Suasana di dalam pesawat kelas bisnis tidak begitu ramai dan bising. Hanya terdengar suara obrolan-obrolan pelan dan kekehan kecil.
Di salah satu kursi dekat jendela, terlihat anak berpipi tembam, rambut berkepang satu, kaos biru yang di lapisi oleh jaket jeans putih dan celana jeans hitam yang dipadukan dengan sepatu putih bercorak kupu-kupu. Gadis kecil itu memandang keluar jendela dengan senyum manis terpatri di wajahnya. Siapa lagi kalau bukan Fani, si manis berpipi tembam.
Rian yang duduk tepat di sebelahnya menyadari bahwa Fani sedari tadi menatap keluar jendela dengan senyum manis yang melengkung di bibirnya. Senyum Fani mampu membuat Rian tanpa sadar ikut melengkungkan bibirnya. Tangan Rian terangkat, membelai kepala Fani yang tidak menghadapnya dengan belaian lembut. Fani menolehkan pandangannya ke arah Ayahnya masih dengan senyum sejuta wattnya.
"Kamu enggak bobo? Fina sama Mama aja udah bobo itu." Fani melihat ke arah Mama dan kembarannya yang ternyata memang telah tidur.
Fani melihatnya, Mamanya mendekap tubuh kembarannya dengan erat dalam tidur. Ada sedikit goresan yang menyayat hati kecilnya, sebab Mamanya tak pernah melakukan itu pada dirinya. Menimbulkan perih yang begitu kentara dan menyiksa. Menggerogoti kewarasan dan akal sehatnya setiap waktu.
Mata Fani mulai memanas, dia segera mengalihkan tatapannya keluar jendela. Merasakan dan mendalami rasa sakit yang disebabkan oleh goresan di hati kecilnya yang begitu perih. Fani sungguh-sungguh merasa sedih, kecewa, dan cemburu. Mamanya tidak pernah memeluknya dalam tidur seperti yang saat ini didapatkan kembarannya. Salahkah dia cemburu akan hal itu?
Rian tau dan menyadari tatapan sendu Fani. Dia ingin, tapi tak bisa. Selalu saja, perasaan tak terima itu hadir tiba-tiba dalam hatinya. Rian merangkul bahu Fani yang masih menatap keluar jendela, membuat Fani menghadapkan badannya ke arah dirinya.
"Bobo ya," bisik Rian di telinga Fani.
Rian mendekap tubuh kecil Fani. Merengkuhnya, memberikan kehangatan dalam balut peluknya. Air mata yang coba Fani tahan akhirnya menetes juga membasahi baju yang dipakai oleh Ayahnya. Walau begitu, Fani tetap merasa senang berada dalam balutan peluk Ayahnya.
Fani selalu suka berada dalam pelukan Mama atau Papanya. Memang, Fani tidak pernah tau rasanya dipeluk Mama dan Papa saat tidur, tapi Fani selalu tau rasanya pelukan hangat dari kedua orang tuanya saat mata bening itu terbuka. Setidaknya, Fani pernah mendapat dekapan hangat dari kedua orang tuanya. Meski kedua orang tuanya tidak memeluknya saat dia akan tidur seperti yang sering mereka lakukan pada Fina.
Perlahan, mata jernih dan bening yang ditutupi bulu mata panjang dan lentiknya tertutup. Tertidur dengan pipi yang sedikit basah. Rian mengeratkan pelukannya dan mencium puncak kepala Fani dengan sayang.
Dalam hati Rian terus merapalkan kata 'maaf' tiada hentinya. Entah apa yang membuatnya terus merapalkan kata maaf itu dan tidak tau kepada siapa kata 'maaf' itu dia tujukan.
???
Kedua kelopak mata yang tertutup itu perlahan terbuka. Menampilkan kornea mata jernih yang begitu indah dan tak akan bosan dipandang oleh mata. Fani mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke matanya. Pandangan Fani tertuju ke jam dinding yang tertempel di dinding kamar.
Ya, mereka telah sampai di Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali. Tepatnya di Hotel Alfa. Hotel milik Laura, hadiah ulang tahun pernikahan ke-10 dari Dominick, Ayah Rian.
Fani melangkahkan kakinya dengan gontai ke kamar mandi. Dia ingin segera mandi agar bisa melihat Fina dan orang tuanya. Tidak perlu waktu lama, Fani telah keluar dari kamar mandi dengan wajah segar. Fanu mengenakan celana jeans pendek sepaha berwarna abu-abu dan kaos biru muda bergambar beruang di sisi kanan dadanya. Rambutnya tergerai indah dengan bando abu-abu bercorak kotak-kotak. Fani memakai sendal bulu yang memang tersedia di rak yang ada di sudut kamar.
Perlahan, Fani membuka pintu kamar. Matanya memandang ke sekeliling yang benar-benar sunyi, sepi dan senyap. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Pandangannya berhenti di pintu coklat di depannya. Fani melangkahkan kakinya ke sana, membuka pintu itu dengan pelan agar tidak mengganggu orang di dalamnya. Di dalam telah kosong, kasur king size itu tidak ada penghuninya.
Menghela napas, Fani kembali menutup pintunya pelan. Dia beralih ke pintu di sebelahnya. Membukanya dengan sangat hati-hati dan pelan sekali. Senyum Fani mengembang melihat Mama dan Papanya duduk di sofa balkon.
Mamanya menyenderkan kepala di bahu Papa. Sebelah tangan kekar papanya melingkar di pinggang mamanya. Rencana hati ingin mendekat terhenti begitu saja saat mendengar suara kembarannya.
Ternyata kembarannya duduk di pangkuan Papanya. Sesekali dapat Fani lihat Papanya menciumi puncak kepala Fina. Bukan, bukan Fani melihatnya langsung. Dia hanya berasumsi ketika Papanya menunduk beberapa kali.
Pandangan mata Fani tak teralihkan dari sofa yang diduduki tiga orang itu. Di hatinya, kembali timbul perasaan cemburu dan iri melihat bagaimana Fina dapat duduk di pangkuan Papanya. Kaki kecil Fani membawanya melangkah keluar dari kamar itu. Menutup pintunya begitu pelan dan hati-hati agar tidak mengganggu mereka yang berada di dalam.
Fani kembali masuk ke dalam kamarnya. Menutup pintu dan berjalan gontai ke arah balkon di kamar itu. Mendudukkan diri di sofa yang memang ada di balkon. Pandangan Fani hanya tertuju pada pemandangan pantai Kuta di depannya.
Apalagi cahaya jingga yang sungguh indah untuk dipandang mata. Fani memperhatikan matahari yang akan kembali ke peraduannya. Tenggelam dan akan digantikan oleh bulan untuk menemani gelapnya malam.
Fani menyandarkan dagunya di lipatan kaki yang ditekuknya. Senyum tipis, bahkan sangat tipis terhias di wajah cantik dan manisnya. Bibir yang tadinya melengkung perlahan hilang, sirna bersama matahari yang mulai tenggelam bersama air laut.
"Aku ingin kayak Fina."
"Bisa dipeluk sama Mama sama Papa," ujarnya lirih.
"Bisa sering-sering ngerasain tidur dalam pelukan Mama sama Papa kayak di pesawat."
"Aku ingin kayak Fina ...," ucapan Fani terhenti ketika dia menyusut air matanya, "karena Mama sama Papa enggak mau peluk aku kalau aku mau bobo. Enggak kayak Fina yang sering dapat pelukan Mama sama Papa." Ada getar pedih dalam suaranya seraya air mata turun membasahi pipinya.
"Mama, Papa ... aku ingin kayak Fina yang tiap hari bisa Mama dan Papa peluk tanpa perlu Fina minta."
"Apa Mama sama Papa enggak sayang sama aku?" Tidak tau kepada siapa pertanyaan itu dilontarkannya
"Tapi, Nenek bilang Papa sama Mama sayang aku."
Fani mengembuskan napas berat. Air matanya juga masih saja turun, membuat aliran sungai kecil di pipi tembamnya. Menyalurkan kesedihan terpendam dalam hatinya.
Tanpa Fani tau, di depan pintu yang menghubungkan antara kamar dan balkon berdiri laki-laki dewasa. Siapa lagi jika bukan Rian, yang sekarang menatap punggung anaknya dengan tidak percaya. Niatan hati ingin mengajak Fani untuk makan ke restoran bawah terlupakan dengan semua apa yang anak pertamanya katakan. Tidak dapat dipungkiri, hati Rian terasa sakit mendengar penuturan anaknya.
Fani segera menghapus air matanya yang masih tersisa di pipi tembamnya. Matahari sudah sepenuhnya tenggelam. Hilang terbawa ombak pantai. Cahaya sinar bulan yang kini menggantikan matahari. Menghela napas, Fani berdiri dan berniat untuk masuk ke kamar. Perutnya juga mulai terasa lapar. Cacing-cacing di perutnya mendemo minta diisi dengan makanan.
Namun, niatnya terurung saat berbalik. Fani mematung dengan jantung yang berpacu cepat Takut. Itulah perasaan yang mendominasinya saat ini. Dia takut Papanya akan marah, memukulnya lagi menggunakan gesper ataupun rotan. Mengingat tidak ada rotan di sini, mungkin dia akan merasakan gesper kembali melayang di tubuhnya.
Badan Fani gemetar. Keringat bercucuran dari segala penjuru pori-pori di tubuhnya. Jantungnya semakin berdetak dengan cepat. Bahkan Fani merasa jantungnya akan menembus dadanya saking kuatnya berdetak.
"Pa-pa," cicit Fani.
Rian mendekati tubuh Fani. Membuat Fani semakin menegang dan ketakutan.
"Makan malam, yuk? Fina sama Mama udah nunggu di Restoran bawah." Rian mengulurkan tangannya.
Fani spontan menatap Rian tanpa berkedip. Hatinya sedikit merasa senang. Dengan semangat, Fani meraih tangan sang Ayah dan menggenggamnya erat-erat. Seakan bila dia melepaskan genggaman tersebut, dia akan tersesat dalam kehidupan ini.
???