11# Selepas Kau Pergi

1656 Kata
 11. Selepas Kau Pergi Detik jarum selai terasa sangat menusuk ke dalam telinga Prilly. Dinginnya tembok di dalam kamar kamarnya mengambil sedingin rasa di perdamaian saat ini. Masih dengan isakan yang sesekali terdengar. Dua jam dia baru diinjakkan di Jakarta setelah sehari dalam kereta yang dikembalikan kesini. Sampai di Jakarta Prilly harus dihadapkan pada kenyataan yang menyesakkan karena Ali si Jambul Ontanya sudah jauh jauh berjuta kilometer di negeri orang orang. Dia kalah! Prilly Lovita berhasil kalah pada tantangan. Harusnya dia tidak diam saja di tempat saat lampu merah menyala meluncurkan aba-aba untuk segera melangkahkan kaki menuju keyakinan. Sekarang semua sudah terlambat. Tidak ada lagi Ali yang akan menjaganya dengan penuh kesabaran. Tidak ada lagi Jambul Onta yang selalu mendebatkan hal-hal kecil bersamanya. Tidak akan ia temui lagi untuk waktu yang lama si arab dengan seribu hadistnya. Apakah cinta memang begini keberadaan? Apakah cinta setega ini mengubah dia dengan pilihan kemenangan? Prilly tidak tahu rahasia apa yang harus Tuhan siapkan untuk kisah cintanya. Haruskah dia meminta pada Tuhan untuk bisa menghadirkan Ali sekarang juga diundang. Dia sadar itu sangat tidak mungkin. Prilly diterima sampai kapanpun Ali tidak akan tahu apa yang ia rasakan. Cinta ini salah. Cinta ini hanya miliknya sendiri. Dia tak berani berharap lebih pada tantangan. "Prill, sudah dong. Lo nggak capek apa nangis terus dari tadi," Indira berterima kasih melihat keadaan Prilly saat ini. Sejak baru sampai tadi Prilly tak hentinya menangis saat Dira bercerita tentang dua hari yang lalu Ali datang dan menitipkan undangan untuknya. "Buang aja Ra! Dapatkan udah tahu isi undangan itu," ajak Prilly pada Dira yang mengira nama yang diundang dalam undangan itu adalah Ali dan Namira. "Buka dulu Prill, lo kan belum baca isinya." Dira tidak sesuai dengan permintaan Prilly tetapi ia meminta sahabatnya agar membaca dulu isi dalam undangan tersebut. "Ga perlu Ra! Pasti isinya Ali dan ..." "Lo Shalat Prill!" sentak Dira yang gemas sekali akan sifat keras kepala Prilly. "Maksud lo apa Ra?" Prilly mengernyit bingung. Undangan pernikahan Ali dan Namira. Itu sudah pasti. Menerima sekarang Ali sudah meninggalkannya jauh dan pasti dia bersama gadis cantik itu. "Lo salah Prill jika mengira ini undangan Ali dan Namira. Mereka tidak ada hubungan apa-apa yang ..." "menyetujui apa Ra? Semua sudah jelas. Lepas wisuda dia akan langsung mempertanyakan dan menerima Namira," bulir-bulir kristal mulai berjatuhan di kedua sudut mata Prilly saat diambil itu. "Namira calon istri bang Hilmy!" perkataan Indira menyentak jantung Prilly seketika. Meskipun masih belum mengerti apa yang disetujui dengan ucapan Dira. "Dapatkan nggak ngerti maksud ucapan lo Ra!" mengusap sisa airmata yang tak henti menetes Prilly berusaha mencerna kata-kata Indira. Bersantai di tempat Prilly tengah duduk bersender memeluk lutut dengan kedua dipindahkan. Napasnya naik turun mencoba naik tapi tak ayal tetap gagal juga. "Prill, lo salah paham. Namira ditolak calon istri Ali, tapi dia tunangan bang Hilmy, dan undangan itu nama mereka yang tertulis di sana," tangan Dira terulur mengelus punggung Prilly yang bergetar karena tangisnya. "Kenapa dia nggak jujur saat itu Ra! Kenapa dia tega ninggalin aku tanpa pamit." Tangis Prilly semakin terpecahkan kenyataan jika Namira berhasil calon istri seperti ia sangka selama ini. Indira merengkuh Prilly, mencoba menenangkan sahabatnya itu. Rasanya ikut sedih dan cemas melihat keadaan Prilly saat ini. Sifat ceria yang selalu gadis cantik itu tampakkan seakan sirna sentah kemana. Hanya ada tangisan yang harus dihidangkan sebagai pengobatan. "Sebenarnya dia baru mau bilang kemarin setelah wisuda, dua hari sebelum wisuda Ali bolak-balik kesini cuma buat mastiin lo udah datang apa belum," Indira berusaha menjelaskan apa yang terjadi. "Kenapa dia nggak nunggu gue Ra!" Prilly selamat datang tidak selamat kembali kesini. Apalagi kemarin saat bermain di gazebo hapenya yang ia letakkan di saku tiba-tiba saja terjatuh ke dalam udara, untung saja tidak dalam dan masih bisa diambil, meski setelahnya hapenya mati total tak bisa dihidupkan kembali. Karena itu juga Prilly menunggu beberapa hari karena hapenya sedang di servis. Bukan karena apa-apa tapi banyak nomer penting yang disimpan di hape. Meski sekarang Prilly sudah diganti dengan hape yang baru. "Dia pikir lo masih jadian sama Randy. Itu sudah jauh-jauh hari, Ali mau kepergiannya ke Belanda, karena apa," Indira menghela napasnya ketika bercerita. "Karena dia nggak mau terbebani dengan perasaannya sama, Prill, memang Ali tidak jujur melihat langsung kalau dia punya perasaan lebih sama, tapi dia bisa melihat dari tatapan melihat," Nyeri! Itu yang sekarang Prilly rasakan mendengarkan semua penjelasan Dira. Bagaiamana bisa dia dan Ali sama-sama salah paham tentang hubungan masing-masing. Rasanya Prilly benar-benar menjadi gadis yang bodoh sekali. Mengapa tidak dari dulu dia mengerti ada yang berbeda dan Ali. Terlambat menyadari tentang perasaan Ternyata terasa lebih sulit dari kemarin saat Ali mengenalkan Namira. "Kenapa lo nggak jujur aja sih Prill dari awal kalau lo itu cinta sama Ali," cerca Indira saat Prilly sudah mulai agak tenang. Menarik napas dalam dan mengembuskannya Prilly berusaha untuk tegar menantang sekarang dia sendiri tanpa Jambul Onta yang selalu menemaninya, "Gue sadar Ra, kalau gue ini bukan jenis gadis yang dia harapkan." sesal Prilly tak yakin dia bisa lewat Jambul Onta setelah ini. Apa mungkin dia sanggup menunggu? Apakah seiring berjalannya waktu semua yang dirasa masih akan sama. Prilly sadar dia tahu siapa-siapa, tentu saja dia harua rela jika akhirnya akhirnya tak memihak untuknya bersama Ali. "Kalau dia juga punya hal yang sama seperti lo gimana Prill?" pertanyaan Indira membuat bibir Prilly tercekat. Ali juga menyimpan rasa yang sama meminjam? Itu menarik sekali. Setahu Prilly gadis idaman Ali adalah seperti Namira, santun, lemah lembut tutur katanya, taat dalam hal beribadah dan juga menutup auratnya. Sedang Prilly sendiri masih jauh jauh sekali harus disamakan dengan kriteria Ali. Prilly saja sendiri shalatnya masih bolong-bolong, belum lagi dia juga masih enggan memakai hijab seperti yang biasa Ali nasehatkan lakukan. Tiba-tiba saja Prilly jadi sangat merindukan kata-kata si Jambul Ontanya itu, rindu akan seribu hadis yang selalu Ali gaungkan di telinga Prilly. Rindu semua nasehat-nasehat yang diberikan Ali. "Sebelum pergi Ali nitipin sesuatu buat lo Prill," Indira mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah amplop yang seperti surat kemudian diserahkannya pada Prilly. "Apa ini Ra?" tanya Prilly menerima amplop berwarna kuning dari tangan Dira. "Gue nggak tahu Prill, tapi boleh jadi itu surat Ali siapin buat lo sebelum dia pergi," sahut Dira yang memang tidak tahu apa isi dari surat itu. "Gue ke kamar dulu ya, lo nggak papa kan. Nanti butuh apa-apa panggil gue aja ya." Indira beranjak akan ke kamarnya. Ia tidak mau mengganti Prilly yang mungkin butuh privasi untuk membaca surat dari Ali. "Makasih ya Ra," ucap Prilly mengangguk pelan. Prilly memperhatikan surat yang masih terbungkus amplop itu dengan seksama sebelum membukanya. Hatinya bergetar saat dia akan membuka dan membaca isinya. Ini adalah surat pertama yang diterima dari Ali. Bukan cuma itu saja, tapi ini adalah yang pertama dia dapatkan surat di sepanjang dua puluh tahun berumurnya. Senja mungkin telah berganti malam, dan malam akan berganti pagi. Tapi hatiku masih belum tenang. Mengingat seorang dengan Pipi Tupainya yang sekarang mungkin berada jauh sekali dariku. Kepada: si Pipi Tupai Assalamuallaikum Pipi Tupai Kamu apakabar? Sudah lama sekali rasanya kita tidak bertemu, dan aku merindukan saat-saat kebersamaan yang kita lewati hampir dua tahun ini. (Pssst..rindu sama kebersamaan lho ya! Bukan sama orangnya. Haha ..) Prilly terisak dan tertawa saat membaca surat dari ai Jambul Ontanya. Aku berharap saat kamu membaca ini tidak ada gurat kesedihan di dalam mata indahmu Pipi Tupai (Astagfirullah, aku senang harus memujimu. Rasanya memang tidak akan mungkin bisa mengelak dari yang terpancar di ragamu) Prilly Lovita sahabatku, mungkin saat kamu membuka dan membaca pesan ini aku sudah jauh darimu. Kata-kata yang kutulis dengan sekuntum rindu yang terbungkus dalam secarik kertas. Boleh kan kalau aku merindukanmu ?? "Jambul Onta bahlul, tentu saja boleh," Prilly menjeda saat membaca dan memggumam sendiri. Jangan cengeng ya, aku nggak suka lihat kamu nangis. (Masa Preman mewekan) Mungkin ini adalah skenario yang dinyanyikan untuk kisah persahabatan kita. Allah mungkin sudah menyelesaikan kisah yang indah selanjutnya saat kita berjumpa lagi nanti. Dua tahun .. Iya, dua tahun aku akan berada di negeri orang. Dengan niat Jihadku menuntut ilmu untuk bekal masa depan nanti. Prilly Lovita sahabatku, aah, terlalu kaku jika aku ditangkapmu begitu. Lebih enak didengar dengan nama Pipi Tupai. Selama aku jauh dari sini akan selalu mendoakanmu Pipay Semoga kamu selalu setuju di dalam kebaikan, dan masih bisakah aku membisikan seribu hadis padamu Pipay ?? Haha .. Ku harap kupingmu tidak akan panas jika membacanya. Lagi-lagi tertawa dalam isakan tangisnya. "Justru sekarang gue sangat merindukan bisikan hadistmu itu Mbul, seandainya lo ada di sini sekarang, gue pasti nggak akan mendebat atau protes jika lo mau nasehatin gue." cerca Prilly berbicara sendiri di depan secarik kertas yang ia bawa. Pipi Tupai, melalui embusan angin dan setetes tinta ini, hanya untuk Shalatmu ya Pipai, jangan lupakan tilawahmu, dan ingat selalu untuk menggunakan oralmu, agar para Malaikat perlu ditelepon kamu adalah hamba yang dapat digunakan dengan mudah keimanan. Dan satu lagi, kapan mau tutup auratnya Pipai ?? Hehe..kalau yang satu ini aku tidak akan setuju, tapi itu harus atas kesadaran dari kamu sendiri. Psst..nggak akan membiarkan aku melupakan jika ditutup aurat adalah menerima setiap muslimah. Hh..sudah terlalu panjang kayaknya. Bisa-bisa nanti kamu mual bacanya. Pipi Tupai, senyumlah selalu, jika kamu merasa sedih dan menunggu mengatakan saja Jambul Ontamu, aku pasti akan datang menyapa dalam anganmu Oh iya .. Masih da lima surat yang aku kirim setiap enam bulan sekali. Itu berarti empat akan ku kirim dari sini, dan yang terakhir akan kuserahkan sendiri nanti jika kita sudah bertemu. Tetaplah Ceria selalu Pipi Tupaiku. Prilly Lovita. Dari: Jambul Onta yang selalu menyebut namamu di dalam setiap doa-doaku. ~~~~~~~~~~ Umpan terakhir yang ia baca saat itu juga tangis Prilly kembali pecah. "Gue juga akan selalu berdoa buat Jambul Ontanya gue, semoga ada lo yang selalu diproteksi dan lo nggak akan pernah lupa sama gue," gumamnya disela tangisnya. 'Selepas kau pergi, semua baru terasa begitu berarti buat gue Li. Kebersamaan kita selama ini tidak akan mungkin bisa tergantikan oleh apa pun. ' Batin Prilly dalam hati. ######
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN