8. Maafkan Aku

1626 Kata
*** Adrian memijit kepalanya yang terasa pening, semua masalah yang ia hadapi tidak pernah berkesudahan. Semenjak perempuan itu masuk ke dalam keluarganya, semuanya jadi berubah. Tidak ada saupun yang bisa memahami kondisinya. Kedua orang tuanya, adik dan neneknya, semuanya seolah berada di pihak Kania, lalu mengasingkan dirinya sendiri, menentang ketentuan yang sedang berlaku. Adrian sudah merasa jengah untuk pulang, apalagi dengan kejadian tadi malam yang sangat menjijikan bagi Adrian. Dirinya benar-benar merasa sangat bodoh. Tidak pantas disebut suami yang setia. Padahal, Adrian sudah berjanji tidak akan melakukan apapun, tidak akan membuat perempuan itu melahirkan keturunanya, tapi nyatanya Adrian sudah salah besar, ia terlalu lengah dari masalah yang ada. "Adrian..." Adrian mengangkat wajahnya ke depan, saat itu juga kedua metanya berhasil menangkap sosok Kania yang muncul sambil menutup knop pintu. Adrian mendesah resah, baru saja berusaha menenangkan diri sendirian di sini, tapi Ka ia malah datang mengacaukan otak ya yang sedang kusut masai. "Apa maumu?" "Aku pikir kamu nggak ada di sini. Aku khawatir, kamu nggak pulang. Akhirnya aku susulin kamu ke sini. Bawain kamu makanan, pasti kamu lapar." Kania duduk di atas sofa yang ada di pojok kanan. Ia bisa melihat bagaimana Kania membuka rantang sambil mehidangkan makanan yang ia maksud. Makanan yang berhasil mebius rongga hidung Adrian yang juga sedang merasa lapar. Tapi, karena makanan itu Kania yang membawakan, Adrian tidak akan perna sudi menyentuhnya. "Kamu makan, ya?" "Aku tidak lapar. Bawa pulang kembali makanan itu, atau kamu bisa membuangnya." Mendengar pernyataan Adrian, Kania hanya menatap nanar hidangan makanan yang ada di atas meja, rasanya sangat sedih. Padahal, Kania sudah bersusuah payah membeli bahannya di pasar bersama Amel, lantas memasaknya sendiri dengan penuh suka cita. "Mana mungkin aku buang, Adrian. Di luar sana banyak yang nggak bisa maka seenak ini. Sementara kamu, malah seenaknya nyuruh aku buang makanan ini." "Yasudah, gampang. Kamu tinggal berikan itu pada mereka." "Aku bikinin ini buat kamu, Adrian. Harusnya kamu mau makan sedikitpun juga nggak masalah." "Memangnya aku pernah memintamu untuk datang ke sini dan membawakanku makanan? Tidak! Jadi jangan mengeluh di depanku. Jangan memaksaku!" "Oke, aku nggak akan paksa kamu. Sekarang, aku cuma pengen di sini. Nemenin kamu sampai kelar kerjanya." Adrian memejamkan matanya, sambil berusaha meredam emosinya. Ia datang ke sini untuk jelas untuk menghindar dari Kania. Tapi, perempuan itu malah semakin mendekat dan membuat Adrian benar-benar merasa sangat muak. "Aku minta sekarang kamu keluar!" "Aku nggak mau Adrian, aku mau di sini." "Kamu benar-benar tuli, tidak bisa menggunakan telingamu dengan baik!" Adrian berdiri dari bangku kebanggaannya, kalu berjelan cepat mendekat ke arah Kania. Adrian menarik lengan Kania dan mencengkramnya dengan kuat sehingga membuat Kania meringis menahan nyeri. "Kubilang keluar!" suara Adrian naik lebih tinggi. Untung ruangan Adrian kedap suara. Jadi tidak akan ada yang bisa mendengarkan suara ribut yang sedang berisik di ruangan Adrian. Kania sudah membuat keputusan, tidak akan mau terlihat lemah di depan Adrian. Suaminya itu sudah terlanjur tahu isi hatinya, jadi Kania akan mulai memberanikan diri untuk memaksa dekat dengan Adrian.. "Baik, jika kamu tidak ingin pergi. Biar aku yang pergi!" Adrian mendorong tubuh ringkih Kania dengan telak, membuat tubuh itu tumbang di atas sofa. Kania hanya bisa memandang kepergian Adrian. Kali ini usahanya boleh gagal. Ia mengertu bagaimana kemarahan Adrian saat itu. Jika tidak ada yang mau berkorban, maka rumah tangga itu tidak akan mungkin bisa berdiri kokoh. Kania akan terus bersikap baik semampunya hingga bisa membuat hati Adrian meluna seiring berjalannya waktu. Kania menyadari kemungkinannya sangat kecil, tapi ia juga tahu, setiap hati seorang laki-laki akan tetap luluh pada akhirnya hanya karena sebuah ketulusan. *** "Aku lihat sendiri nek. Bahkan kak Adrian hampir nampar Kania." Nek Ami hanya bisa mendengarkan laporan dari Amel. Tetap berusaha tenang meski hatinya sedang menahan murka. Nek Ami tidak akan pernah merelakan Adrian menyakiti hati Kania. Karena itu semua akan berdampak pada rasa hutang budinya pada mendiang ibu Kania. Jika dia mengetahui apa yang terjadi dengan anaknya di dunia. Mungkin ia akan menangis, saat melihat anaknya tidak pernah hidup bahagia. Nek Ami tidak tahu harus bagaimana, Adrian benar-benar tidak bisa memenuhui keinginannya. "Kayaknya, kak Adrian emang perlu dikerasin. Kasian Kania, kita janjiin dia buat hidup bahagia, tapi nyatanya kita malah jebak dia dalam kehidupan yang bikin dia menderita." "Ini salah nenek, nenek yang salah. Seharusnya nenek tidak menyerahkan Kania pada Adrian. Nenek pikir, dengan menikah lagi Adrian akan melupakan kesedihannya, tapi yang ada dia justru melakukan dosa besar." Nek Ami mendesah resah. Sudah kehabisan cara untuk merayu Adrian. Jika terus-terusan begini, mungkin nek Ami akan jatuh sakit, akibat perlakuan Adrian yang seenaknya. "Malam ini, kita pulang. Nenek tidak akan biarkan Kania menderita di rumah itu." Nek Ami sudah membuat keputusan. Tidak perduli lagi memberi waktu untuk mereka saling mengenal. Nek Ami sudah salah dalah dalam melangkah, seharus ya ia tidak membiarkan Kania tinggak berdua bersama Adrian. Sudah pasti perempuan itu semakin dibuat tertekan. Amel hanya bisa ikut dengan semua keputusan Nek Ami. Jika mama dan papanya sedang tidak di luar kota, sudah pasti mereka akan ikut turun tangan, memberi pelajaran kepada Adrian. "Tapi, kayaknya aku nggak bisa pulang, nek." "Kenapa?" "Aku harus nemenin Kiara di rumahnya." "Tidak apa-apa, temani temanmu. Nenek bisa pulang sendiri." *** Setelah pukul delapan malam, akhirnya Kania memutuskan untuk pulang, setelah ber jam-jam menunggu, kehadiran Adrian tidak kunjung terlihat. Kania yakin, Adrian sudah lebih dulu pulang, meninggalkan dirinya sendirian. Isi rantang yang masih utuh itu, terpaksa harus kembali dibawa pulang, karena Kania yakin sampai kapanpun memaksa, Adrian juga tidak akan pernah datang. "Ternyata benar, kamu udah pulang duluan." Adrian tidak menjawab apa-apa, bahkan untuk menolehpun Adrian merasa sangat malas. "Hmmm...," Kania masuk ke dalam kamar, lantas duduk di atas sofa sambil menatap Adrian yang duduk di tepian ranjang. "Kita perlu bicara!" "Apa?" "Aku akan menceraikanmu, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku merasa sangat terpaksa ada di dalam situasi seperti ini." "Apa keinginan kamu untuk bercerai sekuat itu?" "Tentu. Karena sejak awal kamupun sudah tahu, aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Mau tidak mau, perceraian ini harus terjadi. Sudah cukup kejadian buruk malam itu harus terjadi padaku." Kania tergelak mendengar keputusan Adrian. Laki-laki itu benar-benar terlalu b******k dan usaha Kania selama ini tidak pernah mau Adrian lihat. Laki-laki itu sudah menyakitinya berkali-kaki, dan sekarang ingin menceraikannya? Tidak! Kania tidak akan pernah mau hal itu terjadi, apapun yang terjadk Kania akan tetap mempertahankan Adrian. "Silakan, tapi aku nggak akan pernah mau." "Harusnya kamu sadar diri Kania. Kamu memiliki suami yang tidak mencintai kamu. Apa kamu tidak malu, datang dari keluarga yang tidak jelas lantas sekarang bisa menikmati kehidupan mewah bersamaku?" "Malu? Untuk apa aku harus malu, Adrian. Yang tahu ini semua cuma aku dan kamu, nggak ada orang lain. Jadi, apa yang harus aku maluin? Malu sama tuhan? Untuk apa, aku nggak lakuin kesalahan apapun!" Kania menatap Adrian lekat, "emang, aku cuma gadis desa yang nggak terbiasa hidup mewah. Tapi aku lahir dari keluarga yang jelas, mereka menikah karena cinta sampai aku terlahir,  kamu salah, Adrian. Aku nggak butuh kemewahan yang ada di rumah ini." "Rupanya ini yang kamu lakukan Adrian," Adrian membulatkan kedua matanya. Tapi, Adrian tidak perduli sepertinya nek Ami sudah mendengar semuanya, jadi Adrian sudah memutuskan untuk berkata jujur, setidaknya nek Ami harus mau menerima. "Aku sudah berusaha, nek. Tapi aku tidak bisa!" "Sampai kapanpun, nenek tidak akan pernah setuju!" "Tanpa persetujuan nenek, aku akan tetap menceraikannya!" Entah setan apa yang sedang merasuki tubuh Adrian sampai tega membentak neneknya seperti itu, melihat kejadian itu tak pelak Kania menampar pipi Adrian. Nek Ami sudah sangat baik padanya, jadi Kania tidak akan memboarkan siapapun berkata kasar pada nek Ami, sekalipun itu Adrian. "Kamu boleh aja berniat untuk ceraiin aku Adrian. Tapi kamu nggak boleh bentak nenek kamu sendiri." "Jangan Kania, kamu jangan mau bercerai dari Adrian, nenek mohon." Kania mengangguk sebagai jawaban untuk memenuhi permintaan nek Ami. Adrian benar-benar sudah kertelaluan. "Nenek tidak berhak untuk melarangku menceraikannya!" Nek Ami benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya. Akibat ulah Adrian, penyakit jantungnya kembali kambuh, Kali ini nek Ami benar-benar merasakan sakit yang amat luar biasa, membuatnya tidak bisa berkutik sedikitpun. Dalam hitungan detik tubuh nek Ami sudah tumbang tepat di atas pangkuan Kania. Membuat Kania memekik. "Adrian! Kamu kertelaluan!" Kania menatap Adrian dengan emosi yang sudah meletus. Tidak ingin terjadi hal buruk apapun pada nek Ami. *** "Kalau sampai terjadi apapun pada nenekku, ini adalah kesalahanmu!" Adrian berdiri di deoan ruangan UGD, sementara Kania duduk di atas kursi sambil menangis. Lagi-lagi Adrian hanya bisa menyalahkan. "Kenapa setiap ada masalah, kamu cuma bisa salahin aku?" "Karena ini semua memang terjadi karena kamu." "Terus, menurut kamu, apa kamu sama sekali nggak ngerasa bersalah?" Adrian terdenyum kecut, sangat benci melihat wajah polos Kania. Tidak lama kemudian, seorang peremouan megenakan pakaian putih keluar dari dalam ruangan. Membuat Adrian lantas mendekatinya. Adrian sangat khawatir. "Gimana kondisi nenek saya." "Sejak tadi, dia memanggil nama Adrian. Sepertinya ada satuhal yang ingin dia sampaikan." "Saya Adrian." Perempuan itu tersenyum, lalu menyuruh Adrian untuk segera masuk. Kondisi pasien yang ua tangani kini mengalami kondisi yang sangat buruk, bisa jadi sebentar lagi nyawanya akan melayang. "Nenek, maaf kan aku." Adrian memegang tangan nek Ami dengan erat. Lantas menangis sejadinya. Adrian tahu ini juga kesalahannya. Harusnya ia bisa mengontrol dirinya sendiri. "A--adri--an, to--lo--ng kamu ja--jaa-gaa Ka--niaa..," Suara nek Ami terdengar lirih dari balik masker oksigen. Adrian bisa melihat bagaimana kondisinya saat ini. "Ja--jangan ce--rai--kan  Dii--, Diaa..." "Baiklah. Aku akan penuhi, tapi nenek harus sembuh. Aku berjanji tidak akan mengulangi lagi." Nek Ami tersenyum. Jiwanya seakan tentram saat mendengat itu semua. Merasa nafasnya lepas ke atas udara. Nek Ami akan memegang janji yang Adrian berikan. "Nenek, bangun nek .... Nek, nenekkk!" sekitika Adrian kalang kabut saat melihat kedua mata nek Ami tertutup rapat, apalagi monitor pendeteksi jantung nek Ami menunjukan garis lurus, semakin membuat Adrian merasa kacau. Tidak bisa menerima jika neneknya benar-benar pergi untuk selamanya. *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN