17. Berbaikan

1837 Kata
Restoran yang terletak di pinggir jalan raya itu terlihat begitu ramai. Mobil-mobil mewah, motor, serta kendaraan-kendaraan lainnya terparkir di sisi kanan dan kiri dengan rapinya. Mercedes hitam pun memasuki parkiran dan terparkir dengan pas. Keluarga Fani turun dari Mercedes hitam itu. Wajah senang dan ceria terpatri di wajah kedua gadis kecil dengan pakaian, sepatu serta wajah yang sama persis. Mereka melangkahkan kaki masuk ke dalam Restoran. "Mama," panggil Fani pada Dina. "Iya, sayang?" Senyuman menghiasi wajah Dina. "Duduk di sana." Cengiran khasnya dia tunjukkan. Telunjuk kecil Fani mengarah pada meja tanpa penghuni yang terletak di sudut ruangan. Di sisi kanan meja terdapat jendela yang mengarah langsung ke jalanan. Tempat yang cukup strategis, bukan? "Mau duduk di sana?" tanya Rian. "Iya, Pa." Rian mengangguk. Mereka segera berjalan ke meja yang tidak dihuni itu. Mendudukkan diri dengan manis di sana sambil melihat-lihat buku menu. Fani mengarahkan pandangannya ke luar jendela. Memperhatikan lalu lintas di luar yang ramai dengan berbagai kendaraan. Senyuman manis terbit di bibirnya. Wajah manisnya tampak begitu berseri-seri. Pesanan mereka telah sampai. Semuanya makan seperti biasa, dengan tenang. Beberapa orang memperhatikan meja Fani dan keluarganya dengan terpesona, kagum, gemas, dan lain sebagainya. "Mama, aku mau ke toilet." Fina menatap Dina dengan wajah menderita. "Ya udah, ayo Mama antar." Setelah kepergian kedua perempuan berbeda generasi itu, Rian menatap Fani dengan lekat. Ada sesuatu yang mengganjal hatinya, dia tidak yakin kedua anak kembarnya telah berbaikan. "Fani," panggil Rian membuat suapan Fani terhenti. "Iya, Papa?" Fani menatap wajah Papanya bingung. "Kamu belum baikan sama Fina, ya?" Pertanyaan yang dilontarkan Rian membuat tubuh Fani menegang dan sedikit bergetar. Fani tidak mampu menjawab, anak itu hanya diam dengan kepala menunduk. Mood makannya juga telah hilang setelah pertanyaan dari Papanya. Fani melepaskan sendok yang dipegangnya dan menyandarkan diri ke kursi. "Papa tanya kamu, Fani." Suara tegas Rian membuat Fani semakin ketakutan. "Be-belum." Hanya cicitan yang mampu keluar dari bibir Fani. "Kenapa?" Fani hanya diam, lidahnya terasa kelu. Tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Tangannya yang berada di bawah meja meremas pakaian yang di pakainya dengan gemetar. Rian menghela napas sebelum melanjutkan omongannya. "Walau kalian kembar, tapi tetap kamu Kakaknya. Seharusnya kamu bisa jadi contoh yang baik buat kembaran kamu. Kalau ada salah, ada sesuatu, bicarakan! Papa mau kamu minta maaf sama Fina, jangan diam-diaman kayak gini. Papa enggak suka lihat anak-anak Papa bertengkar." Fani menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Matanya mulai memerah. Dia heran, kenapa orang-orang suka sekali menyalahkan dirinya tanpa mau meminta penjelasan terlebih dahulu? Kenapa Papanya tidak bertanya apakah dia sudah ada meminta maaf apa belum? Mengapa dia disalahkan seakan dia tidak berusaha untuk menjelaskan dan meminta maaf pada Fina? Kediaman terjadi selama Dina dan Fina belum kembali. Rian melirik anaknya yang masih setia menundukkan kepalanya. Makanannya juga tidak dilanjutkan lagi. "Mama." Fani bersuara saat Dina telah duduk. "Iya?" "Aku mau ke toilet," ucap Fani dengan suara sedikit serak. "Mama baru aja duduk loh, sayang. Kamu sendiri enggak apa-apa, 'kan?" "Kamu udah besar, udah naik kelas tiga. Harus mandiri, dong, ke toilet sendiri. Kalau kamu enggak tau toiletnya, terus aja nanti juga ketemu bacaan toilet. Udah bisa baca, 'kan? Atau mau balik ke TK lagi buat belajar baca?" ucap Rian dengan santai. "Enggak, Pa." "Ya udah, bisa ke toilet sendiri, 'kan?" Fani hanya mengangguk, dia lantas turun dari kursinya dan melangkahkan kaki kecilnya menuju toilet. Kepalanya tetap menunduk, hanya sesekali ditegakkan agar tidak menabrak orang lain. Begitu menemukan toiletnya, Fani segera masuk ke salah satu bilik dan air matanya turun tanpa bisa dicegah lagi. Fani menutup mulutnya agar tidak menimbulkan suara. Dadanya amat sesak. Setelah dirasa cukup, Fani segera menghapus air mata di pipinya. Dia segera membuka bilik toilet yang digunakannya. Memperhatikan wajahnya yang terpantul di cermin. Tidak tau kenapa, air matanya kembali menetes. Fani hanya diam, memperhatikan, membiarkan air matanya menetes kembali "Mama ... Papa...." Suaranya bergetar, sarat akan kekecewaan. "Kenapa Mama enggak mau temani aku? Temani Fina Mama mau, kenapa aku enggak?" Fani menunduk, tidak sanggup melihat wajah mengenaskannya. Hidung merah, mata merah, pipi banjir oleh air mata. Sungguh menyedihkan, anak kecil yang baru naik kelas tiga SD sudah menangisi dirinya di toilet restoran. Memejamkan mata sebentar. Fani kembali membuka matanya, mengusapi pipi tembamnya yang berlinang air mata. Menatap wajahnya dari cermin di hadapannya. Fani membasuh wajahnya dengan air, mengelapnya dengan sapu tangan di tas kecilnya. "Aku enggak boleh nangis. Aku udah besar." Fani menampilkan cengiran khasnya. "Mama udah sering kayak gini, Papa juga. Aku udah besar, enggak boleh nangis." Fani kembali memasukkan saputangannya ke dalam tas kecil. Suara pintu toilet yang terbuka membuat Fani tersentak kaget. Setelah selesai dengan acara kagetnya Fani segera keluar. Dilihatnya Mama, Papa, dan kembarannya tertawa bersama. Bahagia tanpa dirinya. Fina menatap kembarannya, ada luka di tatapan Fani. "Kok lama banget sih, sayang?" Dina bertanya saat Fani telah kembali duduk. Baru saja Fani akan menjawab pertanyaan Mamanya, Rian telah lebih dulu menyambar. "Jangan bilang kamu nyasar. Enggak bisa baca tulisan TOILET? Percuma juara umum satu kalau enggak bisa baca," ucapan pedas itu keluar dari mulut Rian. Senyum yang awalnya terbit di wajah Fani, sirna. Wajah baik-baik saja yang sudah dibangunnya di toilet tadi sirna bagai ditelan bumi. Fani menundukkan kepalanya dalam-dalam, Perkataan papanya terasa begitu menusuk hatinya. "Emm ... udah siap, 'kan, makannya? Kita pulang aja, yuk?" Dina memecah keheningan yang terjadi di meja yang mereka tempati. "Ya udah, ayo kita pulang." Mereka semua bangkit. Keluar dari restoran setelah membayar makanan yang tadi mereka makan. "Pa, nanti kita berhenti di minimarket dulu, ya? Ada yang mau Mama beli, sekalian kita beli beberapa camilan." "Oke, Ma." Hanya suara kendaraan yang menemani mereka. Semuanya diam, tidak ada yang bersuara. Tatapan Fani mengarah keluar jendela, memperhatikan lalu-lalang kendaraan. Sedangkan Fina, anak itu terkantuk-kantuk dalam duduknya. Mobil yang dikendarai Rian berhenti di minimarket. Dina turun diikuti Fani dan Fina yang masih merasa ngantuk. Mereka berjalan ke rak makanan ringan. Dina mengambil beberapa makanan ringan dan lain sebagainya yang dibantu oleh Fani dan Fina. "Mama, mau es krim." Fani menyengir. "Ayo, kita ambil es krim. Fina juga mau, sayang?" "Enggak mau." "Kenapa?" "Aku mau yuppy, bukan es krim." "Ya udah, ambil lagi, sana. Terserah kamu mau ambil berapa." "Beneran, Ma?" Fina menatap Dina dengan berbinar. "Iya dong, kamu mau apa lagi? Ambil aja." "Asyik!" Fina bersorak gembira. "Fani mau apa lagi?" "Cokelat." Fani menyengir menatap Dina. "Ya udah, sana ambil es krim sama cokelatnya terserah kamu mau berapa. Ada yang mau Mama cari dulu.” "Iya, Mama." Setelah membayar semuanya, mereka segera keluar dari minimarket itu. Di tangan Dina terdapat dua kantung plastik ukuran besar. Fani memegang sebuah cokelat dan Fina memegang sebungkus yuppy. Rian memasukkan semua belanjaan ke dalam bagasi. "Udah?" tanya Rian saat anak dan istrinya sudah masuk ke dalam mobil. Dina menjawab dengan anggukan kepala. Fani tengah asyik menikmati cokelatnya begitu juga dengan Fina yang menikmati yuppy. Kedua anak kembar itu sangatlah merasa bahagia. Setelah semua belanjaan telah dikeluarkan, Deni memasukkan Mercedes milik majikannya ke dalam garasi mobil. Fani dan Fina telah berlari ke kamar masing-masing untuk mandi dan tidur karena hari telah malam. Selesai mandi, berganti pakaian dan salat, Fani berbaring di ranjangnya dengan senyum manis dan cerah yang menghiasi wajah manisnya. Pintu kamarnya terbuka, muncul Fina di sana. Membuat Fani bingung sekaligus heran. "Fani!" Fina berhambur ke pelukan Fani yang tengah berbaring. "Kamu kenapa?" tanya Fani bingung melihat kembarannya menangis. Fina hanya diam dalam pelukan Fani. Hanya tangisnya yang terdengar, membuat Fani merasa sakit, takut, dan sedih. Dia sakit, melihat kembarannya menangis, dia takut Papanya tau Fina menangis yang berakibat dia dimarahi dan dipukul, dia merasakan kesedihan yang dirasakan Fina. Meski tidak tau apa penyebabnya. "Udah ya, jangan nangis." Fani mengelus punggung Fina. Setelah tangis Fina reda, Fani melepas pelukannya. Dia menghapus jejak air mata di pipi Fina. Tanpa disadari, air mata Fani juga menetes. Dengan cepat Fani juga menghapus air matanya yang sempat menetes. "Kamu kenapa?" Fina hanya menggeleng. "Aku minta maaf ya, sama kamu. Jangan benci aku, jangan marahan lagi sama aku, aku sayang kamu." "Iya, aku maafin kamu. Aku juga sayang kamu." Keduanya kembali berpelukan. Pelukan hangat yang mereka berdua rindukan. Sudah lama, sejak mereka bertengkar dan diam-diaman, tidak berpelukan hangat seperti ini. "Anak Mama lagi pada peluk-peluk, 'kan, ya?" Dina masuk ke dalam kamar Fani. Kedua anak kembar itu melepaskan pelukannya dan menampilkan gigi putih dan rapi mereka. Dina ikut tersenyum melihatnya, tadi dia berencana untuk mengajak anaknya secara bergantian mengepak pakaian. "Kita packing, yuk sayang? Mau siapa dulu?" Setelah pertanyaan Dina, Fina menguap lebar. Itu tandanya anaknya itu sudah mengantuk berat. Makanya, Dina berinisiatif untuk mengepak pakaian Fina terlebih dahulu agar anaknya itu bisa segera tidur. Mereka mengepak pakaian di kamar Fina dengan penuh canda dan tawa meski Fina yang dalam keadaan sudah mengantuk berat. Setelah selesai, Dina menyuruh Fina tidur. Dia memakaikan anaknya itu selimut, lalu mengecup kening anaknya dengan sayang. Begitu pula dengan Fani yang ikut mengecup pipi Fina. Dina membantu Fani di kamarnya. Selesai, Dina menyuruh Fani untuk tidur juga agar besok bisa bangun pagi. Sebelum itu, Dina memberikan uang satu juta milik Fani yang didapatnya dari sekolah karena berhasil mendapat juara satu umum. Setelah Dina mengecup kening dan pipi Fani, Dina keluar dari kamarnya dan mematikan lampu. Hanya lampu tidur yang dihidupkan sebagai penerangan. Fani bangkit dari tidurnya dan meletakkan uang satu jutanya ke dalam dompet putih yang dihadiahkan Papanya. Uang jajan dari orang tuanya selalu dia tabung sisanya. Makanya Fani memiliki banyak uang, ditambah uang pemberian Nenek dan Kakeknya serta kiriman dari Oma dan Opa. Terkadang, para Tante dan Omnya juga mengirimi uang untuk jajan dan keperluan. Bukan hanya untuk Fani, tapi juga untuk Fina. Apalagi saat kenaikan kelas begini, pasti keluarganya mengirimkan uang. Di dompet Fani hanya sisa berapa ditambah uang satu juta itu. Semua uangnya tersimpan di dalam buku tabungannya di Bank agar tidak hilang. Anak sekecil Fani, tapi uangnya di tabungan sudah ada lima belas juta rupiah. Sungguh banyak, bukan? Ya begitulah, sejak masih duduk di Taman Kanak-Kanak Fani sudah menabung. Ditambah setiap pengambilan rapor dia mendapat juara satu umum. Di sekolah milik Opanya, bila naik kelas dan mendapat juara umum satu maka akan mendapat hadiah dan uang sebesar satu juta rupiah, tapi saat rapor pertengahan semester hanya lima ratus ribu untuk juara satu umum. Selama Fani masuk SD, dia selalu mendapat juara satu umum. Sama halnya saat TK, hanya saja waktu TK dia cuma mendapat tiga ratus ribu saat wisudanya. Tidak hanya Fani yang menabung dan memiliki uang tabungannya sendiri. Fina juga punya, hanya saja uang tabungan Fina tidak sebanyak milik Fani. Milik Fina hanya sepuluh juta, lagi pula Fina tidak sepintar Fani hingga mendapat juara umum. Memang, sewaktu mereka TK, Fina mendapat juara umum dua. Jadi, dia mendapat dua ratus ribu rupiah. Selama SD, Fina tidak pernah mendapat juara umum. Walaupun begitu mereka berdua sangat dekat dan saling menyayangi. Itulah yang membuat Fani sangat merasa bahagia malam ini. Sebab, dia dan Fina telah berbaikan. Tak ada lagi diam-diaman bila bertemu dan semobil, tak ada lagi marah-marahan, dan yang pasti Fina tak membencinya lagi. ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN