12# Melepas Angan

1332 Kata
12. Melepas Angan Setitik gerimis yang membasahi bumi kembali mengingatkan memori Prilly akan kenangan indahnya bersama Ali. Bagaimana tidak. Jika ia tidak pernah keluar dari udara rinai yang turun dari langit itu bersama dengan si Jambul Onta kesayangannya. Dan bau tanah yang basah tertimpa langit udara menjadi candu bagi Ali jika Prilly mempertimbangkannya. Lelaki itu akan menghirup aroma khas dari hujan yang membasahi tanah. Dia bilang itu aroma favoritnya. Mengambil itu Prilly pun melakukan hal yang sama. Menutup kedua sisi dengan menghirup dalam-dalam udara di sekitarnya. Mengembuskan napasnya dengan kasar, lalu dibuka mata. Tapi ada yang kurang. Iya, tidak ada Ali yang biasa duduk di sampingnya. Meski sulit, gadis cantik itu sulit tegar. Selalu ingat akan pesan-pesan yang dituliskan pada sahabatnya jika ia tidak mau melihat Prilly menangis. "Preman kog mewekan sih!" Senyum tersungging mengingat kata yang ia baca di selembar kertas yang menjadi penghantar jika ia sedang rindu pada lelaki jambul ontanya. Oh, Rindu? Bolehkah ia merindukan lelaki itu. Rindu pada lelaki yang bukan siapa-siapanya. Hanya sebatas sahabat dan tak lebih. Hujan menari-nari seakan dengan sengaja mempermainkan ingatan Prilly. Satu nama yang masih sama. Akankah dia ada di sana juga sama merindukannya? Ah, sudahlah. Itu tidak penting sama sekali, toh mereka bukan kekasih yang tersedia jarak. Tak ingin merisaukan takdir Tuhan untuknya nanti. Bisa mengenal seorang 'Ali Cendekia' saja sudah sangat disyukuri oleh Prilly. Entah kelak takdir Cinta alan memihak yang berhak atau tidak, ia tak ingin menginginkannya sekarang. Cinta memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada ujian dan jalannya sendiri. Haruskah Prilly merasa marah dan kecewa karena rasa ini hanya miliknya. Sedang lelaki yang diam-diam merampas perasaan tak mengerti apa-apa. Haruskah dia tetap bersandar pada ketetapan hati untuk tetap menunggu dia yang jauh di sana? Cinta! Siapakah yang tidak ingin Dicinta dan Dicinta? Hanya seluruh perputaran bumi ini yang bisa berjalan karena dasyatnya rasa yang diciptakan cinta. Sepasang merpati yang terlahir tak perlu akal saja bisa memilih pasangannya berdasarkan cinta. Tapi ketika rasa cinta yang ada di hati belum sepenuhnya Allah ijinkan untuk Prilly berhak haruskah ia melepaskan angan yang menyesak menggelayut di hati! Aroma dedaunan yang basah paling berlimpah menyeruak udara hujan terasa membuka rongga d**a. Tapi tetap saja bagi Prilly ada sudut pandang yang terasa tenang. Gemericik air masih nyaring terdengar sampai tepukan di bahu pun ditanggapi "Percobaan," Entah karena suara hujan turun atau karena pikirannya sedang berkelana jauh pada seseorang yang akhir-akhir ini selalu memganggu tidur nyenyaknya. "Prillyyyy !!" setengah berteriak Indira mengagetkan Prilly dari angannya. "Astagfirullah Dira !! Kaget gue." "Melamunin Ali lagi pasti !?" "Sotoy!" "Mau balik, lo mau ikut nggak?" Prilly memggeleng pelan. Pasti Dira bareng dengan Aryo. Dan Prilly tak mau menjadi orang ketiga atau obat nyamuk untuk sahabatnya itu. Apalagi kata orang jika lelaki sama dengan perempuan, satu yang ketiganya setan. Prilly ogah jadi yang ketiga. Tapi bukan itu alasan sebenarnya. Gadis mungil itu masih ingin disini. Di sudut kampus yang menyimpan banyak kenangan indahnya bersama Ali. Belum rela beranjak dan masih ingin menikmati sendiri angan yang berkelebat membuka otak dan pikirannya. "Lo duluan aja Ra!" "Trus lo gimana?" "Gampang! Nanti bisa naik gojek atau ambil." "Benaran Pril?" Lagi Prilly mengangguk pelan plus tersenyum tipis ke Arah Dira. "Jangan pulang malem-malem. Kalau ada apa-apa telpon gue ya Prill." "Iya! Udah sana, ditungguin sama Aryo tuh." Indira beranjak meninggalkan Prilly. Selepas langkah Dira, gadis mungil itu kembali memutar memorinya. Sengaja ingin berlama-lama berada di tempat ini. Tempat yang biasa dia habiskan bersama lelaki yang sudah dua tahun ini menjadi sahabatnya. Kantin terlihat lengang. Hanya beberapa siswa yang duduk di beberapa sudut kantin, sama seperti Prilly mungkin mereka menunggu sampai hujan reda. Ingin sekali Prilly berlari ke tengah derasanya hujan lalu meneriakan jika dia sangat merindukan satu nama. 'Ali' nama yang dia gaungkan di antara deru dan tetesan udara. Mungkin jika ia ingin menangis sepuasnya ini adalah waktu yang tepat. Air hujan pasti akan dengan sempurna menyamarkan tangisannya. Tapi tidak! Prilly tahu pasti Ali di luar sana akan senang jika sedang menangis. Lebih lagi di bawah guyuran hujan. Prilly itu mempertanyakan dengan hawa dingin, jadi tidak akan kuat lama-lama jika berhasil hujan Bisa-bisa badannya langsung merah-merah dan setelahnya bisa saja terserang flu atau demam. Pernah satu kali saat di tengah jalan dan ada di boncengan Ali. Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Terpaksa Ali tetap melajukan motornya kala itu harus sudah sampai dan nanggung jika harus berhenti untuk berteduh. Alhasil setelahnya Prilly demam selama dua hari dan itu sangat membuat Ali merasa sangat bersalah. "Jambul Onta lagi apa ada?" dalam gumaman-nya sendiri Prilly berusaha bertanya. Sedang apakah gerangan Ali jauh ada. "Gue rindu sama lo Mbul," ungkapnya lagi di tengah semilir angin yang menerpa wajah cantiknya. "Bolehkah aku merindukanmu Li?" tanyanya pada diri sendiri. Seakan ingin melepaskan beban yang masih tersimpan di sudut hati. Apa yang harus dihapus angan yang terlalu tinggi. Membiarkannya hilang bersama tenggelamnya matahari dan seperti bintang yang hilang setelah diteruskan hujan yang membungkus langit malam. "Dua tahun Prill! Hanya dua tahun, jangan lebay. Nanti juga lo bisa ketemu lagi sama dia." batin Prilly membisiki. Memang hanya dua tahun. Tapi apakah sesuai waktu maka semua akan tetap berjalan sama adanya. Bagaimana dengan perasaannya nanti. Apa dia harus terus larut dalam angan yang tak pasti. Atau memutuskan untuk melepaskan jauh-jauh angan yang ingin dia miliki. Lalu! Bagaimana dengan perasaan Ali, nanti. Apakah terlalu naif dan egois jika masih mengharap Ali memiliki rasa yang sama-sama berhak. Memang kata Dira saat melihat dari perkataan dan sorot mata Ali. Lelaki itu suka memyimpan asa yang sama suka. Tapi semua masih abu-abu. Tidak jelas! Bagaimana jika Terkadang ada Ali bertemu dengan gadis impiannya. Lalu meminta kesini untuk dikenalkan sebagai calon istri. Bak memulihkan dejavu Prilly kembali ingat saat Ali membawa Namira untuk dikenalkan ditangkap. Meskipun Namira bukan calon istri yang sebenarnya untuk Ali. Tapi tetap saja, rasanya saat itu d**a Prilly ramai selali. "Kenapa lo nggak jujur aja sih Prill!" Dira yang sekarang ikut terbawa suasana antara trenyuh dan gemas melihat hubungan persahabatan Ali dan Prilly. "Kalau suka itu dilihat! Jangan dipendem sendiri. Jadi penyakit lho." skak Dira kala itu. Seperti mengerti sekali apa yang tersirat antara Ali dan sahabatnya itu. "Ternyata mengungkap cinta tidak segampang itu Ra!" Gumam Prilly lagi. "Mbak Prilly nggal balik?" mbak Rida bernyanyi penjaga kantin menyadarkan Prilly jika hujan telah reda. Awan cerah kembali menampakkan senyumannya. Terlalu asyik mendalami angannya hingga tak sadar jika derasnya udara langit sudah berganti dengan semburat warna-warni nan indah di langit sana. Indah sekali! Haruskah Prilly seperti langit. Setelah mengeluarkan tangisannya akan ada semburat indah yang menghiasi langit itu. Langit saja tidak pernah puas jika awan hitam menyambanginya. Belum lagi badai dan petir bersahutan seakan menumpahkan amarahnya di langit sana. Lalu! Kenapa Prilly harus bersyukur saat mendung mulai merayapi kemenangan. Harusnya keyakinnya jauh lebih kuat dari Ali. Harusnya dia bisa percaya pada angan dan percaya keyakinan. "Mbak Prill, semua sudah pulang. Maaf Mbak, minta ngusir. Tapi kantinnya mau aku tutup." teguran mbak Rida kembali mengusik nurani Prilly yang sedang berkelana. Penjaga dan pemutaran dua puluh lima tahun itu terlihat sedang membereskan gelas-gelas sisa pesanan yang berjejer di meja. "Maaf ya Mbak Rida, tolong duduk sampai males pulang." sahut Prilly dengan cemgiran khasnya. Mbak Rida tersenyum balik ke arah Prilly. "Pasti lagi inget-inget Mas Ali yo Mbak?" tebak mbak Rida tepat sasaran. Mbak Rida memang sudah hapal betul dengan kebersamaan Ali dan Prilly. Prilly hanya mengulum senyum mendengar celoteh mbak Rida. Ternyata orang lain pun dengan gampang dan mudah sekali diselesaikan kedekatannya dengan Ali. "Ngapain dipikirin Mbak, orangnya sudah jauh di negeri orang." cerca Prilly mendustai perdamaian sendiri. Sok-sokan dinilai tidak disetujui. Tapi dalam hati isinya penuh dengan nama Ali. "Balik dulu ya Mbak Rida, ujannya udah berhenti." Kirim uang selembar dua puluh ribu untuk membayar jus dan cemilan yang dipesan tadi. "Hati-hati mbak Prill, awas perdamaian ketinggalan sini bareng kenangan mas Ali." Rupanya selera humor mbak Rida juga bisa membuat Prilly tertawa. Gadis itu terkekeh sesaat sebelum melangkahkan kenyamanan beranjak dari tempat yang menurutnya sangat nyaman. Berharap istirahat yang paling dua bulan ini menghimpit ruang menenangkan. #####
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN