"Ayah!" hardik Trisha tiba-tiba.
Mereka semua kaget mendengar suara Trisha yang cukup keras dengan ekspresi marah yang jelas. Dina yang tau bahwa sang Bunda memang jarang sekali marah, kecuali untuk hal-hal yang menurutnya sangat tidak baik dan di luar akal sehat, merasa terkejut dan juga heran. Namun, bukankah Ayahnya itu hanya bertanya? Mengapa reaksi Trisha begitu?
"Ayah cuma tanya, Bun," tutur Alwi lembut dan penuh pengertian.
"Tapi Bunda tau maksud Ayah! Karena Ayah orang yang tipikal tidak membicarakan hal jauh hanya semata untuk topik pembicaraan. Ayah mau masukin Fani ke klub karate, 'kan?"
Dina dan Rian hanya diam, tidak ingin ikut campur dengan hawa pertengkaran orang tuanya. Trisha, perempuan lembut berhati lbut itu tampak begitu emosi. Semua perasaannya tergambar campur aduk antara marah, sedih, kecewa, dan takut. Sedangkan Fani, dia merasa begitu bersalah karena berpikir gara-gara dirinyalah pertengkaran kecil itu tercipta.
“Ayah, Fani masih terlalu kecil buat latihan-latihan karate, Yah. Latihan karate itu berat, harus bisa ini, bisa itu. Fani masih terlalu kecil untuk melakukan latihan berat begitu.” Suara Trisha melembut, tidak sekeras tadi. Terdengar putus asa dan ketakutan.
“Bunda, dengerin dulu maksud Ayah, ya.” Alwi menenangkan istrinya.
“Tapi Fani masih kecil, Yah. Bunda enggak mau dia jadi luka lebam-lebam. Latihan karate itu berat banget buat anak sekecil Fani, Yah. Kalau dipaksain, tubuh Fani bisa nge-drop.”
“Jadi, Fani gimana? Kamu mau ikut karate, enggak?” tanya Alwi menghiraukan perkataan istrinya.
Pertanyaan itu membungkam bibir Fani. Dia bingung. Apa yang akan terjadi kalau dia mengikuti keinginannya? Akankah Nenek dan Kakeknya kembali bertengkar seperti tadi bahkan lebih parah? Gadis manis itu melihat ke arah Neneknya yang membuang pandangan ke arah lain dengan air mata samar yang menggenang di pelupuk mata. Fani sangat ingin belajar karate, tapi di sisi lain dia tidak mau membuat keluarganya khawatir. Fani juga takut Papanya tidak mengizinkan dia ikut dan Fani lebih takut kalau Nenek yang begitu dia sayangi marah dengan dirinya. Tidak mau memeluknya lagi, menenangkannya, dan memberinya kecupan penuh sayang.
Menarik napas dalam-dalam, Fani kembali menatap Kakeknya dan menggeleng pelan. Senyum tipis dia sunggingkan untuk memberitahu bahwa dia baik-baik saja menolaknya. Namun, tatapan mata Fani tidak dapat berbohong. Ada kecewa dan kesedihan di sana.
“Kalau kamu memang mau ikut karate, Papa enggak masalah. Asal kamu benar-benar latihannya, enggak cuma main-main aja. Baru beberapa kali latihan udah malas dan enggak sanggup. Papa enggak mau yang kayak gitu!” Suara Rian menegas di akhir kalimatnya.
"Enggak, Pa. Aku enggak mau ikut." Fani menggeleng lagi.
Trisha yang awalnya menatap ke samping, segera mengalihkan pandangannya begitu mendengar jawaban Fani. Gadis kecil itu memberikan senyum lima jari pada Trisha yang menatapnya lekat.
"Mama, Papa, Nenek, Kakek, aku ke kamar dulu ya." Tanpa menunggu persetujuan keluarganya, Fani melangkah masuk ke dalam rumah.
Begitu dia sudah sedikit lebih jauh, setetes cairan bening mengalir ke pipi tembanya yang langsung cepat-cepat Fani usap. Dia berlari menaiki tangga menuju kamarnya dan segera telungkup di atas kasur begitu sampai di kamar. Air mata yang sedari tadi dia tahan langsung luruh begitu saja.
"Kalau aku yang nangis enggak apa-apa. Kalau keluarga yang nangis enggak boleh. Enggak boleh bikin Nenek nangis, aku aja yang nangis, aku aja yang sedih," ucap Fani pelan.
"Nenek enggak boleh nangis, ya. Aku aja yang nangis. Enggak apa-apa. Aku enggak mau Nenek ngerasain sakit di sini." Fani menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak dengan pelan.
Karena lelah menangis dan main basket sambil lari-larian tadi, Fani tertidur. Jejak-jejak air mata di pipi dan di bantal tampak jelas terukir abstrak.
Sedangkan di halaman belakang, suasana terasa begitu canggung. Hanya keheningan yang melingkupi mereka.
"Pa, Ma, aku mau sama Fani," ujar Fina tiba-tiba.
"Ikut Papa sama Mama ke kamar aja, yuk?" ajak Rian menggendong Fina.
"Ayah, Bunda. Kami ke kamar duluan, ya," pamit Rian disusul Dina.
Sepeninggal Rian dan Dina, tak ada yang bicara antara Alwi dan Trisha. Sampai suara isak tangis pelan lolos dari bibir Trisha yang bergetar. Alwi mendekap istrinya yang langsung melayangkan pukulan-pukulan kecil ke d**a Alwi.
"Kenapa kamu lakuin ini sama aku, Wi? Kenapa? Kamu ta, 'kan, kenapa aku enggak mau ngizinin Fani buat masuk ke klub karate? Tapi kenapa kamu begini, Wi?"
"Sayang, berhenti khawatir sama hal yang belum tentu terjadi."
"Tapi karena karate sahabat aku meninggal! Kamu enggak tau seberapa besar aku mencoba tegar saat kehilangan dia!"
Alwi melepaskan pelukannya dan mengusap air mata di pipi Trisha pelan. Menatap wanita yang begitu dia cintai dengan tatapan yang amat lembut dan penuh kasih.
"Fani kita akan baik-baik aja. Cucu tembam kita adalah anak yang kuat. Dia akan baik-baik aja, Sha. Aku akan memasukkan dia ke klub karate Fredy, sahabat baikku saat duduk di bangku SMA." Trisha diam, tidak memberi respons.
Menghela napas dalam-dalam, Alwi berkata, "Awalnya aku juga enggak ada niat buat biarin Fani ikut karate, tapi mendengar alasan dia ingin ikut karate untuk melindungi orang-orang yang mendapat musibah, kesusahan, dan bully. Bukankah itu niat yang amat mulia, sayang? Aku tidak ingin membatasi keinginan Fani. Selama itu baik untuk dia dan bisa membuatnya bahagia, aku akan memberikan dia fasilitas yang terbaik."
"Apa kamu lihat betapa kecewanya dia tadi? Dia menolak karena tidak ingin Nenek yang begitu dia sayang tidak menyayangi dia lagi. Dia mengesampingkan keinginannya karena kamu, Sha. Dia menyayangi kamu lebih dari dia sayang pada dirinya sendiri dan keinginannya."
Trisha menunduk dan menarik napas dalam-dalam. Anggukan pelan menjadi jawaban atas pernyataan panjang Alwi.
Malamnya, ketika selesai makan malam, Alwi mengajak mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Tatapannya lekat pada Fani yang tampak berbeda dari biasanya.
"Fani, Kakek tanya sekali lagi. Kamu mau ikut karate?"
"Enggak, Kek." Fani menatap Trisha yang juga menatapnya.
"Siapa yang mengajari kamu berbohong, Fani?" tanya Alwi serius, membuat anak itu menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Kamu mau ikut karate, enggak? Kakek tanya keinginan kamu."
"Mau," lirih Fani, "tapi kalau enggak ikut aku enggak apa-apa kok, Kek."
"Tunggu apa lagi, Yah? Hubungi Fredy, kasih tau bahwa cucu tembam kita akan masuk ke klub karatenya," ucap Trisha membuat Fani menatapnya terkejut.
Senyum hangat dan anggukan Trisha tujukan untuk Fani. Membuat dia berlari dan memeluk Trisha.
"Makasih, Nenek." Satu kecupan mendarat di pipi kanan Trisha.
"Sama-sama, sayang."
"Papa juga ngebolehin," tutur Rian.
“Beneran boleh, Pa?” Fani berganti menatap Papanya dengan mata berbinar.
“Iya, tapi janji harus benar-benar latihan.”
“Siap, Pa!” Fani langsung berlari memeluk Papanya erat.
“Makasih, Papa.”
“Ekhm. Jadi, kamu mau?” Alwi berdehem setelah menormalkan suara bahagianya.
“Mau, Kek!” Fani mengangguk dengan semangat yang membara.
“Ya udah, nanti Kakek bilangin sama Kakek yang tadi.” Dielusnya kepala Fani dengan sayang saat anak kecil itu memeluk dirinya dengan erat setelah melepaskan pelukan pada Papanya.
Sungguh, Fani merasa sangat bahagia hari ini. Dia yang diajarkan main basket dengan Kakek dan Papanya, juga dia yang diperbolehkan untuk ikut karate. Namun, apakah kebahagiaan yang dirasakan Fani hari ini akan bertahan sampai besok? Entahlah, Fani tidak tau. Yang dia tau, dia bahagia hari ini.
“Pa, Kek, Fani mau ngapain, sih?” Fina membuka suara, dia merasa bingung dengan Fani yang memeluk Papa dan Kakek dengan semangat dan bahagia.
“Fani mau ikut latihan karate. Fina juga mau?” Alwi menatap Fina, Fani sudah melepaskan pelukannya dan beralih ke arah Fina.
“Kamu mau, Fin? Biar kita sama-sama.” Fani menggenggam tangan Fina dan menatapnya berbinar.
“Mau apa, sih?”
“Karate, Fina. Yang kayak Po di Kungfu Panda itu, loh.” Fina mengerutkan dahinya.
“Ini, yang kayak gini.” Fani memperagakan beberapa gerakan yang diingatnya dari gerakan Kakak-kakak di lapangan tadi.
Orang dewasa yang ada situ tertawa melihat Fani. Meski, dalam hati mereka bangga melihat Fani yang sangat begitu inginnya latihan karate.
“Iiih, enggak mau. Pasti sakit! Nanti luka terus berdarah. Iiiih.” Fina bergidik ngeri membayangkannya.
“Ya udah, kalau enggak mau. Nanti kamu yang rugi. Wlee.” Fani menjulurkan lidahnya ke arah Fina yang cemberut.
“Fina mau apa?” Papanya bertanya dengan lembut.
“Ikut les modeling, mau?” Trisha yang gantian bertanya.
“Gimana, Nek?”
“Nanti kamu belajar lebih dalam lagi masalah modeling sama fashion. Karena Nenek lihat kamu udah sangat berbakat banget.” Perkataan Nenek menimbulkan pertanyaan di benak semua orang dewasa yang ada di sana.
Trisha tersenyum penuh arti saat suami, anak, dan menantunya yang menatap dia dengan penuh tanda tanya.
“Mau, Nek.” Dengan semangat Fina menjawab, dia berpikir bahwa dia bisa menjadi model impiannya.
“Ya udah, nanti Nenek daftarin kamu di sana, ya?” Fina langsung memeluk Trisha dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
“Makasih ya, Nek.”
“Iya sayang, ya udah main lagi gih sama Fani.” Nenek menyuruh anak kembar itu untuk kembali bermain.
Fani dan Fina dengan riang kembali bermain. Mereka berdua bermain boneka sambil tertawa dengan riang dan gembira karena mereka berdua akan didaftarkan karate dan modeling.
“Maksud Bunda tadi apa, Bun?” Dina menyuarakan kebingungannya.
“Bunda yakin dan percaya Fina akan menjadi seorang model yang terkenal dan sukses. Mungkin bahkan dia bisa menjadi Putri Indonesia atau Miss Universe. Bakatnya sudah sangat kelihatan.”
“Aamiin, tapi bagaimana Bunda bisa tau itu, Bun?”
Trisha tidak menjawab, hanya tersenyum untuk menanggapi pertanyaan Dina. Belum, belum saatnya mereka tau.
Di lain tempat, di tempat duduk Fani dan Fina. Mereka berdua bercerita dengan heboh dan sangat bersemangat.
“Aku nanti bakal ikut latihan karate, biar bisa kayak Po!” Fani menatap dengan pandangan berbinar.
“Aku nanti juga bakal latihan buat jadi model! Iiih, aku udah enggak sabar!” Fina memekik senang.
“Iya, aku juga!” Fani pun ikut memekik dengan senang.
Bahkan, kedua anak kembar itu tengah berpelukan sekarang. Mereka tersenyum dengan sangat manis. Kebahagiaan terpancar dari kedua pasang mata anak kembar itu.
“Oh ya, Fan, kita kapan mulai latihannya?” Fina menyuarakan isi hatinya.
Pertanyaan Fina membuat Fani terdiam dan mulai berpikir keras. Kapan mereka berdua akan mulai latihan di tempat les masing-masing. Fani mengerutkan dahinya dalam.
“Aku enggak tau, tapi mungkin secepatnya.” Senyum manis kembali muncul di wajah Fani dan Fina.
“Iya, aamiin.” Mereka berdua kembali berpelukan.
Melepaskan rasa senang yang membuncah d**a mereka. Membuat kedua anak kembar itu begitu sangat bahagia dan antusias.
Bagi mereka, hari ini adalah hari terbaik dan hari yang sangat menyenangkan. Di mana hari ini mereka diberitahukan akan mengikuti les untuk kesukaan mereka masing-masing. Terutama untuk Fani, dia yang paling merasa bahagia hari ini.
Maka dengan ini, Fani menyatakan bahwa hari ini adalah hari terbaik, terkeren, dan terbahagianya.