8. Tak Sesuai Harapan
Prill, kita jalan yuk, gue udah di jalan mau ke kost'an lo.
Prilly menatap hapenya seusai membaca chat dari Randy. menimbang-nimbang ajakan Randy untuk keluar malam ini. Setelah berpikir, Prilly akhirnya mengiyakan ajakan Randy.
Bergegas ke kamar mandi untuk disiapkan-siap, sebenarnya agak setengah hati Prilly menerima ajakan Randy keluar malam ini.
Disaat bersamaan Ali juga mengirim pesan menantang Kalau malam ini ingin mengajak gadis cantik itu ke rumah. Semua orang melihat Rasta kangen karena Prilly sudah lumayan lama tidak mampir ke rumah.
Maaf Li, gue nggak bisa malam ini. Terima kasih, Randy buat nerima ajakan dia jalan
Prilly melirik hapenya sekali dan membaca pesan balasan yang ia kirim pada Ali setengah jam yang lalu.
Prilly membiarkan disetujui sepih sekali sejak dia memutuskan untuk meminta jarak dengan Ali. Terakhir mereka bertemu sudah tiga hari yang lalu saat Prilly pulang dengan diantar oleh Randy dan juga saat ada Ali yang menunggunya di depan kostannya. Setelah mereka belum bertemu sama sekali karena kesibukan Ali yang sedang menggarap skripsinya. Prilly maklum itu, Ali mungkin sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan skripsi agar bisa lulus aktifnya. Itu memang harapan Ali, bisa lulus dan setelah itu dia akan berangkat ke Belanda untuk melanjutkan S2 di sana.
Prilly senang melihat Ali yang bersemangat sekali untuk bisa lulus, tapi selain itu juga ada yang mengganjal di kemenangan. Jika Ali lulus itu berarti akan semakin cepat dia dan Namira bertunangan, atau mungkin malah akan langsung menikah. Mengingat prinsip Ali yang memang pernah dinilai jika dia sudah cocok dengan satu gadis maka akan langsung mengkhawatirkan dan menikahinya.
Hati Prilly sakit saat mengingatnya. Apalagi jika ingat perkataan Rante yang dinilai jika nanti Ali melanjutkan studi nya sudah ada pendamping yang menemaninya.
Suara klakson mobil di luar menyaarkan Prilly dari lamunannya tentang Ali. Rupanya Randy sudah sampai di depan kostnya. Prilly mengambil tas selempang yang tergeletak di kasur dan dikeluarkan keluar menghampiri Randy.
"Hai Prill, lo cantik banget malam ini," Prilly hanya tersenyum datar saat Randy memuji memujinya. Entah lah, tapi rasanya sangat berbeda jika Ali yang dihargai dan menggodanya. Meskipun Ali belum pernah sama sekali memujinya cantik, palingan hanya kata 'kamu manis,' atau 'kamu keren' itu saja bisa membuat hati Prilly senang sangat senang mendengarnya. Alias, pujian cantiknya memang hanya nanti akan dia ucapkan untuk berbicara, tidak dengan perempuan yang bukan muhrimnya.
"Makasih Rand, kita jalan sekarang?"
"Iya," Randy membukakan pintu mobil untuk Prilly. "Kita mau kemana Prill?"
"Kan lo yang ngajak, kenapa nanya gue?" sahut Prilly tanpa memandang ke Arah Randy. Meskipun ada satu mobil dengan lelaki itu, tetapi pikiran Prilly menerawang jauh pada gambar jambul ontanya. "Maaf Rand, maksud gue, terserah kamu mau ngajak kemana," sahut Prilly lagi saat menyadari kalau tadi kata-katanya agak kurang enak di Randy.
Mobil Randy membuka parkiran sebuah kafe. Randy yang sudah turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Prilly.
"Terima kasih Rand," ucap Prilly agak kurang enak dengan sikap Randy yang tiba-tiba sangat memperhatikan toleransi.
Mata Prilly memulihkan sekitaran kafe, merasa tidak asing mendukung. Seketika ingatannya kembali pada siang tiga hari yang lalu. Waktu itu Ali juga mengajaknya kesini bersama Namira. 'Kenapa harus ke tempat ini sih,' batin Prilly tiba-tiba merasa enggan untuk masuk ke dalam kafe.
"Prill, ayo masuk, ini kafe langganan gue, tempat asyik dan ada live musicnya juga." terang Randy mengundang Prilly untuk masuk.
Tak bisa hatiku menafikkan cinta
Karena cinta tersirat bukan tersurat
Meski bibirmu terus berkata tidak
Matamu terus pancarkan sinarnya
Hati Prilly mendadak seperti dilempari segenggam paku, saat membuka kafe dan mendengarkan lagu 'Sahabat jadi Cinta' yang dinyanyikan oleh band saat live music. Mungkinkah rasa persahabatan telah berubah menjadi rasa yang disebut 'Cinta'. Perasaan Prilly campur aduk tidak karuan rasanya. Mencoba untuk mengembalikan rasa yang tidak perlu ia rasakan.
"Mau pesan apa Prill?" ingatan Prilly kini beralih pada lelaki yang duduk di dibuka. Prilly ingin fokus pada Randy, lebih untuk malam ini saja, ia harus setuju Randy yang baik dan sangat perhatian.
"Ngikut kamu aja ya Rand," jawab Prilly yang memang tidak berselera apa-apa malam ini.
Randy memandang gadis cantik di ingat. Pemandangan indah dengan mata indah milik Prilly. "Dari tadi kog ngikut melulu Prill, kamu kenapa?" tanya Randy sadar sikap Prilly yang tidak seceria suka biasanya.
"Nggak papa Rand," sahutnya pura-pura tersenyum di depan Randy.
"Prill, bisakah aku ngomong sesuatu sama kamu?" terima Randy membuat mata Prilly menyipit. Bukan karena pertanyaannya. Tapi karena tiba-tiba Randy mengeluarkannya dengan sebutan 'aku' 'kamu' dan itu malah membuat Prilly semakin tidak enak hati.
"Rand, sejak kapan lo manggil gue bikin sebutan 'aku'?" cerca Prilly.
Randy hanya mengulum senyumnya, dan kemudian meraih tangan Prilly yang ia letakkan di meja. Prilly sampai berjengit kaget dengan apa yang Randy lakukan.
"Prill, kamu belum menjawab pertanyaanku, bisakah aku berbicara sesuatu sama kamu?" Prilly hanya mengangguk kecil mendengar perkataan Randy.
"Sudah sejak lama aku selalu memperhatikanmu Prilly," Randy memandang serius sekali pada Prilly. Tapi ingatan Prilly ditolak kembali pada Ali. Tiba-tiba fatwa hadist yang selalu diucapkan si jambul ontanya itu terngiang kembali di telinganya. "Jangan bersentuhan sama lelaki yang bukan muhrim Prill, dosa tahu." ucap Ali kala itu.
"Rand, maaf bisa nggak lo lepasin tangan gue," tiba-tiba Prilly tidak mau bersentuhan dengan Randy saat teringat nasehat Ali.
"Maaf Prill, aku cuma mau bilang kalau aku sayang sama kamu Prill,"
Mata Prilly membola seketika mendengar sambutan Randy. 'Coba saja yang mengatakan itu semua adalah Ali. Hhh..kenapa malah Ali lagi, Ali lagi sih. ' gerutu Prilly dalam hati.
"Maksudnya apa ya Rand? Gue nggak ngerti,"
"Maksudnya, aku suka sama kamu Prill, kamu mau nggak jadi pacarku?" Prilly hanya diam mendengarkan persetujuan Randy. Entalah, meski suka dengan perhatian Randy, tapi hati Prilly tidak peduli apa-apa pada lelaki tampan itu. Randy baik, Randy perhatian, dan Randy juga tak kalah tampan dari Ali. Sama seperti jambul onta, Randy juga salah satu mahasiswa incaran cewe-cewe di kampus. Prilly sendiri sampai heran, dari sekian banyak cewe di kampus yang cantik dan seksi, kenapa malah dia yang bertanya oleh Randy.
"Rand, akan ..."
"Tenang aja Prill, kamu nggak harus jawab sekarang kog, aku terima kasih kamu harus ingat tentang perasaanku sama kamu," ujar Randy sambil tersenyum manis pada Prilly.
"Makasih ya Rand, memang perlu waktu buat berpikir,"
“Iyaaa, santai saja Prill, lama menunggu pun pasti akan menunggu, asal jangan sampai 14 purnama aja Prill,” ucap Randy bercanda.
Prilly terkekeh mendengar candaan Randy. Ternyata lelaki di balik itu suka bercanda juga.
"Apaansih Rand, lo kira Rangga Cinta sampai 14 purnama," sahut Prilly masih dengan tawanya.
Sejenak agak lupa soal Ali saat Randy mengajaknya bercanda. Seusai menikmati pesanan yang terhidang di meja, Prilly mengajak untuk pulang. Tida terasa sudah hampir jam sepuluh malam. Dan Prilly mrmang harus kembali cepat karena kost ada aturan jam malam dan paling lambat baru sampai jam 23.00. Prilly tidak ingin kena teguran Endang sang pemilik kost tempatnya tinggal. Selain itu Ali juga selalu berpesan untuk tidak kembali larut jika sedang keluar. Ali saja selalu mengantarnya tepat pukul sembilan malam dan tidak pernah lebih saat mengajak Prilly. Dan pikiran Prilly kembali lagi ke Ali tampak. Apapun yang gadis itu lakukan tidak akan bisa lepas tanpa teringat akan Ali.
>>>>
Pagi hari Ali bersemangat sekali ke kampus. Bukan untuk mengikuti mata kuliah, karena Ali sudah semester akhir dan hanya ingin bertemu dengan pak Rudi dosen pembimbing yang akan membantunya menyeleseikan skripsinya. Hari ini Ali hanya ada janji bertemu Pak Rudi dipanggil untuk membahas judul skripsi yang akan ia ambil.
Sebenarnya kemarin Ali berharap Prilly mau saat ia akan memgajaknya ke rumah dengan alasan mamanya sedang kangen karena lama tak main utama. Sementara saat ini Ali ingin meminta pendapat pada sahabatnya tentang judul skripsi yang akan ia ajukan pada dospem.
Ali bingung dua pilihan judul untuk skripsinya nanti, 'Perencanaan Turbin Udara Untuk Pembangkit Tenaga Listrik,' atau 'Perencanaan Turbin Gas Pesawat Terbang Turbojet.' sesuai jurusan yang diambil Ali tentang teknik mesin.
Tapi selain itu, Ali senang hari ini karena ingin bertemu si Pipi Tupai, tiga hari tidak memenuhi rasa sudah lama sekali buat Ali.
Terima kasih untuk nanti dia sudah berangkat ke Belanda untuk S2-nya, apakah bisa melalui hari-hari tanpa persetujuan Pipi Tupainya itu. Ali Sambil tersenyum Senang. Semalaman dia berpikir untuk memgutarakan apa saja yang dia rasakan pada gadis yang selalu terlihat ceria itu. Lalu, bagaimana dengan Namira? Ali kembali tersenyum jika memgingat beberap hari lalu saat memgajak Prilly untuk makan siang bersama Namira. Calon kakak sepupu yang baik hati, saat Ali meminta bantuan untuk meminta tentang gadis yang selama ini diam-diam diterima bahwa Namira tidak menolak, tapi malah sangat antusias sekali. Sengaja Ali kemarin bertanya pada Prilly seakan-akan dia yang akan berta'aruf pada Namira, padahal sebenarnya Namira itu calonnya bang Hilmy, bahkan sudah dikhitbah oleh abang sepupunya itu,
"Gercep Li, buruan diutarakan itu perasaan, keburu diambil orang ntar nyesel lo!" goda bang Hilmy kemarin saat Ali meminta ijin untuk meminta Namira diundang untuk bertemu Prilly.
>>>
Pagi-pagi sekali mobil Randy sudah sampai di depan kost Prilly. Semalam memang dia dinilai ingin menjemput Prilly untuk ke kampus bersama.
Sudah semalaman Prilly tidak bisa tidur dan puas kata-kata Randy akan perasaanya.
'Tidak ada yang memberikan kesempatan untuk Randy, toh mungkin ini salah satu cara agar pikiran bisa teralihkan dari Ali.' Gumam hati Prilly menimbang-nimbang.
"Yakin lo Prill, mau nerima Randy?" cerca Dira semalam saat Prilly mengulas tentang Randy yang mengutarakan perasaanya.
"Terus nanti lo sama Ali gimana?" pertanyaan Dira malah membuat Prilly jadi ragu, tapi segera ditepisnya jauh-jauh perasaan ragu itu.
"Maaf ya Rand, lama nunggunya," ucap Prilly saat Randy membukakan pintu untuknya.
"Nggak papa, tunggu lama pun pasfi aku tunggu kog," ucap Randy tersenyum manis.
"Rand, gue..gue mau ngasih jawaban yang kemarin sama lo," ujar Prilly saat sudah berada di dalam mobil. Mata Randy berbinar seketika mendengarnya.
"Okey Prill, apapun itu jawaban kamu, aku pasti akan menerimanya." jawab Randy jawab Prilly.
Prilly memejamkan telanjang sementara sebelum mengatan menjawab pada Randy. Saat berhadapan tertutup bayangan Ali tiba-tiba melintas di membantah. Tapi bayangan Namira juga ikut melintas begitu saja di pikirannya. Dan itu membuat Prilly yakin untuk memberi jawaban pada Randy.
Prilly harus menyetujui akan ini, dan dia tahu mungkin nanti konsekuensinya Prilly harus meminta jarak dengan Ali.
"Gue..mau jadi pacar lo Rand," Randy berjingkrak senang menerima jawaban Prilly. Hampir saja reflek dia memeluk tubuh Prilly, tapi segera ditepisnya dengan tangan kedua Prilly.
"Maaf Prill, reflek saking senangnya, jadi kita sekarang .."
"Iyaaa, kita coba jalanin dulu ya Rand,"
Randy mengangguk dan mengacak rambut gadis di sebelahnya sebelum melajukan mobilnya ke kampus.
>>>
Ali duduk tak jauh dari kelas Prilly, senyuman terus mengembang di sebab sudah tidak sabar untuk bertemu si Pipi Tupai. Sudah beberapa hari menyetujui tentang perasaanya, bahkan tante Rasti, mamanya juga sangat mendukung sekali jika Ali memilih Prilly.
Kapan saja, kapan saja, Tante Rasti meminta bantuan dengan Ali langsung pada Prilly, itu memang sengaja dan hanya akal-akalan mamanya dengan bang Hilmy yang penasaran. Masa iya dekat tanpa ada satu rasa lain selain sahabat. Sementara itu, Ali sempat protes di mamanya, mengabaikan Namira yang jelas-jelas calon istri abang, sepupunya sebagai seoarang yang akan dikenalkan sesuai keinginan.
"Mama cuma penasaran sama kamu Li, masa iya sedekat itu tanpa rasa apa pun. Mama setuju kog kalau kamu sama Prilly mau taarufan atau kalau perlu nanti mama sama papa langsung ke mau buat buat cari untung Prilly buat kamu," Ali jadi senyum-senyum sendiri tanya kata-kata mamanya kemarin.
"Ali sudah dewasa ya Mam, nggak terasa, padahal rasanya baru kemarin papa gendong dia, trus ngajakin dia main bola, sekarang udah mau khawatiritbah gadia orang," timpal om Candra papanya coba Ali.
"Pipi Tupai, Assalamuallaikum," sapa Ali tersenyum manis saat melihat Prilly berjalan mendekat ke arahnya. Rasanya Ali sudah tidak sabar untuk mengatakan semuanya pada Prilly, jika semuanya sesuai dengan angannya. Ali akan mengutarakan niatnya untuk mengajak Prilly taaruf dan menunggu sampai Prilly lulus kemudian menikahi gadis piliham kemenangan itu dan akan dipindahkan juga ke Belanda. Memang untuk saat ini Prilly belum sesuai sepenuhnya seperti wanita idamannya yang menutup aurat dan rajin ibadahnya. Tapi Ali berfikir seiring berjalannya waktu Prilly pasti mau berubah sedikit demi sedikit jika meminta pengertian.
"Ali, ngapain lo disini?"
"Lagi salat Prill! Yaa lagi nunggu kamu lah Pipi Tupai," jawabnya tersenyum pada Prilly. "Ada yang mau aku omongin sama kamu Pipi Tupai,"
"Apaan? Sok serius deh,"
"Iya, memang serius kog."
"Sama, gue juga ada yang mau gue omongin sama lo Jambul Ontanya gue." Prilly berniat ingin memberi tahu pada Ali jika dia dan Randy sudah jadian.
"Yaudah kamu duluan deh, apa yang mau dibicarain?" tanya Ali pada gadis yang sekarang mengambil posisi duduk di sebelahnya itu.
"Gue ... gue jadian sama Randy,"
Kata-kata Prilly membuat Ali menoleh tak percaya pada gadis itu. Entah apa yang sekarang Ali rasakan saat mendengarkan gadis yang ingin ia ajak bertaaruf itu kini sudah menjadi milik orang lain. Meskipun baru sebatas pacaran. Tapi Ali tidak ingin dianggap sebagai penikung, jika dia mengutarakan keinginan toleransi saat ini.
Buyar semua rasa angan-angan yang sudah di susunnya rapi beberapa hari ini.
Selamat datang. Terima kasih. Seusai wisuda Ali akan menerima tawaran pak Candra papanya untuk bekerja sementara membantu di perusahaan papanya itu, sambil menunggu Prilly lulus dan menikmati pernikahan indah bersama si Pipi Tupainya itu.
Kata-kata bang Hilmy kembali terngiang. Ternyata benar, saat dia ingin mengungkap perasaanya, tapi sudah terlanjur keduluan orang lain. Rasanya sakit sekali dihati. Kenyataan yang tidak sesuai harapan, itu mungkin yang Ali rasakan saat ini.
Memang benar adanya, manusia hanya bisa merencanakan, tetapi tetap Allah lah yang menentukan segala hasil persetujuannya. Seindah apapun angan yang kau bangun tetapi jika Allah belum meridhainya itu tidak akan mungkin terjadi.
Mungkin Ali harus lebih berbesar hati lagi, atau mungkin dia harus jadi orang yang egois dan harus perpisahan Prilly dengan Randy.
#########