11. Janji

1535 Kata
“Pak Deni!” panggil Fani dengan senang saat sopir pribadi keluarganya sudah keluar dari mobil putih itu. “Eh? Fani dari mana?” Deni mengerutkan dahinya heran melihat arah datangnya Fani. Seharusnya anak itu datang dari arah dalam gerbang, tapi kenapa malah dari arah jalan sana? “Dari beli ini, Pak. Pak Deni, sih, lama. Padahal aku udah haus, mau pulang.” Fani menunjukkan dua bungkus Chittato dan sebotol air mineral. “Maaf, ya, tadi ban mobilnya bocor sepulang dari lesnya Fina.” “Finanya mana?” Fani mengalihkan tatapannya ke dalam mobil. “Fina udah dijemput sama Papa dan Mama.” Pak Deni mengelus puncak kepala Fani lembut. “Aku kenapa enggak Mama sama Papa yang jemput?” Fani memiringkan kepalanya ke kanan dengan nada sedikit kecewa. “Sehabis jemput Fina, Papa sama Mama kamu langsung pulang. Kita harus cepat pulang dan sampai rumah. Kata Papa sama Mama, kalian mau pergi ke Bandung, ke rumah Kakek sama Nenek. Yuk, kita pulang!” Deni membuka pintu depan mobil. Fani masuk ke dalam mobil dengan lemas. Selalu saja, orang tuanya begitu. Menjemput Fina, tapi tidak dengan dirinya. Dengan perasaan sedih Fani menatap keluar jendela mobil. Memperhatikan jalanan yang mereka lewati. Namun, perasaan sedih itu segera Fani enyahkan. “Pak, beneran?” Fani menatap Pak Deni berbinar. “Apanya yang beneran?” “Pak Deni bilang, nanti aku bakal ke rumah Nenek sama Kakek.” “Iya, betul! Papa sama Mama yang bilang, katanya disuruh cepat pulangnya. Karena mau ke rumah Kakek sama Nenek mumpung besok weekend. Itu sebabnya enggak bisa sekalian jemput kamu. Mama harus siapin semua kebutuhan kamu, ‘kan?” Deni bukannya tidak tau, anak pertama majikannya seringkali merasa cemburu. Jelas, Deni sangat tau, dia sering melihat wajah muram Fani. Seperti tadi. Dia sudah menganggap Fani sebagai anaknya sendiri, makanya dia bahkan rela melakukan itu demi Fani. “Tapi Mama sama Papa sering kayak gini. Ini bukan yang pertama kali, Pak. Waktu enggak mau ke rumah Nenek sama Kakek pun aku enggak ikutan dijemput, 'kan? Cuma Fina dan selalu Fina aja,” lirih Fani. Mendengar kalimat sendu itu, Deni tak kuasa untuk menahan sengatan di hatinya. Dia tak lagi berbicara, membiarkan Fani menenangkan perasaannya sendiri. Karena memang itulah yang selalu dia lakukan untuk menjaga diri dan mentalnya. “Oh iya, Pak Deni mau?” Fani menyodorkan satu potong Chittato. Fani baru menyadari nasib makanan ringan dan air mineral yang tadi dibelinya. “Enggak, buat Fani aja.” “Pak Deni harus mau! Kalau enggak mau, aku marah sama Pak Deni, enggak mau temenan sama Pak Deni lagi! Aku sama Bu Siti aja nanti, loh!” Fani memasang wajah garangnya yang malah terlihat lucu. Deni membuka mulutnya dan Fani dengan senang hati menyodorkan Chittato ke mulut Deni. Karena jalanan yang tidak terlalu padat, mereka sampai di rumah tepat waktu. Begitu sampai, Fani langsung berlari masuk ke dalam rumahnya. “Assalamu’alaikum.” Tidak ada yang menyahut salam Fani. Anak kecil itu mengerutkan dahinya. Apa mungkin, Mama dan Papanya belum sampai rumah? Fani melangkahkan kakinya menuju dapur dengan masih menenteng sepatu putihnya yang dia buka sebelum masuk rumah. Di dapur, Fani melihat Mama dan Papanya menggunakan pakaian santai duduk sambil mengobrol.  “Mama, Papa!” Kedua orang tuanya terkesiap mendengar panggilan Fani.  “Fani! Ngagetin aja! Bukannya ucap salam, malah nyelonong masuk aja kamu, ya.” Rian memperingati. “Tadi aku udah ucap salam, tapi enggak ada yang jawab.” “Ya udah, kamu mandi, sana. Pak Deni udah bilang kalau kita mau ke rumah Kakek sama Nenek, ‘kan?” Dina tersenyum lembut. “Yeeay!” Fani bersorak gembira. “Kamu pakai baju yang udah Mama gantung di pintu lemari, ya.” “Iya, Ma.” Dengan cepat, Fani mengambil langkah seribu. Masuk ke dalam kamarnya, meletakkan tas dan sepatu ke tempatnya semula. Kemudian segera mandi. Selesai mandi, Fani mengambil wudu. Dia belum melaksanakan ibadah salat Ashar. Selesai salat, Fani mengganti pakaiannya dengan yang sudah disiapkan oleh Mamanya, gaun baby pink lengan pendek yang panjangnya selutut. Menyisir rambut, Fani memakai bando berwarna senada dengan gaun yang digunakannya. Fani membereskan buku-buku sekolahnya untuk hari Senin. Memeriksanya, apakah ada PR atau tidak. Ternyata, tidak ada. Ada kebahagiaan kecil yang menyusup di d**a Fani mengetahui dia tidak memiliki PR, sehingga dia tidak perlu repot membawanya ke rumah Nenek dan Kakek untuk dikerjakan di sana. Selesai mengurus peralatan sekolahnya, Fani mencari flat shoes miliknya yang berwarna serupa dengan gaun dan bandonya. Setelah menemukannya, Fani segera membawa turun ke bawah. “Udah siap? Ayo, kita berangkat.” Rian bangkit dari duduknya, begitu pula dengan Fina dan Dina. Selama perjalanan, Fani hanya diam dengan pikiran berkelana. Anak itu sedang tidak mood untuk berceloteh.  Dia belum benar-benar memperbaiki perasaan cemburunya pada Fina yang selalu mendapat perhatian Mama dan Papa. Mendapatkan apa yang dia inginkan. Kadangkala, Fani sangat ingin menjadi Fina saja atau membenci Fina agar dia bisa meminta perhatian orang tuanya dari Fina. Namun, Fina kembarannya. Fani tidak ingin egois. Dia sangatlah menyayangi Fina. Senja kali ini terasa sangat hangat dan menyenangkan bagi Fani. Karena di senja kali ini, dia tengah berada di rumah Nenek dan Kakeknya. Sekarang Fani sedang duduk santai bersama Kakeknya di teras samping. Mereka tengah menikmati panas matahari sore yang menghangatkan. Ditemani dengan segelas s**u cokelat untuk Fani dan kopi untuk Kakek. Beserta potongan beberapa macam buah. Ada mangga, apel, melon, anggur, stroberi, dan pepaya. Buah yang dipanen langsung dari kebun milik Kakeknya, kecuali melon. “Kamu udah mau ujian, ‘kan?” “Iya, Kek.” “Kapan ujiannya?” “Minggu depan, Kek.” Fani menatap Kakeknya sambil mengunyah apel. “Berarti seminggu lagi?” Fani hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Kakeknya. Sebab, mulut Fani penuh dengan potongan-potongan buah. “Belajar yang bener, jangan kebanyakan main.” Kakek mencubit pipi Fani yang menggembung karena penuh oleh potongan buah dengan pelan. “Iya, Kek.” Fani menganggukkan kepalanya. “Jangan iya-iya aja, dilaksanain.” Kakek beralih menarik hidung mancung Fani pelan membuatnya cemberut. “Kalau kamu masuk peringkat lima, nanti Kakek kasih hadiah. Fina juga.” “Beneran, Kek?” Fani menatap berbinar. “Iya, tapi harus bisa masuk peringkat lima dulu.” Alwi tersenyum penuh arti. “Janji?” Fani menyodorkan jari kelingkingnya. Alwi tersenyum, menyambut uluran jari kelingking Fani. “Janji,” jawab Alwi yakin. “Sayang Kakek.” Fani memeluk Kakeknya dengan penuh kasih sayang. “Kakek juga sayang kamu.” Alwi membalas pelukan Fani. “Mau liburan ke mana setelah ambil rapor kenaikan kelas?” Pertanyaan itu meluncur dengan bebas saat pelukannya sudah terlepas. “Enggak tau. Mama sama Papa belum bilang.” “Fani maunya liburan ke mana?” Alwi menyesap kopinya perlahan. “Ke pantai!” Fani menyengir kuda. “Ngapain ke pantai?” Alwi menaikkan sebelah alisnya. “Aku mau main air.” Fani berbicara dengan semangat. “Main air bisa di kamar mandi rumah kamu.” “Itu enggak enak, Kek.” Fani menggeleng pasti. “Kolam belakang rumah Kakek, sana.” “Enggak mau, Kek. Aku mau ke pantai, main air di pantai enak, Kek!” jawab Fani sebal. “Enaknya main air di pantai memangnya apa?” “Bisa main ombak. Aku juga bisa kejar-kejaran sama ombaknya.” “Ombak enggak punya kaki, sayang. Mana bisa main kejar-kejaran.” Alwi tertawa kencang. Fani langsung berlari masuk ke dalam rumah dengan mengentakkan kaki sebal. Nenek mengalihkan pandangan dari kaca datar berplasma di depannya ke arah orang yang tiba-tiba duduk di sebelahnya. Nenek menyunggingkan senyum tipisnya. “Kamu kenapa?” Trisha bertanya heran pada Fani yang menggembungkan pipinya. “Kakek tuh, Nek!” “Kenapa sama Kakek, hm?” Trisha mengelus rambut Fani. “Kakek buat aku kesel, Nek.” Mata Fani berkaca-kaca dan dia berhambur ke pelukan Trisha. “Memangnya kamu diapain sama Kakek?” Trisha membalas pelukan Fani. “Tadi aku bilang mau kejar-kejaran sama ombak, Kakek malah ketawain aku,” suara Fani sedikit teredam karena pelukannya. “Cup, cup, jangan nangis lagi.” Trisha memberi jarak untuk pelukan mereka. Mengusap pipi Fani yang basah oleh air mata, Nenek tersenyum lembut pada Fani. Membuat Fani merasa tenang. “Kenapa?” suara Rian membuat tubuh Fani menegang. “Enggak ada apa-apa.” Nenek yang menyadari tubuh tegang Fani menjawab. “Nenek mau ke Kakek dulu, ya.” Trisha bangkit dari duduknya tanpa menunggu persetujuan Fani. Rian menghela napas, ikut duduk di sofa yang sama dengan Fani, begitu juga dengan Dina yang baru selesai mandi. Fani membaringkan tubuhnya dengan kepala yang ditumpukan di pangkuan Papanya. Rian tersenyum kecil dan mengelus kepala Fani membuat anak itu memejamkan mata. “Papa,” ucap Fani masih dengan mata terpejam. “Iya?” “Liburan nanti, kita mau ke mana, Pa?” Fani membuka matanya dan menatap Rian ingin tau. “Belum tau. Memangnya kenapa?” “Ke pantai aja yuk, Pa?” Fani menatap mata Rian dengan tangan yang memainkan jari-jari tangan Rian. “Kamu mau ke pantai?” Dina menatap Fani dengan bersender di bahu Rian. “Iya, Ma.” Cengiran kuda Fani tunjukkan kepada orang tuanya. “Oke, kita liburan bakal ke pantai.” Rian mengangguk dan tersenyum. “Beneran, Pa?” Saking bahagianya, Fani langsung bangkit dari berbaringnya. Karena langsung bangkit, Fani tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Membuat tubuh kecil Fani hendak jatuh ke bawah. Namun, sebelum itu terjadi, dengan sigap Rian menangkap anaknya. “Kamu enggak apa-apa?” Dina mengecek Fani dengan khawatir. Fani hanya mampu menggeleng. Jantungnya masih berdetak cepat. Dia takut. “Udah, enggak apa-apa.” Dina memeluk Fani dengan sayang. Setelah detak jantungnya kembali berdetak dengan normal, Fani melepaskan pelukan Mamanya. Menatap Dina dengan pandangan yang menyiratkan bahwa dia baik-baik saja. Fani beralih menatap Papanya. Menunjukkan cengiran khas anak kecil itu. “Mama, Papa, maaf, ya.” “Iya.” “Papa janji, ‘kan?” “Janji apa?” Rian mengerutkan dahinya. “Liburannya pergi ke pantai.” Fani menyengir. “Iya, sayang, tapi, kamu juga harus janji dapat nilai yang bagus.” Rian mengelus puncak kepala Fani. Lalu Rian mengecupnya, diikuti dengan Dina. Mendapat kecupan dari orang tuanya, Fani tersenyum bahagia. Dipeluknya Dina sebentar, kemudian beralih memeluk Rian. “Makasih, Papa,” bisik Fani. Rian hanya mengangguk dan tersenyum. Fani mendapatkan dua janji hari ini. Janji yang membuatnya merasa bahagia dan bersemangat. Mood-nya juga sudah benar-benar membaik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN