oleh Benua Asia semakin ramai diperbincangkan. Sebagai salah satu benua yang mendapatkan dampak paling buruk dari kejadian ledakan nuklir, benua Asia dinilai menjadi benua yang terbaik dalam melakukan penanganan. Peluncuran matahari buatan yang akan dilakukan satu bulan lagi membuat negara di sekitarnya mulai membicarakan proyek yang sama, bahkan benua Eropa telah menandatangani proyek kerja sama antara ahli Asia untuk membangun energi matahari di wilayah Eropa. Asia sendiri menawarkan bantuan pada setiap benua yang ingin bekerja sama untuk membangun matahari buatan yang dinilai menjadi terobosan paling efektif untuk menangani masalah gelombang dingin”
Aurora mendengarkan berita dengan serius. Pagi ini ada sebuah kabar mengejutkan dari benua Asia yang sejak tiga minggu lalu terkesan bungkam ketika dimintai pertanggungjawaban mengenai ledakan nuklir di wilayah mereka yang menyebabkan badai dingin di beberapa kota di seluruh benua.
“Bukankah itu proyek yang ingin kau lakukan dua tahun ini? Asia sungguh meluncurkan matahari buatan?” Charlotte ikut bergabung dan duduk di samping Alfred yang sedang fokus mendengarkan siaran berita di televisi.
“Proyek matahari buatan?” Tanya Aurora.
“Ya, ayahmu sangat ingin mengembangkan proyek tersebut tapi pemerintah masih belum memberikan respon apapun..” jawab Charlotte.
Aurora kembali fokus mendengarkan berita yang kini mulai menampilkan beberapa perkembangan proyek matahari buatan yang sedang dikembangkan oleh tim meteorologi Asia.
Tidak ada yang bisa disalahkan dalam sebuah musibah, Aurora yakin tidak ada orang yang menginginkan ledakan nuklir tersebut terjadi. Meledaknya sebuah nuklir akan menjadi sejarah mengerikan yang diingat sepanjang masa. Ledakan kali ini menimbulkan dampak begitu mengerikan. Selain gempa, ledakan nuklir juga menutupi atmosfer dengan lapisan karbon. Panas matahari tidak bisa menembus lapisan karbon tersebut sehingga mulai terjadi badai es di beberapa wilayah.
Hingga satu pekan berlalu sejak Aurora meninggalkan Manhattan, masih belum ada kabar pasti mengenai evakuasi yang dilakukan di kota tersebut.
“Jika wilayah Asia meluncurkan matahari buatan, benua lain pasti akan mengikuti jejak mereka. Kebekuan yang melanda beberapa wilayah mulai tidak bisa dikendalikan karena sekarang angin bergerak dengan asal sehingga menyebarkan udara dingin tersebut”
Ketika Aurora melakukan perjalanan dari hotel ke rumah sakit, saat itu ia mengira jika badai sudah selesai, sayangnya Aurora salah. Badai belum sepenuhnya selesai, saat itu angin mulai bergerak secara asal dan membuat wilayah di sekitarnya diselimuti oleh salju. Aurora baru menyadari hal itu di hari kedua saat ia sudah tiba di Washington, D.C.
“Ada angin dingin yang sekarang bergerak dengan arah tak tentu. Meski berada di tengah samudra, kita harus memperhatikan angin tersebut..” Kata Alfred.
“Apakah akan terjadi badai lagi?” Tanya Charlotte.
“Entahlah, Hugo melaporkan jika belum ada gerakan pasti dari angin tersebut. Melakukan proyek pembangunan matahari buatan bisa saja menjadi salah satu cara untuk meningkatkan suhu bumi. Kita bisa melepaskan energi panas untuk sementara waktu, setelah itu energi matahari buatan bisa dimanfaatkan sebagai pembangkit energi..”
Aurora mengernyitkan dahinya. Dia bukan seorang ahli seperti ayahnya, tapi Aurora rasa peluncuran matahari buatan justru akan menimbulkan masalah. Suhu bumi sedang menurun, melakukan peningkatan suhu secara drastis akan membuat ketidakseimbangan yang akhirnya bisa menimbulkan bencana lainnya.
“Apakah Daddy yakin jika peluncuran matahari buatan adalah satu-satunya cara untuk bisa menanggulangi masalah ini?” Tanya Aurora dengan suara pelan.
Alfred menolehkan kepalanya dengan tatapan penasaran. Pria itu seakan sedang menunggu penjelasan Aurora.
Sementara itu, Aurora sendiri merasa ragu dengan pemikirannya. Ia hanya seorang anak sekolah menengah atas yang baru mempelajari meteorologi selama beberapa bulan belakangan, Aurora jelas berbeda dengan ayahnya yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk melakukan penelitian meteorologi.
“Apakah kau memiliki pendapat yang berbeda?” Tanya Alfred.
Aurora menganggukkan kepalanya. Sejak awal mengetahui kenaikan suhu di wilayah New York, Aurora sudah memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi di wilayah tersebut.
“Bagaimana jika benua Asia salah dalam mengambil langkah? Bagaimana jika satu-satunya hal yang bisa dilakukan saat ini adalah diam dan menunggu hingga badai tersebut berakhir..” Aurora menatap ayahnya dengan sedikit ragu.
“Menunggu? Ada banyak wilayah yang masih membeku saat ini, Ameria beruntung karena hanya ada dua kota yang lumpuh karena kebekuan, tapi Eropa dan Asia hampir tertutup oleh es selama tiga minggu ini..” Kata Charlotte.
Aurora mengerti jika Amerika menjadi salah satu benua beruntung karena tidak banyak mendapatkan badai es, tapi bukankah sekarang masih terlalu dini untuk mengambil keputusan mengenai peluncuran matahari buatan?
“Jika dulu proyek matahari buatan disetujui oleh pemerintah, apakah Daddy akan melakukan peluncuran?” Tanya Aurora.
“Konsep matahari buatan yang Daddy buat dua tahun lalu sangat berbeda dengan matahari buatan yang diluncurkan oleh Asia. Matahari yang Daddy buat tidak berfungsi layaknya matahari pada umumnya, proyek itu bernama matahari buatan karena energi tersebut tidak memilik dampak buruk dan juga mampu dimanfaatkan secara maksimal layaknya energi matahari. Tapi sebenarnya, matahari buatan yang Daddy kembangkan tidak akan memiliki energi panas sebesar matahari sungguhan..”
Aurora mencoba untuk memahami penjelasan ayahnya yang sedikit rumit.
“Pada intinya, itu bukan matahari penghasil panas seperti yang dikembangkan oleh Asia..” Charlotte ikut menambahi.
“Tapi peluncuran matahari buatan adalah salah satu cara efektif untuk menangani penurunan suhu di berbagai wilayah yang mengalami badai gelombang dingin..” Alfred kembali melanjutkan.
“Pada saat percobaan peluncuran, matahari buatan telah berhasil menaikkan suhu Asia sebesar 20 derajat selama satu pekan terakhir, kini dilaporkan jika kawasa Asia mulai memasuki suhu negatif 60 derajat celcius. Matahari ini diprediksi akan mampu meningkatkan suhu hingga 20 atau 30 dan mengembalikan wilayah Asia ke suhu normal. Penduduk Asia yang masih bertahan di tengah bencana kebekuan yang melanda, kini mulai memberikan dukungan terhadap pengembangan proyek matahari buatan tersebut. Diperkirakan hanya sekitar 50 persen populasi Asia yang masih bertahan akibat gelombang dingin yang menyapu wilayah mereka. Dalam sejarah dunia, belum ada kejadian yang lebih buruk dari bencana gelombang dingin ini. Asia menjadi benua yang menerima dampak paling buruk dari ledakan nuklir, tapi benua ini keluar sebagai benua paling baik dalam menemukan solusi. Hingga saat ini, masih ada beberapa negara di Asia yang mengalami hujan salju, tapi pemerintah negara pengembang proyek matahari buatan tetap meneruskan pembangunan mereka..”
Suara siaran televisi kembali terdengar. Dalam video singkat yang ditampilkan di televisi, Aurora bisa melihat bagaimana progres dari pengembangan proyek matahari buatan.
Benua Asia menjadi benua yang memiliki populasi terbanyak di dunia. Menurut data yang Aurora baca, ada lebih dari 4,6 milyar jiwa atau hampir 60 persen populasi dunia. Benua tersebut mendapatkan dampak paling buruk dari ledakan nuklir yang terjadi, lebih dari 2,3 milyar jiwa yang dilaporkan tewas saat gelombang dingin menerpa wilayah tersebut. Entah bagaimana mereka akan menjalani kehidupan setelah ini, ledakan nuklir telah mengubah segalanya hanya dalam kurun waktu tiga minggu terakhir.
“Hanya 50 persen populasi Asia yang selamat, ledakan nuklir kali ini benar-benar sangat buruk. Aku tidak menduga jika korban juga bisa sebanyak itu..” Charlotte terlihat sangat terkejut.
Aurora merasakan sendiri betapa dinginnya Manhattan pada saat gelombang dingin menerpa wilayah tersebut. Jangankan untuk bertahan hidup, menemukan tempat yang terluput dari kebekuan saja sangat sulit untuk dilakukan. Selain gelombang dingin, gempa juga terjadi saat puncak badai.
“Apakah pengembangan proyek matahari buatan benar-benar efektif untuk menangani masalah saat ini?” Tanya Charlotte.
Aurora tetap fokus memperhatikan penjelasan mengenai matahari buatan yang dikembangkan di Asia Tenggara. Matahari buatan mengandung lima persen panas matahari jika cukup efektif untuk menaikkan suhu di wilayah Asia. Tidak ada kesempatan bagi Asia timur yang sudah hancur sejak awal ledakan nuklir terjadi, oleh sebab itu mereka memfokuskan evakuasi di wilayah Asia tenggara, Asia selatan, dan Asia barat.
“Aku tidak tahu, kurasa masih terlalu dini untuk mengambil keputusan karena kita belum melihat secara langsung bagaimana efek samping matahari buatan yang mereka kembangkan..” Alfred menjawab dengan tenang.
“Bukankah panas matahari tidak dapat menembus bumi karena ada lapisan karbon di sekeliling atmosfer? Jika mereka meluncurkan matahari buatan, bagaimana jika panas matahari tersebut juga tidak bisa dipantulkan keluar” Aurora tiba-tiba berbicara.
Alfred dan Charlotte langsung menatapnya dengan pandangan kebingungan. Aurora baru saja mengungkapkan pemikirannya secara tidak sengaja.
“Menurutmu begitu?” Tanya Alfred.
Aurora menganggukkan kepalanya dengan ragu. Entah ini benar atau salah, tapi Aurora tidak merasa menyesal setelah mengungkapkan isi pikirannya.
“Itu akan menjadi masalah besar untuk benua Asia. Sebaiknya kau tidak membuat pernyataan apapun mengenai matahari buatan ini, Alfred. Kalian memiliki proyek yang mempunyai nama matahari buatan, sekalipun konsepnya berbeda.. orang awam pasti akan mengira jika kalian mengembangkan proyek yang sama”
Aurora mendengarkan peringatan yang Charlotte katakan. Bagi Aurora, ayahnya tidak seperti seorang pria yang sedang menjalin hubungan asmara. Alfred dan Charlotte sering kali berbicara mengenai hal serius layaknya rekan kerja. Aurora mengingat dengan jelas jika Abigail dan Dalton jauh lebih romantis ketika sedang berbicara, namun Aurora tidak ingin menyamakan hubungan kedua orangtuanya. Alfred dan Charlotte menjalin hubungan dengan cara yang sedikit berbeda, tapi mereka terlihat sangat bahagia.
“Aku sudah pernah menyampaikan proyek ini kepada pemerintah, cepat atau lambat mereka pasti akan mendatangiku..”
***
Aurora mengeratkan selimut yang membungkus tubuhnya. Hembusan angin dari Manhattan yang bergerak ke daerah sekitarnya, kini mulai datang ke Washington, D.C. Sejak semalam Aurora merasa kedinginan jika ia tidak menggunakan mantel dan selimut berbulu.
Melihat Victor yang duduk sendirian di depan jendela balkon membuat Aurora berniat untuk mendekati pria itu.
“Kau tidak merasa dingin?” Tanya Aurora sambil menyandarkan kepalanya di pundak Victor.
“Aku akan memelukmu agar tidak kedinginan..” Victor memeluk Aurora sambil tertawa pelan.
“Apa kau merindukan Colombus?” Tanya Aurora setelah sekian lama terbungkam di dalam pelukan Victor.
Satu minggu terakhir Aurora merasa sangat senang karena bisa menghabiskan banyak waktu dengan ayahnya. Alfred sangat sibuk, tapi pria itu berusaha keras untuk selalu pulang sebelum tengah malam. Aurora akan menunggu Alfred hingga pria itu pulang, mereka akan duduk di depan televisi sambil menghabiskan segelas coklat panas. Selain Alfred, Aurora juga banyak menghabiskan waktu bersama dengan Charlotte. Belakangan ini Aurora mengetahui jika Charlotte adalah seorang model yang cukup terkenal di Washington, D.C. Aurora baru tahu jika distrik pemerintahan seperti Washington, D.C juga memiliki aktivitas seni seperti studio foto.
“Sudah satu bulan kita meninggalkan kota itu. Tidak ada hal yang aku rindukan di Colombus selain kakek dan nenekku..” Jawab Victor.
Aurora menatap ke arah langit sore yang tampak sangat gelap. Satu pekan ini mereka beradaptasi dengan minimnya cahaya matahari sekalipun saat tengah hari.
“Kita akan kembali ke Colombus ketika bandara mulai kembali beroperasi..” Aurora merasa bersalah karena di Washington, D.C hanya dia saja yang bersenang-senang, sementara Victor harus tetap mengikutinya sekalipun pria itu sangat merindukan keluarganya.
“Aku suka dengan suasana Washington, D.C.. jangan khawatir, keluargaku sama sekali tidak mencemaskan aku karena aku pandai membuat penjelasan..” Victor berbicara sambil tertawa.
“Aku juga sangat senang saat di sini..” Aurora kembali memikirkan bagaimana keadaan ibunya.
Sudah dua hari ibunya menolak panggilan Aurora. Wanita itu marah karena Aurora tidak kunjung kembali ke Colombus. Berkali-kali Aurora mencoba menghubungi Abigail, tapi seperti biasanya, ibunya akan berhenti berbicara ketika dia sedang marah.
Kadang Aurora merasa senang dengan sikap ibunya. Tetap diam ketika merasa marah adalah salah satu upaya agar tidak ada kata menyakitkan yang keluar saat tidak bisa bisa mengendalikan emosi, tapi kadang Aurora merasa muak ketika ibunya mulai mendiamkan semua orang.
Satu hal yang Aurora pelajari dari Abigail, wanita itu tidak menerima penolakan dan kegagalan. Apapun dapat dimaafkan selain kegagalan..
“Bukankah seharusnya kita mulai membuat jadwal untuk mengunjungi Washington, D.C ketika liburan musim panas?” Tanya Victor.
Aurora tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan antusias.
“Tapi sepertinya kita akan tetap terjebak di Washington, D.C untuk waktu yang cukup lama. Lapisan karbon akan mengganggu penerbangan sehingga bandara akan tetap tutup hingga beberapa hari ke depan..”
Lapisan karbon yang menyelimuti bumi tidak akan bisa hilang hingga beberapa tahun ke depan, tapi setidaknya Aurora berharap jika langit dapat sedikit lebih jernih agar penerbangan tidak dibatalkan lagi. Aurora suka berada di Washington, D.C tapi dia juga merasa cemas pada ibunya.
“Sekolahmu masih belum dimulai, mungkin kita bisa tetap di sini untuk beberapa hari lagi..” Victor mengusap kepala Aurora dengan lembut.
“Apakah semuanya akan baik-baik saja? Kudengar masih ada beberapa wilayah yang mengalami badai gelombang dingin..” Aurora mulai merasa khawatir setelah melihat siaran berita beberapa saat lalu.
Masih belum ada pengumuman resmi dari pemerintah mengenai berapa banyak jumlah korban jiwa di Manhattan dan San Fransisco, tapi Aurora yakin jika badai yang terjadi di dua kota itu merenggut banyak nyawa... dan salah satunya adalah Amanda.