2. Hadiah Istimewa

1793 Kata
"Aku bahagia punya orang tua seperti Bapak dan Ibu," ungkapku berbisik pada Bapak. Di keramaian Bapak mengecup keningku penuh sayang. Mengangkat pialaku ke atas, membuat orang-orang melihat Bapak yang penuh bangga. Ibu datang tergopoh-gopoh dari arah gerbang sekolah. Tangannya menjinjing map berwarna biru berisikan rapor Aa yang baru saja dibagikan. Kulihat Aa membelok ke arah kanan. Entah akan kemana lelaki itu. "Itu Ibu, Pak," ucapku menunjuk Ibu. Senyuman terpancar di wajahnya. Menandakan kabar baik yang pasti akan ia ceritakan saat ini juga. Begitulah ibu, selalu tak sabar berbagi bahagia. Sedangkan, untuk berbagi duka ia selalu enggan. Selalu saja dipendam sendiri. "Coba, ada kabar baik apa, istri Bapak? Senyumnya ngembang gitu." Bapak menyapa terlebih dahulu sebelum Ibu benar-benar sampai di depannya. Kulihat matanya berbinar. Aku bisa menduga, pasti Aa juga meraih prestasi di sekolah. Ya, walaupun Aa selalu naik turun. Karena tentunya saingannya lebih banyak. Terlebih, akhir-akhir ini Aa seringkali bolos tanpa sepengetahuan Ibu dan Bapak. Aku tahu hal itu dari Sari, teman satu kelas Aa yang satu pengajian denganku. Tak banyak bicara atau bertanya, aku diam saja. Tentunya seraya terus mencari informasi kemana Aa pergi kalau bolos sekolah. "A Arya juara ketiga, Pak. Juara umum dari tujuh ratus siswa. Ibu bangga sekali, apalagi Ibu tadi dipanggil ke depan," katanya penuh bahagia. Tiba-tiba, raut mukanya berubah kemudian, "Tapi, waktu disuruh ke depan, Ibu nggak mau karena Ibu malu. Ibu-ibu yang lain pakaiannya bagus-bagus dan modis. Sedangkan Ibu, pakai gamis biru sudah luntur, lusuh dan sobek bagian bawahnya. Ibu malu, akhirnya Ibu pura-pura aja ke kamar mandi," kekeh Ibu seakan hal itu adalah hal lucu. Ya Allah, Ibu. Kenapa harus malu segala? Padahal, orang lain pasti tak akan menilik bagaimana penampilan Ibu. Merk apa baju yang dipakai atau bagian bawah yang telah sobek belum dibetulkan kembali. Kini, sorot mata Bapak berubah sendu. Merasa gagal memenuhi nafkah istri. Namun, aku segera menyela pembicaraan mereka agar lupa akan derita di tengah bahagia kami. Kusodorkan rapor merah yang kupegang. Dengan tubuh membusung d**a, yang kata Aa begitu menyebalkan bibirku melebar. Kubuka bagian terakhir daftar penilaian hasil pembelajaran semester dua. Semuanya di atas angka delapan. Paling besar bahasa Indonesia, sembilan koma lima. "Tuh, kan, kata Linza juga apa. Linza bakal juara lagi. Kan, Linza mah tak terkalahkan, Bu," cerocosku dengan wajah menantang. Senyum Ibu kembali merekah. Setelahnya ia geleng-geleng kepala. "Iya, tapi kamu teh jangan sombong kayak gitu. Gimana kalau ada yang gak suka? Terus kamu dijatuhkan gitu aja sama Allah, mau?" Ibu selalu menyematkan pesan di akhir obrolan dengan anak-anaknya. Meskipun dia tahu aku hanya bercanda, tetapi ia khawatir juga candaanku menjadi bom bagiku sendiri. Ya, seperti itulah Ibu. Ibu yang selalu mengajari kebaikan pada anak-anaknya. "Gimana, Pak, jualannya?" Ibu mengalihkan pembicaraan. Bapak mengalihkan pandangan ke gerobak yang berdiri di depannya. Sedari tadi, belum ada pembeli yang datang kembali. Menahan perih di hatinya, ia berusaha menyembunyikan keadaan sebenarnya. "Alhamdulillah udah ada yang beli lumayan rame. Doakan saja Bapak terus ,ya. Mudah-mudahan besok kita bisa makan enak buat ngerayain kemenangan Linza dan Satria," ucap Bapak seraya tersenyum penuh arti. Berharap ucapannya menjadi doa. Sebentar lagi, dagangannya diserbu dan ludes. Ya, minimal seperempat dagangannya, tak perlu semua juga. Begitulah kalau Bapak memanggil Aa. Nama aslinya Satria Mahardika, tetapi orang-orang terdekat memanggilnya Arya. Berbeda dengan Bapak yang selalu memanggil nama aslinya. Alasannya, karena Bapak sangat menyukai nama itu. Nama yang mengandung doa Aa akan menjadi pahlawan untuk siapapun. Aku dan Ibu mengamini ucapan Bapak. Kutatap wajahnya yang berbohong. Ibu percaya begitu saja, sehingga menambah senyumnya kian merekah. "Oh, ya. Maaf, ya, Lin. Ibu terlambat datang. Jadi, gak bisa nonton kamu naik ke atas panggung," ucap Ibu penuh sesal. "Gak apa-apa, Bu. Dari tadi, Bapak menontonku, kok. Kalau Ibu penasaran bagaimana penampilanku, tanya aja sama Bapak. Bagus, kan, Pak? Kayak penari-penari yang ada di TV itu," jawabku membuat Ibu mengacak-acak poni depan. Tawa renyah terdengar kembali dari bibir mereka. Ingin rasanya aku melihat tawa itu sepanjang hari. Tak mau lagi mendengar tangis Ibu di malam hari. Tak mau melihat lagi bapak melamun di beranda rumah sambil sesekali menyeruput kopinya dengan berat. Setengah jam Ibu berdiri mendampingi Bapak. Saking bahagianya ia, untungnya tak menyadari bahwa sedari tadi tak ada satu orang pun yang membeli dagangan Bapak. Aku mengajak Ibu untuk pulang. Kasihan sekali keringat yang berlapis di keningnya. Sepertinya Ibu membutuhkan waktu istirahat. Lagipula, lama-lama di sini juga untuk apa. "Gak apa-apa Ibu pulang, Pak?" Merasa sungkan meninggalkan Bapak sendirian, berkali Ibu menanyakan hal sama. Aku menunggu Ibu beranjak dari tempatnya. Sambil sesekali melirik panggung kreasi seni yang masih diisi hiburan. "Gak apa-apa, dong, Bu. Justru mending pulang aja. Kalau ada Ibu, Bapak jualannya jadi grogi," canda Bapak membuat bunga-bunga di atas kepala ibu memutar. Ah, Ibu dan Bapak. Selalu saja humoris dan romantis walau sudah memiliki dua anak yang sudah pada besar. Membuatku malu sendiri kalau mendengar Bapak sedang merayu Ibu. Jadi, aku sering diam saja saat Bapak menggoda Ibu. Sekali waktu, Bapak pernah mempersembahkan setangkai bunga mawar pada Ibu di depan aku dan Aa. Spontan, aku menunduk menahan tawa. Lucu juga, ya. Sudah tak lagi muda, tetapi tetap memberi kejutan sederhana dengan setangkai mawar merah hasil cabut di pot depan rumah. Sementara, Aa turut menggoda Ibu. Membuat Ibu slaah tingkah layaknya anak muda yang tengah jatuh cinta. Kami memutuskan untuk pulang ke rumah karena jatah tampilku ke atas panggung telah habis. Acara sebentar lagi juga selesai. Melihat Ibu dengan mata sayu, sesekali ia menutupi mulut dengan punggung tangan saat menguap. Saat langkah kami telah sampai gerbang, seseorang memanggil. Menghentikan aku dan Ibu yang serempak berbalik ke belakang. "Bu Arlin.. Linza.." Teriak seseorang di tengah suara berisik musik yang diputar. Bu Safia, wali kelasku sedikit berlari menghampiri. Agak berteriak saat berbicara karena suara musik yang masih terdengar keras. "Bisa ke kantor dulu?" Ibu menautkan kedua alis. Ia segera mengangguk mengiyakan pertanyaan Bu Safia. Aku mengikuti langkah Ibu dan Bu Safia menuju kantor sekolah. Di benaknya Ibu sedang bertanya-tanya, kenapa dipanggil ke kantor. Apa ada kesalahan anaknya yang harus dibicarakan langsung pada orangtuanya. Setelah masuk ke dalam kantor, aku dan Ibu duduk berdampingan. Bu Safia menutup pintu untuk meminimalisir suara yang mengganggu. Sepertinya ia hendak mengatakan sesuatu hal penting. Setelah ruangan dirasa cukup hening, Bu Safia duduk berhadapan dengan kami. "Aduh, maaf mengganggu waktunya, Bu Arlin. Kalian saya tahan dulu, ya," kekeh Bu Safia tersenyum. "Gak apa-apa, Bu. Tenang saja," sahut Ibu berbalas senyum. Bu Safia menautkan kedua jemari. Memangkunya di bawah dagu. Lalu, mengutarakan maksud dan tujuan memanggil kami. "Saya langsung bicara inti saja, ya, Bu. Takutnya Bu Arlin mau pulang. Jadi, begini. Dari kelas satu sampai kelas lima, Linza selalu bertahan di peringkat satu kan, ya. Nah, nanti di kelas enam biasanya ada olimpiade nasional matematika-IPA dan bidang agama. Tentu, kami pihak sekolah akan mempersiapkannya dari sekarang. Dan, seluruh guru sepakat untuk memilih Linza sebagai kandidat dari SDN Bintang Timur untuk maju ke kecamatan di tahun depan. Nanti, kalau terpilih di kecamatan, Linza maju ke kabupaten. Kalau terpilih lagi, maju ke provinsi. Jadi, saya harap Linza bisa meluangkan waktu sepulang sekolah untuk belajar tambahan di sini. Kami juga butuh dukungan Bu Arlin sebagai orang tua Linza, dan meridakan Linza jika Linza akan pulang lebih akhir dari teman-temannya setiap hari," papar Bu Safia perlahan. Gaya bicaranya selalu saja tenang. Kalimat yang tersusun mudah sekali dimengerti oleh Ibu. Netra Ibu berbinar menatap Bu Safia. Sesekali ia melirik ke arahku. Sedikit berkaca-kaca, Ibu pasti bangga dengan apa yang kuraih. "Alhamdulillah, terima kasih kalau guru-guru di sini mempercayakan amanah itu kepada Linza. Semoga Linza bisa menjadi perwakilan yang membawa harum nama sekolah. Saya pasti dukung sepenuhnya, Bu. Asalkan Linza mau dan konsisten untuk belajar," jawab Ibu menahan tangis di pelupuk mata. Begitulah Ibu. Kalau sedih, ia akan menyemburkan hujan dari matanya. Bahagia pun sama, tak bisa menahan embun itu hingga satu tetes membasahi pipinya. Bu Safia menoleh ke arahku, "Linza sendiri bagaimana? Mau?" Dengan senyuman mantap kujawab pertanyaan Bu Safia, "Mau dong, Bu. Kesempatan langka, nih. Linza pasti bisa bawa harum nama sekolah dan nama orang tua Linza," terangku percaya diri. Ya, selain dikenal berprestasi, percaya diriku begitu besar. Terkadang, terkesan berlebihan hingga Ibu seringkali mengingatkan. Dengan dukungan guru dan orang tua, tentu menjadi landasan besar bagiku untuk maju. Senyum tegas di bibirmu membuat Bu Safia dan Ibu tersenyum bangga. Meski, sebenarnya aku sendiri gak yakin. Dalam olimpiade pasti banyak dari sekolah lain yang prestasinya lebih tinggi. Bu Safia mengutarakan maksud selanjutnya. Ia membuka laci meja yang menyekat duduk kami. Mengeluarkan sebuah amplop putih kecil. "Ini hadiah dari Ibu untuk Linza atas prestasi Linza. Mohon diterima, ya," ucap Bu Safia seraya menyodorkan amplop itu padaku. Tak langsung kuterima, aku memandang Ibu terlebih dahulu. Secara tidak langsung, meminta pendapat Ibu. Ia melempar senyum dan mengangguk pelan. Lalu, aku menerima amplop dari Bu Safia dengan senang hati. Begitulah budaya di sekolah ini. Selain hadiah utama dari sekolah, sang wali kelas selalu memberikan hadiah khusus yang biasanya berisi uang tunai. Karena prestasiku ini, Ibu belum pernah membelikanku buku dan alat tulis saat kenaikan kelas. Selalu ada jatah hadiah dari sekolah. Setelah mengucapkan beribu terima kasih pada Bu Safia, lantas aku dan Ibu berlalu dari kantor. Menuju perjalanan pulang. Di perjalanan, tak hentinya Ibu merangkul seraya mengusap kepalaku berkali-kali. Berjuta syukur ia langitkan dalam hatinya. Mewujudkan kalimat hamdalah yang membasahi lisan. Terdengar lirih mendamaikan jiwa. Saat Ibu menyibukkan diri dengan rasa syukurnya, aku mengambil amplop pemberian dari Bu Safia. Penasaran dengan isi yang ada di dalam. Kuangkat amplop itu tinggi-tinggi. Mencari cahaya agar bisa menerawang isinya. Menyipitkan mata agar terlihat jelas. Terlihat bayangan selembar uang berwarna biru. Tak salah lagi pasti isinya uang lima puluh ribu. Ibu yang melihat kelakuanku lantas menegur, "Eh, eh, Linza. Kamu ngapain?" Ibu melihat suasana sekitar. Malu jika ada orang lain melihat tingkahku. Apalagi, jika tiba-tiba Bu Safia ada di belakang menyusul kembali. Untunglah suasana sekitar sedang sepi. "Penasaran mau lihat isinya, Bu, hehe," kekehku menunjukan deretan gigi. "Ih, kamu mah, malu atuh. Jangan di jalan, nanti aja di rumah," peringat Ibu mengecap lidah. "Habis Linza gak sabar." Aku mendekatkan diri pada Ibu. Berniat membisikan sesuatu. Ibu yang langsung terkoneksi, sedikit membungkuk badan. "Ada kertas bergambar Insyinyur Haji Juanda di dalamnya," bisikku pada Ibu. Ibu kembali pada posisi berdiri. Berpikir sejenak dengan perkataanku. Lalu, ia terkekeh. Bisikanku berhasil membuat Ibu menerbitkan tawa kembali. "Aduh, Linza.. Linza! Kamu ini nurun sama siapa, sih, pecicilan banget," omel Ibu membuatku semakin nyengir. "Bener kan, Bu, kata Linza tadi pagi. Linza pasti dapat uang dari Bu Guru," ucapku sedikit berteriak. Ibu semakin keheranan dengan sikapku yang entah mirip siapa. Ibu yang lembut dan tak banyak bicara. Bapak yang kalem, tetapi jangan coba-coba mengganggunya. Bisa-bisa diterkam sama Bapak. Menghasilkan seorang Linza, yang sedikit pecicilan dan percaya diri berlebihan. Saat Ibu meletakan telunjuk di bibirnya seraya mengisyaratkanku untuk diam, aku berlari mendahului Ibu sambil terus memamerkan gigiku yang berderet. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN