Washington, D.C (US)
Proses pembangunan matahari buatan yang diperkirakan akan selesai sekitar dua minggu lagi, kini telah berada di dalam proses uji coba. Alfred berdiri di barisan terdepan ketika percobaan matahari buatan akan sedang dilakukan. Senyuman tidak luput dari wajahnya yang mulai berkerut karena kelelahan. Bekerja tanpa henti selama lebih dari satu bulan tidak mempengaruhi senyuman di wajahnya. Alfred merasa sangat bangga pada pencapaiannya sendiri. Layaknya seorang anak kecil yang baru saja menyadari jika mimpinya berjalan dengan sempurna, Alfred menundukkan kepalanya dan tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada dirinya sendiri.
Aurorra, Charlotte, bahkan Victor juga hadir di dalam acara peresmian uji coba matahari buatan yang dipimpin oleh Alfred. Melihat putrinya ikut ambil bagian dalam proses peresmian membuat Alfred merasa sangat bahagia. Aurora seharusnya sudah pulang ke Ohio sejak minggu lalu, tapi putrinya memilih untuk menetap di Washington, D.C hingga acara uji coba matahari buatan dilakukan. Tidak ada satupun kalimat yang bisa mewakili betapa bahagianya Alfred saat ini.
“Kau berhasil melakukannya..” Kata Charlotte sambil mengusap air matanya. Wanita itu jelas merasa terharu karena dia menjadi salah satu saksi di balik kegagalan yang Alfred alami selama hampir tiga tahun belakangan ini.
“Ini bukan hanya tentang mimpiku saja, matahari buatan akan membantu memperbaiki dampak dari bencana beberapa minggu lalu..” Jawab Alfred dengan tenang.
Ada puluhan orang yang ikut menghadiri peresmian matahari buatan, bahkan wakil presiden juga ikut berdiri dengan antusias untuk melihat bagaimana hasil dari proyek yang selama ini Alfred bicarakan kepadanya. Beberapa minggu belakangan ini Alfred sering berselisih pendapat dengan wakil presiden, hal yang wajar terjadi di antara dua orang pria yang keras kepala.
“Sir, selamat atas pencapaianmu..” Alfred sedikit terkejut ketika mendapati Osvaldo, salah satu kenalan Aurora saat sedang di Manhattan, datang menemuinya di tengah acara peresmian.
“Kau datang ke sini?”
Bukan orang sembarangan yang bisa menghadiri acara siang ini, hanya ada beberapa orang petinggi pemerintahan dan tim proyek yang diizinkan hadir bersama dengan keluarga mereka. Melihat Osvaldo berdiri dengan pakaian rapi menunjukkan jika pemuda itu tidak masuk secara paksa dan mengikuti prosedur layaknya tamu undangan lainnya.
“Ayahku seorang anggota parlemen, dia mendapatkan undangan untuk menghadiri peresmian. Tidak ada wanita yang menemaninya malam ini, jadi aku diizinkan ikut dengannya.” Jelas Osvaldo sambil tertawa.
“Bagaimana bisa kau membuat lelucon tentang ayahmu sendiri?” Victor berkomentar sambil tertawa.
Aurora, Victor, dan Osvaldo duduk berdampingan di barisan depan, sesekali terdengar lelucon dan suara tawa mereka yang mengundang perhatian orang-orang di sekitarnya. Alfred menatap ketiga anak itu sambil tersenyum, pasti akan sangat menyenangkan jika setiap hari dia bisa melihat Aurora tertawa seperti saat ini.
Begitu harapan di hatinya mulai melambung tinggi, Alfred mencoba menarik napasnya dengan perlahan. Dia harus sadar jika selama ini hidupnya penuh dengan ketidakpastian, Aurora tidak bisa hidup dengan seorang ayah sepertinya. Abigail merawat dan membesarkan Aurora dengan sangat baik, wanita itu berhasil menjadikan Aurora seorang perempuan luarbiasa dengan pengetahuan yang menakjubkan. Lalu Dalton hadir dan semakin melengkapi kehidupan Aurora. Putrinya selalu tersenyum bahagia setiap kali menceritakan tentang Dalton. Bagi Alfred, tidak ada yang lebih utama daripada kebahagiaan Aurora. Alfred bisa merelakan kebahagiaannya asalkan Aurora tetap tersenyum bahagia.
“Mereka terlihat akrab.. Aurora pasti merasa senang karena memiliki teman.”
Tampaknya Charlotte juga memperhatikan Aurora yang sedang duduk bersama dengan Victor dan Osvaldo. Tidak heran jika Victor memperlakukan Aurora dengan baik, sejak awal mengenal Victor, Alfred tahu bagaimana cara pemuda itu memperlakukan Aurora, tapi Alfred sedikit terkejut ketika melihat interaksi Aurora dan Osvaldo yang begitu akrab. Mereka layaknya sahabat lama yang terpisah dan kembali lagi bertemu setelah berbulan-bulan kemudian.
“Akan menyenangkan jika Aurora bisa tinggal di sini lebih lama lagi. Aku tidak percaya jika besok dia akan kembali ke Ohio..” Charlotte kembali berbicara.
Lebih dari satu bulan sejak Aurora datang ke Washington, D.C. Selama ini Charlotte yang selalu kesepian karena tinggal sendirian saat Alfred sibuk dengan pekerjaannya, ia mulai terbiasa dengan keberadaan Aurora dan Victor. Dibandingkan Alfred, sepertinya Charlotte yang lebih sedih ketika Aurora harus kembali ke Ohio.
“Dia memang harus kembali ke Ohio. Sekolah akan kembali di mulai satu minggu setelah peluncuran matahari buatan, itu artinya kurang dari dua minggu lagi dia harus kembali bersekolah. Ada banyak hal yang harus disiapkan Aurora.. kita akan kembali bertemu dengannya di liburan musim dingin tahun depan..” Alfred menatap Charlotte yang tampak bersedih.
Dua hari lalu Abigail kembali menghubungi Alfred, seperti biasanya wanita itu akan berteriak dan mengungkapkan semua kemarahannya. Aurora harus kembali ke Ohio bagaimanapun caranya, itulah yang Abigail katakan. Penerbangan masih belum berfungsi, kendaraan darat seperti kereta dan bus juga masih belum beroperasi dengan normal. Kabut gelap yang menutupi udara membuat pemerintah mengeluarkan larangan bepergian untuk beberapa minggu ke depan. Alfred memutuskan untuk mengantar Aurora dan Victor menggunakan mobil pribadi, mereka akan berangkat besok pagi.
“Aku tahu, aku hanya mengatakan jika aku akan merindukannya..” Kata Charlotte.
Melihat kedekatan Aurora dan Charlotte membuat Alfred merasa bahagia, mereka benar-benar mengagumkan. Alfred tidak pernah mengira jika Aurora akan menerima Charlotte, begitu juga sebaliknya. Mereka menjadi sahabat dekat hanya dalam waktu yang singkat.
“Bolehkah aku ikut ke Colombus besok pagi?” Tanya Charlotte.
“Tentu saja boleh, dengan syarat kau tidak akan merengek jika punggungmu terasa sakit karena perjalanan jauh..” Alfred menjawab sambil memutar bola matanya.
Charlotte tertawa dan menyanggupi syarat yang Alfred berikan. Pembicaraan mereka terpaksa berhenti ketika acara peresmian dimulai, seluruh rangkaian acara peresmian membuat Charlotte dan Alfred sibuk sendiri sehingga tidak memperhatikan satu sama lain.
***
Puluhan wartawan menghalangi Alfred ketika dia akan keluar dari gedung. Semua media berlomba-lomba melakukan wawancara untuk menanyakan berbagai pertanyaan seputar peluncuran matahari buatan. Alfred memberikan jawaban singkat terkait proyek lanjutan dari matahari buatan yang telah ia siapkan dari jauh-jauh hari, bahkan bisa dikatakan jika proyek inilah yang sejak awal sangat ingin Alfred kembangan.
“Panas dan sinar dari matahari buatan hanyalah sebagian kecil dari fungsi utama, sejujurnya sejak dua tahun lalu tim kami telah menyiapkan sebuah proyek lanjutan yang berfungsi menggantikan peran minyak bumi dalam kehidupan sehari-hari.” Kata Alfred dengan tenang.
Ratusan blitz kamera menyinari matanya sehingga membuat Alfred menyipit dengan tidak nyaman. Alfred bukan seorang artis yang terbiasa dengan cahaya kamera, sedikit sulit untuk membiasakan dirinya dengan ratusan wartawan yang seakan ingin membunuhnya dengan ratusan pertanyaan. Namun, seperti yang telah Charlotte jelaskan sebelumnya, Alfred harus tetap tenang dan menjawab dengan senyuman ramah. Tidak peduli seburuk apapun perlakuan mereka kepada Alfred, Charlotte menyarankan agar Alfred selalu berusaha tersenyum. Rasa-rasanya, hampir semua hal yang diliput oleh wartawan adalah sebuah kepalsuan. Di tengah rasa tidak nyaman seperti ini, seseorang dituntut untuk tetap tersenyum dan bersikap ramah. Alfred tidak habis pikir dengan saran yang Charlotte berikan.
“Jika sudah direncanakan sejak dua tahun lalu, mengapa proyek tersebut baru dimulai ketika ledakan nuklir terjadi? Bukankah ini kebetulan yang menarik? Anda mengambil keuntungan di balik bencana ini?”
Dari sekian banyak pertanyaan tidak menyenangkan yang begitu mengganggu, Alfred harus kembali mendengar satu pertanyaan konyol yang dilontarkan oleh para wartawan.
“Apakah aku terlihat sedang mengambil keuntungan? Apakah aku yang mengambil keuntungan dari matahari buatan ini?” Alfred justru mengajukan pertanyaan.
“Anda sendiri yang mengatakan jika proyek matahari buatan menjadi—”
“Ada waktu untuk segala hal yang terjadi di dunia ini. Apakah kau berusaha mengatakan jika aku adalah manusia egois yang hanya ingin mengambil keuntungan? Ayolah, apakah tidak ada pertanyaan yang lebih bermutu di tengah bencana yang terus melanda dunia?” Alfred memotong pertanyaan yang dilontarkan oleh salah satu wartawan.
“Rasanya wajar jika kami mengajukan pertanyaan tersebut, kami merasa penasaran mengenai apa saja yang terjadi di balik pengembangan proyek matahari buatan. Apalagi ini menjadi pertama kalinya benua Amerika meluncurkan matahari buatan.”
“Aku dan timku melakukan penelitian dan riset yang mengenai pemanasan global yang terjadi selama beberapa tahun belakangan ini. Kami berupaya untuk menemukan cara lain agar limbah dan polusi udara tidak terus meningkat, sayangnya proyek tersebut masih belum bisa direalisasikan karena beberapa hal yang tidak bisa dijelaskan di sini.. Proyek tersebut bertujuan untuk menggantikan minyak bumi dengan energi baru yang lebih ramah lingkungan serta dapat diperbaharui. Mungkin pengembangan proyek tersebut bisa mulai dikerjakan satu atau dua bulan setelah peluncuran matahari buatan”
Alfred menutup matanya beberapa kali. Diantara semua orang yang terlibat dalam proyek, mengapa hanya dirinya saja yang menjadi sasaran para wartawan? Charlotte memberikan saran yang salah, terus tersenyum di depan wartawan membuat mereka mengira jika Alfred merasa nyaman dengan wawancara mengerikan semacam ini.
“Kami mendengar jika di beberapa kota, udara dingin mulai menyebar dan menimbulkan salju dengan intensitas tinggi. Bagaimana dengan Washington, D.C? Apakah akan terjadi hal yang sama di tempat ini?”
Melihat bagaimana beberapa kota di sekitar Manhattan mengalami penurunan suhu membuat Alfred yakin jika udara dingin tersebut akan sampai ke Washington, D.C dalam beberapa waktu kedepan. Jika hal tersebut terjadi, maka proyek matahari buatan harus segera diselesaikan dengan cepat agar dalam meminimalisir terjadinya kebekuan di kota-kota lain.
“Kalian bisa menunggu kabar lebih lanjut mengenai hal itu. Jujur saja karena terlalu sibuk dengan riset matahari buatan membuat aku dan timku mengurangi waktu pemeriksaan gerakan angin dan penurunan suhu. Kami akan memberikan pernyataan resmi dalam beberapa jam ke depan mengenai masalah ini”
Alfred mencoba untuk berjalan menjauh, tapi para wartawan terus mendesaknya kemanapun ia pergi. Rasanya Alfred mulai muak dengan kehidupan barunya yang menjadi sorotan media. Menjadi ilmuan yang duduk di balik komputer terasa jauh lebih menyenangkan.
“Apakah proyek lanjutan dari matahari buatan telah dipastikan untuk dikerjakan? Ada banyak hal yang lebih penting dibandingkan membiayai sebuah proyek yang masih belum pasti kebenarannya. Bukankah pemerintah lebih baik mempertimbangkan pembiayaan proyek lanjutan yang Anda bicarakan?”
“Maafkan aku, bisakah kalian memberikan jalan untukku? Putriku sudah kedinginan karena menunggu terlalu lama. Sepertinya sebentar lagi akan turun salju, sebaiknya kita mengakhiri wawancara sampai di sini..” Kata Alfred sambil berusaha melangkahkan kakinya ke depan. Ada beberapa orang keamanan yang berusaha membantu Alfred, tapi kerumunan wartawan jauh lebih banyak dari mereka sehingga Alfred tetap kesulitan untuk melangkahkan kakinya.
“Bukankah putrimu adalah orang yang terjebak di Manhattan? Kami dengar dia melakukan tindakan medis sehingga menyebabkan seorang gadis meninggal dunia. Bisakah kami berbicara dengannya?”
Kini para wartawan semakin mendesak Alfred yang sedang berusaha melindungi Aurora. Sebuah pertanyaan tidak terduga menimbulkan keributan diantara para wartawan, beberapa dari mereka semakin keras dalam mengungkapkan pertanyaan sehingga membuat Alfred.
“Bisakah kami berbicara dengannya? Apakah ia putrimu yang tinggal di Ohio?”
Alfred tidak mengerti mengapa informasi pribadi Aurora bisa tersebar seperti ini. Satu hal yang tidak menyenangkan ketika berurusan dengan wartawan dan media adalah kurangnya kesadaran mereka dalam menghargai privasi orang lain. Alfred merasa tidak percaya ketika mereka mulai mengulik kehidupan pribadi Alfred.
“Tolong hentikan semua ini, kenapa kalian sanggat mengganggu?” Charlotte yang sejak tadi berusaha diam sambil terus menutupi Aurora dengan blazer miliknya mulai menunjukkan rasa tidak nyaman.
Alfred merasa bersyukur karena Charlotte sudah lebih dulu mengambil tindakan ketika mereka pertama kali keluar dari gedung dan mendapati ada ratusan wartawan yang bersiap melakukan wawancara. Saat itu Charlotte segera melepaskan blazernya untuk menutupi wajah Aurora. Tanpa mengatakan apapun, Charlotte mengerti jika Aurora merasa tidak nyaman ketika wajahnya disorot oleh kamera.
“Bagaimana dengan Anda, nona? Bukankah Anda adalah salah satu mantan tim kerja profesor Bernadius yang sekarang menjalin hubungan asmara dengannya?”
Alfred sadar jika para wartawan telah melebihi batas.
“Aku tidak akan pernah melakukan wawancara dengan kalian jika kalian tidak bisa menghormati privasi orang-orang yang ada di sekitarku!”