Pada hari Minggu pagi kali ini, Fani telah siap dengan celana training hitamnya serta kaos putih bergambar hello kitty besar. Gadis kecil itu berdiri di balkon kamar dengan senyum menawan. Dia senang sekali, karena hari ini Kakeknya akan datang mengunjungi rumah sakit dengan membawa hadiah yang telah Kakeknya janjikan. Dari balkon kamar dapat Fani lihat sebuah mobil hitam masuk ke pekarangan rumah. Fani tau bahwa itu adalah Nenek dan Kakeknya, sebab dia benar-benar sudah hafal akan hal yang satu itu.
Fani segera keluar kamar dan menutup pintunya tanpa perlu mengkhawatirkan kondisi kamar. Dia telah merapikannya. Turun dari tangga dengan sedikit tergesa-gesa, Fani menghampiri Nenek dan Kakeknya yang sudah duduk di meja makan bersama Mama dan Papanya. Fina tidak ada di sana, mungkin dia masih tidur nyenyak seperti biasanya. Lebih mengherankan kalau Fina duduk di meja makan dalam keadaan sudah mandi dan berpakaian rapi.
“Nenek! Kakek! ”
Sontak mereka tersentak kaget mendengar suara Fani yang cempreng dan tiba-tiba. Dina bahkan hampir menjatuhkan teflon yang dipegangnya.
“Udah siap?” tanya Trisha terkejut. Dia pikir, cucunya masih tertidur lelap.
“Udah dong, Nek.” Fani duduk di sebelah Neneknya dengan cengiran khasnya.
“Kok tumben udah turun? Biasanya kalau hari Minggu kamu turunnya siang, ”komentar Rian.
“Karena Nenek sama Kakek datang.” Senyum manis tersemat di wajah Fani yang berbinar. Anak itu tampak begitu senang akan kehadiran Nenek dan Kakeknya.
Trisha tertawa dan mengusap puncak kepala Fani dengan penuh kasih sayang membuat Fani melebarkan senyumnya. Satu kecupan di puncak sempurna di pipi Trisha dan balasan satu kecupan di puncak kepala Fani. Sedangkan Alwi, pria tua itu menatap Rian dan Dina penuh tanya, masih memahami perkataan Rian yang berakhir gagal.
“Fani biasanya kalau hari Minggu memang cepat bangun, Bun, tapi dia keluar kamar kalau udah agak siangan dikit.” Dina menjawab kebingungan Alwi meski tanpa menatap Ayahnya karena dia masih sibuk melayani udang. Namun, Dina tahu pasi Ayahnya begitu kebingungan.
“Jadi, dia ngapain aja di kamar enggak langsung turun?” Rian maupun Dina hanya diam tidak menjawab pertanyaan Trisha. Karena mereka juga tidak tau apa alasan Fani bisa terlambat turun padahal dia sudah bangun.
"Fani?" Panggil Alwi pada Fani yang melipat di atas meja.
“Iya, Kek?”
“Kamu hari Minggu bangun tidurnya jam berapa?”
“Jam lima.”
Tidak hanya Alwi dan Trisha yang kaget, Rian dan Dina juga. Mereka tau Fani bangun pagi, tapi tidak tau kalau Fani bangun sepagi itu di hari Minggu yang biasanya digunakan orang-orang untuk bangun terlambat dan bersantai-santai dengan kasur.
“Kamu di kamar ngapain aja? Kok turunnya sampai lama? ” Dina berbalik, menatap Fani penuh tanda tanya.
“Bangun tidur aku beresin tempat tidur, buka balkon, terus sikat gigi, cuci muka baru ambil wudu, dan salat. Selesai salat, baru, deh, aku mandi terus pake baju. Udah itu, aku berdiri di balkon lihat matahari, terus turun ke bawah, joging bareng Papa.” Fani menjelaskan dengan polos sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagu, mengingat apa yang dia lakukan di kamar.
Dalam hati, Alwi dan Trisha bersyukur anak sekecil Fani sudah menjalankan ibadah. Dia juga rajin karena membereskan tempat tidurnya sendiri. Sedangkan Dina, dia baru tau alasan dari ranjang anaknya sudah rapi saat akan dibereskannya ketika Fani dan Papanya joging. Dina pikir Siti, ART mereka, yang membereskan.
“Kakek, mana hadiahnya? Aku penasaran mau lihat.” Perkataan Fani kembali mengundang Papa, Mama, dan Neneknya menolehkan kepala ke arahnya. Tidak dengan Alwi yang tersenyum.
“Ada di mobil. Ayo, kita ambil.” Mendengar jawaban Kakeknya, Fani memekik senang.
“Hadiah?” Rian membeo.
“Iya, waktu pemotretan dia cemberut aja. Makanya Ayah janjiin mau kasih hadiah.”
Fani menampilkan cengiran khasnya dan berdiri dari duduknya, menarik tangan sang Kakek untuk bergerak cepat bangun dari duduk. Fani berjalan lebih dulu ke mobil Kakeknya dengan semangat. Dia sudah tidak sabar melihat hadiah yang akan Kakeknya berikan. Hadiah yang sangat dia nantikan karena begitu penasaran. Alwi tidak pernah memberikan hadiah yang mengecewakan. Jadi, Fani begitu bersemangat untuk hadiah kali ini sebab Kakeknya mau repot-repot menjelaskan hadiahnya
“Kakek, ayo cepetan buka mobilnya. Aku penasaran sama hadiahnya, Kakek.” Fani menampilkan wajah tidak sabarnya.
Alwi tersenyum melihat keantusiasan Fani untuk hadiah yang akan diberikannya. Melihat Fani yang bahagia begitu, membuat hati Alwi menghangat. Dengan segera Alwi membuka bagasi mobil, mengeluarkan kotak yang sudah berbungkus kertas kado warna biru bergambar kelinci.
Tidak menunggu lama, Fani mengambil alih kotak itu dari tangan Alwi dan membawanya masuk ke dalam rumah dengan kesusahan. Dia bahkan menolak tawaran Kakek untuk membawakan hadiahnya. Diletakkannya kotak itu di atas meja dan mulai membuka kertas pembungkusnya hati-hati.
Fani heran sekaligus berbinar setelah membuka kotak itu yang ternyata isinya sebuah bola berwarna oranye, sepasang baju tanpa lengan yang lucu sekaligus aneh menurut Fani karena di bagian belakangnya terdapat angka 1 besar dan nama bertuliskan Fani tepat di atas angkanya sedangkan bagian depan bertuliskan 1 dan Indonesia, satu kaos putih lengan pendek, sepasang kaus kaki putih yang bagian atasnya terdapat 3 garis biru muda, dan sepasang sepatu putih.
“Gimana? Suka hadiahnya?” Kakek duduk di sofa belakang Fani dengan senyum mengembang.
“Suka, Kek! Tapi, bolanya buat apa, Kek?” Fani memiringkan kepalanya ke kanan sedikit.
“Itu namanya bola basket, sayang. Supaya kamu bisa main bola basket.” Alwi mengelus rambut Fani dengan sayang.
"Basket itu apa, Kek?"
"Bola basket adalah olahraga bola berkelompok yang terdiri atas dua tim beranggotakan masing-masing lima orang yang saling bertanding mencetak poin dengan memasukkan bola ke dalam keranjang lawan."
Meski tidak begitu paham, Fani mengangguk saja. "Kakek mau ngajakin aku main bola basket?” Fani lantas memandang Kakeknya berbinar.
“Iya. Kamu mau, ‘kan?” Fani menganggukkan kepalanya cepat, penuh semangat.
“Ayo, Fan. Kamu mau ikut Papa joging enggak?” Rian sudah siap untuk berangkat joging, celana training dan kaus pas badan, tak lupa sepatu sport abu-abu bertapak hijau dengan gambar centang putih di bagian sampingnya.
“Papa, kita sekalian main bola basket, ya. Sama Kakek juga. Kakek mau, ‘kan?”
“Bola basket?”
“Iya, Pa. Kakek kasih aku bola basket!”
“Boleh aja. Ayo.”
“Fani, bajunya kamu ganti sama yang baru Kakek kasih aja, ya. Pake kausnya dulu baru jersey. Itu baju yang tanpa lengan untuk orang main bola basket, namanya jersey.”
Fani mengangguk dan segera naik ke lantai atas, mengganti pakaiannya dengan baju yang diberikan sang Kakek. Dia merasa sangat bahagia, benar-benar bahagia. Selesai berganti pakaian, Fani segera turun sambil menenteng sepatu baru dan kaus kakinya. Penampilan Fani sudah benar-benar seperti pemain basket.
“Minta Mama rapikan bajunya dulu, sana,” perintah Rian.
Fani langsung berlari ke dapur, meminta Mamanya yang tengah menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat bolu dan nasi goreng seafood bersama Nenek. Dina dengan telaten merapikan pakaian yang dikenakan Fani. Memasukkan bagian bawah bajunya ke dalam celana. Sedangkan Fani berceloteh mengenai hadiah dari Kakek yang begitu dia sukai.
“Ya udah, ayo kita langsung ke sana aja. Mumpung masih pagi.” Alwi bangkit dari duduknya setelah Fani siap.
Alwi, Rian, dan Fani berjalan kaki menuju lapangan tempat mereka akan berolahraga karena memang jaraknya tidak terlalu jauh dan sekalian mereka pemanasan. Itulah sebabnya Fani menyukai hari Minggu, karena di hari Minggu Fani bisa merasa lebih dekat dengan Papanya.
Sampai di lapangan tempat tujuan, tidak terlalu ramai. Lapangan di sana juga banyak. Tidak hanya ada lapangan basket, tapi juga ada lapangan sepak bola, voli, badminton, dan lapangan berumput yang biasanya digunakan orang-orang untuk joging, pemanasan, bahkan senam. Fani dengan semangat berlari ke tengah lapangan basket dan mulai memainkan si oranye degan asal-asalan karena dia memang tidaklah pandai.
“Kakek, ajarin.” Fani merengek pada Kakeknya yang terkekeh melihat dia bermain dengan asal-asalan.
Alwi yang semasa muda adalah ketua tim basket yang juga pemain bola basket cukup andal di sekolahnya sampai mengikuti turnamen-turnamen basket dan berhasil membawa piala berjuara satu dengan senang hati mengajari Fani bermain bola basket. Fani mudah memahami dan mengerti apa yang diajarkan Alwi. Fani bahkan sudah bisa dribble walau baru sedikit-sedikit. Selebihnya, bolanya menggelinding ke sana-kemari tidak tentu arah. Hanya saja, passing yang sedikit sulit dikuasainya.
Berulang kali bola basket itu mengenai kepala Fani, membuatnya menggembungkan pipi kesal. Beruntunglah Alwi melempar bolanya dengan pelan. Meski sudah tak terhitung banyaknya gadis kecil itu terjatuh. Alwi baru mengajarkan Fani teknik dasarnya saja. Belum mengajarkan shoot bola basket ke dalam ring. Karena itu poin akhirnya.
Rian yang baru selesai berlari duduk di bangku yang ada di sisi lapangan basket memperhatikan Fani dan Ayah mertuanya bermain bola basket. Senyumnya mengembang melihat Fani memajukan bibir bawahnya saat melakukan passing dan si bulat oranye mengenai kepalanya untuk yang ke sekian kali. Rian kagum dengan Ayah mertuanya yang masih terlihat bugar meski sudah tak muda lagi.
“Sini, Yah, gantian. Biar aku yang ngajarin Fani main basketnya.” Ayah mertuanya tersenyum, melemparkan bola basket ke Rian. Dengan sigap Rian menangkap si bulat oranye. Mulai mengajari Fani melakukan passing.
Fani sudah mulai sedikit menguasai passing, meski baru passing d**a dan atas kepala. Itu sungguh kemajuan yang sangat pesat jika mengingat dirinya baru pertama kali belajar basket.
“Papa, ayo pulang. Aku lapar.” Fani memegangi perutnya seperti orang yang sangat mengenaskan. Kakek dan Papanya lantas tertawa geli. Bahkan, Papanya memukulkan bola basket ke kepala Fani pelan yang sukses membuat Fani menggembungkan pipinya kesal.
“Ayo, kita pulang.”
Fani berjalan di belakang Kakek dan Papanya dengan lemas. Dia kelaparan bagai orang yang tidak mendapat asupan makanan berhari-hari lamanya. Namun, saat Fani menolehkan kepalanya ke kanan, dia langsung menghentikan langkah kakinya dan berlari ke arah yang dilihatnya tadi. Fani melihat beberapa orang sedang melakukan suatu gerakan yang Fani sendiri tidak tau apa namanya.
Gerakan itu sama dengan yang pernah dilihatnya di televisi. Dia pernah melihat Po dalam kartun Kungfu Panda melakukan gerakan semacam itu. Intinya, gerakan yang dilihat Fani di Kungfu Panda tidak jauh berbeda seperti yang dilakukan beberapa orang itu.
“Kakak kayak Po!” Fani bertepuk tangan tepat saat mereka selesai melakukan gerakan itu.
Mereka serempak melihat Fani yang bertepuk tangan penuh semangat. Anak kecil itu bahkan melompat-lompat kegirangan.
“Adek kenapa?” tanya salah satu dari mereka yaitu orang yang tadi mengajari yang lainnya. Dia berdiri di paling depan, layaknya guru.
“Kakak kayak Po.” Fani menampilkan cengiran polosnya.
“Po?” Orang itu mengerutkan dahi heran.
“Iya, Kak!” Fani menganggukkan kepalanya dengan semangat ’45.
“Po siapa?”
“Itu, Kak, panda yang di Kungfu Panda. Kakak tadi gini-gini, ‘kan?” Fani mengikuti sedikit gerakan yang diingatnya secara random.
“Hahaha, itu namanya karate, Dek.” Orang yang tadi memimpin karate itu terkekeh melihat tingkah Fani yang menurutnya sangat menggemaskan.
“Karate?” Fani membeo dengan wajah polos.
“Iya, gerakan yang tadi kamu lihat dan kamu peragakan itu namanya karate. Gerakan yang tadi kami lakukan.” Pria itu menjelaskan sambil tersenyum. Fani menganggukkan kepalanya mengerti.
“Kakak, aku boleh ikutan, enggak?” Fani memasang wajah memelasnya.
“Gimana ya, Dek. Kakak enggak berani ngizinin kamu buat ikutan.” Pria itu mengusap tengkuknya canggung.
“Yaah, Kakak.” Fani menatap sedih orang di depannya. Lalu dia menundukkan kepala.
“Ya udah, deh, kalau enggak boleh. Aku pergi dulu ya, Kak.” Fani melangkahkan kakinya lesu. Dia ingin sekali ikut, tapi tidak diizinkan.
Terkejut. Itu yang Fani rasakan ketika ada seseorang yang menyentuh bahunya pelan. Fani mengernyitkan dahinya tatkala dia menolehkan kepalanya ke belakang dan menemukan seorang pria tua yang sudah berumur seperti Kakeknya.