***
Kania baru saja turun dari atas mobil. Sekarang tengah berada di kantor Adrian. Kania mendesah, rasa rindu yang tidak bisa ditahan malah semakin membuatnya kewalahan. Kadang, Kania kesal sendiri dengan tingkahnya sekarang, tidak bisa mengontrol diri dan selalu membuat Adrian kesal. Kali ini, Kania akan membuat ide gila, ingin mengajak Adrian jalan bersama, jika suaminya itu menolak, Kania akan mengancamnya dengan cara ingin melomoat dari gedung perusahaan suaminya itu.
Sekarang, Kania sudah berada di dalam lift yang akan membawanya ke lantai dua puluh satu. Berkali-kali Kania berdecak sambil melihat angka yang masih menuncukan nomor empat belas. Itu artinya akan ada tujuh lantai lagi yang harus ia lewati.
"Sabar ya sayang, sebentar lagi kita ketemu papa." Kania cekikikan sendiri sambil memegang perutnya. Untung saja hanya dia yang ada di dalam lift itu, sehingga tidak menimbulkan rasa malu yang akan berdampak pada Adrian. Orang-orang yang bisa saja menganggap bahwa Adrian memiliki istri yang tidak waras.
Tidak lama setelah itu, Kania akhirnya sampai di lantai dua puluh satu. Perempuan itu tersenyum lega, lantas melangkah dengan hati berseri-seri menuju ruangan Adrian.
Saat sampai di depan ruangan Adrian, langkah Kania terhenti saat Adrian keluar dari ruanganya. Kening Adrian berkerut bingung saat mendapati sosok Kania yang tiba-tiba muncul.
"Kania, kenapa kamu bisa ada di tempat ini?"
"Aku pengen ngajak kamu jalan, Adrian."
Adrian berdecak. Padahal hari ini ada masalah yang sedang terjadi pada perusahaannya, keuangannya sangat menurun dan butuh suntikan dana dari perusahaan lain. Adrian tahu, ini terjadi semua karena kelalaiannya. Karena ketidak seriusannya yang kini nyaris membuat perusahaannya hancur. Bahkan, banyak client besar yang mendadak menghentikan kerja sama karena menganggap semua prodak yang Adrian persentasikan sudah pasaran, di tambah sedikitnya hasil persen pembagian. Mereka juga tidak yakin dengan kinerja Adrian yang dikenal tidak profesional sejak kematian istri pertamanya.
"Aku tidak bisa, Kania. Aku sedang banyak urusan!"
"Yaudah, aku nggak mau pergi dari sini."
"Kania, jangan membantahku, nanti kalau terjadi apa-apa dengan kandunganmu, aku yang akan disalahkan."
"Ya justru itu, kalau kamu nggak mau aku kenapa-napa, kamu harus penuhin permintaan aku dulu."
Adrian memicingkan matanya, berusaha membungkus emosinya.
"Baik. Sekarang, kamu masuk ke ruanganku, tunggu aku di sana sampai aku kembali."
"Tapi, awas ya kalau kamu boong. Kalau kamu nggak balik, aku bakal loncat dari gedung perusahaan kamu ini."
"Memangnya kamu berani, kalau kamu memang ingin melakukan itu, silakan. Aku tidak akan melarang, tapi kamu tidak akan pernah bisa merasakan pergi bersamaku."
Kania menelan ludahnya yang mendadak terasa seperti besa padat. Ancamannya pada Adrian tidak mempan. Sepertinya Adrian memang bisa tahu dan bisa membaca bagaimana jalan pikirannya, akan ancaman yang hanya main-main saja.
"Kamu nggak percaya?"
"Buat apa aku percaya, kalau kamu memang tidak berani melakukannya."
"Oke, kamu mau liat?"
"Boleh. Mari aku antar. Mau loncat dari mana? Jendela? Atau dari atas?" Adrian bertanya santai. Kania masuk ke dalam ruangan Adrian dan berjalan menuju jendela. Berdiri dari atas balkon dan mengintip ke bawah. Kania bergedik ngeri, matanya hanya bisa melihat kendaraan yang sudah berjakan sepetri semut, apalagi angin kencang yang dia rasakan. Kalau dia benar-benar melakukanya, sama saja dengan terjun bebas dan melakukan aksi konyol.
"Kenapa belum loncat? Ayo, aku ingin melihatnya," kata Adrian santai. Kedua tangannya sudah di kipat di atas d**a, memasang wajah datat yang tidak menunjukan kekhawatiran apa-apa.
"Mmm..." Kania kelimpungan sendiri, ternyata benar. Adrian tidak akan parnah mempan karena ancaman pasaran seperti itu.
"Kenapa?"
"Yaa, berhubung aku lagi hamil anak kamu, ya nggak mungkin aku ajak dia mati konyol. Nanti kamu jadi duda lagi dong, terus nggak bisa ketemu sama anaknya. Aku nggak mau kamu jadi gila kalau aku mati."
Adrian tertawa jenaka. Perempuan konyol itu memang tidak akan pernah berani menghabisi nyawanya. Apalagi melakukan perocobaan bunuh diri seperti itu, seperti di senetron-sinetron yang hanya menggunakan efect tambahan.
"Sudah kuduga." Adrian berlalu begitu saja, meninggalkan Kania yang cemberut menahan kesal. Kania sampai menghentak-hentakan kakinya dan memaki Adrian dengan mulutnya yang jelek. Membuat Adrian akhirnya tertawa dalam perjalanannya. Pekikan perempuan itu terdengar sangat menggelikan di telinga Adrian.
***
"Kamu lihat, Adrian. Gara-gara kamu semuanya jadi kacau. Perusahaan ini sudah mau bangkrut, ini akibat kamu yang tidak mau serius, dan sekarang kita harus memberhentikan karyawan secara besar-besaran. Terpaksa, para karyawan magang harus segera berhenti."
"Maafkan aku, aku berjanji akan menebus semuanya."
"Dengan cara apa? Sementara beberapa dewan dereksi dari perusahaan lain sudah merasa kecewa, dan mereka tidak mau lagi bekerja sama dengan kita."
"Aku bisa mencari yang lain, papa tidak usah khawatir."
Om Alex membuang napas kasar, Adrian selalu menganggap semua masalah remeh, dan sekarang bisa-bisanya Adrian acuh tak acuh. Apalagi, kekecewaan om Alex seolah tiada nilai baginya.
"Kalau dalam waktu satu bulan keuangan kita tidak kembali normal. Papah pastikan, perusahaan ini akan tutup."
"Aku tidak akan membiarkan itu. Papa bisa memegang ucapanku. Aku akan mengembalikan keadaan seperti semula."
Om Alex tampak mengaggukan kepalanya, menerima janji anak laki-laki.
"Kania sedang menungguku, aku harus segera kembali."
"Silakan."
Akhirnya Adrina pergi dari ruangan papahnya. Ia berjanji akan mencari jalan keluarnya, memperbaiki kesalahan yang sudah dia lakukan. Jika saja dulu ia tidak sering memecat karyawan mungkin semuanya tidak akan seperti ini.
"Kamu lama," Kania memorotkan bibirnya manja. Berharap Adrian mau meminta maaf.
"Sudah kubilang, aku ada urusan."
"Ya tapi nggak lama-lama juga kan?"
"Kalau memang kamu tidak sabar menunggu, kenapa harus datang ke sini?"
"Sekali kek kamu minta maaf sama aku. Meski kamu nggak cinta sama aku tapi seenggaknya kamu perduliin aku, karena aku lagi ngandung anak kamu."
"Ck, oke. Baiklah, maafkan aku."
"Ada syaratnya." Kening Adrian berkerut saat me dengat pernyataan selanjutnya. Kania mulai berani mempermainkannya, karena Adrian mau bersikap baik dan itu adalah kesempatannya. Jauh di dalam hati Adrian dia merasa sangat muak. Tapi, karena Kania sedang mengandung darah dagingnya, mungkin Adrian akan sedikit mau memperhatikannya. Hanya karena ada anak itu, bukan karena Adrian mau mendekati Kania apalagi melupakan istrinya dulu.
"Apa?"
"Aku mau kamu pegang anak kita."
"Maksud kamu?"
"Yaa kamu pegang dia, bilang kalau kamu nggak bakal bikin mamanya nunggu lagi sampai kesel kayak gini."
Adrian menghela nafas, lalu berlutut tepat di depan perut Kania. Tangan Adrian bergetar, ini pertama kalinya Adrian berlaku seperti ini.
"Ayoo,"
"Maafkan papa, papah sudah membuat mamamu kesal dan menunggu lama," tangan Adrian sudah ditetakkan di atas perut Kania. Lalu mengelusnya dengan pelan. Rasanya masih seperti mimpi, ada anak di dalam perut Kania, dan itu terjadi karena perbuatannya.
"Yudah, aku maafin papa. Tapi, jangan ulangin lagi ya pa," jawab Kania sambil mengecilan suaranya seperi anak kecil. Lantas setelah itu Adrian berdiri, tidak ingin berlama-lama dalam posisi seperti itu.
"Sekarang, aku mau kita jalan-jalan."
"Kemana?"
"Nggak tau, kemana aja. Selama ini kan kamu nggak pernah ngajak aku kemana-mana."
"Kamu yang mengajakku, sekarang kamu juga kebingungan ingin kemana. Apa maumu?"
"Aku mau kamu ngajak aku ke tempat yang Nabila suka," kata Kania pada akhirnya.
"Buat apa?" terlihat roman ketidak sukaan yang mencuat dari ekspresi Adrian. Kania mengangkat kedua bahunya.
"Yaa, anggap aja aku lagi nemenin kamu buat ngelepas rindu kamu sama Nabila. Anggap aja aku itu Nabila."
"Aku rasa kamu sudah gila, Kania." Adrian menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.
"Tidak ada satupun yang bisa menggantikan dia. Apalagi menganggapmu sebagai Nabila. Kamu juga tidak perlu bersusah-susah menjadi orang lain agar aku menyukaimu."
"Tapi, aku nggak punya pilihan lain, Adrian. Cuma itu satu-satunya cara supaya kamu bisa cintain aku. Sebentar lagi kita mau punya anak, tapi sejauh ini kamu nggak pernah mau berubah."
"Tapi, sampai kapanpun aku tidak akan bisa, Kania. Kalau tujuanmu kemari memancing keributan, silakan kamu pergi."
"Tuh, kan. Kamu ngusir aku." Kania tidak sungkan untuk menangis, air matanya bisa dengan mudah keluar. Apalagi sudah kesal sejak tadi menunggu lama, dan sekarang Adrian malah mengusir seenaknya.
"Baiklah, berhenti menangis di depanku. Jika kamu memaksa, bakiklah. Aku akan penuhi, tapi ingat jangan sampai kamu menyalahkanku. Jika nanti aku larut menceritakannya."
Kania sudah menerima konsekuensinya, jadi dia tidak akan mungkin menyalahkan Adrian atas permintaan konyolnya itu. Kania hanya ingin tahu, sebesar apa Adrian mencintai Nabila. Dari sana, Kania akan belajar, mencintai Adrian seperti Adrian mencitai mendiang istrinya dengan sangat tulus.
"Sekarang, ikut aku."
Adrian berjalan lebih dulu, tanpa mau mengajak Kania berjalan berdampingan. Saat di dalam liftpun, Adrian tetap tidak mau bicara. Lelaki itu selalu pelit untuk berkomunukasi, selalu Kania yang memulainya lebih dulu. Jika Kania diam, maka Adrian tidak akan nengajaknya bicara lebih dulu.
***
Kania dan Adrian masuk ke dalam sebuah panti asuhan, di sana dulu Nabila sering menghabiskan waktu. Mengajarkan adik-adik panti, dan selalu membawakannya makanan. Tempat yang sama seperti selama ini Kania tumbuh besar. Kania tidak menyangka dulunya Nabila sering ketempat ini, memberikan perhatian kepada anak-anak panti asuhan yang kekurangan kasih sayang dari kedua orang tua. Bahkan ada dari mereka yang sudah dibuang sejak bayi merah, hanya dititpkan dengan selembar surat untuk dijaga. Pantas saja Adrian begitu mencintai Nabila. Kasih sayang Nabila kepada mereka selalu membuat Adria terkagum-kagum.
"Di sini Nabila sering meghabiskan waktu."
"Dulu, sejak kecil aku juga tinggal di tempat ini."
"Ya, aku sudah tau hal itu dari nenek."
"Apa aja yang Nabila lakuin di sini,"
"Banyak. Bahkan saat kematian Nabila mereka sangat bersedih. Mereka menganggap Nabila bukan sebaga sosok kakak, tapi ibu."
Kania mengangguk mendengarnya.
"Aku dan Nabila pernah berjanji, untuk membuat panti asuhan yang lebih besar, lalu mengumpulkan semua anak jalanan yang terlantar, untuk disekolahkan dan dididik secara layak. Tapi, harapan itu sirna saat Nabila sudah pergi."
"Kenapa kamu nggak wujutin mimpi Nabila?"
"Aku tidak bersemangat, percuma. Tidak ada dia di sini."
"Tapi seenggaknya kamu tetap mejuwujudkan keinginan dia, dia pasti bisa ngeliat dari atas sana. Suami yang mencintainya bisa mewujudkan mimpinya."
"Kamu tidak akan mengerti, Kania. Bagaimana hancurnya hatiku saat aku harus berpisah dengannya, sementara aku sangat-sangat mencintainya."
"Apa kamu tau gimana hancurnya hati aku? Aku mencintai suamiku yang masih mencintai almarhum istrinya. Aku nggak minta kamu buat ngebunuh cinta kamu buat Nabila, tapi seenggaknya kamu mau mencintai aku sedikit aja, nggak perlu sebesar kamu mencintai Nabila."
Mendengar itu, Adrian ridak merespon apa-apa.
"Di dunia ini nggak ada yang abadi, Adrian. Semuanya bakal pergi. Bisa jadi kamu pergi ninggalin aku dan menyusul Nabila, atau aku yang pergi ninggalin kamu. Hidup harus terus berlanjut, aku tau nggak mudah buat kamu laluin itu. Kalau Nabila tau, dia pasti akan sedih ngeliat kamu kayak gini."
"Ya, aku mengerti itu. Tapi aku tidak bisa."
"Karena kamu nggak mau bersungguh-sungguh. Kamu selalu hidup dalam bayangan masa lalu kamu, sampai kamu lupa, di luar sana banyak kebahagiaan yang harus kamu kejar. Semua yang dilakuin tanpa usaha nggak akan pernah berhasil. Tanya sama hati kecil kamu, apa kamu mau selamanya sampai kamu tua bakal kayak gini?" tanya Kania sambil menatap Adrian.
"Apa kamu pernah tanya, seberapa besar luka yang pernah aku alami? Yang pertama, aku kehilangan ayah aku sebelum aku dikasih kesempatan untuk lahir dan ketemu dia, yang kedua, aku tumbuh di dalam kekuarga yang gak utuh, hidup pontang-panting sampai pernah ngalamin nggak makan berhari-hari, ketiga, aku kehilagan ibu aku yang saat itu aku pikir ibu cuma pergi bekerja ke kota sebentar, dan setelah itu apa kamu tau kesedihan yang aku alamin saat aku berada di panti asuhan" air mata Kania sudah tumbah pmeruah saat mengingat kejadian paling menyakitkan itu.
"Satu persatu teman-temanku diadopsi sama orang tua yang sangat baik, aku nggak pernah tau kenapa mereka nggak pernah mau buat adopsi aku, kamu nggak tau seberapa besarnya luka seorang gadis kecil yang hidup tanpa orang tuanya. Kamu nggak pernah mengalami itu Adrian. Kehilangan istri atau suami, kita masih bisa dapetin penggantinya, sementara orang tua? Nggak ada Adrian. Coba kamu bayangin, apa kamu siap kehilangan mereka?"
Selama beberapa menit Adrian hanya bisa diam, mencerna setiap ucapan yang tercetus dari mulut Kania.
"Sampai aku bermimpi bisa dikasih keuarga yang utuh, lalu Allah mengirim nek Ami. Dan ngebawa aku ke sini, jadi istri kamu. Saat itu aku bahagia banget, aku berharap bakal hidup dipenuhui cinta. Tapi, semua angan-angan itu lenyap saat aku tau kenyataannya, aku menikah dengan laki-laki yang nggak mencintai aku. Apa kamu bisa mengukur gimana luka aku, kalau kamu mengaku paling terkuka saat kehilangan Nabila. Bandingkan, lebih meyedihkan mana kita?"
Tidak bisa dipungkiri, kedua mata Adrian ikut memanas, menjatuhkan butiran bening bernama air mata. d**a Adrian terasa ditohok sangat kuat, menimbulkan rasa pengap yang teramat.
"Aku cuma minta sedikit, aja kamu mau mencintai aku, Adrian. Ngasih aku sedikit kebahagiaan."
"Maafkan aku jika perlakuanku membuatmu terluka. Kamu tidak pernah tau seberapa besar usahaku untuk berusaha menerimamu. Tapi, aku selalu gagal."
"Maaf, aku jadi nuntut kamu. Nggak masalah kalau kamu nggak cinta aku, tapi awas aja kamu jatuh cinta sama aku kalau aku nggak ada lagi, kamu yang rugi nggak bisa bilang lagi sama aku." Kania tertawa, meski terdengar dipaksakan. Adrian tidak lagi menjawab apa-apa selain memberikan senyuam tipis.
***
Bersambung