***
Tante Sonia berkali-kali jatuh pingsan, tidak bisa menerima kenyataan bahwa ibunya sudah meninggal. Apalagi yang menyebabkan ibunya meninggal adalah anaknya sendiri. Orang yang akan ia temui setiap harinya.
Tante Sonia tidak bisa membayangkan bagaimaba ia akan bersikap kepada Adrian, masih sudi menganggapnya anak, atau justru malah mengusirnya jauh-jauh.
"Ini salah kamu, Adrian. Kalau kamu mau menerima Kania dan penuhi permintaan nenek kamu, nenek kamu nggak akan meninggal, sekarang kamu puas? Iya, kamu sudah puas ha."
Tante Sonia mengamuk sambil menunjuk wajah Adrian. Adrian hanya bisa menundukan kepalanya, menyadari atas semua kesalahan yang sudah dia perbuat, bahkan saat ini Adrian tidak bisa membantah apa-apa, ia cukup merasa bersalah atas semua tindakan bodohnya itu.
"Apa yang ada di benak kamu, yang kamu pikirkan cuma Nabila, Nabila dan Nabila. Apa yang kamu inginkan? Atau jangan-jangan kamu juga pengen mamamu ini mati."
Wajah tante Sonia sudah memerah, sementara air matanya terus membanjiri pipinya dengan deras. Seperti digigit ular yang berbisa, tante Sonia nyaris ingin mati saat tahu semua kebenarannya.
"Setelah kamu puas menghabisi nyawa nenek, sekarang kamu bisa puas menceraikan istri kamu kan?"
"Maafkan aku, aku benar-benar tidak berniat. Aku berjanji akan memenuhi amanah nenek, aku tidak akan menceraikannya."
"Percuma! Kamu sudah terlambat, kamu sudah bunuh ibu mama."
"Mah, sudah. Tidak usah terus menyalahkan Adrian. Papah tahu, dia sama sekali tidak bermaksud seperti itu."
"Terus apa maksud dia? Dia pikir dengan meminta maaf bisa mengembalikan ibu? Enggak pah!"
Tante Sonia sudah menggegugut di dalam pelukan om Alex, bahunya ikut naik turun karena tangis yang kini membuatnya sangat perih. Bagaimanapun, tante Sonia tidak akan pernah sanggup menerima kenyaaan kepergian ibunya.
"Pergi kamu Adrian, mama nggak mau kiat wajah kamu!"
Adrian menelan ludahnya dengan susah payah. Makian dari tante Sonia benar-benar membuat Adrian merasa sakit hati. Selama ini, nek Ami tidak pernah berkata kasar seperti itu, dia begitu memanjakan Adrian, karena Adrian seorang cucu laki-laki yang didambakan. Bahkan, Amel sering kali mereasa cemburu karena merasa kasih sayang nek Ami lebih besar untuk Adrian. Masih teringat bagaimana wajah hangat nek Ami yang tersenyum kepadanya, hal itu membuat Adrian semakin merasa bersalah. Merasa dirinya oaling bodoh karena tidak bisa menahan emosi yang bisa menghancurkan segalanya.
Om Alex meberi isyarat kepada Adrian, meturuh anak laki-laki itu untuk keluar, Adrian mengerti dan memenuhi permintaan sang mamah yang kini mungkin sedang kacau.
Saat keluar dari dalam kamar tante Sonia, Adrian dan Kania saking berpapasan, Kania bisa melihat penyesalan terdalam dari wajah Adrian, membuat Kania merasa iba karena Adrian disalahkan akibat kematian nek Ami.
"Adrian."
"Aku ingin sendiri. Jangan mengangguku atau kamu akan tau akibatnya!"
Suara Adrian menusuk di dalam telinga Kania. Ancaman yang membuat Kania tidak bisa berkutik. Kania hanya bisa menyingkir, membiarkan Adrian lewat.
Saat Adrian pergi ke taman belakang rumah, di sana ia bisa melihat Amel yang sedang menangis, kesedihan yang teramat bagi mereka yang sudah berhasil Adrian ciptakan. Adrian benar-benar tidak menyangka kalau semuanya akan seperti ini. Bahkan sampai saat ini, Adrian tidak bisa mendefenisikan bagaimana perasaannya yang sudah kacau balau. Perbuatannya sudah banyak membuat orang bersedih dan menangis.
"Mending, kamu sholat. Aku tau, kamu sedih. Jadi, satu-satunya tempat kita curhat ya sama Allah, dia yang nggak akan bisa ngehianatin kita."
Adrian memandang sajadah yang Kania berikan, menatapnya tanpa minat. Sholat? Untuk apa? Adrian tidak pernah lagi mau melakukannya semenjak keadilan yang tuhan berikan itu sudah hilang. Adrian benci keadaan seperti ini. Tuhan sudah mengambil orang yang sangat dia cintai, lalu disusul dengan kematian nek Ami. Lantas, haruskan dia sholat setelah semua yang terjadi? Adrian berfikir itu terlalu konyol.
"Buat apa?" Adrian tertawa remeh. Memandang benda itu dengan antipati.
"Buat apa? Ya buat kamu nunjukin kalau kamu cuma butuh Allah saat kamu sedih. Adrian, jangan pernah marah atas apa yang udah terjadi. Aku nggak pernah liat kamu sholat."
"Sholat?" Adrian terkekeh seperti orang gila yang kehilangan akal sehatnya.
"Buat apa? Memangnya kalau aku sholat. Tuhan mau mengembalikan istriku dan juga nenekku?"
"Tapi kepergian mereka juga bukan jadi alasan buat kamu ninggalin kewajiban kamu, Adrian."
"Tidak usah mengajarkanku. Pendidikanku lebih tinggi, jadi aku lebih mengerti apa yang pantas aku lakukan."
Terdengar helaan nafas berat dari mulut Kania. Adrian benar-benar keras kepala. Jadi, lebih baik Kania mengalah.
"Yaudah, nggak apa-apa kalau kamu emang nggak mau, aku nggak akan maksa kamu."
Akhirnya Kania memilih pergi masuk ke dalam kamar. Membiarkan Adrian sendiri, berharap laki-laki itu mau berfikir lebih jernih.
Adrian hanya bisa memandang punggung Kania. Ia sadar sudah terikat janji dengan mendiang neneknya. Janji yang harus ditepati untuk tidak menceraikan perempuan itu.
"Hmmm...," Adrian menyandarkan punggungnya di sofa, sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Lingkaran hitam yang melingkar di mata Adrian menandakan kalau dia kurang istirahat, ditambah dengan frustasi yang kini sedang menyerang.
***
Adrian baru saja keluar dari dalam kamar mandi, sudah melihat Kania yang menyiapkan baju untuknya. Semuanya sudah rapi dan juga tercium wangi. Akhir-akhir ini, pilihan Kania sesuai dengan selera Adrian. Jadi, Adrian tidak perlu membuang tenanga untuk terus melempar emosi setiap paginya.
"Bajunya tinggal kamu pakai."
"Terimakasih," Adrian berucap datar. Lantas mengambil baju yang diletakkan di atas tempat tidur. Jas hitam dengan kemeja biru yang sudah selesai disetrika. Ditambah degan dari pilihan Kania yang senada dengan pakaian Adrian.
"Boleh kan aku yang masangin dasi ini, sekali aja."
"Tidak usah, aku bisa sendiri." Adrian menolak, lalu menyingkir.
"Hmmm, oke." Kania kembali meletakkan dasi di atas tempat tidur, sementara Adrian sudah mengenakan kemeja yang disiapkan.
"Wajahmu pucat, kalau sakit tidak usah memaksakan untuk mengurusku."
Rasanya ketika mendengar itu, perut Kania seperti digelitiki dengan geli, membuat kedua ujung bibirnya saling tertarik ke samping, menciptakan lengkungan yang manis.
"Aku nggak apa-apa, kok. Mungkin cuma masuk angin, semalam acnya terlalu dingin."
Kedua alis Adria terangkat, kemudian hanya ber-oh kecil.
Rasanya seperti dikelilingi euforia. Baru kali ini Adrian mau perduli seperti itu, meski terdengar sangat ketus, tapi Kania sangat senang.
"Ini sudah satu bulan kepergian nenek. Nanti aku mau mendatangi pemakamannya. Kamu tidak usah mencariku jika terlambat pulang."
What? Apakah Kania tidak salah dengar? Adrian berbicara padanya dan memberikan informasi, sungguh. Kania benar-benar merasa sangat bahagia. Mendadak rasa tidak enak di dalam dirinya serasa terbang ke atas, Kania benar-benar ingin merasa berteriak saking bahagianya.
"Aku boleh ikut?"
"Tidak usah."
"Tapi aku pengen ke sana."
"Yasudah, datang bersama Amel dan juga mama."
Kania hanya mengangguk, lalu tersenyum manis kepada suaminya itu. Kemudian mereka berdua keluar dari dalam kamar, Adrian berjalan kebih dulu, sementara Kania hanya bisa mengikutinya dari belakang.
Di bawah, tante Sonia, om Alex dan juga Amel sedang sarapan pagi. Amel dibuat senyum-senyum sendiri saat melihat pemandangan langka seperti itu.
"Kayaknya, Kak Adrian dan Kania makin deket deh." kata Amel hiporesis
"Kamu berlebihan." Adrian hanya menjawab singkat.
"Kania, wajahnya pucat sekali, kenapa?" tanya om Alex khawatir. Tante Sonia ikut melirik wajah Kania yang benar-benar terlihat pucat.
"Kamu sakit, sayang?"
"Enggak kok, aku gak apa-apa." Kania menggeleng, ia hanya sedikit merasa pusing. Akibat tidak memakai selimut semalaman, Kania rasanya diserang masuk angin.
"Tapi, wajah kamu pucat loh, Kania. Apalagi, aku liat tadi pas masak kamu sering bolak-balik kamar mandi, muntah terus."
Mata tante Sonia melotot mendengar pernyataan Amel.
"Benar, Kania."
"Iya, mungkin efek masuk angin."
"Masuk angin atau kamu positif hamil?" tanya tante Sonia penasaran. Mendengar itu, Adrian tersedak saat meminum air putih. Adrian terbatuk berkali-kali sebelum benar-benar mencerna ucapan mamahnya. Adrian memang pernah berhubungan dengan Kania, tapi apa bisa secepat itu?
"Ha--hamil?" tanya Kania ragu,
"Adrian, kamu nggak usah datang ke kantor, antar Kania ke dokter kandungan." tante Sonia memutuskan cepat. Kalau Kania benar-benar mengandung cucunya, pasti dia akan sangat bahagia. Itu artinya sudah ada perubahan dalam diri Adrian. Mereka tidak akan mungkin berpisah jika Kania sudah memberikannya seorang anak.
"Apa?" Adrian masih terlalu terkejut, Kania mengandung anaknya?
"Wah, aku mau punya keponakan. Seru tuh." Amel ikut memeragakan tawanya, berharap Kania benat-benar hamil anak kakaknya.
"Benar Adrian, urusan kantor biar papa yang urus."
Aderian masih belum menjawab benaknya sibuk bertanya-tanya, apakah akan mungkin Kania mengandung anaknya?
"Ma, nggak usah. Aku cuma masuk angin."
"Nggak ada salahnya dicoba, Kania. Siapa tau nanti hasilnya positif kan?"
"Tapi, kalau aku nggak benar-benar hamil, aku nggak mau bikin mama kecewa."
"Aduh, Kania. Mama ini cuma penasaran. Kalau hasilnya udah ketauan kan udah, kita nggak penasaran lagi, kamu mau ya?"
Kania melirik Adrian, seolah meminta jawaban pada suaminya. Selang beberapa detik, akhirnya Adrian mengangguk. Memberikan jawaban 'ya'.
"Yaudah, ma. Aku mau."
***
Bersambung