Bab 61

1524 Kata
Colombus, Ohio (US) Kembali pulang setelah lebih dari dua bulan menghabiskan waktu di luar kota membuat Aurora merasa sedikit asing dengan rumahnya sendiri. Memang benar jika tidak ada hal yang berubah di rumahnya, hanya saja Aurora harus kembali menyesuaikan diri dengan peraturan rumah ibunya. “Berhentilah mengikutiku, Mommy” Aurora berhenti melangkah dan menatap ibunya yang sedang berdiri di balik tubuhnya. Sejak kembali pulang satu jam yang lalu, ibunya terus mengikuti setiap Aurora melangkahkan kakinya. “Biarkan dia mengikutimu, Aurora. Mommy-mu sangat menantikan hari ini sejak dua bulan yang lalu..” Dalton ikut mendekati Aurora dan mengusap kepalanya dengan pelan. Aurora berhenti mengeluh untuk sejenak. Wajar saja jika ibunya sangat antusias dengan kepulangan Aurora, mereka tidak pernah terpisah dalam waktu yang lama. Sejak kecil, kemanapun Abigail pergi, maka Aurora juga akan pergi, begitu juga dengan sebaliknya. “Kau membawa banyak benda dari Manhattan.” Ibunya mengutarakan pendapatnya ketika melihat Aurora sibuk menata ulang kamarnya dengan barang-barang baru yang Aurora bawa dari Washington, D.C. “Saat pergi dari Manhattan, aku tidak bisa membawa apapun. Aku bahkan tidak bisa berjalan..” Aurora duduk di pinggir ranjangnya sambil kembali mengingat kenangan saat ia melakukan perjalanan ekstrem dari hotel menuju ke rumah sakit di Manhattan. “Jangan mengingat-ingat kenangan yang buruk. Sudahlah, Mommy tidak ingin tahu bagaimana ceritamu saat itu, lupakan semuanya, Aurora..” Aurora menganggukkan kepalanya dengan pelan. Sejujurnya Aurora sama sekali tidak keberatan jika ibunya ingin mendengar ceritanya ketika sedang menghadapi badai gelombang dingin. Namun sejak dulu Abigail memang tidak suka membuat Aurora mengingat kejadian tidak menyenangkan yang ia alami. Bagi ibunya, lebih baik jika Aurora melupakan segalanya. Sayangnya, Abigail tidak menyadari jika melupakan segalanya bukanlah penyelesaian yang tepat. “Tidak masalah jika Aurora ingin menceritakan pengalamannya ketika sedang—” “Tidak! Itu sama sekali tidak perlu. Lupakan semuanya, jangan mengingat kenangan buruk di dalam pikiranmu. Kita harus fokus untuk melanjutkan kehidupanmu..” Abigail mengusap kepala Aurora dengan pelan. Selama ini Aurora tidak pernah berhasil mengubah pemikiran ibunya. Apapun yang wanita itu katakan, maka itu juga yang akan terjadi. “Tapi di balik kejadian buruk tersebut, Aurora pasti juga memiliki kenangan baik..” Aurora menghentikan langkah kakinya dan menatap Dalton yang sedang berdiri di ambang pintu. Hanya Dalton yang tahu jika Aurora pergi ke Manhattan bersama dengan Victor, kemungkinan besar pria itu sedang membicarakan mengenai Dalton. “Ada banyak cerita menyenangkan, aku pasti akan bercerita dengan Daddy setelah aku selesai menata kamarku..” Aurora tersenyum sambil memeluk Dalton. “Kau bisa menceritakan apapun yang ingin kau ceritakan, Aurora..” Jawab Dalton. Pria itu membalas pelukan Aurora dengan erat. “Baiklah, mungkin sekarang kau harus beristirahat. Perjalanan menggunakan mobil membuatmu lelah karena kekurangan jam tidur..” Abigail bangkit berdiri dan mendekati Aurora yang sedang berdiri di hadapan Dalton. “Aku bisa tidur dengan nyenyak sekalipun berada di dalam mobil..” Jelas Aurora. “Kau tidak terbiasa tidur di dalam kendaraan..”Ibunya berbicara sambil menatap Aurora dengan tidak percaya. “Mommy akan terkejut ketika mengetahui kebiasaan baru yang aku miliki..” Aurora mengendikkan bahunya. “Contohnya mengoleksi alat rias? Sejak kapan kau suka menggunakan riasan dan menggunakan pakaian berwarna seperti ini?” Tanya ibunya. Aurora menatap penampilannya sendiri. Tidak ada yang salah dengan kaos biru muda dan rok pendek berwarna putih dengan akses biru senada di ujung kain. Aurora terbiasa menggunakan pakaian dengan warna cerah ketika tinggal di Washington, D.C. “Well, biarkan Aurora melakukan apapun yang ia sukai. Bukankah Aurora sudah cukup besar untuk menggunakan riasan?” Dalton menarik tangan Abigail agar wanita itu keluar dari kamar dan membiarkan Aurora menata ulang barang-barang yang ada di kamarnya. “Bukankah selama ini kita selalu membiarkan Aurora melakukan apapun yang ia sukai?” Tanya ibunya. Aurora mengerjapkan matanya sejenak. Sejujurnya pertanyaan yang lebih tepat adalah kapan mereka membiarkan Aurora melakukan sesuatu yang ia sukai? *** Hari-hari normal berjalan dengan cepat tanpa bisa Aurora kendalikan. Beberapa hari pertama setelah kembali pulang, Aurora merasa sedikit asing dengan keluarganya sendiri, Aurora juga merasa rindu pada suasana Washington, D.C yang masih diselimuti salju saat terakhir kali ia berada di sana. Aurora tidak tahu seberapa tebal salju di Washington, D.C saat ini. Sekalipun sudah berada di Ohio, Aurora tetap mengikuti perkembangan proyek matahari buatan yang dipimpin oleh ayahnya. Tidak banyak informasi yang Aurora dapatkan karena sampai saat ini siaran televisi masih belum berfungsi dengan normal. Beberapa kali Aurora menghubungi Alfred dan Charlotte untuk bertanya langsung mengenai keadaan cuaca di Washington, D.C. Ada banyak hal baik yang terjadi, salah satunya adalah peningkatan suhu udara sejak peluncuran matahari buatan dua minggu yang lalu. Aurora tidak bisa datang ke Washington, D.C dan menyaksikan langsung proses peluncuran matahari buatan, namun Charlotte mengirimkan video peluncuran yang ia ambil menggunakan ponselnya. Jujur saja, sekalipun tidak berada di samping ayahnya, Aurora tetap merasa terharu ketika melihat raut bahagia yang terpancar dari tatapan ayahnya. “Apakah kau mendapatkan video siaran peluncuran matahari buatan? Aku merasa sangat takjub ketika menyaksikan video yang dikirim oleh Charlotte” Aurora tertawa pelan ketika mendengar suara Victor yang tampak antusias. Dua minggu setelah pulang ke Ohio, Aurora tidak memiliki kegiatan lain selain menghubungi Victor di sela-sela waktu belajarnya. Sekolah masih belum sepenuhnya beroperasi karena beberapa hari lalu pemerintah kembali mengeluarkan darurat cuaca buruk setelah terjadi hujan badai selama dua hari penuh. Aurora sempat mengira jika keadaan akan kembali memburuk, tapi nyatanya hujan mulai berhenti di hari ke dua sehingga membuat badai juga ikut berhenti. “Ya, Charlotte juga mengirimkan video itu kepadaku. Aku merasa bangga dengan keberhasilan Daddy, aku bisa melihat jika dia sangat senang ketika peluncuran matahari buatan berhasil dilakukan..” Aurora masih mengingat dengan jelas bagaimana perjuangan ayahnya selama dua bulan ini. Pria itu menjadi salah satu orang yang paling sibuk berpikir ketika badai udara dingin terjadi. Alfred memiliki mimpi yang besar dan pria itu berhasil merealisasikan seluruh mimpinya. Ada banyak kegagalan yang dialami oleh ayahnya, namun pria itu tidak berhenti bermimpi. Dia berhasil membuktikan jika di balik kegagalan ada sebuah keberhasilan besar yang sedang menanti. Aurora harap ia memiliki hati yang kuat seperti ayahnya. “Aku jadi merindukan Washington, D.C.. ada banyak hal menyenangkan yang terjadi di kota itu, bukan?” Aurora menganggukkan kepalanya. Dia merindukan omelan Charlotte yang akan terdengar setiap kali ayahnya menolak menghabiskan s**u dan jus buah. “Kita akan berkunjung ke Washington, D.C ketika liburan musim panas. Kita hanya perlu menunggu beberapa bulan lagi..” Aurora menjawab sambil menyiapkan buku pelajaran yang akan ia baca malam ini. Sekalipun sekolah masih belum dimulai, Aurora tetap akan belajar seperti kebiasaannya. “Kau sedang sibuk belajar? Apakah aku mengganggumu?” Tanya Victor. “Aku sedang belajar, tapi kurasa tidak masalah jika aku meluangkan waktu beberapa menit untuk menghubungimu. Bukankah aku kekasihmu?” Terdengar suara tawa di ujung sambungan telepon. Jujur saja Aurora juga cukup terkejut ketika mendengarkan kalimatnya sendiri. “Kau selalu menggunakan kalimat mengejutkan untuk menggodaku..” “Aku tidak bermaksud untuk melakukan itu..” Aurora mengendikkan bahunya. “Kudengar sekolah akan mulai dibuka jika suhu udara sudah kembali normal. Itu berarti kau akan kembali sibuk dengan kehidupan sekolahmu” Aurora menganggukkan kepalanya, dia juga mendengar berita yang sama seperti yang baru saja Victor katakan. Beberapa hari belakangan ini, suhu udara semakin membaik, itu artinya hanya dalam beberapa hari ke depan sekolah akan kembali dibuka. Aurora merasa tidak sabar untuk kembali masuk sekolah. “Akan lebih baik jika sekolah kembali dibuka. Aku mulai bosan duduk di depan meja belajarku..” Aurora menatap meja belajarnya yang tampak sangat mengerikan dengan tumpukan buku yang tertata dengan tidak rapi. Aurora biasa menghabiskan waktu sejak pagi hingga malam untuk duduk dan membaca buku di meja belajarnya. Dia merasa bosan dan ingin kembali belajar di sekolah bersama dengan teman-temannya. Memang benar jika Aurora tidak memiliki banyak teman, tapi setidaknya Aurora bisa belajar bersama di kelas yang penuh dengan suara tawa teman-temannya. “Kau tidak pernah bosan belajar, berhentilah membuat keluhan palsu..” Victor selalu memiliki cara untuk membuat Aurora tertawa di tengah kesibukannya. “Apakah kau tidak memiliki pekerjaan? Kau duduk dengan santai sejak jadi..” Aurora memperhatikan Victor yang sedang duduk di kursi dengan santai. Biasanya Victor akan menghubungi Aurora sambil sibuk menyiapkan makanan pesanan pelanggan, tapi tampaknya hari ini dia lebih santai. “Tidak banyak pesanan makanan yang aku terima, hari ini aku memiliki banyak waktu luang untuk berbincang denganmu..” Aurora menatap Victor sekilas lalu kembali berpura-pura sibuk membawa buku. “Kau tampak sangat cantik dengan pakaian berwarna hijau. Matamu jadi terlihat lebih bersinar..” Aurora memutar bola matanya ketika mendengar kalimat Victor yang menggelikan. Victor bukan tipe pria yang suka berbicara manis untuk membuat Aurora tersanjung, tapi saat Victor mulai mengucapkan kalimat manis, maka Aurora tidak akan bisa menahan diri untuk tidak tersipu malu. “Aku selalu cantik menggunakan pakaian apapun..” Aurora berbicara sambil mengibaskan rambutnya dengan gerakan mendramatisir. “Kau benar, kau memang selalu cantik..” Aurora menghentikan gerakan tangannya, bahkan mungkin detak jantungnya juga berhenti sesaat setelah mendengar kalimat Victor. Ya, sama seperti biasanya.. Aurora akan langsung memutuskan sambungan telepon ketika dia merasa malu setelah mendengar pujian yang dilayangkan oleh Victor. Victor memang seorang pria yang manis, Aurora tidak mengerti kenapa dia masih sering tersipu malu padahal ia sudah sering mendapatkan perlakuan manis dari kekasihnya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN