6. Ibu Terhebat

1799 Kata
*** Malam itu Adrian dan Kania sudah berada di dalam kamar yang sama. Ini adalah malam pertama mereka menjadi sepasang pengantin. Harusnya, Kania bisa menerima perlakuan lembut dari Adrian, tapi kenyataannya laki-laki itu tetap pada pendirian. Cinta yang begitu dalam pada istrinya bisa Kania lihat, Adrian tidak mungkin bisa melupakan istrinya itu. Kania masih berdiri di samping tempat tidur, rasanya sangat canggung jika langsung naik ke atas tempat tidur. "Aku tidak mungkin membiarkan siapapun tidur di tempat tidur ini selain Nabila. Jadi, kamu harus mengerti. Kamu bisa tidur di atas sofa." Adrian menggerakkan wajahnya ke arah sofa, meminta Kania untuk berbaring di sana. Adrian benar-benar tidak bisa jika haris tertidur di tempat yang sama bersama Kania. Sementara itu, Kania tidak merespon apa-apa, ia hanya diam dan memenuhi semua pernintaan Adrian, selama berjam-jam Kania memilih memejamkan matanya, memanipulasi suasana seolah dia sedang tertodur lelap. Padahal, saat itu Kania masih belum tertidur, di luar hujan turun dengan derasnya. Seolah bumi bisa menjadi saksi atas kesedihan Kania, ikut menjatuhkan air matanya saat Kania juga sedang menangis. Ia bisa melihat Adrian tertidur dengan sangat nyaman. Selimut tebal bisa menjadi penghalang dari dinginnya udara malam yang mampu mengigit kulit. Kania bingung mulai melangkah dari mana, ingin berjuang dan tetap berjalan, tapi kakinya terasa sangat rapuh, merasa akan patah jika terus nekat untuk maju. Kania baru merasakan bagaimana rasanya tidak dianggap. Padahal, Kania bisa menerima Adrian, mencintai laki-laki itu sebagai sosok suami yang baik. Laki-laki yang sama sekali belum pernah ia temui, laki-laki yang awalnya dianggap akan membuatnya bahagia. Tapi malah memberikan kehidupan yang pelik. "Apa kamu nggak akan pernah berubah, Adrian? Aku pikir, apa yang dibilang nenek kamu semuanya benar. Kamu akan ngejaga aku dan bikin aku bahagi. Tapi nyatanya kamu malah anggap aku debu yang nggak ada artinya. Mungkin kalau kamu punya alat yang bisa lenyapin aku, aku yakin, kamu udah lakuin itu dari jauh-jauh hari." Kania merasa sudah dibohongi, nek Ami berniat menikahkan mereka untuk membuat Kania merasa bahagia, tapi kenyataan sangat pedih. Kania terjebak dalam tipuasi semata. "Kalau aja aku bisa ngomong sama tuhan, aku bakal minta dia ngasih tau aku, giman caranya supaya kamu bisa mencintai aku kayak kamu mencintai Nabila. Mungkin aku nggak bakal nyia-nyiain kesempatan itu." Kania memalingkan wajahnya, membiarkan air matanya semakin tumpah. "Asal kamu tau, Adrian. Aku jatuh cinta sama kamu saat pertama kali kita berpapasan di depan pintu. Apalagi setelah aku tau, kalau kamu adalah calon suamiku sendiri." *** Paginya Kania sudah bangun lebih dulu. Sementara Adrian masih tidur di atas ranjang, Kania bisa melihat bagaimana wajah Adrian yang lelah. Sebenarnya Kania ingin sekali membagunkan laki-laki itu, lalu mengajaknya sholat subuh bersama. Tapi, Kania tahu bahwa Adrian tidak akan mungkin mau melakukannya. Karena tidak ingin berlama-lama di dalam kamar, Kania memilih turun ke bawah, akan membuatkan Adrian sarapan pagi. Bagaimanapun, ia tidak akan mungkin meninggalkan kewajibannya sebagai istri yang baik. Tidak perlu Adrian mengetahuinya, karena Kania tidak akan pernah mau mengaku jika ditanya. "Loh, sepagi ini kamu sudah memasak?" "Nggak apa-apa nek, buat Adrian juga." Nek Ami tersenyum, sangat kagum. Kania sangat persis seperti mendiang istri Adrian, nek Ami percaya bahwa dia tidak salah menikahkan Adrian dan juga Kania. Sebentar lagi Adrian akan kembali seperti dulu. Bersikap hangat kepada kekuarga. "Yasudah, kalau begitu nenek ikut bantu kamu." "Tapi, nek. Nenek kan baru aja sembuh." "Justru itu. Nenek tidak mau diam di kamar sambil tiduran terus, yang ada nenek semakin sakit." Nek Ami mengambil ayam yang ada di dalam kulkas, ia sangat senang memasak. Apalagi dengan cucu menantunya itu. "Nanti, kalau Adrian nanya. Nenek bilang aja ya, ini masakan nenek." "Loh, kenapa begitu? Kamu kan juga ikut memasaknya?" "Nggak apa-apa, nek. Aku mohon, jangan bilang ya." Kening nek Ami berkerut bingung, seperti mencurigai sesuatu. Ia sangat yakin pasti Adrian tidak mau memperlakukan Kania dengan baik. Jika memang seperti itu, nek Ami akan sangat marah pada Adrian. Karena tujuan nek Ami menikahkan Adrian dan Kania tidak hanya ingin membuat Adrian berubah, melainkan meminta bantuan untuk menjaga Kania. "Apa Adrian tidak bersikap masih padamu?" Kania menghentikan aktifitasnya saat memotong wortel. Tubuhnya menjadi kaku setiap kali ditanyakan hal seperti itu. Jika boleh jujur Kania akan mengatakan semuanya, membongkar bagaimana kelakuan Adrian di dalam kamar. Tapi, Kania tidak mungkin sejahat itu. Bagaimanapun Adrian adalah suaminya, sebesar apapun akan berusaha menutupi keburukannya agar tetap terlihat sebagai lelaki yang baik. "Bukan gitu, nek." Kania gelagapan sendiri mencari alasan, ingin harus berkilah bagaimana. Sementara nek Ami bisa membaca roman wajah Kania, menyimpulkan sesuatu bahwa Kania sedang berbohong. "Kalau terjadi sesuatu, tolong bicarakan pada nenek. Jangan menutupi sesuatu. Jika Adrian bersalah, nenek akan menegurnya." "Nggak perlu, nek. Aku dan Adrian baru menikah, wajar kalau kami belum saling ngenal. Lagipula pernikahan aku sama Adrian juga mendadak, kan?" Kania tersenyum sebagai bukti kalau dia baik-baik saja. Nek Ami hanya mengangguk, bersyukur kalau memang seperri yang dikatakan Kania, meski sebenarnya ia tidak yakin akan pengakuan Kania yanh memikiki kejanggalan. "Dulu, Adrian paling suka makan ayam sambal ijo. Terus sayurnya toge sama wortel. Dia bisa nambah tiga kali." "Oh ya, banyak juga dong makan, Adrian." "Sekarang aja dia agak kurusan. Dulu, badannya gede loh." "Ah masa sih nek?" Kania tertawa. Aksi nek Ami untuk menghangatkan suasanapun berhasil. Membuat Kania santai dan merasa bahagia di dekatnya. Nek Ami berjanji, akan memantau bagaimana Adrian memperlakukan Kania, ia tidak akan mungkin tinggal diam kalau sampai Adrian melukai hati Kania. Setelah memotong ayam menjadi beberapa bagian, nek Ami menumis sambal ijo di atas kompor, setelah itu memasukan ayam ke dalam kuali. Kania bisa mencium bagaimana wangi masakan yang sedang dibuat nek Ami. Membuat perutnya ikut keroncongan. "Aku inget. Waktu kecil, kalau ibu ada uang, pasti ibu beli ayam, dan bikin masakan kayak gini. Kata ibu, ini favorit ayah. Makanan yang juga jadi favorit aku sejak kecil." "Benarkah? Berarti seleramu sama dengan Adrian." Kania hanya tersenyum tipis. "Mendengar ceritamu, nenek jadi penasaran. Bagaimana kisahmu dan ibumu yang baik itu." Kania belum merespon apa-apa. "Bolehkan kamu menceritakan sedikit kisahmu yang menyenangkan itu?" "Tentu, nek." Kania mengangguk pasti. Ia masih ingat dengan beberapa moment yang paling membahagiakan itu. Kania sangat ingin dibuatkan ayuman di depan rumah. Semua teman-temannya sudah bisa memilikinya. Belikan dengan kesan yang sangat mewah. Tapi, tidak dengan Kania. Kehidupan yang sangat jauh dari kata cukup membuatnya tidak bisa memiliki banyak mainan saat kecil. Ia bisa mengingat bagaimana ibunya dengan susah payah memotong mambu di hutan, sebagai gantungan kedua tali yang akan membuntuk ayunan sederhana. Ketiadaan sosok ayah membuat Arum harus menjadi tulang punggung keluarga. Lantas Arumlah yang bekerja keras untuk Kania, saat Kania meminta ayunan, Arum nekat memanjat pohon, tidak perduli jika harus jatuh saat melakukan pekerjaan itu. Baginya, melihat Kania tertawa lepas adalah kebahagiaan yang teramat. Tawa yang bisa melepas rindunya pada Almarhum suaminya, Arum selalu ingin membuat Kania tersenyum, sebab anak itu adalah peninggalan terakhir yang paling berharga dari suaminya. Dulu, saat pertama kali dia tahu kehamilan Arum, dia sangat bahagia, tidak sabar ingin menyambut kelahirannya, jika anaknya terlahir sebagai seorang laki-laki, maka ia akan mendidiknya sebagai pria yang tangguh. Tapi, jika seorang anak perempuan, Ia akan mengajari dia menjadi perempuan yang cerdas, bisa menjadi pemimpin. "Ibu, ayo. Aku nggak sabal main ayunannya." Kania kecil bersorak di atas tanah, sementara Arum sedang berusaha mengikat pohon bambu ke atas pohon, memastikan kalau hal itu tidak akan membahayakan anaknya. "Iya, sayang. Kamu sabar ya. Sebentar lagi selesai." "Asik, jadi aku bisa pamel juga ke teman-teman aku. Ibu aku hebat, bisa bikin ayunan." Kania mengajukan ke dua jempolnya membuat Arum terkekeh pelan. Kania sungguh pandai mengambil hatinya, anak itu tidak pernah membuatnya bersedih. "Tapi, Kania harus janji. Kalau udah punya ayunan, sholatnya nggak boleh bolong lagi. Walaupun Kania lagi senang-senangnya main ayunan, ngerti?" Kania menganggukan mepalanya gemas, membuat Arum sangat kagum memiliki anak seperti Kania. "Aku main ya, bu." Kania yang tidak sabaran langsung naik ke atas ayunan saat  Arum selesai membuatnya, Kania mengayunkan tubuhnya sekencang-kencangnya, bermimpi kala dia seperti bidadari yang bisa terbang ke atas langit biru, seperti film-film kartun yang ia tonton. "Pelan-pelan. Kalau kamu jatuh, ayunannya ibu buang." "Jangan, bu." Kania merengek kecil, memegang kedua tali ayunannya dengan kuat. Tidak mau kehilangan mainannya itu. "Ibumu benar-benar perempuan yang hebat, Kania. Pantas saja, kamu bisa tumbuh menjadi gadis baik seperti ini." "Aku nyesel. Pernah bilang ibu jahat." "Itu bukan kesalahanmu, Kania. Itu terjadi di luar dugaanmu, dan kamu sama sekali tidak tahu." *** Adrian sudah selesai mandi saat Kania masuk ke dalam kamar. Ia memperhatikan suaminya yang kesulitan mencari baju kerja. Kania lupa, semua baju Adrian masih ada di belakang. Kemarin ia berniat untuk menyetrika semua baju-baju Adrian, lalu melarang asisten rumah tangga untuk melakukannya. "Kamu cari kemeja, ya?" "Iya," Adrian menjawab santai. Ia kebingunhan kenapa semuanya menjadi seperti itu, padahal dulu saat Nabila masih ada, Adrian tidak pernah merasa kesulitan, semua kebutuhannya mampu terpenuhi. "Aku lupa, kamu mau kan nunggu sebentar? Biar aku setrika baju kamu." "Apa? Kamu ingin membuatku terlambat? Pagi ini aku ada meeting penting, bagaimana mungkin aku harus menunggu lagi!" "Maaf, aku lupa." Adrian memicingkan matanya, berusaha mengontrol emosinya. Perempuan itu benar-benar tidak becus sama sekali. "Kamu itu benar-benar berbada dari mendiang istriku. Dia sama sekali tidak pernah melakukan kesalahan apapun, sementara kamu, baru menikah beberapa hari, sudah melakukan kesalahan seperti ini!" "Aku bukan mendiang istrimu, jadi jangan samakan aku dengan dia!" Nafas Kania memburu sudah jenuh karena Adrian selalu menyebut istrinya dulu. Kania mulai menangis, rasanya Kania ingin menyerah saja, ujian pernikahan ini sangat berat baginya. "Oh jelas! Karena Nabila sama sekali tidak ada tandingannya dengan perempuan manapun, sebab bagiku, istriku adalah perempuan paling sempurna." Jujur, kata-kata itu sangat menohok d**a Kania, mulut Adrian selalu saja melukai hatinya. "Adrian!" nek Ami masuk dengan wajah memerah menahan emosi, ia sudah mendengar semua pembicaraan Kania dan juga Adrian. Ternyata dugaannya benar, cucunya telah membuat Kania terluka. Pantas saja tadi pagi Kania tidak ingin Adrian tahu bahwa ia sedang memasakan sarapan untuk Adrian. "Nenek!" "Kertelaluan!" mata nek Ami membelalak, menatap tajam ke arah Adrian. Sementara Adrian hanya memicingkan matanya, mengatupkan kedua rahangnya, sehingga jakungnya mengeras. "Maafkan aku," "Kamu berani-beraninya membohongi nenek, kamu ingkar janji Adrian!" "Aku sudah berusaha, tapi aku tidak bisa." Nek Ami memegang dadanya lagi, membuat Adrian tersentak kaget. Jika terjadi hal buruk lagi dengan nek Ami, Adrian tidak akan mau memaafkan dirinya lagi. "Nenek!" Kania juga ikut panik, mereka berdua membawa nek Ami untuk berbaring di atas ranjang. Berusaha membuat nek Ami tenang. Takut penyakitnya kembali kambuh. "Maafkan aku, maaf." "Kamu tidak menepati janji, Adrian!" "Maafkan aku, aku mengerti kesalahanku." Nek Ami tidak merespon apa-apa. Ia memcingkan matanya, sebenarnya penyakit nek Ami sama sekali tidak kambuh. Ini hanya salah satu cara agar Adrian mau melunak. "Apa yang harus aku lakukan, agar nenek baik-baik saja. Tolong, jangan memnuatku khawatir." "Jika kamu ingin nenek baik-baik saja, nenek ingin kalian mempunyai seorang anak." Baik Kania maupun Adrian sama-sama terkejut. Permintaan nek Ami sangat sulit untuk Adrian penuhi. *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN