Gadis kecil itu terbaring di atas kasur king size dengan mata terpejam erat. Kepalanya berulang kali menggeleng-geleng dengan kuatnya.
Panggilan wanita yang duduk di sebelahnya tak dihiraukannya. Wanita itu terus menepuk pipinya pelan, mengguncang tubuhnya dengan lembut.
"Ja-ja-ngan." Kepala gadis itu menggeleng dengan kuat.
Mata yang terpejam dengan erat itu terlihat bergerak-gerak gelisah. Keringat mengucur deras dari dahi dan bagian tubuh lainnya.
"Sayang, bangun." Wanita itu terus menepuk-nepuk pipinya lembut.
Bukannya terbangun, dia malah semakin gelisah tak nyaman. Perlahan, cairan bening keluar dari matanya yang terpejam dan membasahi pipinya yang tembam.
"Fani, bangun. Mama di sini, sayang," lirihnya frustrasi.
Yup, gadis kecil itu adalah Fani. Dina berjalan keluar kamar dengan tergesa. Tangannya dengan cepat membuka pintu cokelat dibdepanya. Air matanya sudah jatuh sejak tadi, membasahi pipi.
"Kamu kenapa?" Rian bertanya panik.
"Fa-fa-ni, Yan! Fani!"
Rian masuk ke dalam kamar dan langsung mendekati ranjang. Lalu duduk di sisi kanan Fani. Dia melakukan hal yang sama seperti yang sebelumnya sudah Dina lakukan.
"Hei." Rian memanggil seraya mengguncang tubuh Fani pelan.
Namun, Fani tak kunjung bangun. Dia malah semakin gelisah, bibirnya bergerak-gerak seakan mengucapkan sesuatu. Air mata juga tak berhenti mengalir dari matanya yang terpejam.
Dina sudah meneteskan air matanya sedari tadi. Dia takut melihat anaknya yang tak kunjung bangun itu. Pintu kamar terbuka, Fina masuk dengan linangan air mata di pipinya.
"Ma-ma," suaranya bergetar memanggil Dina.
Dina dengan sigap memeluk tubuh Fina. Mengusapi rambut Fina, bermaksud membuat Fina tenang. Padahal, dia sendiri sungguh tidak tenang dan malah kacau. Rian mendekatkan bibirnya ke daun telinga kanan Fani.
"Bangun, Mama sama Fina nangis gara-gara kamu. Kamu udah buat Mama sama Fina nangis, lou. Mau Papa pukul pakai gesper? Atau rotan?" bisiknya pelan.
"Kalau enggak mau Papa pukul pakai gesper atau pun rotan, bangun! Jangan buat Mama sama Fina nangis." Rian masih terus membisiki Fani.
Dengan tiba-tiba, Fani membuka matanya. Anak itu langsung bangkit, hingga membuat Rian yang masih menunduk jadi terbentur kepala Fani. Kepala Fani menghantam bibir Rian.
Entah refleks atau apa, Rian memukulkan telapak tangan kosongnya ke kepala Fani dengan begitu kuat. Sampai membuat Fani terjatuh dari tempat tidur, kepalanya juga membentur lantai. Menimbulkan bunyi debuman yang jelas tertangkap indra pendengaran. Wajahnya yang basah oleh air mata, menahan sakit di kepalanya. Fani membalikkan tubuhnya menjadi telentang, memegangi dahinya yang sakit luar biasa.
Darah segar mengalir dari dahi putih Fani. Rian, Dina, dan Fina tentu saja terkejut. Terutama Rian yang masih mengusapi bibirnya yang terasa berdenyut. Dia bahkan merasakan asin darah di dalam mulutnya.
Air mata kembali menetes setelah tadi sempat terhenti karena keterkejutannya dengan apa yang dilakukan Papanya. Rian langsung saja turun dari kasur yang di dudukinya sewaktu membangunkan Fani yang berakhir dengan begitu. Mengangkat tubuh Fani ke atas kasur, membaringkannya dengan perlahan.
Dina yang telah sadar dari rasa keterkejutannya segera melepaskan pelukan Fina dan menghampiri Fani. Begitu pun dengan Fina yang mengikuti Dina mendekati Fani.
"Pa, ambil air hangat sama kotak P3K," ujar Dina dengan panik.
Selagi Rian mengambil air hangat dan kotak P3K, Dina tersenyum di tengah air mata yang turun membasahi pipinya. Menyingkirkan helaian rambut Fani yang ada di dahi agar tak menutupi lukanya.
Dina dengan cekatan membersihkan darah di dahi Fani dengan air hangat secara pelan dan hati-hati. Rian sendiri tengah mengobati bibir dan gusinya yang berdarah akibat benturan lumayan kuat dengan kepala Fani.
Air mata memang terus mengalir membasahi pipi Fani. Namun, tak sedikit pun suara keluar dari bibirnya. Anak itu hanya bungkam, menatap wajah sang Ibu yang membersihkan dahinya yang terluka.
Mereka tak ada yang berbicara, ikut diam membisu seperti Fani. Dina selesai mengobati luka di dahi Fani, mengecupnya dengan lembut. Kemudian menaikkan selimut menutupi tubuh Fani.
"Kamu istirahat lagi aja ya sayang, nanti sarapannya Mama bawa ke sini. Kalau mau mandi, ya udah kamu mandi aja," ujar Dina lembut.
Saat Dina akan beranjak, tangan Fani menahan lengan Dina.
"Mama di sini aja." Fani berujar lirih dan menatap Dina dengan memohon.
"Ya udah, Fina sama Papa mandi dulu sana. Terus nanti pesan makanan untuk sarapan di bawah," ujar Dina.
Setelah kedua orang itu keluar, Dina kembali duduk di tepi kasur. Membantu Fani yang ingin duduk bersandar di kepala ranjang.
"Kamu tadi kenapa? Mimpi buruk?"
"Iya," cicit Fani.
"Mimpi apa sih, sampe susah banget dibanguninya?"
"Mama, Papa, sama Fina semuanya tinggalin aku sendiri. Oma, Nenek, Opa, Kakek, Om, dan Tante, semuansa juga pergi. Setelah Papa marah besar dan pukulin aku pake gesper sama rotan," ujar Fani dengan menunduk.
Air mata kembali menetes saat Fani mengingat mimpi buruk yang dialaminya tadi. Dina diam mematung, tubuhnya seakan membeku.
"Itu cuma mimpi, sayang. Udah, enggak usah dipikiri, ya. Mama, Papa, sama Fina, semuanya enggak akan ninggalin kamu, kok," ucap Dina dengan suara bergetar.
"Mama mau janji sama aku?" Fani menatap Dina dengan sorot memohon.
"Janji apa?"
"Jangan tinggalin aku dalam keadaan apa pun nanti, meskipun aku udah dewasa sekalipun."
Dina terdiam, kata yang diucapkan Fani sudah seperti bukan anak SD yang baru naik kelas 3. Dina ragu, tapi dia tak ingin membuat Fani lebih kecewa lagi.
"Iya sayang, Mama janji."
"Makasih, Mama." Fani memeluk Dina erat.
Tanpa Fani tau, itu merupakan janji yang tak tau akan dapat di tepati atau tidak. Atau malah akan diingkari. Yang pasti janji ini, akan membuat Fani bisa merasa semakin sedih dan kecewa nantinya.