16. Dufan

1228 Kata
"Yeay!" Karena begitu senang mendengar mereka akan pergi ke Dufan, Fani dan Fina melompat kegirangan. Keduanya kompak memeluk Rian erat, mengucapkan terima kasih dan sayang. Lalu keduanya tanpa sadar saling bersama berpelukan dan memekik. Beberapa orang yang memperhatikan pelukan anak kembar itu merasa gemas sendiri. Apalagi melihat wajah mereka yang sama ditambah pakaian dan sepatu yang memiliki bentuk dan warna sama. Bahkan ada beberapa orang yang berasumsi kalau ukuran pakaian mereka sama. Rian dan Dina menatap pemandangan di depannya dengan senang. Pelukan itu mengartikan bahwa si kembar telah berbaikan, bukan? Itu yang ada di pikiran sepasang suami istri itu. Tanpa tahu yang sebenarnya. Fani menyadari setelah pelukan mereka terlepas. Namun, dia hanya diam. Perasaan senang tengah menyelimuti hatinya. Bagaimana tidak? Dia mendapat juara umum satu, orang tuanya ada di sini, mereka akan pergi ke Dufan, dan yang paling bahagia Fina memeluknya kembali. Keluarga yang tampak bahagia itu segera menuju ke Dufan. Karena akhir pekan ditambah para pelajar dan orang tuanya mengambil hasil pembelajaran anaknya di sekolah selama satu semster, jalanan lebih macet dari biasanya. Setelah menempuh perjalanan yang harusnya hanya membutuhkan 30 menit itu menjadi satu jam lebih, sampailah mereka di Dufan. Kembar Fani dan Fina sangatlah antusias dan tidak sabaran. Dina dan Rian terkekeh geli melihat keantusiasan anak kembarnya. "Kita salat Zuhur terus makan dulu, ya. Baru main-main dan nyobain wahana." "Oke, Pa!" Mereka segera menuju Musala dan melaksanakan salat Zuhur. Setelah selesai, mereka membeli bakso karena Fani ingin memakan adonan bulatan tepung dan daging yang kenyal itu bersama kuah hangatnya. Saat perut sudah terisi dan tidak sekenyang selesai makan, barulah mereka beranjak dan bermain-main. "Kalian jangan lari-lari, jangan sampai pisah sama Mama dan Papa, okay?" Rian menatap anak kembarnya dengan serius. Tatapan serius dan nada tegas, tapi lembut itu membuat Fani dan Fina mengangguk mengerti. Mereka tidak ingin mengecewakan Papa dan Mama mereka. Fina yang ingin memegang tangan Papa dan Mamanya segera berdiri di tengah kedua orang tuanya. Yang langsung disambut hangat oleh Rian dan Dina yang tengah tersenyum bahagia. Fani memandang dengan nanar dan sedih. Raut wajah bahagianya telah lenyap, tersingkirkan perasaan sedih yang begitu kontras. Membuat Fani tersenyum getir. Fani pikir, dia bisa bergandengan tangan seperti dulu lagi. Fani dan Fina yang saling menggenggam tangan dan di kedua sisi mereka ada Papa dan Mamanya. Namun, apalah yang bisa Fani harapkan lagi? Kembarannya membenci dia, orang tuanya tidak peduli padanya. Fina memang tidak pernah mengerti apa mau Fani, tidak pernah sekalipun. Kembarannya itu hanya selalu bersikap tidak memedulikan perasaan Fani yang nyata terpukul. Fina merasakan sesak di dadanya. Ditatapnya Kakak kembar yang selalu ada untuknya di kala dia sedih dan merasa kesepian. Fina ingin menggandeng tangan Fani, memberi kehangatan untuk kakak kembarnya, tapi sekali lagi. Ego menguasai seluruh hatinya. Fina gengsi melakukan itu, anak itu hanya pura-pura cuek. Padahal dia tahu, ada kesedihan di balik pancaran mata kembarannya yang begitu kentara. Rian sebenarnya tahu, bahkan sangat tahu. Bahwa anak pertamanya itu merasakan kesedihan, tapi Rian tidak tau apa yang membuat Fani merasa sedih. Rian menggandeng tangan Fani agar anak itu tidak ke mana-mana. "Kita mau main apa dulu, nih?" Rian mengedarkan pandangannya ke sekeliling lalu beralih menatap anak dan istrinya. "Itu." Suara kedua anak itu kompak. Namun, jari telunjuk mereka mengarah ke arah yang berbeda. Fani ke arah Alap-alap dan Fina ke arah Ice Age. Dina dan Rian cukup terkejut dengan wahana yang ditunjuk Fani. Itu berbahaya, bahkan Dina saja malas menaiki wahana itu. "Kamu mau naik itu?" Rian menatap Fani dengan serius. "Iya." Fani menjawab dengan antusias. "Yang lain aja." Rian kembali menatap lurus ke depan. "Tapi aku mau naik itu, Pa." Fani menatap Rian memohon. "Enggak, Fani. Papa bilang, enggak." Rahang Rian mengeras, tanda bahwa dia marah. "Papa, aku mau naik itu." Fani kembali merengek dengan menggoyangkan tangan Rian. "Papa bilang enggak, ya enggak." Rian berdesis tajam. Bukan Fani namanya jika dia langsung menyerah begitu saja. Fani memegang lengan Rian dan menatap Oapanya itu dengan tatapan memohon. "Boleh ya, Pa?" "Enggak, Fani. Papa bilang enggak, ya enggak. Kamu enggak dengar? Telinganya enggak dipake?" Rian menatap Fani dengan tajam. "Tapi-" "Kalau kamu tetap mau naik itu. Papa akan kurung kamu di dalam mobil sendiri. Sampai rumah Papa pukul pakai rotan, mau?" potong Rian menatap Fani sengit. Fani menunduk, mulutnya terbungkam. Nyalinya menciut, terbang tinggi, pergi menjauhi raganya. Perlahan tapi pasti, Fani menggelengkan kepalanya dengan lemah. Takut, sedih, kesal, dan marah berkecamuk di hati Fani. "Masih mau naik itu?" Rian bertanya dengan wajah datar menatap anaknya yang menunduk takut. "Enggak." "Bagus." Mereka segera berjalan ke arah Ice Age. Fina sedari tadi juga merengek pada Dina agar diizinkan naik Ice Age, tapi dia mau juga bersama Fani kembarannya. Tanpa mau mengerti ketidak senangan dan kesedihan sang kembaran. Fina merasa begitu puas dan senang dapat bermain dan mencoba wahana yang belum pernah dia naiki, berbeda dengan Fani yang tampak sama sekali tidak bersemangat. Rian mengerti anaknya sangat ingin menaiki Alap-alap. Dari Ice Age, Istana Boneka, sampai Dream Playground, tak ada raut wajah gembiranya. Rian menghela napas kasar. Dia berpikir sejenak, Fani sudah membuat dia dan Dina bangga karena berhasil meraih juara satu umum. Apa salahnya untuk membuat anak pertamanya senang? "Papa, Mama, ayo ke sana." Fina menarik tangan Rian dan Dina. "Kamu sama Mama aja ya, sayang?" Dina menatap Rian penuh selidik. "Nanti kalau udah selesai tunggu di depan itu aja.. Kita bagi tugas, Mama sama Fina, Papa sama Fani." Rian menatap Dina dengan pandangan baik-baik saja. Setelah Dina dan Fina pergi dari tempat mereka berdiri tadi, Rian berjongkok, memegang bahu kecil Fani. Membuat Fani mendongak menatap Papanya bingung. "Kamu mau naik itu, enggak? Papa lagi pengen naik itu." Rian menunjuk wahana Bianglala. Fani mengikuti arah telunjuk Papanya. Setelah tahu apa yang dimaksud Papanya, Fani tersenyum cerah. Dia menganggukkan kepalanya senang. "Papa bukan enggak ngizin kamu buat naik Alap-alap. Papa cuma enggak mau kamu kenapa-kenapa, sayang." Rian menjelaskan saat mereka telah duduk di Bianglala. "Tapi sebelum ujian Zeeya cerita dia naik Alap-alap, Pa. Kalau Zeeya boleh, berarti aku juga boleh, dong. Aku sama Zeeya sama, 'kan?" "Kamu sama Zeeya tinggi siapa?" "Tinggi Zeeya, Pa." "Mungkin tinggi Zeeya udah pas buat baik Alap-alap. Sedangkan tinggi kamu belum pas, sayang. Kalau kamu mau naik Alap-alap, nanti tunggu tinggi kamu 130 centimeter, ya. Paham maksud Papa, 'kan?" Rian menatap Fani penuh pengertian Fani yang langsung dibalas dengan anggukan. Fani memang tidak mengerti, tapi dia tau bahwa larangan itu ditunjukkan Papanya karena Papanya sayang sama dia. Tidak ingin terjadi apa-apa pada Fani. Dan juga, untuk sekarang Fani masih tidak boleh naik itu karena wahana tersebut hanya untuk anak-anak yang sudah tinggi. Rian dan Fani menaiki wahana yang cocok untuk mereka naiki berdua. Gadis kecil berpipi tembam itu tidak berhenti tersenyum dan tertawa. Tidak peduli bahwa pipinya sudah pegal dan mungkin saja giginya akan kering. Sungguh, Fani benar-benar tidak peduli karena dia benar-benar bahagia. Mereka telah selesai dan puas bermain. Rian mengajak mereka untuk melaksanakan salat Asar berjamaah. Kemudian mereka akan mampir untuk makan di luar Dufan. Rian segera mengurus biaya parkir dan sekalian mengeluarkan mobil dari parkiran. Dina menjaga Fani dan Fina, tapi sambil bermain handphone. Mereka menunggu di pinggir jalan raya depan tempat parkir. Fani hanya diam, berdiri di samping Mamanya. Namun, senyum manis dan menawan tidak luntur dari bibirnya. Begitu pun dengan sang kembaran yang berdiri di sebelahnya. Mereka benar-benar bahagia. ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN