10# Rasa Yang Terbawa Pergi

2343 Kata
 10. Rasa Yang Terbawa Pergi Jambul Onta: Assalamuallaikum Pipi Tupai apakabar? Maaf ya Prill, kemarin nggak bisa nemenin dan nganter ke stasiun, (lagi sidang, dicecar sama enam dosen) pasti sudah ada Randy yang nganter kamu kan Pipi Tupai, ^^ Prilly sambil tersenyum kecut memandang handphone-ny a. Baru saja dia membaca pesan dari Ali yang menjelaskan mengapa si Jambul Onta itu kemarin tidak bisa bertanya dan mengantarnya. 'Iya Li, dan lo juga sudah ada Namira yang akan selalu setia nemenin setelah ini, pasti nanti dia juga akan mendampingi lo saat wisuda.' Gumam. Jambul Onta: Oh iya, gimana kabar Om Adit sama Tante Nia? Sehat kan Prill, salam buat Om sama Tante y a Pesan kedua yang Prilly baca masih dari Ali yang meminta kabar kedua orangtuanya. Memang selama hampir dua tahun ini Ali lumayan dekat dengan mama dan papanya. Saat baru bertemu beberapa kali saat orangtuanya mengunjunginya ke Jakarta. Prilly melirik jam di perpindahan tertunda, pukul 15.00 waktu Surabaya. Itu berarti dia ada di tempat ini lebih dari dua jam. Prilly saat ini tengah berjalan salah satu tempat yang paling besar ia rindukan. Pantai Kenjeran, pantai yang terletak di Pesisir Surabaya dan dekat dengan jembatan Suramadu. Di tempat ini juga dia pernah menghabiskan waktu bersama Ali si jambul Ontanya. Prilly senang sekitaran pantai yang nampak ramai karena memang sedang musim liburan. Di pendopo utama sedang berlangsung live musik dangdut salah satu hiburan yang disuguhkan di pantai ini, dan terbesar yang menjejali sudut itu adalah para bapak-ayah dan baya yang gemar akan musik asli negara itu. Mata Prilly menoleh ke ujung sebelah barat, ada arena bermain anak-anak di sana, berbagai permaian penuh dengan anak-anak yang saling berebut ingin memainkannya. Senyum tersungging di wajah cantik Prilly saat mengingat kegilaannya bersama Ali kala itu, yang menaiki perosotan di arena bermain, meskipun demikian mereka harus menahan malu karena mendapat teguran dari sekuritas yang memarahi mereka karena menaiki permainan untuk anak-anak lima tahun. Tidak ada gurat kesal saat itu, sebaliknya tertawa lepas seakan tanpa beban, lucu dan tidak mungkin terlupakan hidup. Meraih hape di selempangnya Prilly berniat membalas obrolan yang dikirim Ali beberapa jam yang lalu. Saya: Dapatkan lagi di pantai Kenjeran Li, lo nggak pengen kesini? Senyum samar saat Prilly membalas obrolan dari Ali. Masih terekam dengan jelas beberapa bulan yang lalu saat Ali ikut serta mengantarnya ke Surabaya. Saat itu Prilly yang tiba-tiba kangen kedua orangtuanya merengek pada Ali jika dia ingin pulang saat itu juga. Ali yang tidak melihat Pipi Tupai yang terus-menerus merengek hampir menangis di akhirnya akhirnya sepengetahuan Prilly diam-diam memesan dua tiket menuju Juanda saat itu juga. Prekek memekik girang saat Ali datang dengan tas tiket, serta dua tiket pesawat untuk mereka berdua. Sampai di Surabaya Prilly mengajak sahabatnya berkunjung, museum hari pertama mengunjungi kapal selam yang berada di jantung kota Surabaya, diapit oleh bantaran kalimas di sebelah kanan, dan Plaza Surabaya di sebelah kiri atau terkenal dengan nama Delta Plaza. Ali girang sekali saat diajak berkunjung ke Monkasel, asyik menerima berbagai peralatan dan mesin di dalam museum Prilly sampai ngambek saat itu karena Ali enggan beranjak dari sana. Lalu malamnya mampir ke Tunjungan Plaza, salah satunya mall milik provinsi Jawa Timur ini. Dan pantai Kenjeran, menyimpan banyak kenangan indah untuk Prilly saat bersama menikmati indahnya matahari terbenam sore di Pantai Surabaya itu. Berjalan ke Arah pinggiran pantai, lagi-lagi Prilly teringat akan Ali, ada mereka berdua melabuhkan dua perahu kertas yang dibuat oleh Ali membuat dari bungkus kacang rebus yang ia beli di depan pintu masuk. "Kamu tahu nggak, perahu itu ibarat bahtera perjalanan cinta," Prilly teringat ucapan Ali saat itu. "Maksud lo Li?" "Perahu itu seperti perjalanan cinta seseorang, yang mana pasti akan ada badai yang menghantamnya, angin bertiup yang menerpa dan juga ombak yang menerjangnya, tetapi dengan kekuatan nahkoda yang mengendalikan dan juga dayung yang menguatkan, perahu itu akan berlabuh dengan selamat sampai kembali. Sama seperti cinta, banyak aral dan lika-liku yang menyertai, tetapi keyakinan dan kepercayaan akan mampu membawakan satu cinta pada satu tujuan hidup yang lebih memahami. " Memutar ke dalam air laut tampak ubur-ubur muncul dengan bergerombol, lagi dan lagi ingatannya berputar tentang Ali yang saat ini nekat memegang salah satu dari ubur-ubur yang muncul di tepi pantai, lalu lihat di mana-mana, ubur-ubur bisa dicari terancam. Meskipun tidak sampai tersengat tapi Prilly kala itu sangat cemas dan kawatir dengan kenekatan Ali. Puas bermain di tepi pantai mereka berdua melangkahkan bagian atas gazebo yang dibangun di atas pantai, ada empat gazebo di pantai ini, masing-masing terbuat dari kayu gaharu yang memang kuat dan tahan udara. Ali dan Prilly memilih gazebo yang ketiga, di sana lumayan lenggang dan tidak berjubel seperti yang lainnya. Lumayan ramai, pengunjung yang membawa serta keluarga mereka suka bersantai di atas gazebo ini, menggelar kasur dan menikmati pemandangan kapal nelayan yang hilir mudik melewati sekitaran pantai. Menikmati indahnya sakit hari ditemani semilir angin dan juga celoteh anak-anak yang bermain air di bawah gazebo, juga banyak teman muda mudi yang bepergian dengan perahu getek menggunakan seputaran pantai. Khusus para nelayan yang tidak melaut mereka akan menawarkan jasa wisata getek ini dengan tarif 10.000 ribu perorang. Ali sebenarnya ingin mencoba menaiki perahu getek saat itu, tapi Prilly menolak, alasannya dia takut dan trauma karena pernah terjatuh saat menaiki getek dulu waktu dia masih kecil "Suatu saat nanti aku pasti akan memgunjungi tempat ini lagi Prill, tapi tidak denganmu si Pipi Tupai," Kata-kata Ali berputar dengan sendirinya dalam memori Prilly, di tempat yang sama ini Ali dulu pernah mengatakan begitu. Prilly langsung menolehnya saat mendengar Ali mengatakan akan kembali kesana tanpa dia. "Gaya banget lo Mbul, emangnya mau sama siapa lagi kalau nggak sama gue." cerocos Prilly menyahuti omongan Ali. Sedang Ali hanya mengulum senyumnya sambil mendengar cerocosan si Pipi Tupai dengan bawelnya. "Aku kesininya nanti sama kekasih halalku, biar bisa menikmati susana romantis kayak yang lain tuh, senderan di bahu, suap-suapan, terus gandengan tangan menyusuri pasir pantai," Ali menunjuk ke arah Beberapa pasangan yang tengah asyik seperti yang ia sebutkan tadi. Prilly malah tertawa mendengar dinyatakan Ali, kemudian merauk wajah si Jambul Onta dengan gemas. "Gaya lo Mbul, sok iye aja! Kuliah dulu yang bener, mikirin kawin mulu, kerja aja belum. Mau dikasih makan apa anak gadis orang," "Astaghfirullah, jangan pegang-pegang, bukan muhrim." seperti biasa, bukan Prilly namanya jika tak bandel. Di protes jadi gadis mungil itu malah sengaja disenderkan ke bahu Ali, menjahili sahabatnya itu. Sontak Ali langsung menghindar, sampai mereka berdua jadi pusat perhatian orang-orang se gazebo karena kejahilan. Tidak sampai disitu kejahilan Prilly, setelah itu diam-diam memesan dua porsi lontong kupang dengan sate kerang dan tentu saja hanya disetujui si Jambul Onta untuk ikut menyantap makanan khas pantai kenjeran itu. Padahal Ali sudah pernah bilang dia alergi makanan laut, dan benar saja, setelahnya Ali gatal-gatal dan muntah karena baru kali ini memakan lontong kupang. "Yang hamil Mbaknya, yang ngidam Masnya ya," celetuk si ibu penjual lontong kupang kala itu salah paham saat melihat Ali muntah-muntah di pojokan gazebo. Mendengar penuturan si ibu itu tawa Prilly pecah seketika, sementara Ali hanya bisa diam karena badannya yang lemas sehabis tuk dan juga peeutnya masih terasa mual saat itu. 'Iya Li, tahu apa maksud omongan lo waktu itu, pasti nanti lo akan kesini lagi. Bukan sama gue, itu benar-benar seperti yang disukai. Tapi sama Namira kan. ' tersenyum getir saat membatin dan teringat obrolannya berama Ali dulu, di tempat yang sama ini. Jambul Onta: Eh, ngapain di pantai? Sama siapa, tiati lho Pipi Tupai. Getaran di hape Prilly pertanda ada pesan yang masuk. Yang ternyata dari Ali. Saya: Ngitungin sodara lo Jambul Onta. Nggak menunggu kog. Hati-hati kenapa ?? Jambul Onta: Eh, sama siapa hayoo? Inget sudah punya Randy, jangan sembarang pergi sama cowo. Sodara ku? Siapa Prill ^^ Hati-hati kegulung ombak, kan saking mungilnya itu badan. Prilly tertawa membaca membalas pesan dari Ali. Hanya bercanda lewat pesan singkat saja sudah bisa membuat senang senang. Saya: Sama pengunjung yang lain, kan nggak sendiri. Ubur-ubur sodara lo. Hahaha .. Iya nggak macem-macem kog, habis ini gue balik Usai mengirim jawaban Prilly langsung mengirimnya pada Ali. Menunggu matahari terbenam di atas gazebo Prilly puas puas menuntaskan rindunya di tempat ini, tetap tanpa Jambul Onta bersama tapi Prilly yakin suatu hari nanti dia pasti akan bersama-sama lagi datang ke tempat ini bersama Ali. >> walimatul urusy bang Hilmy dan Namira yang akan dilangsungkan dua hari lagi. Selain itu niatnya untuk mengundang Prilly saat acara wisuda penilaian lagi. Ali berharap Prilly tidak akan menolak saat diajak dan ikut mendampingi wisuda nanti, mengingat yang Ali tahu jika saat ini Prilly sudah memiliki Randy sebagai pacarnya. "Assalamuallaikum," sampai di depan kostan Ali mengetuk pintu kamar Prilly yang masih nampak sepih. Pintu kamar yang tepat di sebelah kamar Prilly terbuka ternyata Indira yang sudah lebih dulu dari liburannya. "Waalaikumsalam Li, nyari Prilly ya?" Ali mengangguk mendengar pertanyaan Dira. "Prilly belum balik dari Li Surabaya, emang dia nggak bilang ya sama lo?" Hati Ali agak mencelos mendengar penuturan Dira yang dinilai sebelum Prilly belum kembali dari Surabaya. "Nggak Ra, gue telpon hapenya juga nggak aktiv sudah preview ini, makanya gue langsung kesini. Siapa tahu sudah balik, ternyata belum," terang Ali. "Dapatkan nitip ini aja ya Ra, tolong sampein buat Prilly," Ali mengambil sesuatu dari tas ranselnya yang ternyata undangan dari Hilmy kemudian diserahkan pada Dira. "Undangan? Jadi bener ya Li, kalau lo mau nikah?" selidik Dira penasaran dan masih tak percaya saat menerima undangan bersampul warna merah marun dan berpita emas itu. Ali tersenyum putaran mendengar penuturan Indira. "Bukan gue Ra, tapi abang sepupuku, bang Hilmy." "Ooh," sahut Dira dengan mengehela napasnya lega mendengar penuturan Ali. Penting didugaan Prilly selama ini salah jika mengira Ali yang akan meminta masa lajangnya. >>> Hari wisuda Ali pun tiba. Senyum puas terukir di wajah tampannya saat dinyatakan lulus dengan nilai cumlaud dan itu merupakan bonus untuk usaha tekun Ali selama ini, tidak sia-sia dia yang terkait dengan mengejar kelulusan dengan nilai yang memuaskan. Tapi jika ingat akan perasaannya Ali tiba-tiba tersenyum. Sampai hari ini Ali tidak melihat gadis si Pipi Tupainya datang, rasanya memang ada yang kurang. Merayakan kelulusannya tanpa ada Prilly disampingnya. "Haii, Li. Gue denger-denger Prilly putus ya sama Randy," Renata yang melintas di depan Ali menghampiri dan mengajak ngobrol. Jika malas harus bicara lama dengan Rena, bisa saja Ali tebak obrolan mereka akan mulai pada perkataan Renata yang mengumpat atau menjelek-jelekan seseorang. Tapi kali ini Ali agak kaget mendengar kata Renata kalau Prilly dan Randy sudah putus. "Darimana lo tahu itu?" tanya Ali penuh selidik. "Iya tahu lah, apa sih yang Renata nggak tahu," ucap gadis itu menyombongkan diri. "Makanya Li, tolong bilang apa. Lo jangan deket-deket sama si Prilly itu. Dia playgirl suka mainin perasaan cowo, Randy aja udah jadi korbannya, mau nggak mau cowo jadi lo jadi korban berikutnya." Dan dugaan Ali benar, kali ini gigi Ali bergemerutuk mendengar ocehan Renata menjelek-jelekan sahabatnya di mendengarkan sendiri. Sekuat Tenaga Ali berusaha mempertahankan agar tidak terpancing emosinya. "Mau tahu gadis seperti apa yang dilihat playgirl itu, jadi berhenti buat ngejelekin dia di depan gue, karena itu akan sia-sia. Nggak akan mempan buat gue, dan buat lo. Berhenti untuk membantu dengki dan iri pada kehidupan orang lain, gue permisi duluan Ren, "Ali berlalu begitu saja dari pertemuan Renata yang masih syok mungkin mendengarkan perkataan Ali. Prilly putus sama Randy. Sepanjang langkahnya pikiran Ali hanya membicarakan dengan kata-kata itu. Benarkah mereka terputus itu, tapi kenapa Prilly tak bercerita apa-apa yang ditangkap. Bahkan Ali berpikir tentang hubungan mereka yang baik-baik saja sambil mendengarkan cerita Prilly yang sepertinya-olah gasis yang masih menjalin pembicaraan dengan Randy. "Dira, tunggu." saat akan menghampiri kedua orangtuanya yang tengah mengobrol dengan pak rudi dosen pembimbingnya ali tak sengaja melihat indira. Dira sendiri juga sedang mendampingi Aryo yang juga wisuda tahun ini dengan gelar yang sama dengan Ali, hanya Aryo mengambil jurusan teknik elektro. "Ali." "Ra, apa Prilly belum balik juga?" tanya Ali dan berharap jawaban Dira kali ini tidak kecewa. Indira menggeleng pelan, "belum Li, dan sampai sekarang hapenya masih belum bisa dihubungi." terang Indira. "Ra, jawab jujur sama gue, apa benar Prilly sama Randy mereka .." "Benar Li," "Kenapa Prilly nggak cerita sama gue Ra," "Karena dia nggak mau terlihat lemah di depan lo. Dan karena dia kira lo dan Namira, kalian akan .." "Semua salah gue Ra." Ali menunduk lesu menyesal kenapa dia tidak berterus terang saja waktu itu kalau Namira adalah calonnya bang Hilmy. "Li, belum terlambat. Lo masih bisa nyusul dia ke Surabaya, tahu selama ini kalian berdua itu tersiksa dengan perasaan masing-masing, lebih baik segera diungkapkanin Li biar kalian juga tidak mau saling tersakiti, mau tahu Prilly suka sama lo dan itu lebih dari seorang sahabat, "Seru Indira pada Ali. "Terlambat Ra." "Maksud lo Li," "Besok tepat ba'da isya gue harus pergi ke Belanda, semua sudah diurus dan gue harus berangkat besok juga," ungkap Ali dengan hati yang tak karuan rasanya. "Hanya mau nitip ini buat Prilly," "Apaan lagi Li? Kemarin undangan sekarang surat," cerca Indira saat menerima amplop yang berisi surat dari Ali. "Gue memang sudah berhasil semua Ra, kalau sampai hari ini Prilly tidak datang, gue udah nyiapin surat ini dari jauh-jauh hari." "Oke, nanti pasti harus sampe kalau dia sudah datang." "Makasih Ra," Berlalu dari Indira, Ali berjalan gontai menuju mobilnya. Hatinya tak karuan. Disaat jalan untuk bisa mendapatkan Prilly terbuka lebar setelah tahu si Pipi tupainya itu berstatus bebas setelah putus dari Randy. Tapi Ali harus menerima kenyataan kalau besok dia harus pergi, meninggalakn keluarga, tanah airnya dan tentu saja si Pipi Tupainya. Semua sudah tersusun rapi dan tidak mungkin untuk dibatalkan. Ali tidak ingin membuat mama papanya kecewa. Ini adalah pilihannya, lulus, wisuda, dan langsung berangkat ke Belanda. Haruskah rasa yang belum terungkap ikut terbawa pergi bersamanya. 'Mungkin saat ini Allah belum mentakdirkan aku dan kamu untuk bersatu Pipi Tupai.' Gumam Ali dalam hati. 'Mungkin Allah ingin aku mencapai cita-citaku dulu, sampai nanti aku layak untuk bisa menjadi pendamping yang halal untukmu.' ini lagi meresapi semua yang terjadi beberapa bulan lalu ini. ##########
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN