"Kakek siapa?" Fani menatap bingung dan takut.
“Kamu tadi katanya mau ikut latihan karate, ya? Seperti itu." Kakek itu malah menanyakan hal lain dan diakhiri dengan menunjuk orang-orang yang tadi didatangi Fani.
Fani mengangguk dengan semangat karena dia memang sangat ingin berlatih karate.
“Duduk di situ dulu, yuk?” Kakek itu menarik tangan Fani lembut agar mengikutinya duduk di bangku yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Namun, Fani tidak bergerak dari tempatnya berdiri.
“Kata Mama, aku enggak boleh mau diajak orang asing. Terus Papa juga bilang, jangan bicara sama orang asing kalau di tempat sepi. Karena di sini rame, jadi aku boleh bicara sama Kakek dan Kakak tadi.” Fani baru ingat titah Papanya setelah dia tertinggal di kantor kala itu.
Senyum kecil terpatri di bibir Kakek itu. Dilepaskannya pegangannya pada tangan Fani. Lalu menyejajarkan tingginya dengan Fani yang menatapnya takut.
“Nama kamu siapa, nak?” tanyanya dengan nada lembut.
“Fani.”
“Kalau ada orang asing yang tanya nama kamu saat kamu lagi enggak bareng keluarga, cukup jawab nama kamu Fani!” Perkataan Rian kembali terngiang di kepala Fani.
“Jadi, kenapa Fani mau ikut karate?”
“Aku mau kayak Po.” Fani menunjukkan deretan giginya yang rapi dan putih.
“Po? Siapa itu?”
“Panda yang ada di Kungfu Panda loh, Kek. Masa Kakek enggak tau, sih.”
“Hahaha, kamu ini ada-ada aja. Itu hanya kartun, Fani.” Pria tersebut tertawa mendengar jawaban Fani yang terdengar konyol.
“Ih Kakek! Po jago, loh. Kalau Kakek ngelawan Po, pasti Kakek kalah. Po juga baik, Kek, dia nolongin teman-temannya dari harimau jahat dan buaya jahat. Po kayak pahlawan, Kek.”
Kakek itu hanya mengangguk. Dia tidak menyangka Fani bisa mengambil sisi positif dari tontonan yang dia lihat. Sungguh, dirinya merasa sangat kagum pada anak sekecil Fani.
“Aku mau jago kayak Po. Biar aku bisa nolongin orang-orang yang dijahati. Jadi, kalau ada orang yang lagi dijahati bisa aku tolongin. Kata Oma sama Opa, kalau ada orang yang lagi dijahati atau kesusahan kita harus tolongi jika kita mampu. Makanya aku mau jago karate, jadi aku mampu nolongin orang yang lagi dijahati.” Hati laki-laki paruh baya itu terenyuh mendengar maksud baik Fani. Anak sekecil dia sudah memiliki niat yang sangat mulia.
“Belajar karate enggak gampang loh, Fan. Nanti kamu bisa aja berdarah, lebam-lebam, pokoknya sakit, deh. Karena menjadi orang yang mahir dalam karate bukanlah hal yang mudah.”
“Aku mau kok, Kek. Enggak apa-apa kalau sakit, aku ‘kan lagi berjuang menjadi orang yang jago karate,” ucap Fani layaknya orang dewasa.
“Nenek juga pernah bilang sama aku, sesuatu yang dilakukan sungguh-sungguh dan dengan niat baik pasti akan tercapai, Kek.”
“Apa yang diucapkan Nenek kamu itu benar adanya. Kalau kamu melakukan suatu pekerjaan dengan niat yang baik serta dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka pekerjaan yang kamu lakukan itu akan membawa manfaat untuk orang lain dan juga diri kamu sendiri. Tetap ingatlah perkataan Nenekmu itu, ya.” Kakek itu tersenyum lembut.
“Iya, Kek!”
“Jadi, kamu benar-benar mau latihan, ‘kan? Ayo, kita coba.” Kakek berdiri, mengulurkan tangannya untuk disambut Fani.
“Aku enggak dibolehin ikut, Kek, sama Kakak itu.” Fani tidak menyambut uluran tangannya. Dia memilin baju basketnya.
“Enggak, kamu boleh ikut. Udah Kakek bilang tadi. Jadi kamu boleh ikut.”
“Beneran, Kek?” Fani menyambut uluran tangan si Kakek dan menggenggamnya, melupakan perintah Mama dan Papanya, lagi.
Mereka berdua berjalan ke arah kerumunan orang tadi yang masih sibuk latihan. Kakek itu mengajak Fani ke barisan ujung, di sana ada beberapa orang yang memakai baju karate putih dengan sabuk warna putih di pinggangnya.
Namun, langkah mereka berdua terhenti saat ada seseorang yang menyentak tangan Fani dengan kasar dari arah belakang. Membuat tubuh kecil itu tertarik ke belakang, gandengan tangannya juga terlepas.
Fani menatap kesal ke arah orang yang menyentak tangannya tadi. Mata Fani bertubrukan dengan mata hitam yang menatapnya dengan tajam. Tubuh Fani membeku di tempat. Dia melupakan satu hal penting. Perasaan takut kini menyelimuti hatinya.
Karena keasyikan mengobrol tentang bisnis, Rian dan Alwi tidak menyadari Fani sudah tidak ada di belakang mereka. Ketika mereka sudah hampir sampai di rumah, Alwi heran mengapa Fani tidak bersuara. Tumben saja, biasanya anak itu akan bercerita panjang lebar tentang sekolahnya ataupun bisa jadi tentang bola basket tadi.
Sampai akhirnya Alwi menolehkan kepalanya ke belakang. Di sana, sudah tidak ada cucu yang mengikuti dirinya dan Rian. Alwi tersentak dan segera menghentikan langkahnya yang membuat Rian mengernyitkan dahi heran.
“Ada apa, Yah? Kenapa berhenti?”
“Fani! Ke mana dia? Bukannya tadi dia ngikuti kita di belakang?” Pertanyaan Ayah mertuanya berhasil membuat Rian menolehkan kepalanya ke belakang dan dia ikut terbelalak kaget.
“Kita balik.” Kedua lelaki berbeda generasi itu berlari cepat kembali ke lapangan tempat mereka latihan.
Ketika mereka sibuk mencari Fani, Alwi mempertajam penglihatannya saat melihat seorang anak kecil dengan rambut dikuncir satu mengenakan jersey dengan angka 01 di belakang bajunya. Alwi menyadari bahwa anak itu benar adalah cucunya, Fani. Anak yang aktif dan periang itu sedang berjalan bergandengan tangan dengan seorang lelaki tua yang kira-kira sudah seperti dirinya.
“Itu Fani!"
Mereka berdua berjalan terburu-buru mendekat ke arah Fani. Rian segera mencekal tangan Fani dengan kasar hingga membuat anak itu hampir terjengkang, tapi Rian tidak peduli. Dibalasnya tatapan Fani dengan tajam.
“Papa,” cicit Fani.
“Ngapain kamu di sini? Tadi kamu yang minta pulang, tapi malah kamu yang kabur.” Kilat marah terpancar dari mata hitam Rian.
“Maaf, Pa.” Tubuhnya sampai bergetar, dia menunduk takut.
“Fredy?” Alwi yang sedari tadi memperhatikan orang yang menggandeng Fani mengeluarkan suaranya.
“Alwi?”
Mata orang itu terbelalak ketika dia tau orang yang memanggilnya adalah sahabat baiknya semasa SMA dulu, bahkan mereka bergabung dalam ekstrakurikuler yang sama; basket dan karate. Kadua lelaki itu saling berpelukan. Pelukan ala lelaki. Melepas rindu setelah bertahun-tahun tidak bertemu.
“Bagaimana kabarmu sekarang? Kelihatan makin sehat, ya.” Fredy tertawa mendengar ucapan Alwi.
“Seperti yang kamu lihat.” Merentangkan tangannya Fredy mengedikkan badan.
“Oh iya, kenalin ini menantu dan cucuku.”
“Fredy.” Mengulurkan tangannya sambil tersenyum ramah pada Rian.
“Rian.” Rian membalas uluran tangan sahabat Ayah mertuanya dengan senyum canggung.
“Ini cucumu?” tanya Fredy terkejut. Ternyata anak pemberani, baik hati, dan pintar yang tadi berbicara padanya adalah cucu dari sahabat baiknya.
“Iya, ini cucuku. Rara Fanisha Alfarizi. Kamu sudah mengenalnya?”
“Tadi dia berbincang sedikit denganku. Cucumu ini sangatlah pemberani, baik, dan pintar.”
Rian diam-diam tersenyum bangga pada putri pertamanya. Rian tau, anak pertamanya itu pemberani, baik, pintar, juga rajin. Meski terkadang anaknya itu suka tidak menurut. Alwi juga ikut tersenyum. Sungguh, dia sangat bangga pada cucunya itu. Meskipun, dia juga merasa bangga pada Fina yang masih kecil, tapi sudah bisa bergaya untuk jadi model.
“Oh iya, Fani bilang dia ingin ikut belajar karate. Bukan begitu, Fani?” Fredy menatap Fani.
Perkataan Fredy sontak membuat Papa dan Kakeknya terkejut bukan main. Bukan, bukan mereka tidak mengizinkan Fani untuk ikut berlatih. Hanya saja, dia masih terlalu kecil untuk mengerti akan latihan karate yang berat seperti itu. Sedangkan yang dibicarakan semakin menunduk dalam.
“I-iya,” lirih Fani, terlalu takut untuk melihat tatapan Papa dan Kakeknya.
“Aku kagum pada Fani, Wi. Alasannya ingin ikut karate yang membuat aku sungguh tidak menyangka.” Alwi menatap Fredy penuh tanya.
“Dia bilang, dia ingin jago karate seperti Po dalam kartun Kungfu Panda. Agar dia bisa menolong orang yang sedang dijahati. Karena Po juga begitu, menyelamatkan orang-orang yang dijahati. Jadi, dia ingin jago karate agar bisa membantu orang-orang yang butuh bantuan.” Fredy tersenyum melihat Alwi dan Rian yang terkejut.
“Sekarang kamu punya klub karate, ‘kan? Boleh aku minta nomormu? Bila nanti Fani memang sudah yakin, aku akan menghubungimu.”
“Tentu saja. Ini kartu namaku dan kartu alamat tempat kami latihan. Sekali-kali kami juga akan latihan di luar.” Fredy menyerahkan dua kartu pada Alwi.
“Ya udah, kami permisi dulu. Sampai ketemu lagi.” Alwi mohon pamit pada sahabat baiknya itu setelah menepuk bahunya sekali.
Rian menggandeng tangan Fani agar anak kecil itu tidak hilang lagi. Ralat, kabur lagi. Mereka bertiga jalan bersisian. Di sepanjang perjalanan, Fani hanya diam. Gadis kecil itu menundukkan kepalanya, menatap jalanan aspal yang menjadi pijakannya. Sampainya di rumah, Fani langsung berlari ke atas setelah melepaskan sepatunya. Dia ingin segera mandi karena tubuhnya terasa lengket. Selesai mandi, Fani mengenakan gaun berwarna putih gading dan menggerai rambut panjangnya.
Fani turun ke bawah, perutnya terasa lapar. Bahkan cacing-cacing di perutnya sudah meronta minta diisi. Di bawah sudah ada Mama, Nenek, Kakek, dan Fina. Papanya tidak ada, mungkin masih mandi. Fani memilih duduk di sebelah Neneknya. Tidak lama, Papanya muncul mengenakan kaus putih polos dan celana pendek selutut.
Saat Trisha akan mengambilkan makan untuk Fani, gadis kecil itu menolak secara halus dan mengambil makanannya sendiri. Dia hanya tidak ingin merepotkan Nenek yang sangat disayanginya itu.
Mereka semua makan dalam diam, hanya suara dentingan sendok yang terdengar. Selesai makan, Siti segera merapikan meja makan dan mencuci piring-piringnya. Alwi dan Rian berjalan ke gazebo diikuti Fani dan Fina. Baru setelah itu Dina dan Trisha menyusul dengan membawa jus jambu merah dan bolu yang tadi mereka buat.
Halaman belakang rumah Rian memanglah sangat luas. Di sana ada ayunan putih besar yang sedang di duduki Fani dan Fina, di sebelahnya ada taman bunga.
“Yah, bagaimana jika di sisi tembok sebelah kanan dibuat lapangan bola basket? Dengan ring yang bisa dinaik-turunkan." Rian membuka suaranya, menanyakan pendapat Ayah mertuanya.
“Iya, buatlah. Itu jadi bagus, agar Fani bisa bermain tidak perlu jauh-jauh. Nanti akan Ayah bantu."
"Sebaiknya pohon mangga dan jambu itu ditebang aja atau gimana, Yah?"
“Kalau menurut Ayah lebih baik dibiarkan aja sebagai penghalang untuk matahari saat sedang bermain. Agar tidak terlalu panas."
"Fani sudah bisa mainnya, Yah, Pa?"
“Fani sudah lumayan bisa. Dribble sudah sedikit dikuasainya, passing yang sedikit susah dia kuasai. Walau baru passing atas kepala dan d**a, tapi itu sudah bagus untuk seorang pemula yang baru pertama kali bermain." Alwi menjelaskan sambil menatap Fani yang tengah tertawa bersama Fina.
Trisha dan Dina menganggukkan kepala setuju. Mereka merasa kagum pada gadis kecil itu. Di usianya yang masih terbilang sangat muda dan juga baru pertama kalinya bermain bola basket, dia sudah bisa sedikit menguasai dribble dan passing.
"Fani." Alwi melambaikan tangannya pada Fani yang masih asyik dengan kembarannya itu.
"Iya, Kek?" Fani berucap setelah berdiri di depan Alwi.
"Kamu mau ikut karate?" Pertanyaan Kakek sontak membuat mata Dina dan Trisha terbelalak sempurna.