13. Teman Hidupku

1931 Kata
Adrian menyandarkan punggungnya di sisi kursi, rasanya sangat-sangat frustasi. Baru saja Kania menghubunginya dan meminta segera pulang, jika Adrian tidak mau memenuhinya, perempuan mengancam tidak ingin makan sama sekali. Padahal Adrian belum sampai lima menit berada di kantor, tapi Kania benar-benar sudah membuatnya marah. Perlakuan baiknya seolah membuat Kania bebas mengaturnya secara serta merta. Adrian menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, apalagi yang akan perempuan itu minta? "Menyebalkan!" Adrian berdiri, lantas menyambar tas yang ada di atas meja. Hari ini ia sudah pastikan tidak akan bisa ikut bekerja. Adrian tidak mungkin membiarkan Kania kelaparan, dan akan berdampak buruk pada calon anaknya. Seorang bayi yang dulunya sangat didambakan almarhum nek Ami. Jadi, Adrian tidak punya pilihan lain, selain memenuhi permintaan Kania itu. "Adrian, tunggu sebentar." Saat Adrian hendak pergi, Adrian bisa mendengar namanya dipanggil om Alex, telak Adrian memutar tubuhnya hingga melihat om Alex yang setengah berlari menghampirinya. "Ada apa?" "Begini, papah sudah mengurangi beberapa karyawan di sini. Jadi, papah sudah punya cara bagaimana agar produk kita bisa dikenal di pasaran. Mungkin, kamu akan mengadakan sebuah pameran di beberapa tempat." Adrian tampak berfikir sejanak. Ini sudah di pikirannya sejak jauh-jauh hari. Tapi, Adrian belum ada waktu untuk hal-hal seperti itu "Baiklah, aku akan segera mengurusnya nanti. Sekarang, aku harus pulang. Kania membutuhkanku." Om Alex mengangguk, menyetujui keinginan Adrian. Om Alex merasa sangat senang saat Adrian mau melanjutkan hidup bersama Kania. Apalagi menantunya itu akan memberiknya seorang cucu. Om Alex yakin, dengan kehadiran bayi itu kelak, akan membuat Adrian semakin bersemangat. Sekarang saja Adrian sudah mau mementingkan permintaan Kania, apalagi setelah ia berhasil melahirkan keturunannya. *** Kania berdiri di atas balkon kamarnya sambil melirik ke bawah. Memastikan kedatangan Adrian yang menurutnya sangat lama. Padahal, Kania sudah selesai mandi dan membersihkan kamar mereka. Kania sudah berusaha menahan laparnya, jika Adrian tidak kunjung datang, sudah dipastikan penyakit asam lambungnya kembali kambuh. "Aduh, maafin bunda ya sayang, bukannya bunda nggak mau kasih kamu makan, tapi ayah kamu tuh yang pulangnya lama. Kamu kan bisa rasain, gimana enaknya disuapin ayah, kan?" Kania menjatuhkan pandangannya keperut. Sambil memegang janin yang baru berusia lima bulan itu. Kali ini Kania mulai bisa merasakan bagaimana gerakan bayi itu saat menendang perutnya. Kania merasa bisa berkomunikasi dengan calon ananya. Ia bisa merespon dengan cara menendang perut ibunya. Seperti sekarang, Kania tersenyum geli saat perut sebelah kirinya ditendang dengan kuat. "Makanya, kamu cepat keluar. Biar bisa ketemu ayah kamu yang nyebelin itu." Kania kembali masuk ke dalam kamar. Kembali ke atas tempat tidur. Kania sejenak melirik jam dinding, jika sampai lima menit lagi Adrian tidak sampai. Dia nekat akan menyusul Adrian ke kantor. Tidak perduli kalau Adrian akan marah besar. Pintu kamar terbuka, sejenak Kania bisa memancarkan raut bahagia. Tapi, yang muncul dibalik pintu justru tante Sonia. Lagi-lagi Kania mendesah kecewa. Tiba-tiba air matanya kembali jatuh, ia terlalu berharap lebih kepada Adrian. Adrian tidak akan mungkin menjadikannya prioritas utama. Kania tergelak sendiri menertawakan nasib yang sangat jenaka. "Adrian suruh mama nganter makanan buat kamu. Kamu harus makan, ya?" "Aku nggak lapar ma." "Aduh, Kania. Kalau kamu nggak mau makan nanti mama yang disalahin Adrian." "Aku nggak mau makan, ma. Biarin aja, dia juga nggak bakal perduli kok." Kania langsung menghapus jejak air matanya, hatinya mencelos sakit. Benar-benar muak pada Adrian. "Sebentar lagi Adrian datang. Siapa bilang dia nggak mau perduli." tante Sonia meletakan nakas di atas bufet. Kemudian duduk di samping menantu kesayangannya. "Kamu itu nggak boleh kayak gini. Kasian bayi kamu, dia butuh asupan makan, Kania. Kamu mau anak kamu nanti lahirnya kecil? Kasian loh." "Mamah nggak ngerti, aku itu maunya makan cuma mau disuapin saam Adrian, ma." Kania memorotkan bibirnya, lantas kembali menangis seperti anak kecil. Mendengar rancauan Kania, tante Sonia tertawa geli. Dulu saat tante Sonia juga sedang mengandung Adrian, dia juga mengalami hal yang sama. Ingin selalu dekat dengan suaminya. Bahkan dulu tante Sonia pernah nekat menyusul om Alex yang tengah berada di London saat sedang hamil tujuh bulan. Aksi tante Sonia nyaris membuat om Alex khawatir setengah mati. Apalagi istrinya dalam keadaan hamil besar, dan saat itu cuaca juga sedang buruk, takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. "Kania, Kania. Kamu ini ngidamnya persis kayak mama dulu. Mama dulu juga pengennya itu di dekat papa terus. Kalau udah di deket papa, mama selalu nyiksa papa. Mamah sering suruh papa masak, habis itu mama suruh papa jual masakan itu. Waktu itu mama pernah minta dibikinin goreng tahu brontak, terus setelah papa susah-susah bikin. Mama suruh papa jualan, dan dagangannya harus laku. Kamu tau? Berapa uang yang didepatin papa?" tanya tente Sonia, Kania menggeleng tidak tahu. "Dua puluh ribu," tante Sonia tidak bisa menahan tawa kala menginat momen itu. "Sampai papa kamu bilang, kalau nyari uang kayak gitu susah banget, malahan papa hampir nyerah." Kania hanya tersenyum simpul. Keadaan hatinya benar-benar sedang kacau, jadi hal apapun tidak ia butuhkan selain Adrian. "Maafkan aku, aku terlambat." Kedua orang itu langsung mengangkat wajahnya, melihat Adrian yang baru saja tiba di rumah. Kondisinya sangat berantakan. Peluh juga pengalir membanjiri pelipisnya. "Adrian, kamu kenapa ngos-ngosan gitu?" "Mobilku rusak di jalan. Aku sudah berusaha mencari taxi, tapi aku tidak mendapatkannya. Akhirnya aku memutuskan untuk berlari agar segera sampai di rumah." Mendengar pengakuan Adrian, rasanya Kania ingun terbang melayang, tinggi ke atas angkasa lepas. Adrian sampai seperti itu? Benarkah? Tapi Kania tetap memasang wajah jutek, seolah-olah masih marah pada Adrian. "Apa mama bilang, Adrian pasti datang, Kania. Liat Adrian, istri kamu nggak mau makan, padahal udah mama bawain ke kamar." Adrian melihat piring yang ada di atas nakas, kemudian mengalihkan matanya menatap Kania yang cemberut. "Kenapa?" Bukannya menjawab, Kania malah membuang wajah kesamping, seolah benar-benar sedang kesal. "Yaudah, mamah keluar dulu ya. Tuh, suapin Kania. Katanya cuma mau makan sama kamu." "Terimakasih sudah berusaha membujuk Kania, ma." Tante Sonia mengangguk. Kemudian beranjak keluar, meninggalkan Adrian dan juga Kania. "Kenapa kamu tidak mau makan?" tanya Adrian, ia membuka jas hitam yang dikenakan, kemudian meletakkanya atas tempat tidur. Adrian duduk di samping Kania, kemudian menatap wajah istrinya itu. "Kamu ingin membuat anakku kelaparan?" mata Adrian turun menatap perut Kania, sementra Kania sama sekali tidak bersuara. Ingin Adrian merayunya secara demikian rupa. "Sekarang, aku sudah pulang. Kamu harus mau makan." "Nggak mau," tolak Kania cepat. Kening Adrian mengerut. "Aku sudah pulang, kenapa kamu tidak mau makan Kania? Kamu tahu? Aku sudah meninggalkan pekerjaanku dan betapa lelahnya aku harus berlari agar segera sampai di rumah. Sekarang kamu justru ingin bermain-main denganku? Apa maksudmu?!" Kania tersentak saat Adrian membentaknya. Mendapat perlakuan manis seolah runtuh seketika saat Adrian telah berano membentaknya. Padahal Kania hanya ingin diperhatikan. Ingin menjadikan Adrian teman hidupnya. Tapi, selama ini Kania hanya bisa melihat kebohongan yang ada pada wajah Adrian, dia hanya berpura-pura baik karena anak yang ada dalam perut Kania. "Kalau kamu memang tidak menginginkanku, jangan memintaku pulang. Lagipula aku meyuruhmu makan bukan hanya untuk dirimu, tapi juga untuk anakku." "Kenapa sih, kamu selalu marah sama aku. Sekali aja kamu lakuin sesuatu tanpa rasa terpaksa. Sekali aja, aku cuma butuh perhatian kamu dengan tulus Adrian, aku cuma butuh kamu jadi suami sepenuhnya buat aku, aku cuma butuh kamu jadi teman dalam hidup aku." Adrian memicingkan matanya, berusaha menahan emosi. "Aku tau Adrian, kamu benci sama aku. Aku juga tau semuanya kamu lakuin secara terpaksa. Sampai kapan aku harus menunggu Adrian." "Kalau tujuanmu hanya ingin bertengkar denganku, jangan memintaku pulang!" Adrian jengah di depan Kania. Ia kesal dan memilih pergi, berusaha menenangkan diri sejenak. Adrian tahu, ini memang sebuah kesalahan. *** Hari sudah semakin gelap, tapi Adrian masih merasa enggan untuk pulang, pertengkaran kecil dengan Kania tadi benar-benar membuat Adrian muak. Sejenak Adrian melirik ponselnya, empat belas kali panggilan tidak terjawab dari tante Sonia. Benak Adrian mulai bertanya-tanya. Ada apa sebenatnya? Tidak lama setelah itu, sebuah pesan w******p telah masuk, masih dari tente Sonia. 'Adrian, cepat bawa Kania pulang. Nggak baik ibu hamil lama-lama di luar.' Kening Adrian mengerut, tidak mengerti maksud dari mamahnya. Padahal, Adrian tahu, Kania ada di rumah. Adrian bisa mengambil kesimpulan, Kania pasti membuat satu masalah lagi. 'Dia tidak bersamaku.' 'Apa maksudmu Adrian. Jika Kania tidak bersamamu, lalu dimana dia? Dia tidak ada di rumah.' 'Aku akan segera pulang.' Melihat balasan dari Adria tante Sonia semakin cemas. Jika memang Kania tidak bersamanya, lalu kemana dia?  Karena setau tante Sonia, menantunya tidak pernah hilang kabar seperti itu. Awalnya tante Sonia mengira Adrian dan juga Kania sedang sedang jalan bersama, tapi nyatanya sekarang kekhawatiran kembali membungkus otaknya yang sudah lelah berpikir. "Pa, Kania nggak sama Adrian." "Apa?" om Alex ikut kaget, padahal ini sudah larut malam. Terlalu bahaya bagi Kania untuk berada di luar rumah, apalagi dengan kondisi kehamilannya yang sering mengalami kontrasi yang membuat Kania merasakan kesakitan yang luar biasa. "Kemana lagi sih anak itu." Tante Sonia berdecak, om Alex bisa melihat bagaimana kekhawatiran yang kini sedang di rasakan istrinya. "Apa mungkin Kania keluar?" "Tapi kenapa dia nggak ngasih kabar, pa. Seenggaknya dia nelfon mama, ini bahkan nomornya nggak aktif sama sekali." "Aku juga udah cari kemana-mana, tapi ngga ketemu. Lagipula Kania juga nggak hafal kota jakarta, jadi nggak akan mungkin Kania pergi kemana-mena." "Apa maksudmu Amel?" "Apa jangan-jangan Kania ke kampungnya?" "Nggak mungkin Amel. Kalau sampai itu terjadi, kita nggak bakal bisa nemuin dia. Yang tau rumah Kania cuma mendiang nenek kamu. Mama yakin, Kania nggak mungkin kembali ke kampungnya. Dia nggak mungkin bawa pergi cucu mama." Tante Sonia membantah, tidak percaya akan asumsi anaknya. Tidak lama setelah itu, Adrian sampai, kemudian langsung disuguhi tatapan tidak enak dari sang mama. "Kemana Kania?" "Aku tidak tahu, bukankah dia ada di rumah? Kenapa menanyakan hal ini padaku?" "Jangan berbicara yang tidak-tidak Adrian. Ini masalah serius, Kania tidak ada, dan ini sudah larut malam. Kami pikir dia pergi bersamamu," kata om Alex. Dia juga benar-benar dibuat bingung. "Anak itu selalu bikin mama khawatir. Jelas-jelas dia sedang mengandung, tapi bisa-bianya menghilang tanpa kabar." Tante Sonia tidak tahu harus berbuat apa, antara khawatir dan ingin marah. Jika ia berhasil menemukan Kania, sudah dipastikan tante Sonia akan mengomelinya. "Tidak usah terlalu dipikirkan, mungkin dia ada keperluan, atau dia sedang pulang ke kampunya." "Apa yang kamu bicarain, Adrian. Apa kamu nggak gunain otak kamu? Banyak bahaya yang bisa ngancem dia di luar sana. Sementara kamu bisa bersikap tenang gini aja? Dia itu lagi bawa anak kamu Adrian. Harusnya kamu khawatirin dia." "Kak Adrian kapan sih mau perduli sama Kania. Lama-lama aku makin heran liat kakak, kakak itu udah bener-bener berubah. Kakak itu kayak orang yang nggak punya hati." Kedua tangan Adrian terkepal kuat, menahan emosi yang sebentar lagi akan meledak. Ia selalu dipojokan, selalu menjadi orang yang paling salah. Setau Adrian, dia tidak punya salah apa-apa. Lantas, pantaskah hilangnya Kania hatus ikaitkan dengannya? Adrian benar-benar ingin pergi sejauh mungkin, melupakan semua hal buruk yang ada di dalam otaknya, saling beracu kacau tidak beraturan. "Kalian selalu menyakahkan aku. Kalian selalu menudingku tidak perduli, kalau begitu, baiklah aku tidak akan mencarinya. Sama saja kan? Kalian tetap menganggapku tidak memperdulikannya." Adrian berlaku begitu saja, mengacuhkan wajah bengis tante Sonia yang menatapnya penuh antipati. Semalaman Adrian tidur tanpa Kania, terlalu munafik jika Adrian mengatakan tidak merasa kesepian. Ya, biasanya saat pagi Adrian bisa menyaksikan Kania selesai sholat subuh lalu menyiapkan pakaiannya, sekarang semuanya begitu asing. Enam bulan hidup bersama Kania, jujur saat ini Adrian benar-benar menghawatirkan keadaan Kania, apalagi anak itu. Adrian masih sadar akan dirinya, memang masih belum mencintai Kania, tapi menghawatirkannya tetap menjadi kewajiban bagi Adrian. Tidak mengerti harus mencari kemana. Apakah Kania marah? Apakah Kania sekarang memutuskan pergi? Entalah, Adrian tidak tahu. Jika memang seperti itu Adrian tidak akan mebiarkannya, ia tidak akan membiarkan anaknya kehilangan orang tuanya. Adrian akan berkorban sepenuhnya demi anak yang sekarang ada di dalam perut Kania. *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN