06. Bakat Fina

1765 Kata
Setelah kejadian ditinggalnya Fani di kantor, tidak ada yang berubah dari hidupnya. Masih sama seperti sebelumnya; orang tua yang sering mengabaikannya dan lebih memprioritaskan Fina. Kejadian itu juga tidak diketahui oleh Oma, Opa, Nenek, dan Kakeknya. Lebih tepatnya, Rian dan Dina yang tidak memberitahu hal itu. Mereka berdua takut dengan kemarahan Alwi, Trisha, Nick, dan Laura. Biarlah, kejadian itu menjadi rahasia dan pelajaran untuk mereka berdua. Padahal, tanpa Dina dan Rian sadari, Nick sudah tau kejadian itu. Opa Fani tau, bahwa Fani tertinggal di kantor dalam keadaan sakit dan dengan AC yang dinyalakan rendah. Namun, sekuat tenaga Nick menahan amarahnya. Dia hanya tidak ingin istrinya, Laura, tau akan hal itu dan menangis. Nick diam bukan berarti dia tidak peduli pada cucunya, Fani, bukan. Hanya saja, Nick mencoba bersabar. Dia akan bertindak saat kebodohan orang tua Fani sudah benar-benar kelewatan batas. Meski kebodohan kali ini memang tidak wajar, tapi Nick akan berusaha mengontrol emosinya. Tepat hari ini, Fani dan Fina akan melakukan pemotretan untuk iklan majalah. Ditemani Kakek dan Neneknya yang sedang berada di Jakarta. Opa dan Omanya tidak dapat menemani karena mereka tidak tinggal di Indonesia, melainkan di Sydney. Papa dan Mama mereka juga tidak bisa datang karena sibuk. Fina yang memang sangat suka dengan pemotretan dan segala macam yang berhubungan dengan itu semua tampak sangat gembira. Bagaimana dengan Fani? Sedari tadi, dia hanya menekuk wajahnya saja, dia cemberut berat. Menggembungkan pipi dan mengerucutkan bibir kesal. Entah apa yang membuat Fani menekuk wajahnya. “Kamu kenapa? Dari tadi Kakek perhatikan cemberut aja.” Alwi yang awalnya duduk di sebelah istrinya menemani Fina yang sedang di-make up berpindah dan duduk di sebelah Fani. “Aku enggak mau, Kek.” Fani memandang Kakeknya dengan memelas, meminta pertolongan. “Apanya yang enggak mau?” Alwi mengernyitkan dahi bingung. “Aku enggak mau, Kek, enggak mau! Aku enggak mau digitu-gituin kayak Fina." Telunjuk kecilnya mengarah ke Fina yang sudah mulai difoto. “Kakek pikir kenapa, haha,” suara tawa itu meluncur bebas. "Kakek," rengek Fani dengan suara sedikit lebih kencang. “Kamu kenapa enggak mau? Bukannya seru difoto-foto begitu? Didandani biar tambah cantik, masuk majalah lagi, terus terkenal. Jadi, kenapa enggak mau?” tanya Alwi setelah tawanya reda. "Aku enggak suka, Kek." Fani menggeleng kuat-kuat. “Kalau enggak suka kenapa Fani mau ikut, sayang?” “Aku enggak mau, tapi Mama marahin dan bentak aku waktu aku bilang enggak mau. Papa juga jadi marahin aku, Kakek. Aku enggak mau buat Mama sama Papa marah. Dipukul itu sakit, Kek.” Fani menundukkan kepalanya dalam-dalam. Alwi menghela napas, tau betul bagaimana sikap dan sifat anak perempuannya. Dina itu keras kepala, apa yang diinginkannya harus terpenuhi. Alwi juga menyadari, cucunya yang tidak suka dengan segala macam hal fashion. Dan lagi, apa-apaan itu dengan memukul? Untuk masalah kecil begini, bukannya memukul begitu berlebihan? Alwi akan menasihati Rian dan Dina nanti, entah itu melalui telepon atau bertemu langsung. “Jadi Fani mau bagaimana, sayang?” Alwi akan berusaha memenuhi permintaan Fani, asalkan itu memang ada dan masuk akal. Alwi tidak mau membuat Fani sedih, dia ingin cucu tembamnya itu semangat, tidak sedih, dan tidak cemberut lagi. Fani hanya diam dengan tatapan sendu. Dia hanya ingin tidak ikut pemotretan ini karena dia benar-benar tidak suka. Dia ingin orang-orang mengerti. “Fani mau minta apa sama Kakek?” “Aku enggak mau ikut foto kayak gitu.” Fani menunduk dengan sedih. “Tapi giliran kamu udah mau dimulai, enggak bisa dibatalin begitu aja, sayang.” Alwi merasa bersalah karena tidak dapat membantu cucunya yang tengah bersedih itu. Perkataan Kakeknya mampu membuat Fani terbungkam. Dia menunduk, menatap kakinya yang menggantung. “Kakek beliin sesuatu mau, enggak?” Alwi memutar otak untuk mengembalikan senyum di bibir Fani. “Hari Minggu Kakek bawa ke rumah kamu, tapi sekarang enggak boleh cemberut dan sedih lagi.” "Mau Kakek kasih tau ciri-cirinya?" Senyum m Alwi mengembang saat Fani menoleh dengan penasaran dan tergiur. Alwi akan berusaha membuat senyum manis itu terbit lagi. "Warnanya oranye, bentuknya bulat, dan ukurannya bagi kamu terbilang besar. Terus, nanti ada hadiah lainnya lagi yang melengkapi." “Apa itu, Kek?” “Ada, deh. Minggu depan kamu bakal tau apa hadiahnya. Mau, enggak?" "Mau, Kakek, mau!" “Tapi ada syaratnya, loh.” “Apa, Kek?” Fani mengerjapkan matanya bingung dan penasaran. “Kamu harus janji, enggak boleh cemberut, enggak boleh sedih, dan harus senyum. Karena kamu cantik kalau lagi senyum." “Baik, Kek!” Fani mengangguk semangat. “Janji? Jangan cemberut waktu pemotretan nanti, ya, Fani harus semangat!" Alwi mengulurkan kelingkingnya. “Iya, Kakek. Aku janji." Fani menjawab dengan mengaitkan jari kelingkingnya dengan Alwi dan senyum cerah terhias di wajah cantiknya. Fani yang dipanggil oleh orang yang akan me-make up dirinya, dengan semangat Fani melakukan pemotretan. Bukan, bukan karena dia tiba-tiba senang dan menyukai pemotretan itu, melainkan karena janji yang diucapkannya pada Alwi. Selain itu, dia sangat penasaran dengan hadiah yang akan Kakeknya berikan. Fani melakukan pemotretan dengan sangat bagus. Bahkan fotografernya tersenyum puas dan Fani, tidak kalah bagusnya dengan sang kembaran, Fina. Alwi yang melihat itu tersenyum puas, puas bisa membuat cucunya menerbitkan ssenyum kembali. Selesai pemotretan, mereka semua keluar dari gedung perusahaan tersebut. Mereka mampir ke restoran langganan Fani dan Fina. Memang, saat makan di luar Papa dan Mama mereka selalu mengajak ke restoran itu. Lagian, Fani dan Fina juga sangat menyukai makan di sana. Fina suka karena di restoran ini banyak varian roti dan es krim. Untuk informasi saja, Fina sangat menyukai roti rendah kalori. Sedangkan Fani, dia merasa nyaman makan di sini karena tempatnya terbuka dan banyak macam tumbuhan yang cantik. Fani suka melihatnya, tempatnya terasa segar dan asri. Selain itu, di sini makanannya begitu khas dengan makanan rumahan, terasa seperti makan di rumah sendiri. Alwi dan Trisha tertawa saat melihat Fina dan Fani memesan dengan semangat '45. Sampai membuat waitres restoran itu kewalahan mencatat pesanan Fani dan Fina. Bukan hanya karena mereka memesan terlalu banyak, tapi karena mereka berbicara dengan super cepat. “Fani, Fina, bicaranya pelan-pelan. Kasihan Mbaknya kewalahan karena kalian cepat banget bicaranya." Trisha mengingatkan kedua cucunya. “Mbak, maafin kami ya.” Fani berdiri, mendekati sang waitres yang masih memegang kertas pesanan. Fani langsung saja memeluk sang waitres. Pelukan dari Fani membuat mereka terkejut. Bukan hanya waitres itu yang terkejut, tapi juga Alwi dan Trisha. Mereka tidak menyangka Fani akan menerapkan sebagai permintaan maaf. Sontak saja, mendapat pelukan dari anak selucu dan segemas Fani membuat perempuan itu berlutut untuk membalas pelukan Fani. "Enggak apa-apa, kok." Senyum mengembang di bibirnya setelah melepas pelukan Fani. “Makasih ya, Mbak.” Fani balas tersenyum dan duduk di bangkunya semula. Waitres itu geleng-geleng kepala melihat Fani. Anak sekecil dia sudah memahami dan mengerti. Dia meminta maaf saat ditegur telah berbuat salah pada orang lain. Fani ditatap Alwi dan Trisha terus-menerus. Dalam hati, mereka tidak menyangka Fani akan melakukan itu. Meminta maaf pada orang lain, meski Trisha tadi tidak menyuruh dia meminta maaf. “Oh iya, gimana pemotretannya tadi? Fina suka?” Alwi bertanya sembari menunggu pesanan mereka datang. Alwi tidak perlu bertanya pada Fani karena dia sudah lebih dulu tau apa yang Fani rasakan tentang pemotretan tadi. Alwi tidak ingin mood Fani kembali berantakan. “Suka banget, Kakek. Aku senang bisa di-make up dan difoto-foto kayak tadi." Fina memekik senang, membuat Alwi tertawa pelan. “Kalau Fani, gimana?” Trisha bertanya pada cucunya yang tengah memperhatikan bunga di meja. "Eggak suka, Nek. Aku malas dan enggak senang." Fani menggembungkan pipinya kesal sambil membalas tatapan Trisha. “Loh? Kenapa?" "Aku enggak suka difoto-foto dan dipegang-pegang mukanya, tapi Kakak tadi malah pegang-pegang muka aku. Aku sebel!” Fani bersedekap lucu. “Itu namanya di-make up, sayang. Kenapa enggak suka, sih? Bukannya bagus biar kamu tambah cantik? Cantik seperti Cinderella.” Trisha tersenyum menatap Fani yang masih cemberut. Lagian, Trisha sedikit bingung. Bukankah tadi Fani terlihat senang dan semangat? Tapi mengapa Fani bilang bahwa dia tidak suka dan sangat merasa malas? “Tapi aku enggak suka, Nek. Aku malas,” rengekan itu akhirnya keluar dari bibir Fani yang mengerucut sedari tadi. Alwi dan Trisha terkekeh melihat wajah Fani. Mereka mengerti, cucunya yang satu ini enggak suka sama yang namanya fashion dan model. “Seru tau, Fani. Aku aja suka, masa kamu enggak suka, sih? Di-make up kan cantik kayak putri! Iya, 'kan, Nek?" Fina menatap Trisha berbinar. Trisha tidak menjawab, hanya tersenyum pada cucunya yang sudah terlihat sangat menggemari bidang fashion itu. Mungkin Fina memang akan menjadi model ke depannya, siapa yang akan tau? “Kamu suka banget ya, difoto-foto kayak tadi?” "Iya, Nek." Fina mengangguk dengan semangat '45. "Kenapa Fina suka?" “Aku suka, Nek. Biar bisa kayak yang ada di majalah punya Mama. Juga bisa terkenal, punya uang banyak, jadi orang sukses." Fina bercerita dengan menggebu. Trisha sudah dapat menyimpulkan apa bakat cucunya yang satu itu. Bakat Fina adalah permodelan. Dia begitu fanatik dengan hal-hal berbau fashion dan model begitu. Keantusiasan dia saat pemotretan tadi, bagaimana bagusnya dia dalam bergaya saat difoto tadi. Trisha hanya bisa berharap, semoga impian Fina menjadi model terkenal seperti yang dibilangnya tadi terwujud. Bukan hanya sekedar model, tapi juga jadi Putri Indonesia bahkan Putri Universe. Fani menatap Fina yang sedang bercerita tentang impiannya untuk menjadi model sukses yang terkenal dengan malas dan jengah. Fani mengalihkan pandangannya ke sekeliling restoran dan melihat panggung di depan sana, di atas panggung ada berbagai alat musik yang Fani tidak tau dengan pandangan berbinar. Daripada dia menatap Fina yang bercerita tentang impiannya lebih baik di panggung dengan banyak alat musik itu. Sampai akhirnya makanan mereka sudah siap dan disajikan. Fani dan Fina makan dengan lahap dan semangat, seakan ikut lomba makan. Meskipun Fani dan Fina makan dengan lahap, tapi mereka tidak bersuara sama sekali. Mereka masih menerapkan sopan santun yang diajarkan oleh Papa mereka. Bahwa makan tidak boleh sambil berbicara. Makanan yang mereka pesan telah ludes, bersih. Perut juga sudah terisi dengan kenyang yang cukup. Kedua anak kembar itu kelaparan setelah melakukan pemotretan hingga membuat mereka makan banyak dan kenyang. Fani bersendawa dengan cukup keras, lalu menutup mulutnya setelah itu. Beberapa orang memandangi Fani dan tertawa. Di mata orang-orang itu tingkah Fani sangatlah menggemaskan. “Nenek, Kakek, aku mau es krim.” Fani menampilkan wajah imutnya. "Aku juga mau, Kek, Nek." Kedua anak kembar itu merapatkan tubuh mereka, menangkupkan tangan, dan menampilkan wajah yang sangat menggemaskan. Membuat mereka gemas dan mengangguk. Bahkan, ada beberapa remaja yang memekik melihat Fani dan Fina. Fani dan Fina mendapatkan es krim mereka. Memakannya dengan lahap, benar-benar lahap. Namun, es krim Fani habis duluan ketika mereka sampai di parkiran. Fani menoleh ke arah Fina yang masih memakan es krim. “Fina, aku mau, dong.” “Iiih enggak, kamu tadi juga udah dibeliin.” “Iya, tapi punya aku udah habis.” Buru-buru Fina menghabiskan waktu es krim vanilanya hingga tandas. “Punya aku juga udah habis.” Fina menampilkan cengiran kudanya. "Kamu pelit." Tatapan malas Fani layangkan untuk Fina. "Kakek, aku mau es krim lagi." Fani berganti minta pada Kakeknya. “Loh? Yang tadi mana?" Alwi menoleh ke belakang dengan terkejut. “Udah habis, Kek.” Fani menampilkan cengirannya. “Ya udah, kita beli lagi, ya. Ayo!" Mereka kembali ke restoran dan membeli es krim lagi. Fani suka saat keluar berjalan-jalan bersama Nenek dan Kakeknya. Karena Nenek dan Kakeknya tidaklah pelit, tidak pernah memaksakan sesuatu yang tidak dia suka, dan tidak membandingkan dia dengan Fina.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN