1. Uang Lima Ribu Pemberian Ibu
Aku melihat ibu mencongkel celengan plastik merah berbentuk ayam seraya menahan embun di matanya. Ada perih saat melihat ibu seringkali menahan derita kemiskinan. Namun, ia adalah orang paling sabar. Selalu menerima kecil atau besar pemberian bapak disertai rasa syukur. Tak pernah marah pada bapak, hanya saja ia sering kudengar sesenggukan sendiri di dalam kamar yang hanya berdinding triplek.
Usai berhasil mendapat selembar uang berwarna ungu dan dua lembar berwarna kuning, ibu kembali ke ruang tengah. Lantas, aku berlari menghampiri sepiring nasi goreng yang hampir habis dimakan. Berpura-pura menonton dan terus melanjutkan makanan sampai tak tersisa.
"Lin, ini bekal kamu hari ini. Cukup lima ribu?" Tanya ibu menyodorkan selembar uang berwarna kuning ke arahku.
Aku tersenyum menerimanya, "Cukup, kok, Bu. Lagian kalau lagi samen*, pasti bolak-balik panggung. Biasanya, Linza juga dapat jajanan dari guru, kok. Kan Linza juara kelas," celotehku percaya diri.
Mendengar percaya diriku begitu besar, senyum ibu terpancar. Lalu, ia memberikan selembar berwarna kuning lagi kepada Arya, kakakku yang sedang bersiap memakai seragam putih biru untuk berangkat ke sekolah.
"Ibu ke sekolah Aa dulu, mau ambil rapor Aa. Nanti, pulang dari sana langsung ke sekolah kamu, ya. Sekalian nonton kreasi seni dan kamu tampil juga," ucap Ibu berbicara padaku dan Arya.
Aku tahu, ibu pasti kelelahan bangun dari jam tiga subuh, membantu membuat adonan bakso tahu untuk dijual bapak. Tapi, ibu tak pernah mau kehilangan waktu untuk menghadiri acara penting anak-anaknya.
"Ibu kalau capek, gak datang ke sekolah Linza juga gak apa-apa. Kan, ada bapak sedang jualan di sana. Pasti bapak juga nonton, kok," sanggahku membuat ibu mengangguk. Ia mengusap lembut kepalaku sebelum aku berangkat.
Berjalan kaki sejauh lima ratus meter menuju sekolah. Jarak dari rumah ke sekolah memang tak terlalu jauh. Aku sudah berdandan sedari rumah. Hanya memakai pelembab, bedak tabur dan lip gloss di bibir. Rambutku dikuncir dua, seragam dengan keempat teman yang akan menampilkan kreasi tari ke atas panggung kenaikan kelas.
Perayaan kreasi seni selalu menjadi peristiwa yang ditunggu. Banyak orang tua murid datang ke sekolah untuk menyaksikan anak-anaknya tampil di atas panggung. Kenaikan kelas menjadi momen yang sangat menyenangkan.
Satu persatu tarian, nyanyian pembacaan puisi dan drama ditampilkan di atas panggung. Menunggu giliran naik, mataku berjelajah ke kerumunan pedagang. Mencari posisi dimana bapak berjualan. Kutangkap sosok bapak yang sedang duduk di kursi pendek menunggu roda kecilnya yang sudah usang.
Betapa teriris hatiku saat melihatnya hanya melamun seraya menunggu pembeli datang. Saat barang dagangan orang lain dikerumuni pembeli, sementara dagangan bapak belum ada yang membeli satu orang pun. Padahal sudah dua jam bapak berjualan. Kasihan sekali bapak. Ingin rasanya aku menggantikan beliau yang tampak kelelahan di usia hampir setengah abad.
Lamunanku tergoyahkan saat pembawa acara memanggil aku dan keempat teman untuk naik ke atas panggung. Giliranku kali ini untuk unjuk gigi. Senyum bapak tersemat saat melihat anaknya penuh percaya diri. Ia melambai tangan ke arahku, spontan aku membalasnya seraya tersenyum.
Lima menit berlalu, aku kembali ke bawah. Tak kulepas pantauanku. Tetap melihat bapak yang masih termangu di tempat duduknya. Ingin sekali aku teriak saat ini.
"Ayo teman-teman, ibu-ibu, beli jananan bapakku. Rasanya enak dan mengenyangkan. Dijamin halal dan bersih," teriakku dalam hati. Tak berani untuk mengencangkan suara saat sedang acara di sekolah.
Kuambil uang lima ribu pemberian ibu yang masih tersimpan dalam saku. Menatapnya penuh haru. Ah, ibu, betapa baiknya pada anak-anakmu. Lalu, kuhampiri seorang gadis kecil duduk di gerbang sekolah. Di pinggirnya, tergeletak karung berisi botol-botol bekas.
"Hai, Dek, boleh aku duduk di sini?" Sapaku menghampirinya.
"Tentu, kak," jawabnya tersenyum ramah.
"Kamu gak sekolah?" Tanyaku padanya.
"Enggak, kak. Aku bantu ibuku saja, cari uang buat makan," jawabnya tersenyum lagi.
Pemulung kecil yang tampak keinginan seperti anak lain. Bersekolah dan tampil saat acara kenaikan kelas. Aku dapat melihat sorot luka di matanya.
"Udah makan bekum?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
Ia menggeleng lemah. Sepertinya cacing di perutnya sudah mulai demo meminta jatah.
"Kamu mau jajan? Tapi ada syaratnya," ucapku padanya.
"Apa?"
"Aku beri kamu uang lima ribu, tapi kamu harus jajan bakso tahu yang itu, tuh," pintaku seraya menunjuk roda kecil bapak bercat biru.
Tanpa banyak basa-basi, gadis kecil itu mengangguk. Menerima uang yang kusodorkan padanya. Tampak bapak tersenyum lebar saat menyaksikan seseorang berlarian ke sana.
"Beli bakso tahunya lima ribu, Mang," katanya pada bapak yang langsung melayani.
"Kamu beli punya siapa?" Tanya bapak seolah tahu sesuatu. Tentu bapak tahu pekerjaan gadis kecil itu, setiap hari ia lewat di gerbang sekolah.
"Aku disuruh sama kakak itu," jawabnya polos berbalik menunjuk ke arahku.
Sontak, aku langsung bersembunyi di balik pohon. Ah, untungnya bapak tak melihatku.
Bapak menautkan kedua alis. Tak melihat siapapun ke arah yang ditunjuk gadis kecil. Setelah mengikat plastik berisi bakso tahu pesanan gadis di depannya, ia mengambil satu plastik lagi. Mengisinya dengan isian yang sama seperti plastik sebelumnya.
"Ini pesanan kakak yang menyuruhmu," ucap Bapak menyodorkan sebuah plastik. "Ini hadiah buat kamu," sambungnya memberikan seplastik lagi.
Gadis kecil itu berbinar dan berlarian kembali ke arahku. Memperlihatkan dua kantong plastik berisi bakso tahu buatan Bapak.
"Aku dikasih dua, Kak. Ini katanya hadiah buatku. Jadi, yang satu ini, buat Kakak aja," beritahu gadis kecil mengembalikan pemberianku. Bedanya, tadi hanya selembar kertas yang berniat kuberikan padanya. Tapi, ia mengembalikan dengan jajanan bapakku sendiri.
Batinku semakin terenyuh. Melihat bapak yang tetap bersedekah meski dagangannya sedang tak laku. Dari kejauhan, kulihat bapak memegang uang selembar lima ribu seraya mengucap syukur. Lalu, memasukkan ke dalam tas khusus di pinggangnya.
Saat pengumuman juara kelas, namaku dipanggil. Dari kelas satu, tak pernah sekalipun turun peringkat. Jelas aku terbirit ke atas panggung.
"Peringkat kelas kesatu dari kelas lima adalah.. Linza Lembayung Karisma," lantang pembawa acara membuat bapak refleks melihat ke atas panggung.
Dari atas panggung, dapat kupastikan kebahagiaan bapak begitu besar saat melihat aku memegang piala, sertifikat dan sebuah tas hadiah dari sekolah. Lagi, aku melambaikan tangan ke arah bapak. Ia mengepalkan tangan lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.
Kuhampiri bapak setelah turun dari panggung. Mempersembahkan piala dan sertifikat untuknya. Hati bapak yang lembut, netranya tampak berkaca-kaca melihat prestasiku yang selalu bertahan di nomor satu.
Ia mengodok uang dalam tas kecil, lalu dengan bangga memberikannya padaku.
"Ini buat kamu jajan. Maaf, Bapak belum bisa kasih hadiah buat kamu," ucapnya memberikan uang senilai lima ribu yang sebenarnya itu uang dariku yang kubelikan dagangan bapak sendiri.
Jiwaku semakin tercabik. Aku memeluknya seraya menahan tangis. Bapak, terima kasih atas perjuanganmu. Padahal, hari ini daganganmu sedang tidak laku. Tapi, uang lima ribu pertama yang kau dapatkan dari pembeli, yang sebenarnya uangnya dariku. Dari celengan ayam pemberian ibu, kau berikan padaku sebagai bentuk hadiah karena kerja kerasku.
"Aku bahagia punya orang tua seperti Bapak dan Ibu," ungkapku berbisik pada Bapak.
Di keramaian Bapak mengecup keningku penuh sayang. Mengangkat pialaku ke atas, membuat orang-orang melihat Bapak yang penuh bangga.
Bersambung...