Hari ini tampaknya cuaca di ibukota Jakarta sedang bersahabat dengan semua orang. Tidak terlalu terik, tapi juga tidak mendung yang menandakan akan turun hujan. Cuaca yang benar-benar kebanyakan orang sukai. Apalagi buat mereka yang ingin bersantai di luar ruangan.
Seorang gadis kecil terlihat sedang berlatih karate bersama beberapa orang yang lebih besar darinya. Gadis kecil itu tersenyum cerah dan berlatih dengan semangat ’45, seolah energinya tak pernah habis.
“Oke, berhenti! Istirahat dulu! Kalian boleh minum-minum!” teriak seorang instruktur.
“Sensei, tapi aku mau makan.” Perkataan itu dengan mulus keluar dari bibir mungil sang gadis kecil.
Sontak, semua anggota karate menatap ke arah gadis kecil itu dengan pandangan terheran-heran.
“Ya udah, makan aja, Fani.”
“Tapi Sensei Restu bilang tadi minum, bukan makan. Artinya cuma diizinin minum, ‘kan?” Fani mengerjapkan matanya bingung.
Mereka semua tertawa. Tidak terkecuali Restu, instruktur mereka.
“Maksud Sensei, kalian boleh istirahat. Makan, minum, ke toilet, terserah kalian. Nanti dilanjut lagi latihannya.” Restu tersenyum hangat.
“Tapi Sensei Restu tadi bilangnya minum-minum, bukan makan.” Fani kekeh pada maksud yang ditangkapnya.
“Iya-iya, Sensei Restu yang salah. Maafin, ya?” Restu mengacak-acak poni Fani yang basah oleh keringat dengan gemas.
Fani hanya menjawab berupa anggukan. Lalu berlari ke bangku tempat dia meletakkan tas punggung kecil berwarna biru muda dengan gambar kelinci.
Tangannya segera mengeluarkan paper bag berlabel restoran favorit keluarganya. Di dalamnya terdapat nasi putih dengan lauk udang saus tiram dan sayur capcay sederhana, yaitu wortel, brokoli, buncis, bakso, dan jamur.
“Fani makan apa?” tanya Fredy yang baru datang terkekeh geli melihat Fani tersentak kaget dengan wajah melongo menatapnya.
“Ini, Kek. Kakek mau?” Fani menyodorkan suapan nasi beserta lauknya pada Fredy.
“Enggak. Fani makan aja yang banyak. Biar cepat besar.” Fredy mengusap rambut Fani.
“Kakek.” Fani menatap Fredy serius.
“Ya?” Fredy heran melihat Fani yang tampak tengah serius.
“Opa pernah bilang sama aku. Kalau ada yang ngasih sesuatu, harus diterima walau kita enggak mau dan enggak lagi butuh itu. Karena kalau kata Opa, rezeki itu enggak boleh ditolak.” Fani memberitahu Fredy layaknya orang dewasa.
“Jadi, Kakek harus mau. Aaaa,” ucap Fani menyodorkan suapan nasinya lagi.
“Enggak usah, buat Fani aja.”
“Kakek, ayo buka mulutnya. Aku enggak apa-apa.”
“Kakek udah makan tadi.”
“Satu suap aja, Kek.” Fani memaksa dengan muka memelasnya.
Akhirnya, karena tidak sampai hati melihat wajah memelas Fani, Fredy membuka mulutnya. Menerima suapan dari Fani.
“Mau lagi, Kek?”
“Enggak, Fani aja yang makan.”
“Ini, Kek.” Fani menyodorkan botol air mineral miliknya yang dia bawa dari rumah.
Fredy mengambil dan meminumnya beberapa teguk. Lalu kembali menyerahkannya pada Fani yang makan dengan lahap. Selesai makan, Fani segera minum.
“Fani,” panggil Fredy memperhatikan paper bag berlogo restoran yang dipegang Fani.
“Iya, Kek.” Gerakan Fani yang tengah membereskan bekas makannya terhenti. Dia menolehkan kepalanya ke arah Fredy.
“Kamu makan siangnya beli? Enggak bawa dari rumah?”
“Iya, Kek. Ini beli di tempat biasa aku, Fina, Mama, sama Papa makan.”
“Kenapa enggak bawa bekal dari rumah aja? Lebih hemat, loh.”
Fani menunduk, meremas paper bag di tangannya sebelum berkata, “Bu Siti masak nasi merah, ikan pepes, sama tahu rebus. Soalnya Fina disuruh turunin berat badannya sama Ibu gurunya di tempat les, makanya Bu Siti disuruh Mama masak kayak gitu.”
“Terus kenapa Fani enggak mau bawa bekal itu?” tanya Fredy bingung dengan perkataan Fani yang menurutnya berbelit dan tidak Fredy temukan maksudnya.
“Aku enggak suka nasi merah, Kek. Waktu kemarin aku makan nasi merah, aku langsung muntah-muntah, tapi Mama tetap aja suruh Bu Siti masak nasi merah karena Fina mau turunin berat badan.” Fani menggembungkan pipinya sebal. “Aku enggak mau ngerepotin Bu Siti untuk masak yang lain. Jadi, aku beli aja.”
“Fani belinya gimana?” Heran Fredy.
“Aku sebelum ke sini diantar Pak Deni ke restorannya, Kek. Terus aku beli.”
Fredy tertawa mendengar jawaban Fani yang amat polos. Dia akui salahnya yang bertanya begitu pada gadis kecil menggemaskan itu.
“Maksud Kakek, bagaimana kamu membayar makanannya? Pakai uang jajan kamu atau bagaimana?”
“Kata Pak Deni, pakai uang Mama, Kek. Mama kasih kartu Mama ke Pak Deni buat bayar yang aku beli di restoran tadi.”
Anggukan paham menjadi jawaban Fredy atas pernyataan Fani. Sedangkan Fani, pandangannya jatuh pada teman-teman seangkatan karatenya yang sedang berkumpul di tengah ruangan.
“Kakek, aku mau ke sana dulu, ya.” Jari telunjuk Fani mengarah ke kumpulan teman-temannya.
“Iya.”
Namun, bukannya melangkah ke arah teman-temannya berkumpul, Fani justru berjalan ke pintu keluar dengan membawa bungkus bekas makannya tadi.
“Loh? Katanya mau gabung sama yang lain,” ucap Fredy langsung.
“Iya, Kek, tapi aku buang ini dulu.” Fani menunjukkan sampah yang dipegangnya.
Selesai dengan urusan membuang sampahnya, barulah Fani ikut bergabung bersama teman-temannya.
“Kakak lagi ngapain?” Fani menatap mereka satu-persatu.
“Makan agar-agar, Dek. Kamu mau? Ayo, gabung sini.” Salah satu teman perempuannya menepuk ruang kosong di sebelahnya.
“Mau! Mau! Memangnya boleh, Kak?” Fani ikut duduk di sebelah perempuan yang tadi mengajaknya.
“Boleh, makan aja. Ini dibawain Mama aku dari rumah.” Teman laki-laki Fani yang bertubuh kurus menjawab.
“Makasih, Kak.” Fani dengan senang hati memakan potongan agar-agar itu dengan semangat.
Fani mengambil satu potong agar-agar yang telah ditusuknya. Kemudian anak itu berdiri dari duduknya.
“Aku minta ini ya, Kak, buat Kakek.” Setelah mendapatkan anggukan dari temannya, Fani menghampiri Fredy yang masih duduk di tempat tadi.
“Kakek, ini buat Kakek.” Fani memberikannya pada Fredy.
“Eh?”
Fani tetap menyodorkan potongan agar-agarnya dengan anggukkan kepala.
“Buat Fani aja.”
“Enggak, buat Kakek aja. Aku udah minta sama Kakaknya, kok.”
Menghela napas, Fredy menerima potongan agar-agar yang diberikan Fani untuknya. Dia mengetahui bahwa Fani sedikit pemaksa dan keras kepala.
“Gimana latihan karatenya, Fan? Lancar?” tanya Fredy di tengah kunyahannya.
“Seru, Kek! Lancar.” Fani menganggukkan kepalanya.
Saat akan bertanya lagi, ponsel Fredy berbunyi. Ada pesan masuk dari rekan kerjanya.
“Kakek pergi dulu ya, Fan. Baik-baik latihannya.” Fredy mengusap kepala Fani sebelum beranjak.
“Iya, Kek.” Fani menyalami tangan Fredy yang dibalas senyuman dari Fredy.
Fani kembali ke tempat teman-temannya yang masih melahap potongan agar-agar. Dia ikut bergabung dan memakan potongan agar-agar milik temannya tadi. Waktu istirahat itu Fani dan teman-temannya habiskan dengan penuh canda tawa. Fani bahkan tertawa paling keras di antara teman-temannya.
Saat sesi istirahat telah selesai, mereka kembali melanjutkan latihan karate dengan serius. Fani sudah memahami pelajaran hari ini. Di rumah Fani akan mendalami dan berlatih lagi nanti.
“Oke, latihan hari ini cukup sampai di sini! Kalian boleh pulang,” ucap Restu.
Mendengar itu, Fani langsung lari menuju toilet. Dia sudah sangat kebelet sedari tadi, tapi dia menahannya karena tidak berani mengatakan itu. Selesai urusannya dari toilet, Fani kembali ke kelas dan menggendong tas birunya. Kelasnya sudah kosong. Teman-temannya amat cepat bergerak keluar kelas ternyata. Sebelum itu, Fani mengambil botol air mineralnya yang hanya tinggal seperempat. Meneguknya hingga tandas. Gadis kecil itu menghela napas. Dia masih merasa haus, tapi air mineralnya telah habis. Dengan kesal Fani menggembungkan pipinya.
Melangkahkan kaki gontai dengan tangan yang memegang tali tas, Fani melihat suasana sekolah karatenya, lenggang. Sampai di gerbang, Fani celingak-celinguk mencari sopir yang biasanya mengantar dan menjemput dia dan Fina.
“Pak Deni mana, sih? Aku udah haus, mau pulang.” Fani mengerucutkan bibirnya.
Tidak jauh dari tempat Fani berdiri, ada warung kecil. Menjual berbagai macam air mineral dan jajanan ringan. Fani melihat jam tangan biru muda bergambar Dora The Explorer yang terpasang di tangan kirinya. Jamnya sudah menunjukkan pukul 15:00. Fani melangkahkan kakinya ke warung itu.
“Mau beli apa, nak?”
“Air mineral satu, Bu.” Fani tersenyum tipis.
“Mau yang dingin atau enggak?”
“Yang dingin aja deh, Bu.”
Fani mengambil dua buah Chittato rasa ayam panggang dengan ukuran besar yang tergantung di warung itu.
“Ini, nak.” Penjual itu menyerahkan air mineral dingin pada Fani.
Fani mengambilnya dengan tersenyum manis. Lalu, anak itu membuka tasnya dan mengeluarkan uang dua puluh ribu. Menyerahkan pada Ibu penjual.
“Cukup, Bu?” Fani mengerjapkan mata lugu.
“Ini mah kelebihan, nak. Masih ada kembaliannya.”
“Kembaliannya buat Ibu aja.”
“Eh? Enggak usah, nak.”
“Enggak apa-apa, Bu. Kalau kata Nenek, itu rezeki Ibu yang Tuhan kasih melalui aku,” ucap Fani dengan dahi mengerut, dia lupa siapa yang mengatakan itu padanya. Namun, dia merasa sudah mengatakan hal yang sama pada seseorang, tapi lagi-lagi Fani melupakannya.
“Terima kasih ya, nak. Oh iya, kamu kok belum pulang?”
“Belum dijemput sama Pak Deni, Bu.” Fani mengerucutkan bibirnya kesal.
“Baru selesai latihan karate, ya?” Fani hanya mengangguk.
“Ya udah, nunggu Pak Deni di sini aja. Duduk dulu.”
“Boleh, Bu?” Fani memandang dengan berbinar.
“Ya boleh, atuh.” Ibu itu terkekeh pelan, merasa terhibur dengan tingkah polos Fani.
Sambil menunggu, Fani memakan Chittato-nya. Tak lama, Fani melihat mobil putih yang sudah dihafalnya. Mobil milik Papanya yang digunakan Pak Deni untuk mengantar-jemput dia dan Fina.
“Bu, aku udah dijemput. Aku pulang dulu ya, Bu. Makasih udah ngebolehin aku duduk di sini, Bu. Semoga warungnya rame dan laku ya, Bu.”
Wanita berhijab cokelat yang tak lain adalah Ibu penjual itu mengangguk dan tersenyum tipis.