9# Memendam Rasa

1539 Kata
 9. Memendam Rasa "Gue jadian sama Randy," kata-kata yang diucapkan oleh Prilly masih terngiang jelas di telinga Ali. Buyar semua angan yang sudah disiapkan rapi selama beberapa hari ini. Ali terlewatkan sesuatu yang berharga dalam melewati. Dia layak kalah sebelum berperang. "Katanya mau ngomong serius, apaan Li?" lidah Ali keluh mendadak saat Prilly meminta perihal yang ingin dibicarakan dengan si Pipi Tupainya itu. "Nggak ada Prill, cuma mau diskusi tentang judul skripsi yang mau aku ajuin ke dospem," sahut Ali kala itu yang urung mengatakan semua tentang rencana dan perasaannya. "Li, gimana? Sudah ngobrol sama Prilly, terus dia gimana? Pasti menerima ajakan taaruf kamu kan," tante Rasti bertanya saat Ali pulang ke rumah dengan wajah sendu dan langkah gontainya tak perlu. "Telat Mam, Prilly sudah jadi milik orang lain, semua salah Ali yang nggak bisa jujur selama ini sama dia." Ali melempar tas ranselnya ke sofa kemudian membantingnya juga di sana. "Lho, maksudnya gimana Li? Prilly sudah punya pacar gitu?" "Iya Mam, Ali terlambat. Prilly udah jadian sama Randy," sahut Ali mengusap kasar kebangkitan. Tante Rasti duduk di sebelah putranya itu. Megusap lembut rambut Ali dan tenang hanya anak laki-laki yang tengah patah hati, "Bukan salah Ali, jangan terbebani dengan urusan yang belum pasti Nak," ucapnya pada Ali. "Maksud Mama?" "Kan mereka pacaran baru, yang disebut jodoh siapa yang tahu, Ali bukan berarti kalah, tapi sebaliknya selama ini Ali yang menerapkan prinsip yang sudah Ali pegang," "Tapi sekarang dia jadi jauh Mam, dia udah punya Randy yang akan selalu ada untuknya. Prilly sudah tidak butuh Ali lagi perlu," kata Eluh Ali seperti anak kecil yang mengadu pada akhirnya. "Sabar Li, bukan seperti itu. Mama tadi bilang, kalau sudah jodohnya Ali, pasti nanti akan datang sendiri ke kamu." "Iya Mam, Ali mau fokus buat lulus aja, setelah itu mau cepat-cepat berangkat ke Belanda," "Karena Prilly?" "Bukan Mam, iya, melainkan salah satu alasannya, tapi memang cita-cita Ali untuk bisa menyelesaikan S2 dan melanjutkan kerja, biar lebih mantap lagi kalau nanti mau mempertanyakan anak gadis orang, kan sudah ada modal buat nafkahin." "Memang sudah ada calonnya Li?" goda tante Rasti tersenyum. "Sudah Mam, tapi masih menunda dan transit di hati yang lain, nanti kalau sudah otw trus mendarat ke hati Ali baru nanti Ali khitbah, eh, dihalalin sekalian deh kalau perlu," jawab Ali senang dengan kata-katanya sendiri. "Siapa? Si Pipi Tupai," goda tante Rasti lagi, menelisik putranya itu. Ali tak menjawab, tapi malah makin tertawa dengan godaan mamanya. Sejenak bisa melupakan masalah yang menyakitkan, saat mengingat perempuan pilihan yang suka mengikarkan janji dengan orang lain. Benar kata tante Rasti, jika jodoh pasti suatu saat akan datang dengan sendirinya. Jodoh itu tidak bisa diselesaikan dan dikejar, tapi akan nampak sendiri jika sudah tiba. Ali tak ingin dipusingkan dengan urusan cinta yang belum disediakan halal untuknya. Fokusnya saat ini hanya tertuju pada pendidikannya, melanjutkan skripsi dan wisuda dipindahkannya lalu berangkat ke Belanda, seperti rencana awal, tanpa pendamping seperti harapan mama dan papanya. Mungkin nanti kalau dia sudah lulus S2 pasti akan mudah untuk bekal meniti karir, dan itu juga bisa memudahkan langkahnya nanti jika akan khawatir gadis pilihan kemenangan. Anggaplah sekarang ini adalah proses pemantaban diri untuk bisa lebih pantas jika nanti sudah menjadi kepala keluarga. *** "Prill, gue nggak salah denger kan?" Indira mendelik kaget dengan pemgakuan Prilly yang mengatakan jika sahabatnya sudah jadian dengan Randy. Prilly mengangguk meyakinkankan Dira, "Iyalah gue serius, memang kenapa?" tanyanya mendelik balik pada Dira. "Gue nggak yakin sama perasaan lo pada Randy," Dira masih tak yakin dengan keputusan yang Prilly ambil itu. Menurut ya itu sangat tergesa-gesa sekali. "Apaan sih Ra, gue nyaman kog sama Randy, gue..gue, senang dekat dia," sahut Prilly tapi ada nada ragu saat dia senang itu. "Tapi tidak senyaman dan senang saat dekat sama Ali." Kata-kata Dira benar-benar menusuk hati Prilly. Memang benar apa yang diakui Indira. Rasanya ada yang kurang dari hidup Prilly sehari-hari jika tidak ada Ali. Tapi apa yang menarik perhatian mereka yang hanya sebatas sahabat, jika mengingat lagi Ali akan lulus dan khawatir Namira. Batin Prilly dalam hati. "Sotoy lo Ra, siapa tahu gue nggak suka sama saat si Jambul Onta," elak Prilly berusaha menepis perasaan nyerinya. "Mata lo yang dinilai begitu, mulut lo bisa bilang begitu, tapi hati sama mata nggak bisa dibohongi. Prill, mata itu jendela hati, apa yang terpancar di mata yang dipahami dalam hati," cerca Dira panjang lebar pada sahabatnya itu. >> Semester Libur semakin dekat, dan Prilly sudah memutuskan liburan kali ini akan dihabiskan di Surabaya bersama kedua orangtuanya. Indira pun juga begitu, sama seperti Prilly dia akan pulang ke Bandung selama liburan semester. Sementara Ali, sidang skripsinya telah usai dan tinggal menunggu kelulusan. Itu berarti tinggal menunggu pengumuman serta wisuda dia akan meraih gelar ST atau Sarjana Teknik. Sengaja selama satu bulan ini Ali benar-benar hanya fokus pada skripsi yang dirancangnya, ingin diaktifkannya lulus dan berangkat ke Belanda. Mungkin dengan kepergiannya nanti, Ali berpikir bisa melepaskan perasaan yang belum tiba ia rasakan. Ali ingin nanti pada saat dia sudah sukses dan memiliki pekerjaan tetap, saat itu akan mendukung yang memilih Prilly juga semakin kuat. Biarlah saat ini dia ber muhasabah dan buktikan kalau dia layak untuk si Pipi Tupai >>> "Prill, yakin nggak mau pamitan sama Ali dulu?" seru Dira saat Prilly sudah siap dengan tas ransel yang akan dia bawa mudik ke Surabaya. "Udah kog, tadi gue kirim pesan pamit sama dia," "Nggak pengen ketemu?" "Gue nggak mau ganggu dia Ra, pasti sekarang lagi menunggu sama sidang skripsinya." Dira tahu jika sahabat cantiknya itu pasti sedang menahan perasaan rindunya pada Ali. Dapat dilihat dari sorot mata Prilly jika sebenarnya dia sangat ingin bertemu dengan Jambul Ontanya. "Prill, lo sama Randy ..." "Tolong Ra! Nggak usah ngomongin dia lagi di depan gue," seru Prilly yang sudah tak ingin lagi tahu tentang Randy. "Ali tahu tentang ini Prill?" Prilly menggeleng lemah, sengaja dia ingin memberi tahu pada Ali bahwa dia sudah putus dengan Randy. Lebih memutuskan Randy yang ditentukan Prilly oleh sepihak. "Gue mohon Ra, jangan minta dia soal gue dan Randy, biarlah Ali ngira kalau gue masih jadian sama Randy. Gue nggak mau terlihat lemah di depan dia," pinta Prilly di Indira. "Lagipula bangkit lagi dia lulus dan itu artinya dia akan berangkat ke Belanda dan pasti juga, bersama Namira." ucapnya lagi dengan wajah sendu jika mengingat akan Namira. "Lo yakin banget sih kalau Ali bakal nikah sama Namira," "Ya, nggak tahu Ra. Tapi Ali menilai begitu waktu, mau taarufan sama Namira dan nanti berarti mereka akan nikah kan," terang Prilly dengan perasaan yang terasa tertekan. Harusnya Prilly sudah sejak lama menyadari ada yang berbeda dengan kemenangan pada Ali. Tapi saat rasa itu terasa nyata, Prilly harus sekuat tenaga membangkitkan perasaan itu karena dia sadar, dia seperti gadis impian Ali yang selama ini selalu diceritakan ditangkap. Prilly sadar diri, tak ingin merusak persahabatan yang sudah terjalin erat selama ini. Prilly takut, jika Ali tahu akan perasaannya, lelaki itu malah akan menjauhinya. Ketakutan yang tidak beralasan, tapi memang dipahami yang saat ini diterima gadis cantik itu. ##########
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN