Bab 56

1780 Kata
Washington, D.C (US) Ratusan orang yang bekerja di kantor Alfred terlihat sangat sibuk. Mereka melakukan pemeriksaan, juga penyusunan komponen yang akan menjadi kerangka matahari buatan. Berbagai persiapan dilakukan untuk memaksimalkan pengembangan proyek. Seumur hidupnya, Aurora baru pertama kali berada di tempat pengembangan proyek secara langsung. Ada puluhan pekerja yang menundukkan kepalanya setiap kali mereka melewati Aurora dan Victor yang sedang sibuk mengeksplor setiap hal yang ada di ruangan. Kantor ini terasa lebih dingin di malam hari, entah karena suhu udara yang memang semakin menurun sejak beberapa hari ini atau karena kantor ini kekurangan penghangat ruangan. Aurora sama sekali tidak keberatan ketika harus berjalan dengan mantel hangat yang berat, ia merasa sangat senang ketika diizinkan menelusuri seluruh tempat pengembangan proyek. “Aurora? Kau ada di sini?” Aurora tersenyum dan segera menyapa Felix yang sedang sibuk menikmati mie instan bersama dengan beberapa rekannya. Bekerja di proyek semacam ini bukanlah hal yang mudah. Selain mengorbankan waktu dan tenaga, mereka juga harus mengorbankan kehidupan pribadi karena banyaknya pekerjaan menuntut mereka untuk bekerja seharian penuh. Bahkan ayahnya tidak pulang sejak satu pekan belakangan, pria itu terlihat sangat sibuk dengan pekerjaannya. Beberapa kali Aurora melihat Charlotte tertidur di sofa ruang tamu karena ingin menunggu kepulangan ayahnya. Berbicara tentang Charlotte, Aurora merasa jika ayahnya telah menemukan seorang wanita yang tepat. Usia bukanlah batasan untuk jatuh cinta, Charlotte memang seorang wanita muda, tapi ia memiliki pikiran yang begitu dewasa. Aurora senang karena akhirnya ada seseorang yang menunggu kepulangan ayahnya, yang akan memberikan sambutan dan senyuman setiap kali pria itu pulang ke rumah. “Selamat malam, paman. Aku datang bersama dengan Charlotte untuk menengok keadaan ayahku..” Aurora dan Victor menghampiri Felix. “Alfred tidak pulang sejak satu minggu belakangan, seretlah dia untuk ikut pulang bersamamu. Dia bisa berakhir di rumah sakit jika menolak tidur seperti ini..” Kata Felix. Aurora tertawa pelan. Tidak heran jika Alfred mengorbankan waktu istirahatnya, pria itu sangat ambisius ketika sedang mengerjakan sesuatu. “Tadi pagi dia baru saja mengabaikan wakil presiden, kurasa kau harus menjaga ayahmu mulai sekarang, Aurora. Aku takut dia tiba-tiba menghilang karena wakil presiden membencinya” Kata Hugo sambil tertawa. Mendengar jika ayahnya menjadi salah satu orang paling penting dalam proyek ini membuat Aurora merasa bangga. Pria itu berhasil mewujudkan mimpi besarnya.. “Sir Alfred melakukan itu?” Tanya Victor. Pria itu juga tertawa pelan. “Kau harus berhati-hati, Victor. Suatu saat nanti kau akan kesulitan saat menghadapinya. Jangan kau pikir dia seorang pria baik hanya karena membiarkanmu tinggal di apartemennya..” Hugo menjawab sambil tertawa geli. Entah kenapa Aurora mengerti apa maksud dari lelucon Hugo. “Ah, benar! Alfred tidak akan melepaskan putrinya dengan mudah, kau harus berhati-hati, Victor!” Felix ikut menambahi. Pipi Aurora terasa memanas. Dia berusaha keras untuk menahan senyuman. “Kurasa.. kurasa kami harus segera kembali..” Kata Aurora dengan suara bergetar. Dia menarik tangan Victor lalu membalik tubuhnya dan segera berjalan dengan cepat ke arah berlawanan. Dari belakang terdengar suara tawa Felix dan Hugo. Bahkan Aurora bisa mendengar jika Hugo tersedak karena terlalu semangat ketika tertawa. “Kau memang sangat menggemaskan, Aurora..” Victor berbicara sambil mengusap kepala Aurora dengan pelan. Secara tiba-tiba Victor menghentikan langkah mereka. Suasana lorong yang sepi membuat Aurora menatap pria itu dengan kebingungan. Victor melangkah dengan perlahan sehingga membuat Aurora harus memundurkan tubuhnya. Tatapan Victor terlihat sangat berbeda dari biasanya, Aurora bisa melihat ada kilatan asing yang menyelimuti netranya. Layanya dituntun oleh sebuah hasrat yang tak pernah Aurora ketahui sebelumnya, kedua tangannya mulai mengalun ke leher Victor. Lalu.. segalanya berjalan layaknya sebuah kisah cinta pada umumnya. Victor mengecup bibirnya dengan perlahan, pemuda itu berusaha untuk tetap membuat Aurora merasa nyaman sekalipun sekarang Aurora benar-benar tidak bisa memikirkan apapun. Kepalanya kosong, jantungnya berdetak dengan kencang, tapi hatinya merasa sangat tenang.. seakan Aurora tahu jika ia juga sangat menginginkan hal ini. *** “Apakah semuanya baik-baik saja? Kalian jadi sangat pendiam..” Charlotte berbicara sambil melirik Aurora dan Victor yang sedang duduk di kursi belakang dengan canggung. Aurora berusaha keras untuk menghindari tatapan Victor, pemuda itu juga melakukan hal yang sama. Mereka seperti pasangan muda yang baru saja tertangkap melakukan kegiatan mesum.. “Aku.. aku merasa sedikit kedinginan dan juga mengantuk..” Jawab Aurora dengan suara bergetar. Charlotte mengernyitkan dahinya, tapi akhirnya wanita itu hanya diam sambil menganggukkan kepalanya. Entah dia percaya atau tidak, tapi Aurora sempat melihat wanita itu tersenyum geli sambil tetap fokus menatap ke arah jalan yang mulai dipenuhi oleh salju. Malam ini Alfred ikut pulang bersama dengan mereka. Aurora tidak tahu bagaimana Charlotte membujuk ayahnya, tapi pria itu tampak bersemangat untuk pulang bersama. “Apakah kalian lapar? Kita bisa mampir membeli beberapa makanan ringan..” Tanya Alfred. Sebelum berangkat ke tempat pengembangan proyek matahari buatan, mereka semua sudah makan dengan kenyang. Victor membuat sup brokoli yang sangat enak, Aurora sampai makan dua mangkuk karena dia sangat menyukai brokoli. “Hei, kenapa kalian diam saja? Apakah kalian ingin makan lagi?” Charlotte kembali menatap ke arah kursi belakang dengan pandangan menyipit. “Tidak!” Ucap Aurora dan Victor secara bersamaan. Mereka saling menatap untuk beberapa detik, lalu kembali memalingkan wajah begitu menyadari keanehan mereka. “Apakah besok kau kembali bekerja di pagi hari?” Tanya Charlotte sambil menatap Alfred. Aurora menghembuskan napasnya dengan lega ketika Charlotte dan Alfred larut di dalam pembicaraan mereka sendiri. Setidaknya sekarang Aurora bisa fokus memikirkan cara untuk menghindari Victor. Wajahnya kembali memanas ketika bayangan tentang kedekatan mereka beberapa waktu lalu. Victor benar-benar berada di depan matanya, Aurora bisa melihat dengan jelas bagaimana tatapan mata Victor yang tertutup oleh kabut. Segalanya.. Aurora masih mengingat segalanya.. “Wajahmu memerah Aurora..” Victor berbisik dengan suara pelan. Aurora memejamkan matanya, dia merasa terkejut ketika Victor mendekati telinganya dan berbisik dengan suara rendah. Untuk sesaat Aurora terdiam dan berusaha mengatur detak jantungnya yang tidak stabil. Berada di dekat Victor tidak pernah terasa menegangkan seperti ini. Entah bagaimana cara Aurora menghadapi Victor, tapi sekarang dia merasa sangat... sangat senang. Victor berhasil melepaskan naluri Aurora yang masih terasa asing untuk diikuti. *** “Charlotte..” Aurora menatap Charlotte yang sedang sibuk melakukan perawatan di wajah Aurora. Setiap malam, wanita itu akan melakukan rangkaian skin care di wajah Aurora. “Ya?” Aurora kembali mengurungkan niatnya. Dia merasa ragu ketika akan mengungkapkan sesuatu yang terus mengganggu pikirannya sejak beberapa jam yang lalu. Aurora terbiasa memendam rasa penasarannya, dia terbiasa menyimpan pemikirannya sendiri. Selama ini Aurora tidak bisa membicarakan hal pribadinya kepada Abigail, Aurora merasa tidak nyaman ketika ingin melakukannya.. Tapi entah kenapa Aurora justru merasakan hal yang berbeda ketika sedang bersama Charlotte. Wanita itu seperti seorang teman yang selalu mencoba memahami perasaan Aurora. “Charlotte..” “Kau sudah memanggilku lebih dari lima kali. Apa yang ingin kau katakan?” Charlotte mengakhiri rangkaian perawatan kulit Aurora dengan cara menepuk kedua pipinya untuk mengoptimalkan kandungan serum wajah yang baru saja dioleskan. Aurora menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil. “Tentang Victor?” Tebak Charlotte. “Tidak!” Aurora menjawab dengan cepat. Charlotte menyipitkan matanya, wanita itu tertawa pelan ketika melihat Aurora mulai panik. “Apa yang kalian lakukan? Wajahmu terlihat memerah, Victor juga jadi sangat pendiam. Katakan padaku, apa yang kalian lakukan?” Aurora menutup wajahnya dengan boneka besar yang beberapa hari lalu diberikan oleh Charlotte. “Kalian membuatku jadi ingat pada masa remajaku yang begitu menggelikan!” Charlotte tertawa dengan keras ketika melihat tingkah aneh Aurora. Aurora menggulingkan tubuhnya sehingga seluruh selimut jadi membungkus tubuhnya. Charlotte menarik selimut tersebut dan berusaha merebut boneka Aurora. Mereka terlibat pertengkaran yang sengit untuk beberapa saat, tapi baik Aurora maupun Charlotte sama-sama tertawa dengan suara keras. “Ceritakan padaku apa yang kalian lakukan atau aku akan bertanya langsung kepada Victor!” Aurora segera melepaskan bonekanya, ia menatap Charlotte dengan kesal tapi kemudian ikut tertawa dengan wanita itu. “Apakah aku bisa mempercayaimu?” Tanya Aurora dengan pandangan menyipit. “Itu tergantung pada perbuatanmu, aku tentu tidak bisa mentoleransi perbuatan buruk yang dilakukan oleh—” “Siapa orang yang mengambil ciuman pertamamu?” Tanya Aurora dengan cepat. Charlotte ikut berbaring di samping Aurora, wanita itu mengambil bantal dan memeluknya sambil menatap ke atap. Layaknya kembali ke masa lalu, Charlotte mulai tersenyum dan mengingat sesuatu di masa mudanya. “Saat itu aku masih di High school dan—” “Tunggu dulu! Kau berciuman saat masih di High School?” Aurora memekik dengan suara terkejut. “Kau akan terus memotong kalimatku?” Tanya Charlotte dengan pandangan kesal. Aurora tertawa pelan, dia menatap Charlotte dengan pandangan geli untuk sesaat, lalu kembali memeluk boneka miliknya. “Saat itu aku sedang berlatih untuk melakukan pementasan seni. Karena aku yang paling cantik, maka aku ditunjuk menjadi Cinderella dan murid paling tampan tentu akan menjadi pangeran yang bertugas membangunkan Cinderella dari tidur panjangnya. Ciuman pertamaku—” “Kenapa Cinderella tertidur? Bukankah Snow White yang memakan apel beracun sehingga ia tertidur? Kau sedang mengarang, ya?” Aurora kembali menyipitkan matanya. “Benarkah? Jadi dulu aku menjadi Snow White?” Tanya Chalotte, wanita itu justru tertawa karena kesalahannya. Mau tidak mau Aurora juga ikut tertawa. “Aku tidak bisa percaya jika ayahku berkencan dengan wanita pelupa sepertimu!” Aurora menyeka air matanya yang keluar akibat tertawa terlalu keras. Berbicara dengan Charlotte selalu terasa menyenangkan, wanita itu bisa berubah menjadi teman akrab yang mengerti bagaimana perasaan seorang gadis muda, tapi dia juga bisa menjadi wanita dewasa dengan segala pemikiran seriusnya. Ah, ya! Jangan lupakan kekonyolan Charlotte yang sering kali keluar di saat yang tidak tepat. Aurora bisa membayangkan bagaimana kehidupan Alfred dan Charlotte selama ini. Ayahnya terlalu membosankan untuk memulai sebuah lelucon, tapi Charlotte pasti selalu meramaikan keadaan dengan segala tingkah konyolnya. “Dulu aku bekerja di kantor ayahmu. Aku salah satu bagian dari timnya, bisa kau bayangkan betapa jeniusnya diriku!” Charlotte mulai menyombongkan dirinya sambil tertawa. “Ya, tapi sekarang kau berubah menjadi wanita tua yang pelupa karena terlalu lama hidup bersama dengan pria tua..” Aurora memutar bola matanya dengan perlahan. “Kau menyebut ayahmu seorang pria tua?” Charlotte bangkit dari posisi berbaring dan menatap Aurora sambil menyipitkan matanya. Aurora mengendikkan bahunya dengan santai. “Dia memiliki seorang putri yang sudah berusia 17 tahun, bukankah itu berarti kau memang mengencani seorang pria tua?” Aurora menjawab sambil tertawa. “Kau benar-benar anak durhaka, bisa-bisanya menyebut ayahmu sendiri sebagai pria tua?!” Aurora terdiam untuk waktu yang lama. Selama ini tidak pernah ada yang mengatakan jika Aurora adalah anak durhaka, karena Aurora merasa jika dia selalu melakukan hal yang baik untuk orangtuanya. Namun, sebuah kalimat gurauan yang dikatakan oleh Charlotte berhasil membuat Aurora tersadar jika.. jika selama ini dia tidak jauh berbeda dengan seorang anak durhaka. “Kau benar.. sepertinya aku memang anak durhaka..” Aurora berbicara dengan suara lirih. “Hei, ada apa denganmu, Aurora?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN