Bab 60

1342 Kata
Colombus, Ohio (US) Kembali datang ke sebuah kota yang menjadi saksi atas masa-masa emas yang Alfred miliki di usia mudanya membuat perasaan sentimentil mulai hadir di dalam hati Alfred. Sudut kota, jalan-jalan yang dipenuhi salju, pintu toko yang hampir tertutup semuanya.. Alfred merasa jika ia telah melewatkan banyak hal di Colombus. Kota ini berkembang dengan pesat sehingga Alfred merasa sulit untuk mengingat setiap detail masa lalunya. Masa muda yang penuh dengan kecerobohan, kegagalan, dan kadang juga dipenuhi oleh keberhasilan. Alfred telah melewati banyak waktu di Colombus, bukan hanya tentang Abigail, tapi juga tentang kehidupan pribadinya. Jujur saja, diam-diam Alfred sering menghabiskan watu luangnya untuk mendengarkan berita cuaca mengenai Ohio. Apakah turun hujan di Ohio pada saat jam sekolah Aurora, apakah musim panas meningkatkan suhu secara drastis sehingga beresiko membakar kulit Aurora, apakah angin di musim gugur akan membuat Aurora kedinginan. Alfred sering bertanya kepada dirinya sendiri, tapi selama ini tidak ada jawaban pasti dari Aurora. “Daddy tidak lupa pada jalan ke rumah?” Tanya Aurora. Alfred baru menyadari jika sejak berhenti di rumah Victor, ia sama sekali belum menanyakan arah jalan kepada Aurora. “Ayahmu sangat hebat dalam menemukan jalan, jangan khawatir..” Jawab Charlotte sambil tersenyum. Charlotte selalu mengerti ketika Alfred kehilangan kata-kata dan tidak bisa menyusun kalimat yang tepat untuk menjadi jawaban Aurora. Seperti biasanya, Charlotte akan selalu melengkapi kekurangan Alfred. “Mungkin... mungkin Mommy tidak akan menawari kita makan malam. Bagaimana jika kita makan di salah satu restoran favoritku?” Tanya Aurora. Mendengar pertanyaan yang Aurora ajukan membuat Alfred sadar jika apapun yang ia lakukan, Abigail tetap tidak bisa menerima kunjungannya di kota ini. Tidak ingin melihat Aurora merasa murung, Alfred segera menjawab ajakan Aurora dengan antusias. Lalu seperti biasanya, Charlotte juga akan melakukan hal yang sama. “Dimana alamat restoran favoritmu?” Tanya Alfred dengan cepat. “Kita harus mencari restoran dengan view yang indah. Aku harus mengambil foto ketika kita makan di restoran tersebut..” Kata Charlotte sambil tertawa. “Aku mulai muak dengan sikap narsismu!” Aurora ikut tertawa ketika menanggapi Charlotte. Bukan, Charlotte bukan tipe wanita yang mengutamakan foto ketika memilih tempat makan. Wanita itu memang seorang model, tapi selama ini Charlotte selalu berusaha keras untuk menjaga privasinya. Wanita itu hanya menyukai kamera saat sedang melakukan pemotretan, tapi Charlotte selalu membatasi kehidupan pribadinya agar tidak menjadi konsumsi publik. “Kau tahu jika aku seorang model, Aurora. Kau harus terbiasa dengan gaya hidupku..” Charlotte menatap ke arah belakang sambil mengibaskan rambutnya dengan gerakan dramatis layaknya sedang mengambil gambar untuk pemotretan. Alfred tersenyum singkat. Sebisa mungkin Alfred berusaha untuk mengurangi kecepatan mobilnya, ini salah satu upaya untuk mengulur waktu bersama dengan Aurora. Dalam beberapa menit kedepan mobil ini pasti akan dilanda kesunyian. Charlotte tipe orang yang akan selalu diam jika dia merasa bersedih. Begitu Aurora pulang, maka Charlotte akan terus diam untuk beberapa hari lamanya. Itu artinya Alfred harus menghadapi kesepiannya sendirian. “Apakah tempat itu akan tetap buka di tengah cuaca seperti ini? Kudengar pemerintah memberlakukan pembatasan aktivitas masyarakat sampai matahari buatan diluncurkan..” Tanya Charlotte. Untuk sesaat Alfred merasa kesal dengan pengaturan pemerintah padahal biasanya ia adalah orang yang paling mendukung kebijakan mengenai pembatasan kegiatan masyarakat untuk meminimalisir bahaya di tengah udara dingin yang masih terus menurun selama beberapa hari belakangan ini. “Sayang sekali, padahal aku sudah berencana untuk mengunjungi restoran itu bersama dengan kalian..” Aurora menundukkan kepalanya dengan tatapan kesal. Alfred tidak bisa menyangkal jika ia selalu mengingat Abigail ketika melihat Aurora merasa kesal. Sifat Aurora sama seperti Abigail.. putrinya itu akan selalu menundukkan kepalanya ketika sedang kesal. Sekuat apapun mencoba, Aurora tetap tidak bisa menutupi rasa kesal dari ekspresi wajahnya. “Kita akan datang berkunjung lain kali.. Mungkin kita bisa mengunjungi restoran tersebut di liburan tahun depan..” Charlotte menolehkan kepalanya dan menggenggam tangan Aurora dengan tenang. “Baiklah, berjanjilah untuk datang menjemputku ketika liburan musim panas. Kurasa aku tidak akan berani menaiki pesawat sendirian..” Aurora mengangkat kepalanya sambil tersenyum. Perjalanan udara yang Aurora lakukan terakhir kali pasti menimbulkan sebuah trauma. “Liburan musim panas?” Tanya Charlotte. “Aurora berencana untuk datang ke Washington, D.C ketika liburan musim panas. Apakah kalian berencana untuk berjemur bersama di pantai?” Tanya Alfred sambil tertawa. “Benarkah? Aku akan membuat jadwal liburan musim panas yang menyenangkan. Sayang sekali kau alergi terhadap matahari, seharusnya kita bisa berjemur sepanjang hari di tepi pantai..” Charlotte berbicara sambil tertawa dengan suara keras. “Aku bisa berjemur di pantai, tapi setelah itu kulitku akan melepuh dan berubah jadi merah seperti kepiting rebus. Aku terlihat sangat jelek dengan kulit yang terbakar..” Sejak kecil Aurora memiliki alergi terhadap udara panas. Kulit putrinya itu akan terbakar dan memerah seperti kepiting rebus. Abigail selalu melarang Aurora berada di bawah paparan sinar matahari, wanita itu benar-benar menjaga Aurora dengan sangat baik. “Baiklah, kita harus menyusun acara lainnya ketika musim panas..” Alfred memperhatikan Aurora dan Charlotte yang tampak antusias padahal liburan musim panas masih 7 bulan lagi. Belokan terakhir di ujung jalan menjadi tanda jika perjalanan mereka akan segera berakhir. Alfred menarik napasnya dengan pelan ketika menyadari jika tidak banyak hal yang berubah dari kompleks perumahan tempat tinggal Aurora. Lima tahun berlalu tapi Alfred masih bisa mengingat setiap jalan dengan baik. “Akhirnya aku sampai di rumah..” Aurora berbicara dengan suara tidak percaya. Charlotte dan Alfred duduk dengan diam sambil saling menatap satu sama lain. Bukan hanya Alfred yang merasa kehilangan, tapi Charlotte juga tampak merasakan hal yang sama. “Kami tidak bisa turun..” Charlotte menolehkan kepalanya dan menatap Aurora yang sedang duduk sambil menyandarkan punggungnya. Halaman rumah Aurora dipenuhi dengan tanaman yang tampak layu karena udara dingin yang menyelimuti kota beberapa minggu belakangan. Rumah dengan cat berwarna putih tersebut tampak semakin megah dengan beberapa renovasi yang membuat atap rumah jadi semakin tinggi. “Aku mengerti. Kalian tidak perlu turun dan bertemu dengan Mommy, kurasa dia juga tidak akan senang dengan kedatangan kalian..” Aurora berbicara dengan jujur. Tidak pernah ada peraturan yang melarang Alfred dan Charlotte mendatangi Ohio, tapi selama ini baik Alfred maupun Charlotte sama-sama tidak ingin membuat masalah dengan memaksa untuk datang ke kota ini. Akan lebih baik jika Alfred tetap menjaga jarak dengan mantan istrinya. “Kami akan datang ketika musim panas tiba..” Charlotte berbicara dengan suara pelan. Wanita itu tampak berusaha mengatur nada bicaranya agar tidak terdengar bergetar ketika sedang menahan tangisan. “Ya, kalian harus datang ke sini ketika musim panas..” Aurora juga melakukan hal yang sama. “Aku akan sangat merindukanmu, Aurora..” Charlotte memeluk Aurora dengan kedua tangannya. Wanita itu terlihat bersedih karena akan berpisah dari Aurora. Dua bulan berlalu sejak bencana gelombang udara dingin. Aurora sudah meninggalkan rumahnya selama dua bulan, ini saatnya bagi Aurora untuk kembali pulang ke rumahnya. “Kita akan kembali bertemu ketika musim panas.” Jawab Aurora. “Jaga dirimu baik-baik, Aurora. Jangan lupa untuk menghubungi Daddy ketika kamu memiliki waktu..” Alfred mengulurkan tangannya dan memeluk Aurora. Tanpa terasa, putrinya tumbuh dewasa dengan sangat cepat. Bayi kecil yang menangis di dalam pelukannya, kini ia tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang begitu cantik. Ada banyak hal yang telah Alfred lewatkan, tapi kali ini Alfred tidak akan melakukan hal yang sama. Sekalipun pernikahannya dengan Abigail sudah berakhir, bukan berarti Alfred juga mengakhiri hubungannya dengan Aurora. Tidak pernah ada akhir untuk sebuah hubungan antara anak dan orang tua. Langkah demi langkah yang harus Alfred ambil setelah melepaskan putrinya untuk kembali pulang akan terasa lebih berat dari biasanya. Tidak ada yang bisa menghindari sebuah perpisahan, namun bukan berarti ini adalah akhir untuk mereka. Setelah berpisah, akan ada waktu dimana mereka kembali bertemu dan menjalani kehidupan layaknya keluarga pada umumnya. “Kalian harus tetap bersama ketika aku kembali berkunjung ke Washington, D.C” Kata Aurora sesaat sebelum ia keluar dari mobil. Dari arah berlawanan, Alfred bisa melihat jika Abigail telah berdiri di ujung pintu sambil menatap Aurora yang masih mencoba berpamitan dengan Charlotte. “Jangan khawatir, tidak akan ada yang mau menggantikan posisiku di hati Daddy-mu” Jawab Charlotte. “Pergilah Aurora, Mommy-mu sudah menunggu..” Alfred berbicara dengan suara pelan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN