***
Adrian dan Kania sudah tiba di rumah, mereka mendapati tant Sonia yang sedang duduk resah di atas sofa. Perempuan itu sesekali melirik jam dinding lalu kembali mendesah. Sepertinya sedang menghawatirkan sesuatu.
Apalagi jam sudah menunjukan pukul delapan malam. Sejak tadi siang Kania sudah menghilang dan om Alex sudah memberi tahu kalau Kania tadi sempat datang ke kantor Adrian. Awalnya, tante Sonia bisa msedikit merasa lega, tapi ia kembali menghawatirkan Kania yang tak kunjung pulang, apalagi ponsel Adrian tidak bisa dihungi. Tante Sonia sudah menduga-duga, merasa hal buruk sudah terjadi pada Kania
"Mama."
"Kania."
"Kalian dari mana aja? Mamah pikir kamu itu kenapa-napa."
"Maaf, ma." Kania sangat meresa bersalah, apalagi bisa melihat kekhawatiran yang mencuat dari wajah tante Sonia. Semenjak Kania hamil, tante Sonia selalu memberi perhatian lebih, sangat memperhatikan semua jenis makanan yang akan Kania kosumsi, apalagi soal kesehatan. Kania tahu, itu semua juga untuk kebaikannya dan anakknya.
"Kamu juga Adrian, udah tau istri kamu itu lagi hamil muda. Ngapain kamu ajak keluar segala, kalau terjadi sesuatu sama kehamilannya gimana? Kamu mau bertanggung jawab? Itu juga anak kamu Adrian. Harusnya Kania itu banyak beristirahat, minimal sampai usia kandungannya lima bulan. Kamu nggak tau? Kehamilan Kania masih retan dan sangat gampang keguguran."
Adrian hanya menghela nafas capai. Rasanya, pusing sekali mendengar ocehan mamahnya. Adrian tahu, kehamilan Kania adalah hal yang paling ditunggu-tunggu oleh kekuarganya, sudah bisa dipastikan, mereka tidak akan mungkin rela untuk kehilangan cucunya.
"Ma, ini bukan salah Adrian kok. Aku yang maksa Adrian buat jalan-jalan."
"Aduh Kania, mamah kan udah bilang. Ngapain sih jalan-jalan segala, kamu juga harus ngerti dong kondisi kamu. Kamu itu nggak sendiri, ada calon penerus keluarga ini di dalam perut kamu, Kania."
"Maafkan aku. Lain kali, aku tidak akan memenuhi permintaannya lagi."
"Mamah ini kenapa? Biarkan saja mereka jalan berdua, bukannya itu lebih baik menjalin kedekatan mereka?"
"Papah nggak ngerti, mereka selalu bersama, tidur di kamar yang sama. Jadi untuk apalagi menjalin kedekatan cuma dengan kekuar nggak jelas kayak gitu?"
Mendengar suara berisik seperti itu, mendadak perut Kania kembali terasa mual. Ia menutup melutnya sambil menahan muntah, bisa merasakan tenggorokanya seperti terisi sangat penuh, meminta ingin segera keluar dari dalam perut. Karena tidak tahan, Kania berlari ke kamar mandi, tidak kuat dan takut harus memuntahkan selurus isi perutnya di depan mama mertuanya itu.
"Tuh, kamu lihat apa yang terjadi, Adrian. Sekarang dia muntah-muntah!"
Adrian lagi-lagi hanya diam, seolah tidak punya alasan untuk membantah.
"Ma, itu hal yang wajar. Namanya juga perempuan hamil kan?" om Alex kebingungan sendiri. Padahak dulu tante Sonia juga pernah mengalamaminya. Bahkan saat mencium aroma makanan saja sudah membuat tante Sonia kelimpungan, muntah-muntah hingga jatuh pingsan.
"Papa diam aja. Seenggaknya kalau Kania di rumah mama bisa menjamin kehamilan dia."
Pada akhirnya om Alex memilih diam. Percuma membantah perkataan tante Sonia yang semakin sengit padanya, dari dulu selalu seperti itu. Mungkin jika bukan om Alex yang menjadi suaminya, laki-laki itu sudah meninggalkannya sejak jauh-jauh hari.
"Kenapa kamu masih di sini, cepat susul istri kamu."
"Baiklah."
Adrian berlalu begitu saja. Sampai di depan kamar mandi, Adrian langsung masuk, melihat Kania yang sudah hampir tumbang. Untung saja Adrian cepat tangkap menaha tubuh Kania agar tidak jatuh. Kania hanya meringis sambil memegang kepalanya.
"Kita ke kamar."
Kania hanya mengangguk, tidak kuat harus membuka mulut. Kania takut semua yang ada di dalam perutnya kembali melompat keluar.
"Bisa jalan?"
Kania hanya menganggu lemah, meski rasanya kaki itu tidak kuat melangkah. Kakinya benar-benar terasa sangat melas, serasa tidak sedang berpijak di atas daratan.
"Tidak usah memaksa kalau memang tidak bisa berjalan." Adria langsung mengangkat tubuh Kania, menerima perlakuan Adrian seperti itu, nafas Kania sempat terhenti beberapa saat. Bisa melihat wajah Adrian sedekat itu, jika boleh meminta Kania ingin merasa lemah seperti ini, agar bisa menerima perlakuan seperti itu, Kania merasa senang berjuta-juta kali lipat.
"Lain kali, jangan memaksaku untuk pulang hingga larut malam. Kamu tidak bisa meliha? Bagaimana mama memarahiku?"
"Hmmm ..., maafin aku, Adrian."
"Setelah ini kamu makan." Adrian menendang pintu kamar, lantas berjalan menuju ranjang, menyimpan tubuh Kania di atas sana.
"Aku nggak lapar, Adrian. Nanti aku muntah lagi."
"Kamu harus tetap makan. Akan kusuapi."
"Suapin?"
Adrian mengangguk sebagai jawaban.
"Beneran?"
"Memangnya aku seperti sedang berbohong?"
Kania tersenyum. Ia akan dengan senang hati mengisi perutnya. Asalkan Adrian benar-benar mau menyuapinya.
"Tunggu di sini."
Kania menganggukan kepalanya. Membiarkan Adrian kembali keluar kamar. Jika seperti ini bisa membuat Adrian mau mendekatinya, Kania rela. Rela merasakan semua rasa tidak enak sepanjang masa kehamilan.
Kania yakin, akan bisa mendapatkan cinta suaminya. Bagi Kania, cinta tidak harus mendesak, menunggu hingga bisa menerima cinta yang sempurna jauh lebih baik. Karena sesuatu yang diperjuangkan tidak gampang untuk dilepaskan. Begitupun dengan Kania, ia akan memperjuangka Adrian, sampai Adrian tidak mau melepaskannya.
Tidak lama setelah itu, Adrian kembali muncul, sambil membawa sepiring nasi dan segelas air putih di atas nakas.
"Sekarang kamu makan, mama sudah sudah buatkan ini untukmu."
"Ini apa?"
"Sayur, katanya bagus untuk calon bayimu. Dulu, saat mama mengandungku, dia sering mengonsumsi makanan ini, itu sebabnya dia bisa melahirkan anak cerdas dan tampan sepertiku."
"Jadi, maksudnya kamu bilang kamu ini cerdas dan ganteng?"
"Tidak, aku bilang aku tampan."
"Sama aja."
"Jadi, mau makan tidak."
"Asal kamu suapin."
"Tadi aku sudah menawarkan, mana mungkin aku mengingkari janjiku. Bagaimapaun, anakku butuh makan dari ibunya, aku menyayanginya."
"Kamu sayang sama anak kita?"
"Tentu Kania, dia darah dagingku, mustahil jika aku tidak menyayangimu."
Kania sangat-sangag senang. Ternyata Adrian menyayangi anak itu. Selama ini Adrian hanya diam, tidak pernah mengungkapkan apa-apa, tapi sekarang, Kania bisa mendengar semua pengakuan Adrian, setidaknya kelahiran anak itu sudah dinantikan ayahnya.
"Sebenarnya aku malas, makan. Tapi, berhubgung ayah dari anak aku pengen anaknya makan, yaudah. Terpaksa aku makan, nanti kalau anaknya nangis, aku bisa diomelin."
Adrian terkekeh pelan saat mendengarnya, Kania sangat lucu. Padahal anak itu masih berbentuk gumoalan darah, dan belum memiliki ujud sama sekali. Jadi, bagaimana mungkin dia bisa menangis?
"Kamu udah siapin nama buat anak kita?"
"Belum."
"Kenapa? Katanya kamu sayang dia."
"Karena aku menyayanginya. Aku akan merancang nama selama sembilan bulan untuknya."
"Makasih, ya."
"Tidak usah berterimakasih, dia anakku juga."
Kania mengangguk mengerti. Malam ini, Kania akan meminta satu hal pada Adrian dan dia harus mau mengikutinya.
***
Paginya, Adrian sudah lebih dulu bangun. Sementara Kania masih tidur di atas ranjang. Karena pulang hingga malam, tubuh Kania menjadi demam. Ditambah dengan kondisi hamil muda seperti itu. Tadi malam, Kania sempat merasakan sakit dibagian perutnya, untung saja rasa sakit itu masih bisa ditahan, sehingga tidak perlu membangunkan Adrian yang juga tampak kelelehan.
Saat Adrian keluar dari kamar mandi, mata Kania terbuka. Melihat ke arah jendela yang sudah memancarkan sinar matahari pagi.
"Adrian, kamu udah bangun?"
Kania langsung mengubah posisinya menjadi duduk, ingin segera turun dari ranjang, merasa bersalah karena tidak sempat menyiapkan keperluan Adrian.
"Tidak apa-apa. Kamu istirahat saja."
Kania diam, hanya memperhatikan gerak-gerik Adrian.
"Tadi, ketika pukul dua dini hari, suhu tubuhmu sangat panas. Aku pikir kalau panasmu tidak turun, kamu akan dibawa kerumah sakit"
"Kamu cemasin aku?"
"Menurutmu?"
"Hmmm..."
"Yasudah, aku harus berangkat. Kalau butuh apa-apa, kamu bisa panggil mama atau bibik. Atau, kamu bisa menghubungiku."
"Boleh?"
"Tentu."
"Kamu hati-hati, ya."
Adrian hanya mengangguk, kantas berlalu begitu saja.
"Adrian,"
Langkah Adrian terhenti di depan pintu. Kembali menengok ke belakang.
"Ada apa?"
"Kalau aku cium tangan kamu, boleh?"
Adrian tamoak ragu, memikirkan permintaan Kania.
"Kalau kamu ngga mau, nggak apa-apa. Aku nggak maksa, tapi suatu saat aku yakin. Aku bisa cium tangan kamu."
"Tidak masalah." kata Adrian pada akhirnya. Adrian kembali berjakan mendekati ranjang. Saat Adrian sudah dekat, lantas Kania mengambil tangan Adrian, untuk dicium. Akhirnya impiannya selama ini sudah terujud. Berkat anak yang dia kandung, mendatangkan kebahagiaan bagi siapapun, termasuk dirinya yang bisa mendapatkan perhatian Adrian.
"Kalau begitu, aku pergi."
"Kamu hati-hati ya."
Adrian hanya membalas dengan senyuman tipis, kemudia kembali pergi. Adrian tidak tahu apa yang terjadi sekarang. Mungkin akan memberikan Kania kebahagiaan meski tidak bosa memberinya cinta. Seridaknya perlakuan manis sudah bisa membebaskan Kania dari kesedihannya. Adrian berjanji, akan memperlakukan dia dengan baik, meski tidak bisa menyerahkan hatinya pada Kania.
***
Bersambung