Washington, D.C (US)
Pengembangan proyek matahari buatan dimulai dengan rapat untuk membahas konsep-konsep penting. Alfred menjadi pemimpin jalannya rapat yang dihadiri oleh 100 orang ahli dalam bidang meteorologi, fisika, dan kimia. Proyek matahari buatan diperkirakan akan memakan waktu selama satu bulan untuk masa pembangunan dan percobaan. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan agar tidak memperpanjang waktu pembangunan.
Sebagai tim yang ditunjuk untuk memimpin pengembangan proyek, seluruh staf yang bekerja di kantor Alfred juga mendapatkan tugas untuk membantu mempersiapkan proyek.
Pada hari ketiga, proyek pengembangan matahari buatan mulai dilakukan. Mereka bekerja siang dan malam untuk memastikan tidak ada komponen yang terlewatkan. Setiap detail, setiap konsep, dan setiap rencana sudah dicatat dengan rapi agar tidak ada satupun kesalahan.
Tim yang bekerja dibagi menjadi tiga, Alfred akan bekerja bersama dengan timnya lalu ada dua tim lainnya yang akan bekerja di waktu yang berbeda. Untuk mempersingkat waktu pengerjaan, mereka merekrut lebih dari 300 orang ahli yang berada di seluruh Amerika. Tidak ada pilihan lain selain mempercepat proses pengembangan karena beberapa wilayah di Amerika Selatan mulai dilanda oleh gelombang badai dingin. Masih belum ada perkiraan resmi berapa banyak jumlah korban jiwa di seluruh benua Amerika, tapi jika melihat luasnya daerah Amerika Selatan yang terkena dampak badai gelombang dingin, Alfred yakin jika korban jiwa di Amerika Selatan jauh lebih banyak dari korban jiwa di Amerika Utara. Beberapa negara seperti Venezuela, Brazil dan Colombia menjadi negara yang terkena dampak paling buruk.
“Bagaimana perkembangan proyek ini?” Wakil presiden datang bersama dengan rombongannya di hari ke-10. Berbagai evaluasi terus dilakukan untuk meningkatkan performa matahari buatan yang tidak hanya memberikan energi panas dan cahaya saja, tapi juga bisa dimanfaatkan sebagai pembangkit energi yang menjadi pengganti bahan bakar minyak bumi.
Alfred berencana untuk mengubah energi matahari buatan ini begitu mereka sudah berhasil menaikkan suhu di wilayah yang mengalami kebekuan. Pembangkit energi bertenaga nuklir tidak bisa digunakan lagi, dampak buruk akibat ledakannya membuat seluruh dunia harus merasakan bencana yang mengerikan. Setelah kejadian ini, tidak akan ada negara yang menggunakan pembangkit energi bertenaga nuklir. Demi menjaga kelangsungan kehidupan, mereka perlu melakukan perubahan besar-besaran. Selama ini tidak ada yang peduli pada keadaan alam yang semakin hancur karena efek samping dari industri dan juga karbon kendaraan bermotor. Tapi Alfred yakin jika setelah kejadian ini maka masyarakat akan jauh lebih peduli pada keadaan bumi.
“Asia sudah mulai melakukan percobaan peluncuran matahari mereka, kita tidak bisa menunggu terlalu lama untuk proyek ini”
Alfred menghentikan pekerjaannya, dia mulai fokus untuk menjawab setiap pertanyaan wakil presiden.
“Ini bukan ajang untuk menunjukkan siapa yang paling cepat. Matahari buatan bukanlah proyek biasa yang bisa dikerjakan dalam hitungan hari. menyelesaikan proyek ini dalam waktu satu bulan adalah hal mustahil yang sedang kami usahakan..” Jawab Alfred.
Asia membutuhkan waktu lebih dari satu bulan untuk mengembangkan proyeknya, mereka juga menunggu satu minggu untuk melakukan observasi sebelum meluncurkan matahari buatan mereka. Alfred tidak bisa terburu-buru saat sedang mengerjakan proyek besar, segalanya harus diperiksa dengan teliti agar tidak ada kesalahan. Satu kesalahan kecil akan menghancurkan segalanya..
“Amerika Selatan mengalami kebekuan, jika matahari buatan ini selesai lebih cepat, kita bisa segera melakukan evakuasi di wilayah Amerika Selatan. Brazil menjadi negara yang terkena dampak paling buruk, sebagian besar masyarakat di sana melakukan penjarahan di toko setelah pemerintah memberikan pengumuman pembatasan kegiatan selama dua minggu ke depan. Kericuhan yang terjadi membuat mereka tidak sadar jika badai datang di saat mereka sedang berada di luar rumah..”
Alfred tidak memiliki waktu untuk mendengarkan berita terkini mengenai keadaan negara yang tersapu oleh badai gelombang dingin. Seluruh waktu yang Alfred miliki hanya dia dedikasikan untuk membangun matahari buatan. Bahkan hampir satu minggu belakangan Alfred tidak tidur dengan baik karena terus melakukan riset ketika timnya berhenti bekerja. Alfred juga sangat jarang pulang ke apartemennya, dia lebih sering menginap di kantor karena sudah terlalu lelah untuk mengendarai mobil.
“Bagaimanapun keadaan Brazil, kita tetap tidak bisa memaksakan proyek ini selesai dalam waktu dekat. Paling cepat matahari buatan baru bisa diluncurkan sekitar 30-45 hari lagi. Kita masih harus melakukan riset tambahan lalu melakukan observasi dan pencobaan sebelum meluncurkan matahari buatan ini..” Alfred mencoba menjelaskan dengan kalimat umum yang lebih singkat agar mudah untuk dipahami.
“Eropa juga akan segera melakukan peluncuran. Matahari buatan akan menjadi solusi atas setiap masalah yang terjadi..”
Alfred menarik napasnya dengan pelan. Sebagai wakil presiden, Alfred memaklumi jika wakil presiden terlalu awam dengan sebuah pengembangan proyek semacam ini, tapi Alfred mulai merasa muak dengan jiwa kompetensi pria itu. Tidak penting siapa yang lebih dulu melakukan peluncuran, bukankah lebih baik mereka fokus untuk mencari cara agar bisa melakukan evakuasi?
“Kami tidak bisa menjanjikan apapun, proyek ini bukan proyek sembarangan yang bisa kami kerjakan tanpa penelitian dan riset lanjutan. Kuharap Anda akan tetap sabar menanti—”
“Kau tahu berapa banyak populasi Asia yang meninggal?” Wakil presiden memotong kalimat Alfred dengan cepat.
Alfred menatap pria itu sejenak. Dia masih mengingat dengan jelas siaran berita yang mengatakan jika lebih dari 50 persen populasi Asia meninggal karena ledakan nuklir dan juga badai gelombang dingin yang menerpa wilayah mereka. Asia menjadi benua yang mendapatkan dampak paling buruk.
“Aku sama sekali tidak peduli berapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk mengembangkan proyek ini, tapi kalian harus memastikan jika matahari buatan bisa selesai sebelum Australia meluncurkan matahari mereka. Asia menjadi benua pertama yang melakukan peluncuran, selanjutnya Eropa.. setidaknya kita tidak kalah dari Australia.”
Menjalankan fungsi sebagai pemerintah di tengah bencana adalah hal yang cukup sulit untuk dilakukan. Selain memikirkan cara melakukan evakuasi, pemerintah juga harus memutar otak dengan cepat untuk mencari solusi dalam menghadapi masalah yang ada. Alfred sadar jika wakil presiden Amerika Serikat adalah seorang pria ambisius yang tidak bisa membedakan keadaan darurat dengan ruangan kompetisi.
“Anda melakukan kunjungan hanya untuk menyampaikan hal itu? Mohon maaf sebelumnya, tapi aku sedang sangat sibuk..”
Alfred tahu jika dia telah bersikap tidak sopan dengan meninggalkan wakil presiden begitu saja. Namun sebuah kunjungan tidak penting yang hanya akan menghabiskan waktunya tidak layak untuk ditanggapi. Alfred memiliki banyak sekali pekerjaan yang harus ia selesaikan, berdiri di samping wakil presiden tidak akan membantu apapun.
“Kau meninggalkan wakil presiden begitu saja? Apakah kau sudah gila?” Hugo segera mendatangi Alfred sambil membawa data riset yang Alfred minta beberapa jam yang lalu. Belakangan ini Hugo bekerja dengan sangat tangkas, pemuda itu akan langsung mengerjakan setiap perintah yang Alfred berikan.
“Dia jauh lebih gila karena menganggap proyek matahari buatan sebagai ajang kompetisi lintas benua. Dia ingin kita menyelesaikan proyek ini sebelum Australia melakukan peluncuran” Alfred menjawab dengan malas.
“Dia memang sangat kompetitif dalam segala hal, tapi meninggalkan dia begitu saja juga bukan hal yang benar untuk dilakukan..”
Alfred mengangkat pandangan dari lembar kertas yang ada di tangannya, dia menatap Hugo sambil berdecih pelan.
“Jika kau sangat ingin menemani pria itu, maka kau bisa meninggalkan meja komputermu dan memulai pekerjaan baru sebagai tour guide..” Alfred kembali menjawab dengan suara malas.
“Aku bekerja dengan baik selama ini, apakah kau akan memecatku?” Tanya Hugo sambil tertawa tidak jelas.
Alfred memilih untuk mengabaikan lelucon Hugo.
“Aku akan mengambil cuti dan tidur selama satu bulan penuh setelah proyek ini selesai. Tidak ada waktu luang yang bisa kugunakan tidur siang sejak ledakan nuklir terjadi..” Kata Hugo.
Alfred menolehkan kepalanya dan menatap Hugo dengan pandangan prihatin. Ia baru ingat jika selama satu bulan belakangan ini mereka mengorbankan watu tidur untuk terus terjaga di depan komputer. Penelitian, riset, dan laporan cuaca seakan terus mengejar mereka.
***
“Apakah kau tidak merasa lelah karena bekerja selama satu minggu penuh?”
Charlotte datang bersama dengan Aurora dan Victor ketika malam hari. Mereka membawa makanan dan juga pakaian bersih untuk Alfred. Satu hal yang selalu membuat Alfred merasa terkesan, Charlotte sangat jarang mengeluh.
“Bolehkah aku berkeliling tempat ini?” Tanya Aurora sambil menatap ke sekeliling ruangan proyek dengan pandangan tertarik.
Alfred tertawa lalu menganggukkan kepalanya.
“Kau bisa berkeliling, tapi tolong jangan menyentuh apapun. Ada banyak hal berbahaya di tempat ini, jadi perhatikan langahmu..” Alfred memberikan peringatan kepada Aurora dan Victor.
Melihat kedua anak itu berjalan sambil melihat proses pengembangan proyek matahari buatan membuat Alfred tersenyum tanpa sadar. Proyek ini adalah salah mimpi terbesarnya selama dua tahun belakangan ini, melihat Aurora sedang berada di lokasi pengembangan proyek membuat Alfred merasa semakin bahagia.
“Sampai kapan kau akan seperti ini? Tidak pulang, tidak tidur, juga tidak makan dengan baik..” Omelan Charlotte kembali terdengar.
“Aku berencana pulang malam ini..” Jawab Alfred dengan tenang.
Ada banyak sekali pekerjaan yang tidak bisa Alfred tinggalkan sekalipun waktu kerjanya sudah usai. Setelah menyelesaikan bagian pekerjaannya, Alfred masih harus melakukan pengecekan lanjutan, dia juga harus memeriksa arah pergerakan gelombang dingin. Untuk saat ini, masih belum ada laporan apapun mengenai gelombang dingin, sepertinya badai tersebut sudah selesai.
“Di sini sangat dingin, kenapa kau tidak membawa mantel yang tebal?”
Suhu udara di Washington, D.C semakin turun sejak beberapa hari lalu. Wilayah Manhattan mulai membaik, tapi kota yang berada di sekitarnya justru mengalami penurunan suhu secara drastis.
“Proyek ini akan selesai dalam waktu satu bulan?” Tanya Charlotte.
Biasanya Charlotte sangat jarang menunjukkan kekesalannya. Wanita itu memiliki pengendalian diri yang begitu luar biasa, tapi tampaknya kali ini Charlotte benar-benar kesal karena selama satu minggu belakangan dia sama sekali tidak pulang ke rumah.
“Itu perkiraan awal, tapi kita tidak tahu pasti kapan proyek ini akan selesai. Aku tidak terburu-buru, Charlotte.. ini proyek penting yang membutuhkan waktu lama untuk melakukan realisasi, kami mengerjakan segalanya dengan hati-hati..” Alfred menjelaskan sambil mulai membuka makanan yang dibawa oleh Charlotte.
“Kau yakin bisa bertahan dengan keadaan seperti ini lebih dari satu bulan? Lihatlah matamu yang tampak memerah, tubuhmu kurus dan terlihat sangat berantakan. Kau meninggalkan segalanya seolah hanya proyek ini saja yang penting untukmu!” Charlotte berbicara sambil bangkit berdiri.
Berulang kali Alfred mengatakan jika Charlotte adalah wanita yang sangat mengerti jika Alfred adalah seorang ilmuan yang mendedikasikan kehidupannya untuk melakukan penelitian. Alfred seorang pria yang tidak bisa selalu ada untuk menemaninya, dia sibuk dengan pekerjaan dan juga mimpi-mimpinya. Selama ini Charlotte tidak pernah mengungkapkan keberatannya mengenai kesibukan Alfred, tapi kali ini Charlotte terlihat sangat berbeda.
“Aku akan baik-baik saja, Charlotte..” Alfred berusaha untuk menenangkan emosi Charlotte.
“Aurora ada di Washington, D.C. Dia datang untuk menemuimu, tapi kau sibuk dengan duniamu sendiri!”
Alfred meletakkan makanan yang awa di kedua tangannya. Dia merasa sedikit terkejut dengan sikap Charlotte yang berubah secara tiba-tiba.
“Kau tahu jika aku memimpikan semua ini sejak dua tahun lalu..” Alfred masih berusaha untuk berbicara dengan suara rendah.
“Aurora menanyakan tentang dirimu setiap hari. Dia selalu tersenyum ketika aku menjelaskan tentang kesibukanmu, tapi aku tahu jika dia merasa sedih. Bisakah kau pulang, Alfred?” Charlotte berbicara dengan suara lirih di akhir kalimat.
Alfred menutup matanya dengan perlahan. Suara lirih Charlotte selalu mengganggu ketenangannya. Wanita itu tidak pernah memohon untuk sesuatu yang amat ia inginkan, tapi kali ini Charlotte memohon untuk Aurora.
“Maafkan aku..”
Lagi-lagi kesibukan dan mimpi-mimpinya membuat orang di sekitarnya merasa terluka.
Alfred lupa jika Charlotte hanya seorang wanita biasa yang terkadang juga merasa ketakutan. Di tengah bencana yang sedang terjadi, Charlotte harus tinggal sendirian di apartemen dengan dua anak muda yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya.
Alfred terlalu egois, dia tidak memahami bagaimana perasaan Charlotte. Wanita itu sama sekali tidak terbeban dengan keberadaan Aurora dan Victor, tapi Charlotte juga membutuhkan Alfred di saat dia merasa takut dan khawatir.
“Pulangkah.. berbicaralah dengan Aurora. Belum tentu kau akan bertemu dengannya tahun depan. Putrimu ada di rumah, bukan di kantor ini..” Charlotte kembali berbicara.
Berulang kali Alfred mengucapkan kata maaf di dalam hatinya. Namun, kali ini Alfred bukan hanya merasa menyesal, dia juga merasa bahagia karena memiliki Charlotte. Wanita itu kembali mengingatkannya tentang betapa pentingnya Aurora di dalam kehidupan Alfred.
“Habiskan makanan itu, aku akan pulang bersama dengan anak-anak..” Kata Charlotte sambil bangkir berdiri lalu berjalan mencari Aurora dan Victor yang sudah menghilang di balik lorong-lorong kantor.