6. Namira Dan Rencana Ta'aruf
"Kalau aku mau, sudah dari dulu aja aku pacarin kamu!"
Prilly kembali teringat kata-kata Ali saat mereka berada di kantin siang itu. 'Apa maksud jambul onta tiba-tiba mgomong begitu.' gumam Prilly dalam hati.
Sekarang ada di kamarnya, dengan berbagai buku tebal
tentang komunikasi bisnis, sesuai mata kuliah yang diambilnya kini. Diambil memang memegang buku, tapi pikiran Prilly melesat jauh pada sosok Ali Cendekia yang hadir tiba-tiba memenuhi otaknya.
"Tiiing!"
Baru akan berkonsentrasi lagi ke bukunya, saat ada notifokasi dari aplikasi chat di handphone Prilly.
Jambul Onta:
Assalamuallaikum pipi tupaiii, lagi apa?
Saya:
Lagi mikirin lo jambul onta
Jambul Onta:
Kebiasaan ya, salamnya nggak pernah dijawab!
Saya:
BAWEL !!
Jambul Onta:
Capslock nya nyeremin,
Saya:
Lebay lo! Ada apaan? Kangen ya sama gue
Jambul Onta:
Idih Ge-eR si pipi tupai,
Saya:
Malesin! Udah jangan ganggu gue lagi sibuk!
Jambul Onta:
Yaaah! Jangan ngambek dong, nanti aku traktir deh, tapi temennin dulu muncul.
Saya:
Temenin kemana? Ayo deh, mau gue asal ditraktir.
Jambul Onta:
Dasar matre! Udah siap-siap lagi aku nyampe sana. Byee pipi tupai
Prilly tersenyum membaca obrolannya dengan Ali barusan. Cuma chat tapi bisa langsung bikin mood dan semangatnya naik seketika. 'Tapi jambul onta mau ngajakin gue kemana sih? Tumben pake ngasih tahu dulu, biasanya juga langsung nyamperin kesini. ' Gumam Prilly sendiri.
Segera siap-siap, Ali dinilai sudah di jalan dan segera lagi akan sampai di kostannya.
Mencuci muka dan mengganti bajunya, kemudian mengoleskan bedak tipis-tipis diganti dengan bibir gloos di bibir tipisnya, Prilly terlihat segar dan cantik.
Tidak seperti biasanya yang selalu memakai celana jins belel dengan sobekan di kedua lututnya plus t-shirt andalannya. Kini Prilly tampil sedikit berbeda dengan memakai drees sepanjang lutut dan juga menggerai rambut panjangnya yang biasa selalu ia ikat tinggi itu. Sepatu flatshoes yang biasa bertengger manis di kedua dikembalikan pun kini berganti dengan wedgesberhak tebal dengan model sederhana. Berkali-kali Prilly mengembalikan badannya di depan cermin layaknya seorang model yang akan memutuskan pemotretan. Tersenyum sendiri akan tingkahnya hari ini tidak seperti biasanya. Entah kenapa hari ini Prilly ingin terlihat cantik di depan Ali. Eh, di depan Ali ?? Tidak juga sih, cuma Prilly hanya ingin dilihat sebagai perempuan sebagimana layaknya, karena menurut Prilly, selama ini Ali tidak pernah memandangnya sebagai seorang wanita. Semua orang tahu itu mungkin salah lahir, harusnya cowo tapi malah keluarnya cewe. Mengambil sifat bandel dan tomboynya selama ini.
'Lihat neh jambul onta, gue juga bisa cantik keles, emang lo pikir gue bukan cewe tulen gitu.' ucapnya sendiri di depan cermin.
'Tiiin..tiin!'
Bunyi klakson mobil di depan kostan Prilly membuat gadis cantik itu melengokkan kepala melihat siapa yang membunyikan klakson keras-keras siang begini. Baru Prilly ingin melabrak orang itu, saat bersamaan Ali turun dari mobil yang membunyikan klakson tadi.
"Assalamuallaikum pipi tupai .." buka Ali terpaku saat melihat penampilan Prilly hari ini, tapi sedetik kemudian tawanya pecah.
"Iih, lo kenapa sih? Ada yang aneh ya sama gue?" tanya Prilly gunakan ujung rambut sampai ujung disetujui sendiri.
"Kamu kenapa Prill? Salah minum obat ya?"
"Apaan sih jambul onta!"
"Aku suka biasanya melihat penampilan kamu kayak begini,"
"Aneh ya?"
"Iya, aneh banget, kayak bukan si pipi tupai yang biasanya apa adanya." Sebenarnya Ali nyaman takjub dengan penampilan Prilly yang berbeda hari ini. Dan dia sengaja tertawa untuk menetralkan detak jantung yang tiba-tiba memompa keras tak normal di dadanya. Makanya Ali tertawa untuk bersenang-senang di depan Prilly.
"Yaudah, gajadi aja deh kalau gitu," hati Prilly mencelos mendengar pendapat Ali tentang penampilannya hari ini. Ternyata sia-sia di berubah penampilan. Toh, Ali juga tetap sama, tidak memandangnya. Mungkin bagi Ali, jiwa Prilly itu tetap tomboy dan terjebak di dalam tubuh mungil dan cantik bernama Prilly Lovita.
"Eh, tunggu, jangan ngambek dong Prill, tadi cuma bercanda kog,"
"Abis lo nyebelin!"
"Keren kog, sudah ya ayo pergi jangan marah,"
"Kog keren sih?"
"Lha? Apalagi memangnya?"
"Lo nggak mau muji gue cantik gitu?" pipi Prilly bersemu merah saat meminta itu pada Ali.
"Nggak!"
"Jahat!"
"Pujian cantiknya nanti saja ya, aku simpan cuma buat istriku kelak,"
Hati Prilly kembali mencelos, ada rasa sakit terbesit di dadanya mendengar kata istri yang Ali ucapkan.
"Oh, siapa? Namira ya?" tanya Prilly tiba-tiba.
"Kog mikirnya kesana? Ya nggak tahu, kan aku belum nikah."
"Mbul, tumben bawa mobil hari ini? Ah, gue tahu! Pasti lo udah merasa kan kalau hari ini gue bikin drees, makanya lo nggak bawa motor," ucap Prilly yang baru mau ngobrol sama Ali hari ini tidak membawa motor kesayangannya. Tapi membawa mobil yang terparkir di depan pagar kost itu.
"Ge-eR banget sih, sudah ayo, katanya mau di traktir."
"Emang kita mau kemana sih? Tumben lo minta temenin?"
Ali berjalan menuju mobilnya melewati Prilly di belakangnya. Tapi saat ini akan membuka pintu depan, membuka pintu itu sudah terbuka lebih dulu dan keluar dari perempuan cantik dengan pakaian tertutup dan jilbab "Assalamuallaikum, kamu pasti Prilly ya? Kenalin aku Namira," perempuan bernama Namira itu menyodorkan untuk berjabat dengan Prilly.
'Jadi ini yang disebut Namira,' Prilly membatin saat menerima uluran tangan Namira. Sekian detik Prilly memulai penampilan Namira dan membandingkannya dengan penampilannya sendiri. Prilly membiarkan tidak ada apa-apanya jika menunggu Namira.
Namira itu cantik sekali, tutur katanya lembut dan juga sopan. Beda sekali bicara yang bandel, dan suka ceplas-ceplos kalau bicara. Dan yang pasti Namira menutup auratnya seperti perempuan idaman Ali.
"Kamu cantik sekali Prill, pantesan Ali betah temenan sama orang cantik seperti kamu," puji Namira pada Prilly.
"Nggak kog, cantikkan kamu Nam, pantesan Ali mau dijodohin sama kamu," ucap Prilly balik, agak menyindir Ali. Sementara Namira hanya tersenyum saat Prilly berucap seperti itu.
"Kamu nggak papa kan Prill jika duduk di belakang?" tanya Ali pada Prilly dan mendapat anggukan dari si pipi tupainya itu. "Iya ngga papa," sahut Prilly pasrah.
Jika biasanya sepanjang jalan Prilly akan terus mengeluarkan kata-katanya dan bercerita tentang apa saja di Ali. Tapi kini dia hanya bisa diam saja. Rasanya ada sesuatu yang menyesakkan kenikmatan. Apalagi saat menyaksikan Ali dan Namira yang duduk di depan asyik mengobrol seolah tidak ada Prilly di antara mereka.
"Mau makan dimana neh kita? Pipi tupai mau makan apa?" Prilly yang sedari tadi diam dan asyik memandang ke kaca jendela menoleh Ali saat jambul ontanya meminta izin makan siang di mana. "Terserah kalian aja, gue ngikut," sahutnya terdengar lesu.
"Kenapa sih, kog pipi tupai lem gitu, kayak nggak semangat, biasanya paling seneng kalau mau di traktir," sindir Ali tepat sasaran.
"Nggak papa, cuma kepikiran sama tugas kuliah aja," jawab Prilly asal.
"Kita ke kafe langganan aku aja gimana? Tempatnya enak, dan enak makannya enak juga enak," usul Namira pada tempatnya.
Ali membelokkan mobilnya ke sebuah kafe. Memarkir mobil kemudian turun Mainkan Prilly dan Namira yang sudah lebih dulu.
Dalam hati Prilly benar-benar merituki dirinya sendiri. Kenapa dia bisa merasa senang karena pernah melihat ada Namira di antara dia dan Ali. Prilly menyesal mengiyakan ajakan Ali untuk keluar siang ini jika nyatanya dia diizinkan bebas menjadi obat nyamuk untuk Ali dan Namira.
"Oh iya, Namira masih kuliah atau ..?" tanya Prilly basa-basi saat mereka bertiga sudah duduk di kafe yang ada live musicnya itu.
"Baru sejak bulan lalu, tetapi berencana untuk mengambil S2 di Al-Azhar Kairo," jawab Namira dan membuat Prilly membuat ciut mendapat apa-apanya daripada Namira.
"Kalau Prilly?" tanya Namira balik. "Masih semester lima," jawab Prilly dengan tatapan lesunya.
Tak lama pesanan mereka datang. Pryy bersyukur, sedikit dia tidak harus berbincang agak lama dengan Namira, dan sekarang mereka bertiga sudah fokus dengan makanannya.
Seusai makan Namira langsung mengundang pulang karena dia dinilai ada tugas. Ali mengantar Namira lebih dulu ke Rumah sebelum mengantar Prilly.
"Terima kasih Li untuk makan siangnya, Prilly makasih ya," Prilly hanya tersenyum saat Namira pamit turun dan Ali mengantarnya sampai di depan rumah.
"Hati-hati lo Prill, kejebak cinta sama si onta jambul lo itu," Prilly tiba-tiba teringat kata-kata Indira kemarin. 'Nggak mungkin! Gue sama dia cuma sahabat, nggak lebih! ' ucapnya sendiri dalam hati. "Yakin lo Prill, cuma sahabat, nggak ada rasa lain!" lagi-lagi kata Indira terngiang di telinga Prilly. 'Yakin! Gue yakin kog, cuma sahabat, nggak lebih! ' batinnya lagi seakan menjawab apa yang Dira ucapkan beberapa wakti lalu.
"Hei, pipi tupai kog cemberut gitu?" tanya Ali saat dia sudah kembali ke mobil sehabis mengantar Namira. "Nggak papa, gue mau pulang Li," sahutnya tanpa menoleh Ali.
"Pindah depan dong, emang aku sopir kamu,"
"Berisik lo Mbul," cerca Prilly tapi menurut dan pindah kesamping Ali.
"Gimana menurut kamu?" tanya Ali saat menjalankan mobilnya.
"Gimana apanya?"
"Namira, menurut kamu? Cocok nggak sama aku?" pertanyaan Ali seperti lemparan batu yang menghantam dadanya. Nyeri, katanya cuma rasa sahabat, tapi malah ada rasa sakit di hati Prilly. "Iya, dia cantik, sopan dan lemah lembut, impian lo banget kan, gue sih nggak ada apa-apanya sebelum dia sama." sahut Prilly dengan wajah sulit diartikan.
Ali hanya tersenyum mendengarkan jawaban Prilly. "Kalau aku taaruf sama dia, menurut kamu gimana?"
"Ya..terserah lo, kan itu hak lo napa jadi nanya ke gue,"
"Iyaa, tapi kamu ingin tahu pendapat kamu, pipi tupai."
"Gue ikut bahagia kalau lo bahagia," perkataan Prilly mungkin benar, tapi tidak sepenuh hati mungkin. Iya dia senang jika Ali juga bahagia. Tapi rasanya senang belum rela kalau harus melepas sahabat itu. Meskipun nanti mereka masih bisa berteman, tapi tentu saja akan ada batasannya saat Ali sudah memilih pemiliknya.
Namira dan rencana Taaruf Ali benar-benar membuat hati Prilly jadi galau, jadi mungkin kata abege gaul jaman sekarang. Galau bukan cuma karena putus cinta kan? Tapi saat kau memberikan sesuatu yang sulit untuk dipilih itu juga bisa membuatmu Galau. Begitu juga Prilly saat ini, meski dia sendiri tidak tahu, apa yang bisa membuatnya galau seperti itu.
#########