Bab 59

2081 Kata
Washington, D.C (US) Hembusan udara dingin tidak mengurungkan niat Aurora untuk tetap berdiri sambil menatap langit malam yang gelap tanpa cahaya bintang. Mengingat jika ini akan menjadi malam terakhirnya di Washington, D.C membuat perasaan Aurora jadi sedikit sentimentil. Hari-hari menyenangkan yang ia habiskan di tempat ini menimbulkan rasa tidak rela ketika menyadari jika sebentar lagi Aurora akan kembali pada kesehariannya yang begitu sibuk. “Kau akan kedinginan jika terus berdiri di sana.” Alfred datang sambil membawakan selimut. Aurora tersenyum dan menerima selimut yang Alfred berikan. Pria itu juga membawa dua gelas coklat panas yang uapnya masih mengepul di udara. Dibandingkan memaksa Aurora masuk dengan alasan udara dingin, Alfred lebih memilih menemani Aurora sambil membawa selimut dan coklat panas. Perlakuan pria itu membuta Aurora merasa kagum. “Daddy seharusnya tidak duduk di sini..” Kata Aurora dengan pelan. Masih teringat dengan jelas kejadian tidak menyenangkan beberapa jam yang lalu. Ratusan wartawan menghadang jalan ketika mereka akan pulang dari acara peresmian. Awalnya segalanya berjalan dengan lancar, Charlotte menutupi wajah Aurora dengan blazernya begitu wanita itu menyadari jika Aurora merasa tidak nyaman, tapi ketika ayahnya berusaha menghentikan wawancara yang mulai tidak masuk akal, para wartawan justru menyerang Aurora dan Charlotte. “Daddy harus menemanimu di sini..” Jawab Alfred sambil tersenyum. Pria itu hanya duduk dengan tenang sambil menatap ke arah langit, persis seperti yang Aurora lakukan sejak beberapa menit yang lalu. “Kita akan berangkat besok pagi, seharusnya Daddy segera tidur” Aurora kembali berbicara. “Kau ingin menyendiri di sini, bukan? Lakukan seperti yang kau inginkan, anggap saja Daddy tidak ada di sini..” Ayahnya kembali berbicara sambil tersenyum. Aurora tidak pernah mengira jika Alfred mengerti bagaimana perasaannya saat ini. Ayahnya bukan seorang pria yang peka terhadap suasana hati seseorang, tapi secara mengejutkan pria itu berusaha untuk memahami bagaimana perasaan Aurora. “Aku tidak ingin menyendiri lagi sekarang. Aku justru ingin berbicara dengan Daddy karena besok pagi kita akan pergi ke Ohio..” Ayahnya menoleh sambil tersenyum dengan lega. Aurora mengerti jika sejak tadi ayahnya merasa khawatir karena pertanyaan wartawan beberapa jam yang lalu. Tanpa diberi tahu sekalipun, Aurora sudah mengerti jika wartawan sering mengajukan pertanyaan konyol yang tidak masuk akal. Mereka tidak peduli jika pertanyaan itu sangat jauh dari kenyataan, mereka juga tidak peduli jika pertanyaan tersebut membuat orang lain merasa tersinggung. Meski sudah tahu bagaimana tabiat seorang wartawan, Aurora tetap saja merasa tidak nyaman ketika mendengar pertanyaan mereka. “Kau akan kembali lagi saat liburan musim dingin, bukan? Charlotte akan menangis semalaman karena kau meninggalkannya..” Aurora tertawa pelan. Wanita itu sudah menangis sejak dua hari lalu ketika dia mengetahui jika Aurora akan kembali ke Colombus. “Mungkin aku akan kembali ke sini ketika liburan musim panas..” Jawab Aurora sambil tersenyum. “Itu lebih baik. Kau harus sering mengaktifkan ponselmu agar Daddy bisa menghubungimu, Aurora..” Aurora merasa sedih ketika mendengar suara ayahnya. Dia merasa bersalah karena selama ini sangat sering mengabaikan panggilan dari ayahnya sendiri. Aurora membenci Alfred tanpa alasan, dia tidak suka melihat ibunya bersedih ketika ia mulai berbicara dengan Alfred, dan tanpa sadar Aurora mulai menjauhi ayahnya. “Maafkan aku karena sering—” “Tidak masalah..” Alfred menjawab sebelum Aurora menyelesaikan kalimatnya. Kepala Aurora tertunduk dengan perlahan. Kehidupannya di masa lalu adalah hal menyenangkan yang tidak akan pernah terulang kembali. Ibunya, ayahnya, dan dirinya.. mereka sudah berjalan sendiri-sendiri tanpa bisa kembali ke tempat yang sama. Meskipun demikian, Aurora seharusnya sadar jika kedua orangtuanya akan tetap menjadi orangtuanya apapun yang terjadi. Kehidupan mereka mulai beranjak, ibunya bertemu dengan Dalton dan menikahi pria itu, ayahnya bertemu dengan Charlotte dan menjalin hubungan serius dengan wanita itu, Aurora juga mulai beranjak dewasa dan belajar mengisi kehidupannya dengan kisah cinta yang menyenangkan. Segalanya telah berubah, tapi Aurora menyadari jika kehidupannya akan tetap menyenangkan sekalipun ayah dan ibunya tidak hidup bersama lagi. Aurora merasa senang dengan kehadiran Dalton yang mengisi kekosongan sosok ayah dalam hidupnya, Aurora juga senang ketika mengenal Charlotte, wanita itu berusaha mendekatinya dengan cara yang berbeda. Dibandingkan berusaha menjadi ibu, Charlotte lebih memilih untuk bersahabat dengan Aurora. “Tolong pastikan Charlotte tetap menjadi sahabatku ketika aku kembali ke sini..” Kata Aurora dengan suara pelan. Alfred menganggukkan kepalanya. “Jangan bertengkar dengannya, dia tidak bisa tidur semalaman ketika kalian bertengkar. Aku tahu Daddy juga tidak bisa tidur dengan tenang saat bertengkar dengannya..” Beberapa minggu lalu Charlotte dan ayahnya berselisih paham. Memang bukan pertengkaran besar yang diisi dengan suara pecahan kaca dan lemparan barang, tapi Aurora merasa jika Charlotte dan Alfred sama-sama merasa tidak nyaman dengan pertengkaran tersebut. “Charlotte sangat peduli pada kesehatan Daddy, tolong hargai dia. Aku tahu jika Daddy sedang sibuk bekerja, tapi kepedulian Charlotte patut untuk dihargai..” “Dia sering berlebihan jika menyangkut kesehatan..” Charlotte seorang model yang tentu saja selalu mengutamakan kesehatan dan kebugaran tubuhnya. Wanita itu akan sering mengomel jika Aurora lupa tidak meminum vitaminnya, bisa dibayangkan betapa sulitnya Charlotte beradaptasi dengan gaya hidup tidak sehat Alfred selama ini. “Aku akan melakukan hal yang sama jika selama ini aku tahu bagaimana gaya hidup Daddy..” “Kau akan mengomel seperti Charlotte?” Tanya ayahnya sambil tertawa. “Dimana Daddy bisa menemukan seorang wanita muda yang pengertian seperti dia? Kau sangat beruntung karena hidup bersama dengan Charlotte..” Aurora berbicara sambil tersenyum. “Aku mengatakan hal yang sama kepada Mommy di hari pernikahannya dengan Dalton. Kurasa kalian sudah menemukan kehidupan baru yang bahagia..” Aurora tersenyum sambil menatap ke arah langit yang tampak gelap. Rasa sesak yang selama ini ia rasakan karena ketakutan akan ditinggalkan, kini mulai memudar. Ibunya menikah dengan seorang pria asing yang begitu baik kepadanya, mereka tidak pernah melupakan Aurora sebagai bagian dari keluarga, ibunya tetap fokus pada perannya sebagai seorang ibu, bahkan Dalton juga ikut melakukan hal yang sama. Sekarang Aurora juga melihat bagaimana kehidupan ayahnya berubah dan berjalan dengan baik, pria itu menemukan seorang wanita yang begitu pengertian. Sebagai seorang wanita muda, pasti sulit bagi Charlotte untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan Alfred. Namun penerimaan Charlotte yang Aurora rasakan sejak awal dia datang ke Washington, D.C membuat Aurora semakin yakin jika kini kedua orangtuanya telah menemukan kehidupan baru yang perlahan mengobati luka masa lalu mereka. “Kami beruntung karena memiliki putri sepertimu, Aurora..” Ayahnya berbicara dengan suara pelan. Aurora sadar jika dia akan menangis bila meneruskan pembicaraan dengan ayahnya, oleh sebab itu Aurora memilih untuk cepat-cepat menghabiskan coklat panas buatan ayahnya. “Kurasa aku harus tidur. Daddy juga harus beristirahat, besok kita akan melakukan perjalanan yang jauh” Kata Aurora sambil tersenyum. *** Colombus, Ohio (US) Perjalanan menuju ke Ohio dimulai pada pukul 8 pagi. Layaknya seorang ibu yang akan mengantar anaknya pergi bertamasya, Charlotte menyiapkan banyak bekal makanan ringan untuk dihabiskan di perjalanan. Di tengah udara dingin dan hujan salju yang tidak berhenti sejak semalam, perjalanan mereka memakan waktu yang lebih lama karena ada beberapa jalan yang sengaja ditutup. Suara tawa di dalam mobil membuat waktu berjalan dengan cepat, Aurora tidak pernah mengira jika perjalanan yang biasanya hanya menghabiskan waktu selama 6 jam 30 menit kini harus ditempuh lebih dari 10 jam. Meskipun demikian, Aurora tetap merasa jika waktu berjalan dengan sangat cepat. “Setelah ini segalanya akan kembali seperti dulu. Semua orang akan sibuk dan aku pasti akan merasa kesepian..” Kata Charlotte sambil menghembuskan napasnya dengan pelan. “Kau juga akan sibuk dengan pemotretanmu seperti biasanya.. Alfred berbicara sambil mengulurkan tangannya ke atas kepala Charlotte. “Siapa yang akan melakukan pemotretan di tengah udara dingin seperti ini? Aku akan mati membeku..” Aurora tertawa ketika mendengar kalimat yang Charlotte katakan. Sekalipun pengembangan matahari buatan telah selesai dilakukan, namun proyek tersebut tidak serta-merta langsung mengubah segalanya. Matahari buatan masih harus melewati proses percobaan dan juga riset ulang sebelum diluncurkan sebagai energi baru yang akan menggantikan fungsi utama matahari. “Aku bisa menggantikan mengemudi jika dibutuhkan, Sir” Kata Victor. “Tidak, sebaiknya kalian istirahat saja” jawab Alfred. Aurora menyandarkan bahunya dan menatap ke arah jendela yang mulai dipenuhi oleh salju. Ada rasa khawatir setiap kali Aurora memikirkan mengenai proyek matahari buatan yang dikembangkan oleh ayahnya. Sebagai seseorang yang dituntut untuk selalu menjadi yang utama, jujur saja Aurora sering merasa takut akan sebuah kegagalan. Tanpa terasa, waktu berjalan dengan sangat cepat. Aurora tidak benar-benar menyadari jika dia sudah mulai masuk ke wilayah Ohio setelah melakukan perjalanan selama lebih dari 10 jam. Hujan salju masih terus mengiringi perjalanan mereka, hembusan angin dingin juga terasa menusuk tulang begitu Aurora menurunkan kaca jendela. Hanya dalam hitungan detik Aurora kembali menaikkan kaca jendela karena merasa kedinginan. Setelah hampir dua bulan lamanya meninggalkan Colombus, kini Aurora akan kembali ke kota kelahirannya. Ada rasa bahagia ketika menyadari jika sebentar lagi ia akan bertemu dengan ibunya, tapi mengingat jika Aurora akan kembali terpisah dari ayahnya membuat rasa sesak memenuhi hatinya dengan perlahan. Apakah egois jika Aurora berharap ia bisa bertemu dengan ayahnya dan ibunya setiap hari? Aurora selalu berusaha untuk merelakan masa lalunya, dia senang dengan kehidupan barunya. Pernikahan ibunya membuat Aurora bisa mengenal Dalton yang begitu baik, lalu ayahnya juga ikut melengkapi kehidupan Aurora dengan keberadaan Charlotte yang selama satu bulan belakangan ini menjadi sahabatnya. Aurora mendapatkan banyak hal baik setelah melewati badai yang menghancurkan rumah tangga kedua orangtuanya. “Belok kanan setelah pohon besar di ujung jalan. Rumahku berada di sisi kiri..” Terdengar suara Victor yang mengarahkan Alfred untuk mencari rumahnya. Tidak banyak hal yang berubah dari kompleks rumah Victor, hanya beberapa pohon besar yang sengaja dipotong untuk mengurangi risiko ketika badai salju. Kata Alfred, Ohio adalah salah satu negara bagian yang cukup aman dan stabil ketika terjadi badai gelombang dingin. Wilayah Ohio juga mengalami penurunan suhu, tapi tidak sedrastis wilayah lainnya. “Kalian harus turun dan menyapa keluargaku..” Kata Victor ketika mereka berhenti tepat di depan rumah Victor. Alfred dan Charlotte menganggukkan kepalanya dan setuju untuk datang berkunjung ke rumah Victor selama beberapa saat. Alfred berbicara dengan kakek Victor dan menjelaskan apa saja yang terjadi selama dua bulan ini. Keluarga Victor sangat baik, mereka menerima penjelasan Alfred dan berterima kasih karena telah menjaga Victor selama badai terjadi. Aurora merasa senang ketika berada di tengah keluarga Victor, sekalipun Victor tidak memiliki keluarga yang lengkap, setidaknya pemuda itu tumbuh di dalam lingkungan yang harmonis. “Kau menyukai kue kering, Aurora? Kau bisa membawanya jika kau memang suka..” Melihat Aurora yang terus mengambil kue kering yang ada di atas meja membuat nenek Victor menawarkan setoples kue kepada Aurora. “Apakah aku bisa membawanya?” Tanya Aurora sambil tersenyum sopan. “Tentu saja, kau bisa membawa makanan yang kau sukai..” Nenek Victor menjawab dengan senyuman ramah. “Kami harap kami bisa datang berkunjung ke rumah ini suatu saat nanti. Tapi saat ini kami harus segera pergi untuk mengantar Aurora pulang. Terima kasih karena sudah menerima kami di tempat ini..” Alfred berpamitan setelah hampir 30 menit mereka berbincang dengan keluarga Victor. “Kau harus sering berkunjung ke sini, Aurora..” Nenek Victor mengulurkan tangannya untuk mengusap rambut Aurora dengan lembut. Aurora tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Rasanya sangat menyenangkan ketika mendapatkan penerimaan dari keluarga Victor. “Untuk sementara waktu ini Aurora akan sibuk di rumahnya, ibunya sangat merindukan Aurora. Tapi Aurora jelas akan lebih sering datang ke sini. Benar bukan, Victor?” Alfred justru menyambut penerimaan yang diberikan oleh keluarga Victor. “Kau beruntung karena keluarga Victor sangat baik..” Charlotte berbisik pelan ketika mereka sudah berada di dalam mobil. Aurora menghembuskan napasnya, dia tidak menyangka jika keluarga Victor sangat baik kepadanya. “Sekarang kita harus memulangkanmu kepada ibumu. Sangat sulit untuk kembali mengucapkan selamat tinggal, bukan?” Alfred berbicara sambil menolehkan kepalanya. Sekali lagi Aurora menarik napasnya dengan pelan. Kembali pulang tidak pernah terasa seberat ini. Aurora seperti berdiri di antara dua jembatan kebahagiaan yang tidak bisa dia miliki keduanya. Di satu sisi ada ibunya, seorang wanita yang selalu memperjuangkan keberhasilannya, lalu di sisi lain ada ayahnya, seorang pria yang sering mendapatkan kegagalan tapi selalu mengajarkan kepada Aurora untuk kembali bangkit sekalipun jurang kegagalan yang ia hadapi terlalu sulit untuk dilewati. Baik ibunya maupun ayahnya, mereka adalah dua orang yang tidak akan pernah bisa Aurora pilih salah satu. Aurora ingin memeluk mereka tanpa perlu saling menyakiti.. namun, memaksa mereka untuk menetap di tempat yang sama akan membuat keduanya kembali terluka. Lagipula, kedua orangtuanya telah menemukan kehidupan baru yang jauh lebih baik. Setiap masa lalu yang menyakitkan tidak akan pernah bisa dilupakan, namun kegagalan di masa lalu tidak bisa terus dibawa ke masa depan. Segalanya telah tertata dengan rapi, hanya karena keegoisan seorang anak yang menjadi korban perceraian, Aurora tidak ingin merusak kebahagiaan orangtuanya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN