***
Malam itu Adrian pulang dalam keadaan kacau, berkali-kali Kania bisa mendengar pukulan keras di balik pintu. Terdengar juga suara Adrian yang sedang berteriak dari luar. Teriakan yang mampu membuat jantung Kania nyaris berhentik berdetak. Kania bisa merasakan bagaimana kemarahan yang terkandung dalam suara itu. Apalagi, di dalam rumah hanya ada Kania. Nek Ami, om Alex, tante Sonia dan juga Amel sengaja mengosongkan rumah. Mereka sudah sepakat meninggalkan Adrian dan juga Kania selama beberapa hari. Keinginan mereka agar Kania dan juga Adrian memikiki seorang anak, tampaknya benar-benar serius, berharap kelahiran anak itu bisa memberikan kebahagiaan bagi Adrian dan juga Kania.
"Adrian?" Kania berhasil mendekap tubuh Adrian yang hampir tumbang, saat itu juga jantung Kania bekerja tidak normal, merasa mendapat sentuhan seperti ini, Kania benar-benar bahagia.
"Adrian, kamu kenapa?" tanya Kania bingung. Tidak biasanya Kania melihat Adrian pulang dakam keadaan seperti ini. Setahu Kania, Adrian adalah orang yang sangat rapi, tidak akan merelakan pakaianya kotor sedikitpun, apalagi bau busuk yang bisa Kania hirup dari mulut Adrian, hampir membuat perutnya mual dan nyaris muntah.
"Nabila..." Adrian memegang kedua wajah Kania, matanya berair, ia benar-benar merindukan Nabila, bahkan karena efek minuman keras itu benar-benar membuat Adrian kehilangan kesadrannya dan menganggap bahwa Kania adalah Nabila. Perempuan yang sangat dirindukan.
"Adrian," Kania tidak bisa menghindar, karena Adrian lebih dulu memeluk tubuh rinhkihnya dengan erat. Adrian memeluknya begitu kuat, seolah tidak ingin terpisahkan.
"Aku sangat merindukanmu, sayang." Adrian mencium pipi istrinya itu, wajah yang ia anggap benar-benar wajah Nabila. Apalagi, Kania telah memenuhi permintaan nek Ami, agar Kania mau mengenakan semua pakaian Nabila dan berdandan seperti perempuan itu. Kania memang melakukannya, namun ia merasa telah menjadi orang lain, menyamar sebagai tokoh lain agar disukai. Hati Kania sangat perih saat Adrian selalu memanggil nama perempuan itu, bagaimanapun Kania hanya ingin diakui dan dianggap keberadaannya sebagai nyata, bukan sebagai bayangan orang lain.
Malam itu, Kania hanya bisa menangis, ia melakukan kewajiban sebagai seorang istri. Tapi, Adrian tetap menganggapnya mendiang istrinya.
"Aku nggak tau apa yang akan terjadi setelah ini Adrian. Tapi, aku harap kamu mau mencintai aku juga."
Kania hanya memandang Adrian yang sudah tidur di sampingnya. Laki-laki yang telah hilang kesadaran sejak awal. Kania sadari ini adalah keputusan awal yang harus ia tempuh, bersiap menerima sekaga hal buruk yang akan terjadi.
***
Amel sangat kasihan melihat keadaan Kiara yang sedang kacau. Kepergian kakaknya benar-benar sudah membuat dunianya runtuh seketika. Sejak dulu, Kiara hanya mempunyai Riana. Keluarga satu-satunya yang masih tersisa. Sejak kecil, Riana yang selalu mejaganya, kedua orang tua mereka sudah berpisah karena kehadiran orang ketiga. Mereka memilih hidup masing-masing dan melupakan Riana dan juga Kiara. Saat menemukan pasangan baru, mereka tidak menginginkan lagi kehadiran Riana dan juga Kiara. Karena kejadian itu, Kiara sangat membenci kedua orang tuanya. Sangat membenci perempuan yang hanya bisa merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya. Perempuan yang tidak akan pernah Kiara maafkan. Kehancuran yang bermula disebabkan perempuan itu, wanita yang sudah merenggut segalanya yang Kiara punya. Lalu sekarang, satu-satunya keluarga yang Kiara punya harus meninggal.
"Kiara, aku ngerti kamu sedih. Tapi jangan kayak gini, kamu bisa sakit. Ini udah mau sore, kita pulang ya."
"Aku nggak mau, Mel." Kiara menjawab lirih, sementara ia masih berlutut di depan makan kakaknya. Selama ini, Amel tidak pernah melihat Kiara sesedih itu, dan sekarang Amel tahu, bahwa kehilangan seorang kakak begitu menyakitkan, Amel sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia harus kehilangan Adrian juga. Kakak yang selalu memberinya perhatian.
"Lebih baik, kamu pergi. Tinggalin aku sendiri."
"Aku nggak mungkin setega itu ninggalin sahabat aku sendiri, apalagi dia lagi sedih kayak gini. Aku nggak akan biarin kamu nangis sendirin," Amel mengusap bahu Kiara, lantas membawanya ke dalam pelukan. Berusaha memberinya penguatan.
"Aku benci dokter itu, aku benci rumah sakit. Mereka hanya mau mengharapkan uang tanpa mau menyelamatkan nyawa pasiennya. Apa setiap rumah sakit seperti itu, orang kaya yang pantas ditolong, sementara orang miskin kayak kami? Nggak pantas, lalu buat apa rumah sakit itu, Mel. Bua apaa...," tangis Kiara semakin pecah, seiring dengan tergoresnya luka terdalam. Tangisan yang membuat telinga Amel nyeri mendengarnya.
"Kenapa kamu nggak minta bantuan aku, aku bisa pinjemin kamu uang, Ki."
"Aku nggak mau nyusahin kamu lagi, hutang aku udah terlalu banyak sama kamu, bahkan aku udah nggak bisa ngehitung lagi."
Amel menggelengkan kepalanya sebagi respons, tidak setuju dengan apa yang dikatakan Kiara. Baginya, membantu Kiara sangat membuatnya senang, disitulah peran seorang teman akan berlaku, dimana akan ada seseoang yang akan senantiasa memberi pertolongan, pertolongan tanpa balasan yang Amel harapkan.
"Kamu itu sahabat aku, Ki. Apa gunanya aku, kalau aku nggak ada saat kamu susah.
"Tapi ini kondisinya beda, Mel. Aku selalu nyusahin kamu, aku selalu ngelibatin kamu dalam masalah aku, aku malu," suara Kiara mulai melamban, rasanya kekuatannya sudah benar-benar hilang, untuk kedepannya ia akan menjalani hidupnya sendirian. Meski ada Amel, tapi tetap saja, Amel adalah orang luar yang tidak akan bisa memahaminya sepenuhnya seperti Riana yang bisa memahaminya.
***
Adrian duduk di atas sofa dengan wajah memerah. Emosinya benar-brnar sudah meledak. Bisa-bisanya Kania melakukan itu semua kepadanya, harusnya hal itu tidak akan terjadi, harusnya Kania menolak dan seharusnya ia juga bisa mengontrol diri. Tapi, semuanya sudah menjadi bubur, Adrian merasa sudah menghianati mendiang istrinya.
"Harusnya kamu tidak memenuhi keinganku, Kania!"
"Kamu nyalahin aku lagi? Aku cuma memenuhi keinginan kamu, Adrian."
"Tapi kamu tahu, aku dalam keadaan tidak sadar! Setidaknya kamu bisa lari dariku."
"Lari?" Kania tertawa ironi, lari dari suami sendiri membuat Kania merasa berada dalam situasi jenaka. Adrian selalu menyalahkannya. Padahal, itu semua juga tidak akan mengubah semua keadaan yang sudah ditetapkan. Adrian juga tidak akan bisa terjebak selamanya dalam kesedihannya itu, menganggap bahwa hanya Nabila satu-satunya perempuan yang pantas dicintai.
"Apa kamu pernah mikir? Gimana sakitnya hati aku saat kamu menganggap aku Nabila? Aku emang nggak kenal sebaik apa istri kamu itu, sampai kamu nggak mau ngebuka hati kamu buat aku. Adrian, coba kamu ada diposisi aku, apa yang harus kamu lakuin, sementara kamu mencintai aku. Dengan kamu bersikap kayak gini, juga nggak bakal pernah bisa ngembaliin Nabila yang udah mati, Adrian!"
"Diam!" Adrian menatap Kania dengan tatapan bengis, tatapan yang sangat menusuk.
"Aku tidak pernah memintamu untuk jatuh hati, aku tidak pernah memintamu untuk sakit hati atas semua perlakukanku. Aku sadar, Nabia memang tidak akan bisa kembali. Tapi, bukan berarti aku harus melupakannya. Kami berpisah hanya karena keadaan yang menentang nafas kami, jika Nabila tidak mati, kamu tidak mungkin berada di sini!"
"Terus, apa dengan kayak gitu kamu bisa salahin aku? Menganggap semua yang udah terjadi gara-gara aku?" Kania benar-benar tidak habis fikir. Kelakuan Adrian semakin membuaynya terluka. Kania tidak pernah tahu, sampai kapan harus dihadapkan dengan keadaan seprti ini. Jika Kania boleh meminta, Kania hanya ingin Adrian menerimanya, lalu memberikan sedikit peluang untuk masuk. Cinta benar-benar sudah membuat Kania menjadi lemah. Mencintai suami sendiri adalah ujian terberat bagi Kania. Harusnya Kania bisa meminta cerai, tapi perasaan cinta yang sudah lebih dulu menepisnya telah berhasil membuat Kania merasa lumpuh total.
"Karena ini memang terjadi karena mesalahanmu." Adrian sama sekali tidak pernah menganggap dirinya salah, melupakan atas dosa yang harus ia tanggung. Berkali-kali tanpa Adrian sadari ia sudah membuat Kania terluka, menangis atas perlakuan yang tidak adil. Adrian lupa akan segala kewajibannya, memberikan perhatian untuk istrinya sekarang.
"Yaudah, kalau kamu emang menganggap ini semua kesalahan aku, aku minta maaf."
"Satu hal yang harus kamu tahu, aku tidak akan pernah bisa menerimamu, meski kamu adalah menantu kesayangan, dan cucu yang juga disayangi nenekku. Harusnya kamu sadar, itu semua hanya bentuk hutang budi pada ibumu yang sudah mati itu."
Tangan Kania mulai terkepal, kedua bibirnya ikut mengatup.
"Bisa saja ibumu hanya berpura-pura baik, karena dia tahu akan mati, lantas menggunakan nenekku agar mau merawat anaknya. Aku sendiri tidak pernah tahu, seperti apa ibumu itu, aku rasa dia sama sepertimu, seorang gadis ya g hanya bisa memanfaatkan." Adrian tertawa remeh, sedang mengejek kehidupan Kania dan juga ibunya.
"Kamu nggak berhak berfikiran seperti itu sama ibu aku. Karena kamu nggak akan pernah tau gimana baiknya ibuku. Sampai aku harus kehilangan ibuku, kamu nggak akan pernah tau gimana rasanya, karena kamu tumbuh dalam keluarga yang utuh. Kamu cuma bisa ngelihat keadaan sekitar kamu, tanpa kamu perduli, bahwa banyak orang lain di luaran sana yang nggak seberuntung kamu. Jadi, kamu nggak berhak nyimpulin seenaknya tentang ibu aku." Kania tidak akan pernah bisa menerima siapapun merendahkan ibunya, termasuk Adrian. Bagi Kania, tidak ada perempuan terbaik selain ibunya.
"Oh ya? Lalu, kalau kamu memang wanita yang baik. Kenapa kamu mau menerima untuk dihikahkan denganku, sementara kamu tidak pernah mengenaliku sama sekali."
"Aku cuma pengen ngejaga kehormatan aku sebagai perempuan. Dan ini juga karena permintaan nenek kamu. Awalnya aku ragu, tapi setelah ngeliat kamu, aku jatuh cinta sama kamu Adrian. Sekarang, apa aku harus disalahin lagi gara-gara mencintai kamu?"
"Sudah kubilang, aku tidak perduli. Kamu bisa buang jauh-jauh rasa itu, karena sampai kapanpun, aku tidak akan pernah mencintai kamu."
"Aku juga nggak perduli, Adrian. Kamu boleh aja minta kayak gitu, tapi aku nggak akan pernah mau ngabulin."
Adrian menjambak tambutnya ftustasi. Tidak bisa menahan emosinya, lantas mengangkat telapak tangannya akan melayangkan sebuah pukulan di pipi Kania. Melihat respon Adrian, Kania memicingkan matanya takut. Tapi, dalam beberapa detik, Kania tidak merasakan apa-apa, saat memberanikan membuka matanya, Kania hanya bisa melihat tangan Adrian yang menggantung di udara.
"Kalau bukan rasa hormatku pada nenek, aku sudah mengambil keputusan untuk menceraikanmu!" kata Adrian menusuk.
"Kak Adrian!" Adrian membuang wajahnya kesamping, melihat Amel yang berdiri di depan pintu. Perempuan itu ternyata sudah mendengar semua pertengkaran Adrian dan juga Kania. Amel baru tahu bagaimana watak Adrian sekarang, dia tidak lebih dari seorang laki-laki pecundang, membuat rasa kagum Amel padanya mendadak hilang.
"Aku nggak nyangka, kakak setega ini sama Kania!"
"Kamu tidak tahu apa-apa,"
"Selama ini aku pikir kakak laki-laki yang baik. Sampai aku berharap punya suami kayak kakak, tapi nyatanya?" Amel tersenyum remeh menatap Adrian, menyilangkan kedua tangan di atas d**a, "nyatanya, kakak seorang suami yang nggak tau diri."
"Berani kamu mengatakan hal itu pada kakak?" kata Adrian setengah berteriak, sambil menunjuk dadanya. Sementara Amel tidak lagi menatapnya dengan hormat.
"Jelas! Karena aku seorang perempuan, jadi aku ngerti gimana rasanya di posisi Kania. Kakak tau? Kakak seorang laki-laki, yang kelak akan jadi ayah. Terus kalau kakak punya anak perempuan, apa kakak rela anak kakak diperlakukan suaminya kayak kakak perlakuin Kania?"
"Aku tidak akan pernah mau perduli, Amel! Itu juga urusan mereka, bukan urusan kakakmu ini lagi. Hidupku sudah hancur sejak kematian Nabila, dan aku tidak akan membiarkan kalian lebih menghancurkan aku lagi!"
Amel hanya menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. Terlalu kecewa dengan Adrian. Ternyata beginilah perlakuan Adrian kepada Kania. Amel tidak menyangka Kania bisa menutupi ini semua. Padahal, kemarin Kania mengatakan bahwa dia sangat beruntung bisa dinikahi oleh Adrian. Lantas akhirnya Amel tahu, Kania sangat menderita karena perlakuan Adrian.
"Kalau aku punya cara, aku akan menceraikannya!" Adrian berlalu pergi, meninggalkan Kania dan juga Amel.
Kania berusaha menyembunyikan tangisnya. Tidak ingin terlihat lemah lalu akhirnya diminta untuk berhenti. Kania sudah terlanjur mencintai Adrian, ia sudah menyerahkan seluruh hatinya untuk Adrian. Kania tidak akan rela kalau harus berhenti sebelum berhasil.
"Kania, kenapa kamu bohong,"
"Mana mungkin aku ngejelekin suami aku sendiri, Mel."
"Tapi kamu harusnya jujur, Kania. Biar kita bisa tangani ini. Supaya kak Adrian nggak bisa seenaknya sama kamu."
"Semuanya udah terjadi, Mel. Aku akan ihklas, nggak selamanya orang yang nyakitin hati kita bakal jadi orang yang paling bikin kita menderia. Kalau ibu aku aja bisa setia sama ayah aku yang udah meninggal, kenapa aku nggak bisa setia sama, Adrian."
"Tapi ini beda Kania. Ibu kamu mencintai ayah kamu karena ayah kamu adalah sosok yang juga mencintai ibu kamu. Sementara kak Adrian, cuma laki-laki yang bisa terjebak dalam masa lalunya. Aku khawatir, aku nggak tega liat kamu tersiksa kayak gini."
Amel memegang lengan Kania, menatap peremluan itu dengan iba.
"Aku akan bilang ini sama mamah, papah dan juga nenek. Tentang niat kak Adrian yang mau ceraiin kamu."
"Jangan, Mel," Kania menggeleng tidak mau. "Jangan kamu lakuin itu, aku nggak mau Adrian merasa makin terpojok. Biarin aku yang berusaha kenalin Adrian. Aku yakin, suatu saat dia bakal nerima aku."
"Aku merasa malu, Kania. Kekurangan kak Adrian sangat banyak. Apalagi aku tahu, di hari selanjutnya kamu pasti akan semakin tersikasa."
"Siapa bilang, Mel. Kita nggak tau apa yang akan terjadi ke depan, boleh jadi Adrian yang mau berbalik, atau kita sama-sama saling mendekat. Kita nggak akan pernah tau dimana saat takdir harus sejalan dengan kemauan kita. Satu hal yang harus kamu tau, Mel. Kakak kamu bukan seperti itu, kalau kamu tau dia baik, udah pasti kamu tau dia pasti mau berbuat baik lagi."
"Tapi, aku nggak bisa nerima Kania. Kamu diperlakukan nggak adil."
"Nggak apa-apa Amel, setiap perbuatan punya nilai dan ukuran. Aku menilai ini nggak seberapa dibandingkan besarnya kebahagiaan yang aku dapat saat aku bisa diterima dalam keluarga ini, itu semua nggak ternilai harganya, dulunya aku cuma hidup sebatang kara, tapi sekarang aku punya kalian. Aku yakin, suatu saat aku yakin Adrian akan melunak. Kalau batu karang aja bisa dihancurin ombak, kenapa enggak dengan hati Adrian?"
"Andai kak Adrian tau seberapa besar cinta kamu buat dia, pasti dia malu udah berlaku nggak adil sama kamu, Kania."
Amel tidak bisa berkata apa-apa, tidak menyangka kalau Kania akan bisa mencintai Adrian sedalam itu. Amel sendiri tidak yakin, kalau itu terjadi padanya, mungkin ia sudah lebih dulu meminta berpisah. Tidak seperti Kania, yang bia berpura-pura tuli dan bisu seperti batu.
"Karena aku mencintainya. Jadi, aku nggak akan ngarepin apa-apa,"
***
Bersambung