***
Kania menyentuh perutnya yang masih datar. Pernyataan dokter barusan benar-benar membuatnya sangat bahagia, sebentar lagi ia akan melahirkan keturunan suaminya, seorang bayi yang sudah dinanti-nanti kehadirannya.
Sementara Adrian tidak bereaksi apa-apa, Kania bisa melihat kalau sama sekali Adrian tidak berminat mendengar kabar bahagia itu. Tapi, tidak apa-apa, Kania akan menjaga kandungannya dengan sangat baik, sampai bayi itu bertemu dengan ayahnya.
"Terimakasih, dok." hanya itu yang Adrian ucapkan, lantas laki-laki itu itu berdiri lalu meninggalkan Kania begitu saja. Tidak seperti suami yang lainnya, yang akan bersikap hipotesis lalu memeluk istrinya berkali-kali. Bahkan dokterpun dibuat bingung karena tindakan Adrian, ia hanya memperhatikan Kania dengan pandangan bingung. Bisa menangkap bahwa sedang terjadi masalah di dalam hubungan mereka.
"Makasih, dok." Kania mengambil resep yang dokter berikan kemudian ikut menyusuk Adrian yang lebih dulu meninggalkannya.
"Sama-sama," Dokter itu hanya mengangguk sambil tersenyum ramah, mempersilakan pasiennya pergi.
"Adrian," Kania kini berjalan setengah berlari mendekati Adrian. Tatapan pria itu kosong, tidak bisa mendefenisikan bagaimana perasannya saat ini. Harusnya dia senang, sebentar lagi akan memiliki seorang anak. Tapi, Adrian sama sekali tidak merasakan kebahagiaan apa-apa, berkali-kali Adria memaksakan hatinya untuk jatuh cinta kepada Kania, setiap malam Adrian memperhatikan wajah Kania yang memesona itu, tapi tetap saja Adrian tidak merasakan apa-apa. Ingin sekali mempersilakan Kania tidur di sampingnya, tapi lidahnya terasa kelu untuk memanggil. Adrian benar-benar sudah dibuat pusing dengan masalah ini, dan sekarang ada anak yang sedang tumbuh di rahim perempuan itu, anak yang dihadirkan bukan karena cinta kehadirannya hanya atas sebuah kesalahan dan paksaan dari semua orang, lalu apakah Adrian mampu menerima bayi itu.
"Kamu marah?"
Adrian mengentikan kangkahnya, sementara Kania sudah lebih dulu berdiri tegap dibelakangnya.
"Tidak,"
"Terus kenapa?"
"Aku hanya terkejut, maafkan aku jika aku belum bisa menerima bayi itu."
"Sampai kapan?"
"Entahlah,"
Kania semakin dibuat cengeng dan gampang menangis, bagaimana tidak, seperti yang orang-orang katakan, hati seorang ibu hamil jauh lebih peka dan akan lebih lembut, ia akan gampang menangis bila terkuka.
Kania sendiri hanya seorang gadis biasa yang berpura-pura terlihat tegar hanya demi menanti cinta dari suaminya sendiri, sekarang ia harus mengandung anak laki-laki yang sama sekali tidak mencintainya. Jika Kania punya pilihan, ia rela menukar nyawanya dengan Nabila agar Adrian bisa bahagia. Tidak terus menerus tertekan karena harus memaksakan hidup bersamanya.
"Tapi kamu tidak usah khawatir. Apapun yang kamu butuhkan akan kupenuhi, sebagai tanda bahwa aku adalah ayah dari bayi itu."
"Apa kamu akan tetap kayak gini, Adrian. Aku mohon, tolong cintai aku. Aku janji, akan selalu jadi istri yang baik buat kamu."
"Aku sudah mencoba Kania, tapi aku tidak bisa. Maafkan aku, kamu boleh menganggapku sebagai pria b******n, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku tidak bisa mencintaimu."
"Apa selamanya akan kayak gitu? Sampai anak ini lahir dan besar?" bibir Kania sudah bergetar, air matanya sudah mengalir, hatinya ikut mencelos sakit karena perkataan Adrian, salahkan Kania meminta cinta dari Adrian?
"Aku tidak tahu, yang jelas, sekarang aku masih belum bisa mencintamu."
Kania hanya mengangguk paham, berusaha tertawa dibalik air mata kesedihan. Kania merasa sangat-sangat bodoh.
"Sudahlah, kita harus segera pulang. Kamu harus segera beristirahat."
"Kenapa kamu selalu menghindar Adrian, kenapa kamu nggak sedikit aja bilang 'ya' untuk aku. Kamu cuma bisa bikin aku selalu berhenti berharap," batin Kania menangis, menandakan goresan luka terdalam di hati.
Adrian sudah duduk di kursi kemudi, disusul oleh Kania yang kini memilih diam. Adrianpun sama, tidak mengekuarkan sepatah kata apapun, keduanya sama-sama bisu, dihanyutkan dalam histerical kesunyian. Padahal, Kania sangat ingin Adrian menyentuh perutnya, mengajak anak yang ada di dalam itu bercerita. Tapi, nyatanya kenyataan itu sudah pupus, hancur berkeping-keping seperti hatinya.
***
"Jadi, kamu benar-benar hamil, Kania? Kamu mengandung cucu mama?" Tante Sonia tidak bisa menyembunyikan roman bahagianya, lantas membawa tubuh Kania ke dalam pelukannya. Rasa sayangnya kepada Kania semakin besar, apalagi menantunya itu akan segera memberikannya seorang cucu. Kania yang diperlakukan seperti itu hanya tersenyum, ikut senang bisa membahagiakan mertuanya.
"Pokoknya, kamu harus nurut aka kata mama. Mama nggak mau terjadi apa-apa sama calon cucu mama."
Kania hanya menganggukan kepalanya sebagai respons. Ia akan dengan senang hati menerima perlakuan baik dari mertuanya. Kania ingat keinginan almarhum nek Ami yang menginginkan seorang cicit. Andai saja perempuan itu masih hidup, mungkin akan ikut bahagia dengan kabar yang ada sekarang.
"Adrian, kamu harus dengar mama baik-baik. Kamu harus jaga Kania, apalagi dia lagi mengandung anak kamu. Ingat, jangan sampai hal buruk terjadi sama Kania, kalau kamu sampai melakukan hal yang bahayain Kania dan calon anaknya, mama nggak akan pernah maafin kamu lagi," kata tante Sonia meningatkan. Ia tidak akan main-main. Karena ini menyangkut menantu dan cucunya.
"Mama tidak usah khawatir, aku akan menjaganya."
Tante Sonia mengangguk, menerima jawaban Adrian.
"Oh iya, Kania. Mama, punya sesuatu buat kamu."
"Sesuatu?"
Tante Sonia mengangguka kepalanya sambil tersenyum.
"Apa?"
"Tunggu sebentar." Tante Sobia berdiri, lalu melangkah pergi meninggalkan Adrian dan juga Kania yang sedang duduk di atas sofa. Sepasang suami-istri itu hanya saling bersiradu pandang, sama-sama bingung dengan tante Sonia.
Tidak lama kemudian tante Sonia kembali. Sambil membawa kotak hitam yang terlihat sudah berumur tua. Kening Kania berkerut melihatnya.
"Kamu lihat ini." Tante Sonia kembali duduk di samping Kania, sambil memamerkan kotak yang dia bawa.
"Ini apa, ma?"
Tante Sonia membuka benda itu, lalu memperlihatkana sebuah kalung perak yang ada di dalamnya. Kalung yang menjadi turun temurun di sepanjang silsilah keluarga mereka.
"Ini adalah kalung pemberian dari ibu mama. Dulu, dia juga mendapatkan ini dari mertuanya. Kalung ini akan diberikan kepana anak pertama atau istri anak pertama. Dulu, saat pertama kali mama mengandung Adrian, ibu mama memberikan ini pada mama, dan sekarang ini akan menjadi milik kamu."
Antara senang dan tidak enak. Itu adalah benda yang sangat berharga bagi Kania. Rasanya ia merasa tidak pantas diberikan hadiah itu.
"Tapi ini pasti berharga banget, ma. Aku ngerasa nggak pantes nerima ini ma?"
"Loh kenapa? Memang harusnya kayak gitu Kania, nanti juga kamu akan ngasih ini ke anak kamu."
Kania hanya memandang benda itu bingung.
"Mama pakaiin ya."
"Makasih, ya ma."
Tante Sonia mengangguk, lalu memakaikan kakung itu di leher Kania. Tante Sonia sangat senang saat kalung itu akhirnya mengantung di leher Kania.
"Kania tamabh cantik ya, Adrian." tante Sonia melirik Adrian. Kedua Alis Adrian terangkat, lalu hanya melempar senyum tipis, bahkan nyaris tidak terlihat.
***
"Kamu bisa tidur di atas tepat tidur, karena sekarang kondisi kamu sedang mengandung, jadi akan gampang jatuh sakit."
"Kamu ngijinin aku tidur di sini?"
"Ya, biar aku yang tidur di atas sofa."
"Tapi, aku pengen tidur di samping kamu. Anggap aja kalau bayi ini pengen dekat sama ayahnya."
Adrian mendesah, "sudahlah, Kania. Tidur saja."
Kania akhirnya menunduk, dia tahu penolakan Adrian. Lagi-lagi air mata Kania jatuh bertetesan, lebih gampang menangis. Adrian bisa mendengar isakan belan di balik bibir Kania. Adrian sadar, sepertinya ia perlu intropeksi diri.
"Yaudah..," akhirnya Kania memilih berbaring sambil membelakangi Adrian. Ia meremas sprai kasur dengan kuat, berusaha menahan tangis agar tidak terdengar.
Beberapa detik berlalu, Kania bisa mendengar ranjang melesak, merasakan Adrian bisa naik ke atas tempat tidur.
"Aku sudah tidur di sampingmu. Sudahlah, berhenti menangis. Ini sudah malam."
Kania masih terisak, meski Adrian sudah ada di sampingnya, tetap saja Kania masih merasa sedih.
"Apa kamu akan terus membelakangiku seperti ini? Memperlihatkan punggung jelekmu itu."
Kania menghapus jejak air matanya, tapi masih belum mengubah posisinya.
"Kalau kamu tidak mau mengubah posisimu, aku akan pergi dari sini."
Adrian beranjak, tapi Kania langsung memegang tangannya.
"Jangan pergi."
Akhirnya Adrian kembaki tidur. Keduanya sama-sama menatap langit-langit kamar.
"Adrian,"
"Hmm..."
"Kamu mau cerita nggak sama aku?"
"Cerita apa?" Adrian melirik ke samping, bertepatan dengan Kania.
"Cerita tentang Nabila, kenapa kamu bisa cinta banget sama dia."
"Kamu benar-benar ingin mendengarnya?"
Kania hanya mengangguk. Setidaknya ia punya alasan untu bisa berkomuniksi dengan Adrian, meski itu nanti akan melukai hatinya.
"Baiklah."
Adrian mengubah posisinya menjadi setengah duduk. Mengingat kembali sosok Nabila yang begitu dia cintai. Nabila berbeda dengan wanita lain. Tidak pernah menuntut hal apa-apa dengan Adrian.
Saat itu, Adrian ingin menyatakan cinta pada Nabila. Sosok perempuan cerdas yang sangat ia kagumi. Perempuan pecinta bunga mawar merah.
Saat itu, Adrian sedang berusaha menyatakan perasaan. Perempuan yang selalu diam dan tidak mau bicara apalagi berdekatan dengan laki-laki manapun.
"Hai...,"
Agar tudak kikuk, Adrian mengambil buku yang ada di samping Nabila. Suasana perpustakaan yang sudah sepi dan itu semua adalah ulah Adrian dan temannya. Sengaja menciptakan suasana seperti itu agar lebih gampang mendekati perempuan berkulit putih itu.
Nabila hanya meliriknya sekilas, lantas kembali fokus kepada buku yang entah apa jenisnya yang Adrian tidak pernah tau.
"Kamu baca buku apa?"
"Fisika."
"Suka banget ngapalin rumus."
"Emang kenapa? Dari pada baca buku yang nggak jelas."
"Aku baru kali ini denger kamu ngomong sembilan patah kata." Adrian menyeringai sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Nabila melotot saat mendengar pernyataan konyol Adrian. Dia saja tidak pernah seperduli itu dengan jumblah kata yang dia ucapkan.
"Langsung aja deh ya. Aku nggak suka basa-basi. Kamu mau nggak jadi pacar aku? Aku udah lama suka sama kamu."
"Apa?" Nabila cukup kaget dengan ucapan Adrian yang tiba-tiba menyatakan cinta.
"Kamu mau kan?"
"Hafalin ini, setelah kamu hafal. Kamu bisa temuin aku."
Adrian menatap buku tebal yang Naila berikan, buku dengan cover menunjukan angka-angka.
"Loh, kok ngasih buku? Jawabannya apa."
"Nanti, saat kamu hafal semua isi buku itu."
Adrian menepuk kepalanya, benarkah Nabila menyuruhnya seperti itu?
Adrian tertawa menceritakannya pada Kania. Baginya Nabila sangat lucu.
"Terus, kamu hafal?"
Adrian menggeleng.
"Tidak, aku gagal menghafalnya. Dan pada akhirnya aku ditolak. Tapi, aku nggak pernah mau menyerah. Sampai akhirnya aku bisa mendapatkan hatinya."
Kania berusaha terseyum, meski rasanya sangat ingin menangis.
"Dan kamu tau?"
"Hmmm?"
"Saat Nabila menerima lamaranku dia tidak ingin pesta pernikahan. Baginya, menikah denganku sudah cukup."
"Kalau boleh tau, Nabila meninggal karena apa?"
"Dia, jatuh dari kamat mandi. Tepat saat pertama aku masuk ke kantor. Aku tidak menyangka kalau kejadian itu bisa membuatku kehilangannya untuk selamanya."
"Kalau misalnya itu juga terjadi sama aku, apa kamu akan sedih juga? Yaa meski kamu nggak cinta sama aku."
"Kenapa kamu bicara seperti itu?"
"Nggak apa-apa, aku cuma mau tau. Kamu sedih nggak kehilangan aku, kamu bisa hampir gila nggak kehilangan aku,"
"Tidak usah berbicara yang aneh. Aku sudah mengantuk. Lebih baik tidur."
Dari jawaban Adrian, Kania sudah bisa menyimpulkan. Kalau Adrian tidak akan mungkin bersedih jika ia hilang dari hidupnya.
***
Bersambung