Washington, D.C (US)
Mendengar cerita kehidupan Aurora membuat Charlotte teringat pada dirinya sendiri. Seorang gadis kecil yang dipaksa dewasa oleh karena keadaan. Dua orang dewasa dengan pemikiran egois yang memaksakan diri untuk menjalin hubungan pernikahan.
Tidak semua orang dewasa pantas memiliki anak.
Charlotte tidak pernah bertemu dengan orangtuanya sejak mereka meninggalkan dia di depan pintu rumah paman dan bibinya. Mereka pergi begitu saja tanpa memikirkan bagaimana Charlotte akan bertahan hidup. Dua orang dewasa yang tidak memiliki pemikiran dewasa seharusnya bertanggung jawab atas kacaunya kehidupan Charlotte, tapi mereka sama sekali tidak pernah datang untuk menanyakan bagaimana keadaan Charlotte, mereka juga tidak pernah berusaha mencari Charlotte untuk memastikan apakah ia masih hidup atas tidak.
Bagi seorang anak, perceraian adalah akhir dari segalanya.
Mungkin orangtuanya mulai menjalani kehidupan yang lebih baik setelah bercerai, tapi bagaimana dengan dirinya? Bagaimana dengan seorang anak yang benar-benar kehilangan segalanya?
Sepanjang hidupnya, Charlotte berharap jika tidak akan ada anak perempuan lain yang harus menjalani kisah seperti dirinya. Charlotte berharap jika tidak akan ada pasangan egois yang mengorbankan anak mereka untuk mencari kebebasan atas nama bahagia.
Bertahan di dalam sebuah hubungan yang hancur bukanlah hal yang mudah, tapi menghancurkan sesuatu yang telah hancur juga bukan hal yang layak dilakukan.
Ketika mendengarkan cerita Aurora, Charlotte menyadari jika gadis itu menyimpan banyak kesedihan di dalam senyumannya. Aurora merasa kesepian, dia tidak bisa mengekspresikan perasaannya karena orang-orang dewasa di sekitarnya hanya sibuk dengan kehidupan masing-masing. Bukan hanya Abigail, tapi Alfred juga melakukan hal yang sama kepada Aurora.
Aurora selalu menerima setiap aturan dan perintah ibunya, gadis itu terlihat baik-baik saja sekalipun dia sendiri mengakui jika terkadang merasa tertekan karena aturan ibunya. Meskipun begitu, Aurora bercerita sambil tersenyum, dia terlihat sangat menyayangi ibunya. Semua orang yang mendengar cerita Aurora pasti akan langsung menyalahkan Abigail, tapi Abigail tidak sepenuhnya salah. Charlotte tidak bisa menutup mata akan kebenaran yang ada di depannya. Alfred juga melakukan hal yang sama, ia egois dan membiarkan putrinya bertahan sendirian.
“Haruskah aku meminta maaf kepada Daddy karena selama ini sering mengabaikannya?” Tanya Aurora.
Lamunan Charlotte terpecah begitu saja begitu dia mendengar pertanyaan yang Aurora ajukan.
Charlotte menatap Aurora lalu tersenyum dengan tulus. Dia merasa senang karena Aurora memberikan kepercayaan kepadanya dengan menceritakan beban pikirannya selama ini.
“Alfred juga sangat terluka karena tidak bisa dekat denganmu, kau juga merasakan hal yang sama, bukan?” Charlotte berbicara dengan suara pelan.
Aurora menganggukkan kepalanya, terlihat dengan jelas jika Aurora merasa bersalah.
“Sepertinya Alfred tidak membutuhkan permintaan maaf..” Charlotte kembali berbicara. “Tapi mulai sekarang cobalah untuk tidak mengabaikan dia.. Kau tidak tahu betapa menderitanya kehidupan Alfred karena harus terpisah darimu..”
Charlotte tidak bergurau ketika mengatakan kalimat terakhir, dia tahu jika selama lima tahun ini Alfred terlihat seperti seseorang yang menopang beban berat.
“Mommy selalu terlihat tidak suka ketika aku menghubungi Daddy. Aku sering melihatnya menangis ketika dia mengetahui jika aku menelepon Daddy. Aku hanya berusaha untuk tidak membuatnya bersedih..”
Sebagai seorang anak yang selama ini menyimpan kesedihan seorang diri, Aurora sama sekali tidak pernah menyalahkan satu pihak orangtuanya. Gadis muda itu selalu berusaha mengerti bagaimana sulitnya mempertahankan rumah tangga sehingga orangtuanya memutuskan untuk bercerai.
“Tidak ada wanita yang suka berhubungan dengan pria di masa lalunya, aku sangat mengerti bagaimana perasaan ibumu.. tapi Alfred juga adalah orangtumu..” Cahrlotte berusaha memberikan penjelasan dengan suara pelan. Memberikan nasehat kepada Aurora harus dilakukan dengan cara yang lembut, gadis itu memiliki hati yang begitu mudah dihancurkan. Charlotte tidak ingin membuat Aurora semakin merasa bersalah.
“Apakah benar begitu? Bagaimana dengan orangtuamu? Apakah kau juga akan menghubungi ayahmu sekalipun ibumu tidak suka?” Tanya Aurora.
Charlotte tersenyum dengan miris. Andai saja dia bisa menghubungi orangtuanya..
“Mereka pergi meninggalkan aku saat aku masih berusia 5 tahun. Aku tinggal bersama dengan paman dan bibiku sampai aku berusia 18 tahun, setelah itu pindah ke Washington, D.C dan kehilangan kontak mereka. Paman dan Bibiku tidak terlalu menyukai aku..”
Masih teringat jelas bagaimana kehidupannya sebelum pindah ke Washington, D.C. Charlotte sangat sering makan makanan sisa kemarin karena bibinya tidak akan memberikan dia makanan sebelum Charlotte menghabiskan makanan sisa tersebut. Malam yang dingin terasa semakin menyedihkan ketika Charlotte harus tidur sendirian sementara sepupunya tidur dengan nyenyak di dalam pelukan ibunya. Setiap kalimat kasar yang terus diucapkan kepada Charlotte saat ia lupa tidak mencuci piring di malam hari, juga secara caci maki ketika Charlotte sakit dan tidak membersihkan rumah.
Semua kenangan buruk masih tersimpan di dalam pikirannya. Charlotte tidak akan bisa melupakan setiap perlakukan buruk yang ia terima di rumah paman dan bibinya, tapi Charlotte juga tidak akan lupa ada kebaikan mereka yang telah menampungnya selama 13 tahun. Tanpa mereka Charlotte pasti hidup sebagai gelandangan yang tidak memiliki rumah.
“Jangan jadi sepertiku, Aurora. Aku terlalu malas untuk menghubungi Paman dan Bibiku padahal selama ini aku sering merindukan mereka. Orangtuaku hanya merawatku selama 5 tahun, tapi Paman dan Bibiku membiayai hidupku selama 13 tahun..” Charlotte kembali tersenyum.
Setelah merasa lelah menceritakan kehidupan masing-masing, Charlotte dan Aurora akhirnya memutuskan untuk tidur.
Malam ini suhu udara semakin menurun sehingga membuat Charlotte merasa kedinginan. Ia sulit tidur saat sedang kedinginan, jadi ketika Aurora sudah lelap di dalam mimpinya, Charlotte beranjak bangun dari tempat tidur dan berjalan ke dapur untuk membuat s**u hangat. Biasanya Charlotte akan merasa mengantuk setelah meminum segelas s**u.
Begitu sampai di dapur, Charlotte justru menemukan Alfred yang sedang bekerja dengan laptopnya. Pria itu tampak fokus menatap layar laptop, sesekali tangannya bergerak untuk mengambil gelas kopi yang ada di sisinya. Alfred terlalu larut di dalam dunianya sendiri hingga di tidak menyadari kedatangan Charlotte.
“Percuma aku memaksamu pulang, kau terus bekerja sekalipun sedang berada di rumah..” Charlotte berbicara sambil menyeduh s**u coklat miliknya.
Alfred terkejut ketika menyadari keberadaan Charlotte, pria itu menatapnya sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan. Reaksi Alfred yang berlebihan membuat Charlotte tersenyum geli.
“Kau sedang apa?” Tanya Charlotte sambil duduk di samping Alfred.
Ada sebuah konsep proyek yang sedang Alfred pelajari. Berbagai gambar komponen proyek matahari buatan sedang Alfred teliti agar tidak menimbulkan kesalahan saat sedang pemasangan. Seperti biasanya, Alfred akan memperhatikan setiap detail dalam proyek yang ia kerjakan, Alfred selalu berusaha meminimalisir kegagalan.
“Apakah semua orang melakukan hal yang sama denganmu? Mereka terus bekerja sekalipun sudah pulang ke rumah?” Tanya Charlotte.
Alfred menghembuskan napasnya lalu mulai menutup folder laporannya. Pria itu juga mematikan laptop miliknya, dia menyimpan laptop dan semua buku serta laporan yang awalnya memenuhi meja makan di dapur. Kini Alfred sepenuhnya fokus menatap Charlotte
Sekalipun tanpa banyak bicara, Alfred membuktikan jika pria itu selalu memperhatikan semua keinginan Charlotte.
“Kau belum tidur?” Tanya Alfred.
“Bagaimana mungkin aku bisa bicara denganmu jika aku sudah tidur?”
Charlotte bangkit berdiri lalu mengambil biskuit yang ada di dalam lemari es. Biskuit sangat cocok untuk dinikmati dengan segelas s**u coklat panas.
“Apakah Aurora sudah tidur?” Tanya Alfred.
Charlotte menganggukkan kepalanya. Selama Aurora berada di Washington, D.C, Charlotte menjadi orang yang bertanggung jawab untuk memastikan waktu makan dan watu tidur Aurora. Menurut Alfred, Aurora terbiasa dengan jadwal yang disiplin saat sedang di Colombus, jadi Charlotte harus mengawasi setiap kegiatan Aurora agar gadis itu tidak terlambat makan.
“Aurora sepertinya menyimpan banyak masalah..”
Charlotte tidak ingin membocorkan cerita Aurora kepada Alfred, tapi menurut Charlotte, Alfred jauh lebih mengerti bagaimana cara untuk menangani Aurora. Melihat Aurora yang tetap berusaha tersenyum sekalipun sedang tertekan membuat Charlotte merasa prihatin.
“Dia menghadapi banyak hal mengerikan belakangan ini, wajar jika dia tertekan. Tolong tetap perhatikan dia selama aku bekerja..”
“Bukan tentang bencana saat ia berada di Manhattan, ini tentang kalian berdua.. kau dan Abigail. Kurasa kalian terlalu egois sehingga membuat Aurora merasa tertekan..”
Tatapan mata Alfred terlihat sendu setiap kali nama ‘Abigail’ disebut. Berulang kali Charlotte berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri mengenai hubungan Alfred dan Abigail yang telah lama berakhir, tapi Charlotte selalu gagal kali dia menatap mata Alfred. Sekeras apapun pria itu menyangkal, Charlotte masih bisa melihat dengan jelas jika Alfred menyesali perceraiannya.
“Apa yang Abigail lakukan?” Tanya Alfred.
“Bukan hanya Abigail, tapi kau juga ikut membuatnya bersedih.. Alfred, selama ini Aurora merindukanmu..”
Hubungan antara anak dan ayah yang sudah lama renggang mulai kembali dekat. Charlotte ingin meluruskan kesalahpahaman di antara mereka berdua, tapi Charlotte juga sadar jika ia sama sekali tidak memiliki hak untuk ikut campur.
“Aku hanya berusaha untuk menepati janjiku pada Abigail, lagipula di sana ada Dalton. Kata Aurora, pria itu sangat baik kepadanya.. Aurora pasti tidak kehilangan sosok ayah setelah Dalton menikah dengan Abigail..” Alfred tersenyum sekilas di akhir kalimatnya.
Bagaimana cara Charlotte menjelaskan jika sebaik apapun Dalton, pria itu tetap tidak bisa menggantikan posisi Alfred di dalam kehidupan Aurora? Seorang ayah adalah cinta pertama putrinya, bagaimana mungkin Aurora bisa menggantikan posisi ayahnya dengan pria baru yang datang di dalam kehidupan ibunya?
“Jika Aurora tinggal di sini selama bertahun-tahun, aku yakin dia juga akan semakin dekat denganku.. tapi aku bukan ibunya, aku tidak bisa menggantikan posisi ibunya..” Charlotte berusaha menjelaskan dengan sebuah perumpamaan sederhana.
“Apa maksudmu?” Tanya Alfred.
“Dalton bukan ayahnya, dia tetap tidak bisa menggantikan posisimu di dalam kehidupan Aurora. Sama seperti aku yang tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Abigail sebagai ibu Aurora..”
Alfred terlihat menghembuskan napasnya. Memang sangat sulit untuk tetap menjalin komunikasi dengan Aurora setelah gadis itu kembali ke Colombus, tapi Charlotte tidak ingin Alfred menyesal seumur hidupnya karena selalu berusaha menghormati keinginan Abigail sehingga ia mengorbankan putrinya sendiri.
Kalaupun nanti Aurora akan kembali ke Colombus, Charlotte juga ingin tetap berhubungan dengan gadis itu. Mereka layaknya teman dekat yang mulai akrab satu sama lain, bukan hanya Aurora saja yang menceritakan kehidupan pribadinya, kini Charlotte juga bisa melakukan hal yang sama. Charlotte pasti akan merasa sedih ketika Aurora kembali ke Colombus.
“Jadi apa yang kau inginkan?” Tanya Alfred.
Charlotte tersenyum dengan puas.
“Beritahu Aurora jika kau membeli apartemen di Colombus atas namanya, beri tahu dia jika kau akan tetap menyayanginya dan terus mendukungnya sekalipun kalian tidak tinggal di kota yang sama. Dia selalu sulit untuk mengungkapkan perasaannya, tapi jika kau membuatnya merasa nyaman dan aman, maka Aurora akan berubah menjadi gadis baik yang terbuka terhadap isi pikirannya..” Charlotte kembali memberikan penjelasan.
“Kau menasehatiku seperti Victor saat mereka baru pertama kali datang ke sini..” Alfred mengangkat tangannya dan mengusap kepala Charlotte dengan pelan.
Layaknya seekor anak kucing baru diberikan apresiasi atas keberhasilannya, Charlotte tersenyum sambil menundukkan kepalanya. Dia selalu merasa senang setiap kali Alfred mengusap kepalanya.
“Sepertinya kalian sangat dekat belakangan ini. Aku selalu khawatir jika Aurora akan menolak keberadaanmu, dia terlihat sangat sinis saat pertama kali datang ke sini. Tidak kusangka kalian akan menjadi teman seperti ini..” Kata Alfred.
Charlotte juga memikirkan hal yang sama. Sejak Alfred mengatakan jika Aurora akan datang berkunjung ke Washington, D.C, Charlotte selalu khawatir jika Aurora tidak bisa menerimanya. Mungkin Alfred tidak akan meninggalkannya hanya karena Aurora tidak akrab dengannya, tapi menjalin hubungan dengan seorang pria yang sudah memiliki anak dan anak itu tidak menyukainya adalah hal yang sangat sulit. Charlotte sendiri selalu diam setiap kali Alfred beranjak pergi setiap kali mendapatkan telepon dari Aurora. Semua rekan timnya sudah ia kenalkan kepada Aurora, tapi Alfred sama sekali tidak ingin mengenalkan Charlotte kepada Aurora.
“Aku tidak pernah memiliki teman dekat. Hidupku selalu penuh dengan masalah, aku tidak punya waktu untuk dihabiskan bersama dengan temanku. Kata Victor, Aurora juga sulit memiliki teman karena dia sangat pendiam. Kami jadi dekat karena sama-sama tidak memiliki teman..”
“Jadi kalian berteman?” Tanya Alfred sambil tertawa geli.
“Ya, kami berteman..”
“Aku tidak pernah berpikir jika kekasihku akan berteman dengan putriku. Aurora memanggil Dalton dengan sebutan ‘Daddy’, tapi menjadi teman Aurora juga bukan hal yang buruk. Kalian terlihat seperti teman seumuran..”
Alfred hampir tidak pernah mengatakan kalimat gurauan semacam ini, Charlotte akan selalu merasa antusias jika Alfred mulai berusaha bersikap humoris. Bagi Charlotte, dia akan selalu menerima Alfred apa adanya, tapi dia juga tidak akan melewatkan momen langka semacam ini.
“Kau akhirnya menyadari jika aku cantik dan masih sangat muda..” Kata Charlotte sambil tertawa.
“Ya, kurasa aku beruntung karena memilikimu..”