7. Rasa Yang Terdustai
Menatap jendela ruang kelas di kampusnya, Prilly senang sekali tidak senang hari ini. Selain mata kuliah yang diberikan oleh pak pagi ini tentang manajemen sumber daya alam yang sangat bertele-tele dan dibaca.
Melirik ke sebelah ada Indira yang tengah dibuka untuk menjelaskan tentang pak Boni, sedang Prilly sendiri tetapi ada pulpen di tangan dan juga buku-buku di dapat diakses seakan enggan untuk memperhatikan mata kuliah pagi ini.
Setelah hampir dua jam harus tersiksa dengan nyanyian yang didayu-dayu oleh pak dosen dengan kumis tebalnya itu, Prilly bisa lega lega saat pak Boni mencoba selai mengajarnya.
"Ra, langsung balik ya," Prilly berkata lemas pada Dira yang sibuk memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
Indira melirik Prilly sekilas. Tidak biasanya sahabat cantiknya itu lesu tidak semangat saat bubaran kelas. Biasanya Prilly akan menjerit sumingrah saat mata kuliah usai dan akan langsung lari keluar untuk menghampiri jambul ontanya.
"Prill, lo kenapa? Sakit ya?" tanya Dira hati-hati, karena Indira tahu betul jika sudah banyak diam begini pasti Prilly ada sesuatu dan Indira tidak ingin mengganggunya dengan banyak pertanyaan.
"Gue nggak papa kog Ra, gue balik dulu ya," pamit Prilly pada Dira.
"Maaf ya Prill, gue nggak bisa nemenin lo balik, soalnya udah ada janji sama Aryo," terang Dira yang merasa tak enak di Prilly.
Prilly berdiri dan tersenyum pada Indira, "nggak papa Ra, gue bisa balik sendiri kog."
"Sendiri? Nggak bareng Ali?" Prilly menggeleng lesu saat mendengar nama Ali disebut pleh Dira. "Nggak, gue balik sendiri aja, naik gojek atau angkot. Udah nggak usah dipikirin Ra, gue kan udah biasa pulang sendiri," jawab Prilly akan naik kembali kelas.
"Hati-hati ya Prill, lo beneran nggak papa kan?" Indira senang cemas melihat perubahan sikap Prilly yang tiba-tiba. Biasanya kan Prilly yang paling rame ekor. Paling berisik, paling suka jahilin temen-temennya. Melihat Prilly hari ini Indira jadi khawatir dan kepikiran.
"Gue nggak papa Ra, beneran! Yaudah gue balik ya," Indira tersenyum pada Prilly yang melangkah lebih dulu meninggalkannya.
Berjalan di koridor kampus Prilly melangkah dengan tergesa-gesa, sengaja dia ingin melawan Ali untuk saat ini. Prilly berpikir dia harus menyiapkan hati untuk tidak selalu bergantung pada jambul ontanya itu.
Bagimanapun juga Prilly harus terbiasa sendiri saat ini. Setelah Ali kemarin mengenalkan dia pada Namira yang merupakan pilihan perempuan kedua Ali. Dan Ali juga terlihat senang. Prilly bisa melihat itu dari cara mereka ngobrol kemarin yang terlihat sangat akrab sekali. Namira bahkan tahu apa saja yang dikeluarkan dan tidak oleh Ali. Hati Prilly kembali menciut jika membandingkan dirinya sendiri dengan Namira.
Prilly tidak ada seujung kukupun jika harus bersanding di sebelah gadis cantik itu. Namira tinggi dan cantik. Sementara Prilly mengambil tubuh mungilnya akan mampu menarik hati lawan jenis sebelum Namira, sedangkan Prilly sendiri mempunya wajah yang tak kalah cantik dengan kulit putih bersih dan hidung yang mancung menantang.
Namira sopan sopan lemah, pakaian tertutup sangat tertutup dari ujung kepala sampai kaki. Sedang Prilly, dia suka ceplas-ceplos jika berbicara, menunggu sampai saat ini tidak mau menutup auratnya, juga sudah ribuan kali, Ali selalu mengingatkannya jika menutup aurat, itu harus dilakukan setiap muslimah. Tapi Prilly memang masih bandel, dan tidak mau diajak bicara Ali yang dia ngalah-ngalahin tausiyah nya ustazd Maulana kalau sudah dikeluarkan fatwa-fatwa hadistnya.
"Prilly," langkah Prilly terhenti saat ada yang memanggilnya dari belakang. Menanti kepala ke suara asal, Prilly melihat Randy yang tersenyum berjalan menghampirinya. "Kenapa Rand?"
"Mau balik ya? Bareng gue yuk," tawar Randy pada Prilly.
Gadis itu berpikir sejenak kemudian mengangguk setuju dengan tawaran Randy.
"Prill, dapatkan sesuatu nggk sama nggk sama lo?" tanya Randy saat mereka berjalan menuju parkiran kampus. "Nanya apaan?"
"Lo sama Ali pacaran nggak sih?" pertanyaan Randy membuat Prilly jengah Mungkin Randy adalah orang kesekian ratus yang meminta hal yang sama. "Gue sama Ali cuma temenan doang, sahabat, nggak lebih." jawab Prilly lesu.
Cuma sahabat, dan nggak lebih? Benarkah seperti itu? Prilly sendiri heran, jika memang tidak menyimpan rasa lain selain sahabat, mengapa dia harus percaya kesal dan cemburu saat Ali mengutarakan keinginannya untuk berta'aruf dengan Namira.
Randy mengulum senyum mendengar jawaban Prilly. Sudah lama dia ingin membicarakan gadis itu, tapi selalu urung jika melihat Prilly yang begitu dekat dan akrab dengan Ali.
"Berarti gue masih punya kesempatan dong ya buat deket sama lo," ucap Randy sumringah.
Prilly hanya mengangguk sambil mendengarkan Randy. Dia berpikir tidak ada salahnya juga mencoba memberi kesempatan pada Randy untuk dekat. Prilly berpikir mungkin Randy bisa membantah pikirannya yang terlintas akhir-akhir ini selalu membantah dengan nama Ali.
***
"Ra, tunggu," Ali berlari tergesa di koridor kampus saat melihat Indira yang baru keluar kelas dan menghampiri gadis itu.
"Kenapa Li?"
"Prilly mana Ra? Kog aku nggak ngelihat dia dari tadi," pertanyaan Ali membuat Indira menaikan alisnya curiga, apakah benar-benar seperti dugaannya Prilly sedang ada masalah dengan jambul ontanya itu.
"Ra, malah diem, Prilly mana?" tanya Ali lagi pada Dira yang sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Lo sama Prilly berantem ya Li?"
"Nggak," pertanyaan Dira malah gantian membuat Ali mengernyit bingung, "Aku sama Prilly itu nggak bakat musuhan, buat buat apa berantem, nggak ada yang diributin juga." cercanya pada Dira.
"Prilly udah balik dari tadi Li, dia bilang mau cepat-cepat pulang, tadi di kelas juga aneh itu anak, nggak semangat kayak biasanya."
Ali jadi makin heran dengan perubahan sikap pipi tupainya itu yang tiba-tiba. Sejak kemarin siang setelah pulang dari kafe sikap Prilly jadi aneh bertanya. Telpon Ali tidak dibuka, begitu juga saat Ali mengirim pesan tidak ada satu pun yang dibalas oleh Prilly.
"Li, gue duluan ya, udah ditunggu Aryo di parkiran,"
Ali mengangguk saat Dira melangkah pamit.
Menuju parkiran motornya, Pikiran Ali bertanya dengan berbagai pertanyaan tentang Prilly. Kenapa gadis ceria yang selalu bisa membuatkannya jadi tiba tiba tiba sengaja menghindar darinya.
Sampai di parkiran Ali segera menstater motornya kemudian melaju menuju ke kost Prilly. Ali ingin tahu apa sebenarnya dengan sahabatnya itu. Rasanya sangat tidak nyaman sekali diam-diaman begini dengan satu-satunya gadis di kampus yang dekat dengan itu.
>>
"Prill, kita jalan dulu gimana?" ucap Randy dan saat ini sedang bersama Prilly di dalam mobil yang akan mengantar Prilly pulang. "Maaf Rand, langsung balik aja nih, nggak papa kan? Gue agak pusing hari ini, jadi pengem cepet-cepet pulang," jawab Prilly mulai. Sementara dia tidak menerima dorongan seperti ucapannya. Tapi mang sedang tidak ingin kemana-mana.
"Lo sakit ya, gue anter ke dokter ya?" ucap Randy menunjukkan perhatiannya.
"Lebay lo Rand, gue cuma mendorong doang, pengen cepet tidur, ntar juga hilang sendiri pusingnya, anterin gue balik aja ya,"
"Oke, tapi kapan-kapan saja mau kan gue ajak jalan, Prill?"
"Iyaaa,"
Mobil yang dikemudikan Randy pindah halaman kostan Prilly. Tapi mata Prilly membulat saat melihat siapa yang sedang duduk di atas motornya tepat di depan kostannya.
"Prill, ada Ali tuh," ucap Randy saat memarkir mobilnya dan melihat Ali sekilas. "Iya, gue turun ya Rand, makasih."
"Tunggu Prill," Prilly baru akan melangkah turun saat pintu mobil sudah terbuka tapi Randy memegang langkahnya dan menoleh Randy.
"Nanti gue telpon ya, boleh kan?" Prilly mengangguk mulai melangkah meninggalkan Randy yang langsung memutar mobilnya meninggalkan kostan Prilly.
Langkah Prilly gontai saat melihat Ali yang sudah menunggunya itu. Padahal hari ini dia sedang tidak ingin bertemu dengan jambul ontanya itu. Tapi saat ini untuk menghindar pun tidak mungkin, karena Ali sudah tepat di depan penglihatan.
"Assalamuallaikum," ucap Ali tersenyum saat Prilly semakin mendekat.
"Ada apaan kesini?" tanya Prilly dengan mata enggan memandang Ali.
"Dijawab dulu dong salamnya, kebiasaan si Pipi Tupai, kalau ada orang salam itu harus dijawab."
"Waalaikumsalam, ada apa?"
"Kog ada apa sih? Kamu mau mampir ketemu kamu," Ali jadi semakin yakin kalau Prilly mau sesuatu yang didapat. Tidak biasanya dia banyak diam saat bertemu Ali.
Prilly juga agak aneh dengan pertanyaannya pada Ali. Bukannya sudah sangat biasa dan menjadi kebiasaan Ali jika pulang ngampus pasti akan mampir ke kostan Prilly.
"Maksud gue, kalau nggak ada yang penting, lo pulang aja deh Li, gue lagi mendorong, mau tidur." usir Prilly secara halus pada Ali.
"Kamu kenapa sih?"
"Kenapa apanya?"
"Iya aneh aja, aku telpon dari kemarin nggak ditunda terus aku kirim pesan juga nggak dibales, kamu marah sama aku?"
"Kenapa gue harus marah sama lo!"
"Tapi sikap kamu aneh, Prill, biasanya kayak begini, kayak lagi marah."
Prilly terdiam mencernah kata-kata Ali. Benarkah dia sedang marah dengan jambul onta kesayangnya karena bisa bertahan kalau dia lagi harus rela tidak peduli dengan Ali lagi.
Prilly merutuki sikapnya sendiri yang tiba-tiba menjadi canggung dan ingin menjauh dari Ali. 'Kenapa harus menjauh sih, kalaupun Ali sama Namira itu kan hak dia, pilihan dia. Kenapa gue harus marah dan nggak rela. Emang gue siapanya Ali. Cuma sahabat ini, nggak lebih. ' Prilly membatin dalam diam.
"Prilly jawab, kamu marah sama aku? Bilang aku salah apa?"
'Lo nggak salah apa-apa Li, tapi gue yang salah udah terlalu jauh nyaman sama dengan perhatian selama ini. Sementara gue bukan siapa-siapa lo. ' Jawab Prilly tapi hanya di dalam kepuasan sendiri.
"Prillyy, Pipi Tupai," Ali kembali menyadarkan Prilly akan pikirannya sendiri. "Nggak papa Li, gue mau sendiri dulu, lo pulang aja ya,"
"Tapi kamu beneran nggak lagi marah?"
"Nggak! Udah sana balik, nanti ngobrol di obrolan aja, gue ngantuk mau tidur dulu," ucap Prilly yang kali ini berusaha membuka dengan senyuman seperti biasanya.
"Yaudah aku balik ya, kamu istirahat Pipi Tupai, nanti aku telpon,"
"Oke, hati-hati Jambul Onta," ucap Prilly berusaha kembali terlihat di depan Ali.
Sepeninggal Ali, Prilly berlalu ke kamarnya. Sudah tidak tahan makan untuk membanting kasur dan mengeluarkan semua penat yang akhir-akhir ini dibahas pemikirannya. Dan tentu saja itu tentang Ali dan rencana ta'arufnya dengan Namira. Entah Prilly memilih cemburu karena memilih Namira dan ia harus menyiapkan jika nanti Ali tidak akan lagi seperti saat ini didukung. Ataukah Prilly malah tidak percaya kalau rasa nyaman saat berada di dekat Jambul Ontanya itu kini berubah bukan cuma rasa sahabat tapi lebih dari itu. Atau mungkin Prilly sadar akan belum berhasil mendustai rasa yang semakin menguat di saat ini.
#########