19. Liburan (2)

1067 Kata
Seperti hari-hari biasanya saat di rumah, Fani melakukan rutinitas yang selalu dia lakukan apabila di rumah. Berdiri di balkon sebelum melakukan hal wajibnya, yaitu mandi dan salat. Di luar masih gelap, pemandangan ombak yang berkejar-kejaran membuat hati Fani merasa tenteram. Angin dari luar begitu menyejukkan hati dan tubuh. Fani ingin turun ke bawah, langsung menginjakkan kakinya di sana. Apalagi saat melihat sudah ada beberapa orang yang berdiri di sana menantikan matahari terbit. Perlahan, seberkas cahaya dari matahari terbit mulai menyinari pantai. Fani merasa terpesona melihat sinar matahari itu yang seakan mengubah warna airnya. Iri. Itulah satu kata yang dapat mewakilkan perasaannya ketika melihat orang-orang di bawah sana yang bisa melihatnya dari dekat sembari menginjakkan kaki di pasur putih nan lembut. Pintu kamar terbuka. Dengan cepat Fani mengalihkan tatapannya ke arah pintu. Di sana, berdiri seorang pria yang begitu Fani sayangi. Segera Fani enyahkan tatapan iri dari matanya. Agar pria itu tidak memarahi dirinya lagi. "Papa mau ke bawah, lihat sunrise. Mau ikut?" tawar Rian pada anak pertamanya setelah terdiam beberapa detik. "Turun ke bawah, Pa?" Mata Fani berbinar. "Iya. Mau ikut?" "Mau, tapi aku belum mandi." Fani menyengir. "Enggak apa-apa, nanti selesai lihat sunrise baru mandi. Ayo?" Rian mengulurkan tangannya. Fani dengan cepat mengambil sendal yang memang disediakan setelah mengangguk. Meraih tangan Rian dan menggenggamnya. "Mama enggak ikut, Pa?" Fani mendongak untuk menatap wajah Papanya yang segar. "Enggak. Mama mau mandi dan bangunin Fina," jawab Rian tanpa menatap Fani. Fani tersenyum lebar. Di depan matanya, dapat dilihatnya pemandangan yang tadi dipandangnya dari balkon. Di sebelahnya, Rian tersenyum ketika melihat senyum lebar Fani. "Papa." Fani menatap papanya serius. "Iya?" "Suris itu apa, Pa? Tadi Papa bilang suris, 'kan?" Fani menelengkan kepalanya sedikit sambil mengerjap polos, membuat Rian gemas. "Sunrise, Fani, bukan suris. Matahari terbit itu namanya sunrise. Kalau tenggelam, namanya sunset. Nah, yang kita lihat ini, mataharinya muncul dari arah Timur sana, namanya matahari terbit atau sunrise." Rian mencubit pipi Fani dengan gemas. Fani mengangguk mengerti. Hari ini dia mempelajari sesuatu yang baru lagi, yang di sekolah belum diajarkan. Fani sangat suka bersama Papanya, karena Papanya dengan sabar mau menerangkan apa yang dia tanya secara jelas. "Papa, kita berapa lama di sini?" "Sampai liburan kamu selesai, dong." "Beneran, Pa? Sampai liburan sekolah selesai?" "Iya, Fani, kita sebulan di sini." "Janji, Pa?" "Janji." "Yeeaay!" Fani berteriak heboh. Hal itu membuat Fani yang saat ini masih memakai piama hijau bergambar keroppi, si katak hijau dengan atasan piyama lengan panjang dengan bawahan celana panjangnya, terlihat begitu menggemaskan. Beberapa orang yang melihat Fani, merasa gemas sendiri dan ingin mencubit pipi tembamnya. Bahkan ada beberapa remaja yang memotret Fani. Rian mengabadikan Fani dengan kamera ponselnya yang tengah tersenyum lebar dengan rambut beterbangan dan diterpa sinar matahari pagi, menampilkan siluet Fani yang begitu sempurna indahnya. Hanya siluetnya, bukan mentalnya. Setelah matahari telah benar-benar terbit, mereka berdua kembali ke hotel. Fani bergegas mandi dan memakai pakaiannya, yaitu celana jeans abu-abu pendek yang dipadukan dengan kaos orange lembut. Saat keluar dari kamar mandi, Fani sedikit tersentak saat matanya menangkap Mamanya yang duduk di atas kasur. Tersenyum ke arahnya yang masih mematung di depan pintu kamar mandi. Di tangan Mamanya ada sisir dan ikat rambut. Dina menggerakkan tangannya memberi instruksi pada anaknya untuk mendekat. Fani ikut tersenyum dan melangkahkan kakinya mendekati sang Mama, duduk di ruang kosong sebelah Mamanya. "Mama," panggil Fani seraya memainkan ikat rambutnya. "Iya?" Tangan Dina dengan cekatan menyisir rambut Fani. "Fina mana?" "Fina tadi ikut Papa turun ke bawah." Dina menyanggul tinggi rambut Fani. "Ngapain, Ma?" "Pesan makan, biar diantar ke kamar aja." Fani hanya membuka mulutnya membentuk O untuk merespons perkataan Mamanya. Dia tidak mungkin mengangguk saat tangan Mamanya masih sibuk dengan rambutnya. "Udah selesai!" Dina berucap antusias. Tangannya membalikkan tubuh Fani ke arahnya. Memoleskan bedak tabur bayi secara merata ke wajah Fani. "Mama." "Hm." Dina masih sibuk mengambil sendal untuk Fani yang sama dengan Fina di dalam koper. "Tadi aku sama Papa lihat sunrise, loh." "Oh ya?" "Iya." Fani mengangguk antusias. Tiba-tiba, pintu kamar Fani terbuka dari luar. Tampaklah kembarannya yang memakai pakaian yang sama dengannya. Gaya rambut yang sama. Dina menyerahkan sendal orange bertali sebelum berkata, "Papa mana, Fin?" "Enggak tau, Ma, tadi sehabis dari pesan makanan aku langsung kemari." Fina duduk di kasur. Di sebelah Fina, Fani masih sibuk dengan urusan memakai sendal bertalinya. Dina mengangguk paham dan meletakkan kembali sisir di tangannya ke meja rias. "Mama lihat Papa dulu, ya? Kalian tunggu di sini aja, nanti kalau udah Mama panggil. Kita makan di kamar yang Mama sama Papa tempati." Dina berlalu keluar kamar meninggalkan kedua putrinya dan menutup pintu. Fani beranjak dari duduknya setelah selesai memakai sendal bertalinya. Berjalan ke galon air yang ada di sebelah pintu masuk kamar mandi. Mengambil gelas yang tersusun rapi di bawahnya. Setelah menenggak habis segelas air dalam gelas yang dipegangnya, Fani mengembuskan napas lega. Karena sudah sejak tadi dia merasa haus dan ingin cepat minum air. Pandangannya terjatuh pada Fina. "Kamu mau minum?" Fani memecah keheningan. Fina mendongak menatap Fani. Di sana, Fani berdiri dengan senyum tulus dan hangatnya yang begitu menenangkan. Fina lantas menganggukkan kepalanya pelan. Fani mengisi air ke dalam gelas hingga penuh. Lalu, berjalan ke arah kasurnya dan menyodorkan gelas berisi air tadi. Fina dengan senang hati menerimanya. Setelah menenggaknya hingga tandas tak bersisa, Fina menyerahkan kembali gelas kosong pada Fani. Fani lantas mengembalikan gelas ke tempatnya semula. Pintu kamar kembali terbuka. Dina berdiri di sana dengan dress selutut warna coklat s**u. Senyumnya mengembang dengan indah. Fani selalu menyukai dan terpesona tiap kali melihat senyum Mamanya. "Yuk, kita makan dulu. Makanannya udah datang. Selesai makan, baru, deh, kita jalan-jalan." Fina dan Fani berjalan bersama keluar kamar. Setelah kedua anak kembar itu keluar, Dina menutup pintunya. Mereka beralih ke kamar yang Dina dan Rian tempati. Di dalam kamar, sudah ada Rian yang memakai kaos putih polos dan celana jeans di bawah lutut. Rian duduk di atas sofa sambil memainkan gadget. Di depannya, tepatnya di atas meja sudah tersaji makanan. Fani dengan cepat mengambil tempat di sebelah Rian. Fina dan Dina duduk di sofa yang disekat oleh meja. Fani berhadapan dengan Dina, Fina berhadapan dengan Rian. Selesai sarapan, mereka segera bergegas jalan-jalan. Hari ini, tempat yang akan mereka datangi adalah penangkaran penyu yang cukup terkenal di Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali. Fani dan Fina tampak begitu antusias ketika melihat penyu-penyu yang begitu banyak, dari yang besar hingga yang masih kecil. ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN