Bab 54

1966 Kata
Washington, D.C (US) Alfred menatap beberapa orang ahli meteorologi yang secara mengejutkan datang berkunjung ke kantornya di pagi hari. Bukan hanya ahli meteorologi, tapi wakil presiden juga ikut melakukan kunjungan rahasia ke kantornya. Dua hari lalu Alfred sempat memprediksi jika tim meteorologi pusat pasti akan datang untuk menemuinya. “Kami menantikan kedatangan kalian sejak beberapa bulan yang lalu..” Kata Alfred dengan tenang. “Keadaan yang sangat kacau mendorong kita untuk mengambil keputusan secepat mungkin, profesor Bernadius. Kami yakin Anda juga setuju akan pernyataan tersebut..” Alfred menganggukkan kepalanya. Keadaan darurat yang terjadi selama satu bulan belakangan ini membuat semua orang bekerja di bawah tekanan. “Pengembangan matahari buatan membutuhkan waktu lebih dari satu bulan lamanya. Sementara itu, dari laporan pergerakan angin yang kami dapatkan, sepertinya gelombang dingin mengarah ke selatan dengan kecepatan yang lebih rendah. Itu artinya kita memiliki waktu sekitar dua hari untuk penyuluhan bantuan di kota yang menjadi pusat titik beku selanjutnya..” Alfred masih belum mendapatkan laporan lanjutan dari Hugo. Sejak Alfred melakukan perjalanan ke New York sekitar tiga minggu lalu, Hugo menggantikan Alfred untuk memantau pergerakan angin. Hingga saat ini Hugo terus melaporkan perkembangan pengamatannya. “Haruskah kita melakukan evakuasi?” Salah satu pemimpin tim meteorologi pusat mengajukan pertanyaan kepada Alfred. “Kalian ingin melakukan hal yang sama seperti saat terjadi gelombang dingin di San Fransisco dan Manhattan?’ Alfred justru membalikkan pertanyaannya. Evakuasi di tengah ancaman badai gelombang dingin adalah hal paling bodoh yang pernah dilakukan. Saat ini, dibandingkan berlindung di dalam tenda yang tipis, alangkah lebih baik jika pemerintah memberikan himbauan agar tidak ada warga yang keluar dari rumah. Jika bisa, mereka dapat membuat perapian untuk menjaga suhu tubuh agar tidak menurun dengan drastis. “Putrimu selamat dari badai di Manhattan, apa yang dia lakukan untuk bertahan hidup?” “Berada di dalam ruangan tertutup adalah satu-satunya cara untuk bisa bertahan. Keadaan Manhattan sangat kacau saat itu, semuanya bertambah kacau ketika pemerintah setempat mengumumkan evakuasi.. Tapi putriku berhasil selamat karena dia menolak evakuasi tersebut..” Alfred memberikan penjelasan singkat mengenai keadaan putrinya saat sedang berada di Manhattan. Alfred masih mengingat dengan jelas betapa kacaunya keadaan Manhattan pada saat itu. Jantung kota New York yang selalu dipenuhi oleh cahaya lampu yang gemerlapan di tengah gelapnya langit malam berubah menjadi sebuah kota mati yang selalu terlihat gelap saat siang maupun malam. Lapisan karbon yang menyelimuti atmosfer membuat sinar matahari terhalang, udara di sana sangat dingin karena setelah dua minggu sejak badai terjadi, hujan salju masih terus turun sehingga membuat suasana jadi semakin gelap. “Haruskah kita memberikan menyampaikan pengumuman ini ke media? Masyarakat harus bersiap sebelum kembali menghadapi badai gelombang dingin..” Alfred termenung untuk sesaat, dia memikirkan dampak apa saja yang akan terjadi jika pemerintah memberikan pengumuman resmi terkait pembatasan kegiatan masyarakat selama beberapa hari ke depan. Gerakan angin yang terlihat menuju ke selatan masih belum bisa diprediksi secara akurat. Laporan Hugo menyatakan jika angin tersebut bergerak dengan lambat dan kadang mengubah arah mereka ketika terjadi gelombang tinggi di tengah lautan. “Masyarakat tidak boleh tahu mengenai keadaan darurat ini..” Alfred menjawab dengan tegas. “Kau ingin mengurung mereka tanpa makanan selama dua minggu penuh? Kita semua tahu jika Manhattan dan San Fransisco sama-sama lumpuh selama lebih dari dua minggu. Hal yang sama pasti akan terjadi di kota yang menjadi pusat badai selanjutnya..” “Bagaimana jika mereka melakukan panic buying karena ingin menyimpan persediaan makanan? Toko-toko bisa saja mengalami penjarahan di tengah keadaan seperti ini. Kurasa, sebaiknya kita tidak memberikan pengumuman apapun..” Alfred mencoba memberikan penjelasan yang logis terkait kekhawatirannya. “Bisakah kami percaya padamu?” Tanya wakil presiden. “Itu terserah pada kalian..” Alfred menjawab dengan tenang. *** Kesepakatan yang Alfred buat bersama dengan wakil presiden membuatnya tidak bisa tidur di malam hari. Ada banyak sekali hal yang harus Alfred siapkan untuk melanjutkan proyek besar yang menjadi salah satu mimpinya sejak dua tahun lalu. Alfred merasa berdosa karena dia bersyukur atas sebuah bencana yang menerpa seluruh dunia. Tanpa bisa ditebak maupun dicegah, tenaga nuklir yang menjadi kebanggaan negara di Asia timur meledak dan menimbulkan bencana besar karena terlepasnya karbon yang melapisi atmosfer. Tidak ada sinar matahari, tidak ada udara bersih, dan tidak ada kota yang tidak terdampak gelombang dingin. “Apakah rencana pengembangan matahari buatan akan segera direalisasikan, Sir?” Secara tiba-tiba Victor datang dengan secangkir kopi yang uapnya terlihat mengepul di udara. Pemuda itu memberikan cangkir kopi yang ada di tangan kanannya, lalu ia ikut duduk di depan pintu balkon bersama dengan Alfred. Udara dingin yang berhembus di malam hari membuat Alfred mengingat saat ia terjebak di Manhattan. Tampaknya Washington, D.C juga mulai mengalami penurunan suhu lagi setelah hampir tiga hari berturut-turut mengalami kenaikan suhu. “Kau mendengar berita dari televisi?” Tanya Alfred. Sejak kedatangan presiden ke kantor penelitian Alfred, ada banyak media yang menyorot proyek matahari buatan yang akan dipimpin oleh tim dari kantornya. Berita tersebut pasti sudah sampai ke telinga Victor sehingga pemuda itu merasa penasaran dengan kebenarannya. Aurora dan Charlotte terlihat sibuk dengan kegiatan mereka sehari-hari. Sekalipun Alfred melarang mereka keluar rumah, tampaknya Aurora dan Charlotte selalu menemukan kegiatan menyenangkan yang hanya bisa dilakukan oleh wanita sehingga Victor terlihat jarang berinteraksi dengan Aurora. “Semua orang sudah mendengar berita tersebut..” Victor menjawab sambil menatap lurus ke arah kota yang ada di depan mereka. Apartemen Alfred berada di pusat kota sehingga mereka bisa melihat gedung-gedung tinggi yang berada di sekitarnya. Sekalipun sebuah distrik pemerintahan, Washington, D.C tetaplah sebuah kota maju yang dipenuhi oleh gedung pencakar langit. “Aku akan mencari cara untuk mengantar kalian pulang ke Ohio sebelum melakukan proyek tersebut..” Alfred mengerti jika Victor sudah hampir dua bulan meninggalkan pekerjaannya. Victor memang tidak pernah mengeluh, dia terlihat senang ketika melihat kebahagiaan Aurora, tapi mengurung mereka di Washington, D.C juga bukanlah hal yang benar. Aurora dan Victor tetap harus pulang. “Kudengar belum ada bandara yang beroperasi..” “Mungkin.. mungkin bandara tidak akan beroperasi sebelum kabut hitam di langit mulai menghilang..” Jawab Alfred. Sekalipun pesawat menggunakan radar yang dapat dikendalikan dari pusat bandara, kabut hitam tetap saja menjadi masalah yang membuat bandara memutuskan untuk menunda penerbangan sampai beberapa bulan ke depan. Tidak ada yang tahu seberapa lama kabut hitam akan terus menutupi langit, tapi jika kabut tersebut tidak menghilang maka bisa dipastikan jika bandara tidak akan beroperasi. Masalahnya, kabut hitam yang berasal dari kumpulan karbon yang terlepas bersama dengan ledakan nuklir tidak akan hilang dengan mudah. Butuh waktu sekitar 5 tahun untuk benar-benar membersihkan kabut tersebut. “Bukankah membutuhkan waktu lama untuk menunggu hilangnya lapisan karbon?” Tanya Victor. “Membutuhkan waktu lebih dari 5 tahun..” Victor tidak terlihat terkejut sehingga Alfred mengasumsikan jika pemuda itu sudah mengetahui informasi ini. “Mungkin kalian bisa pulang lewat jalur darat.” Kata Alfred. “Jangan memikirkan kami, Aurora terlihat senang saat di sini.. sebaiknya Anda fokus pada pengembangan matahari buatan, Sir..” Alfred menganggukkan kepalanya. Dia tahu jika Aurora juga terlihat senang saat sedang berada di Washington, D.C.. apalagi belakangan ini Aurora sangat akrab dengan Charlotte, mereka terlihat seperti teman dekar. Namun Alfred mengerti jika Abigail tidak akan bisa bertahan terlalu lama tanpa Aurora. Satu-satunya alasan Abigail tetap bertahan hidup adalah Aurora. Kadang wanita itu terlihat sangat keras dalam memberikan didikan, tapi Abigail juga sangat menyayangi Aurora. Wanita itu bisa bertahan selama 12 tahun dalam sebuah pernikahan palsu yang setiap hari hanya diisi dengan pertengkaran, wanita itu bertahan demi Aurora. “Bagaimana dengan pekerjaanmu?” Tanya Alfred. Alfred sangat jarang berbicara serius dengan Victor. Selama ini Aurora terlihat gelisah setiap kali Alfred mulai berbicara dengan Victor, putrinya itu pasti akan mencoba mengalihkan pembicaraan. Alfred selalu berusaha menghormati putrinya, dia tidak akan membuat Aurora merasa tidak nyaman. “Setiap hari aku menjual beberapa bungkus makanan cepat saji, tapi di tengah kondisi seperti ini.. siapa yang akan membeli makananku?” Victor tidak pernah menutupi keadaannya, pria itu selalu menjelaskan dengan rinci bagaimana kehidupan pribadinya. Hal yang Alfred suka dari Victor adalah kejujuran dan ketulusannya. Sebagai seorang manusia, Alfred sangat sering mengalami kegagalan, dia tidak lagi merasa takut saat harus menghadapi kegagalan karena selama ini dia tetap hidup sekalipun sering mendapatkan kegagalan. Victor terlihat sama seperti dirinya, ada banyak hal buruk yang dialami oleh pemuda itu, tapi ia tidak menyerah. “Apakah.. kalian bersekolah di tempat yang sama?” Tanya Alfred. “Maksudku kau dan Aurora..” Lanjut Alfred. “Ya, kami bersekolah di tempat yang sama. Aku dua tahun lebih tua dari Aurora. Kami bertemu di rumah temanku, dia berteman dengan adik temanku..” Victor selalu terlihat antusias saat sedang membicarakan Aurora. “Bagaimana kehidupan Aurora saat ia di sekolah?” Alfred melewatkan banyak hal mengenai putrinya. Alfred selalu sibuk sejak Aurora masih kecil, dia mengingkari janji yang ia buat saat pertama kali menggendong Aurora. Seorang bayi kecil mulai bertumbuh menjadi gadis cantik yang sangat pandai, tapi hingga saat ini Alfred masih belum bisa memenuhi janjinya. Alfred tidak mengenal lingkungan sekolah Aurora, dia tidak tahu putrinya berteman dengan siapa saja, dia bahkan tidak tahu apakah Aurora memilik teman atau tidak. Alfred hanya menelepon Aurora di akhir pekan, tapi sering kali putrinya mengabaikan panggilannya. Wajar jika Aurora merasa bosan, selama ini Alfred hanya menanyakan hal-hal dasar seperti apakah dia sudah makan dan apakah dia mengalami kesulitan di sekolah. Alfred tidak pernah benar-benar menanyakan keadaan Aurora, dia tidak tahu apakah Aurora bahagia atau apakah putrinya itu merasa tertekan dengan sekolahnya. “Aurora sangat pendiam. Kurasa semua orang di sekolah mengenalnya karena dia sangat pandai, tapi tidak ada yang benar-benar berteman baik dengannya. Beberapa kali aku mendengar temannya mengatakan hal buruk mengenai Aurora, tapi Aurora tidak pernah melawan. Dia hanya akan diam lalu pergi begitu saja..” Alfred menggenggam erat cangkir kopi yang tadi diberikan oleh Victor. Sebagai orang tua, dia merasa sangat sedih ketika mendengar keadaan sosial putrinya. “Ada yang merundung Aurora?” Tanya Alfred. “Mereka iri pada Aurora. Kurasa Aurora juga mengetahui hal itu, jadi dia tidak pernah menanggapi kalimat buruk yang dikatakan kepadanya..” Jawab Victor. Diam adalah emas, tapi jika terus diam maka orang tidak akan berhenti menghina. Kadang manusia terlalu larut dalam dunianya sendiri sehingga dia tidak menghiraukan kalimat-kalimat jahat yang dikatakan oleh orang sekitarnya. Dunia yang Aurora ciptakan terlalu menyenangkan untuk ditinggalkan, putrinya itu terbiasa sendirian sejak ia masih kecil. Bagi Aurora, dia lebih suka melakukan pekerjaan sendirian dari pada harus berinteraksi dengan orang asing yang tidak sejalan dengan pemikirannya. Mungkin Aurora lupa jika sehebat apapun dirinya, ia akan tetap membutuhkan orang lain. “Abigail juga seorang wanita pendiam yang jarang mengutarakan keinginannya. Dia sangat pendiam, orangtuanya membatasi pergaulannya sehingga tidak pernah ada kesempatan untuk berteman dengan orang lain. Kurasa Abigail menerapkan hal yang sama pada Aurora..” Victor tidak memberikan reaksi apapun, sepertinya pemuda itu setuju dengan pernyataan Alfred. Jika benar Abigail menerapkan didikan yang sama, maka artinya perempuan itu memberikan pembalasan dendam ke orang yang salah. “Kuharap kau akan selalu bersama Aurora, dia terlihat lebih ekspresif ketika sedang bersamamu. Dia bahkan membatasi kalimatnya saat sedang berbicara denganku..” “Aurora sulit berinteraksi dengan orang asing—” Victor menjeda kalimatnya. Pemuda itu berusaha menemukan kata yang tepat untuk memberikan penjelasan kepada Alfred. “Dia selalu canggung jika sedang berbicara dengan orang yang sudah lama tidak ia temui. Anda jarang berada di rumah, mungkin Aurora merasa canggung karena kalian jarang berbicara. Lihat saja, Aurora selalu tertawa saat sedang bersama Charlotte..” Melihat Aurora dan Charlotte yang tertawa bersama dan berbagi selimut yang sama saat sedang menonton televisi membuat Alfred merasa senang. Tapi kadang Alfred merasa iri dengan kekasihnya, wanita itu sangat mudah untuk dekat dengan orang lain, dia membuat Aurora lebih dekat dengannya dibandingkan ayahnya sendiri. “Aku juga tidak banyak berbicara dengannya.. mungkin karena itulah Aurora tidak arab denganku.” Kata Alfred. “Dia akan sering mengunjungi Washington, D.C setelah ini. Kalian pasti akan semakin akrab seiring dengan berjalannya waktu..”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN